RSS

My Everlasting Friend part 3

24 Sep

@@@@

Hubunganku dengan Siwon dan istrinya masih akur-akur aja, bahkan Soo Hwa dan aku sudah bersahabat layaknya aku dengan Siwon. Tapi kenyataan itu, kebahagian untuk Siwon dan Soo Hwa membuatku tersiksa. Apalagi setelah 5 bulan prnikahan mereka, Soo Hwa memberitahuku bahwa ia sedang hamil. Kalian tahu bagaimana perasaanku???? Hancur.

Disatu sisi aku bahagia karena kebahagiaan yang telah menanti kedua sahabatku itu. Tapi disisi lain, aku merasa inilah akhir dari segalanya. Akhir dari rasa cintaku pada Siwon. Ya tak aku pungkiri aku masih berharap padanya, padahal jelas2 dia telah menikah. Tapi, jika Soo Hwa hamil itu artinya mereka akan segera punya buah hati. Itu artinya kluarga mereka akan sempurna. Dan itu artinya taka akan pernah mungkin ada aku dihati Siwon.

Bodoh kau Shilla. Kenapa kau selalu mengharapkanya???

Sudah saatnya aku mengakhiri semua ini. Mengakhiri rasa cintaku padanya. Memupus semua harapan palsu ini. Sudah saatnya aku menjauh dari kehidupanya. Just let him go.

Dan kuputuskan untuk pergi dari sisinya sejauh mungkin. Terus berada dekat denganya hanya akan membuat rasa cinta ini terus tumbuh. Dan semakin besar cinta ini semakin berat untkku melepasnya. Kurasa sebaiknya aku menerima tawaran dari Teuki oppa untuk pindah kerja ke cabang perusahaan di China. Ya kurasa ini cara paling ampuh untuk melupakanya.

@@@

Keputusanku sudah bulat. Lusa aku akan berangkat ke China. Tapi tak sedikitpun aku memberitahu rencana ini pada Siwon. Hanya Teuki oppa dan orang tuaku yang tahu. Dan aku menyuruh mereka untuk merahasiakan ini dari Siwon.

Aku tak akan sanggup kalau harus mengucapkan kata perpisahan secara langsung darinya. Lebih baik aku pergi secara diam-diam. Seperti rasa cinta ini yang secara diam-diam terus tumbuh tanpa ia ketahui.

Saat aku sedang mengmasi barang-barang yang akan aku bawa tiba-tiba bel apartemenku berbunyi. Aku bukakan pintu dan Soo Hwa dengan perutnya yang mulai membuncit muncul dari balik pintu.

“Anneyong Unni”, sapanya ringan. Ya semenjak aku dekat denganya dia memanggilku unni. Katanya biar menghormati Siwon. Masa Siwon dipanggil Oppa sedangkan aku tidak.

“Soo Hwa ya tumben malam-malam kemari. Ada apa?”

“Hehe tak ada Unni. Entah kenapa aku lagi nyidam pingin nginap disini”

“Nyidam yang aneh. Eh tapi nginap?” tanyaku cemas. Ya kalau dia nginap disini brarti dia bisa tahu kalau aku akan pergi dan itu berarti Siwon juga akan tahu.

“Ne. kenapa Unni tak mau?? Ayolah unni penuhi permintaan calon keponakanmu ini” katanya merayu sambil mengelus perutnya.

Tapi belum sempat aku berkata lagi Soo Hwa tiba-toba saja sudah memasuki kamarku. Dan seperti dugaanku dia terkejut dengan koper besar dihadapanya.

“Unni apa ini? Unni mau kemana?”

Dan sekarang aku yang bingung harus berkata apa. Pa aku harus mengatakan ini padanya?

“Unni… kenapa diam saja? Unni mau pergi kemana? Dan dilihat dari besarnya koper ini Unni seperti mau pergi lama” tanyanya menyelidik.

“Ne, aku akan pergi ke China.”

“Mwo? Berapa lama? Kenapa? Apa Oppa sudah tahu?”tanyanya bertubi-tubi.

“Aku dipindah tugaskan ke China untuk jangka waktu yang aku tak tahu. Atau mungkin malah aku akan selamanya disana. Dan kumohon Soo Hwa jangan katakana ini pada Siwon”

“Mwo? Wae? Kenapa tiba-tiba Unni”

“Anni. Aku tidak bisa katakana ini sekarang. Aku hanya mohon jangan katakana rencana ini pada Siwon. Dia pasti tak akan mengijinkan ku pergi kalau tahu.”

“Tapi pasti Oppa akan kehilangan Unni.:

“Bicara apa kau? Dia akan baik-baik saja. Lagian kan ada kamu yang akan selalu disisinya.”

“Tapi Unni..”

“Sudahlah kalau kau ingin aku ijinkin menginap disini mala mini, maka diamlah jangan Tanya apa-apa lagi. Araseo? Nah sekarang kau tidurlah, tidak baik untuk wanita hamil sepertimu tidur malam-malam.”

Soo Hwa ternyata menuruti permintaanku. Meski aku tahu ada seribu Tanya dikepalanya tentang kepergianku ini.

@@@

“Unni, apa benar yakin mau pergi dengan cara seperti ini? Kalau Siwon oppa Tanya aku harus jawab apa?” Tanya Soo Hwa saat akan mengantarku ke bandara.

“Berikan saja surat ini padanya” ya kurasa dengan surat aku bisa mengucapkan prpisahan ini. Aku tak akan sanggup kalu harus berhadapan langsung denganya.

“Unni” kata Soo Hwa dengan linangan air mata yang tak sadari sudah membanjiri pipinya.

Sorry Sorry Sorry Sorry
Naega naega naega meonjeo
Nege nege nege ppajyeo
Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby
Shawty Shawty Shawty Shawty
Nuni busyeo busyeo busyeo
Sumi makhyeo makhyeo makhyeo
Naega michyeo michyeo baby

Handphone Soo Hwa bordering.

“Ne Oppa. Ne..aneyong”

Soo Hwa mematikan handphonenya.

“Nuguya??”

“Siwon oppa” aku kaget mendengarnya, jangan bilang kalau Soo Hwa memeberitahu Siwon tentang kepergianku.

“Tenang Unni aku tidak memeberitahu kok” kata Soo Hwa yang seolah tahu apa yg aku pikirkan.

<Soo Hwa pov>

Maafkan aku unni, aku bohong sebelum kita berangkat tadi aku sudah memebritahu Siwon oppa. Dan telepon barusan adalah dari Siwon oppa yang bilang kalau dia terjebak macet dan menyuruhku untuk memastikan unni tidak masuk sebelum Oppa datang.

Aku hanya tak ingin semua berakhir seperti ini. Aku tahu unni memiliki tempat tersendiri di hati Siwon oppa. Arti unni dalam kehidupan Oppa sangat special. Sahabat yang selalu ada saat Oppa membutuhkan. Dan aku bersyukur akan hal itu. Setidaknya suamiku mempunyai orang untuk berbagi, selain diriku.

“Ehm Unni, kita ke coffe shop dulu yuk. Pesawat unni masih lama kan?”

“ Baiklah, kkaja.”

“Tapi aku mau ke coffe shop yang di sebrang jalan itu.”

“Soo Hwa kan di dalam bandara ini juga ada coffe shop kenapa harus jauh-jauh.”

“Aniyo Unni aku maunya yang disana. Ayolah unni, ini permintaan jabang bayi ini.”

“Ara ara, aih kenapa si nyidammu ini selalu aneh.”

“heheehe gomawo unni”

<Shila pov>

Aish selalu saja nyidamnya Soo Hwa ini aneh. Masa mau jauh-jauh ke coffe shop pdahal di dalam bandara juga ada. Aih bikin repot saja aku kan harus menyeret2 koper yang berat ini. Ah tapi ya sudahlah, toh aku tak akan direpotkan olehnya lagi beberapa tahun ke depan. ^^

“Unni ayo dung jalanya yang cepat.” Aish semenjak hamil kenapa Soo Hwa jadi semangat begitu sih?

“Ya! Soo hwa apa kau tak liat unni kan bawa koper, berat tau sambil menyeret koper seperti ini.”

“hahaha iya mianhe unni.”  Dasar kenapa dia terlalu bersemangat begitu si? Dan sekarang dengan semangatnya dia berjalan mendahului aku. Kenapa jalanya cepat sekali si.

Dengan susah payah aku menyusul Soo Hwa yang sudah hamper menyebrang jalan. Tapi kulihat ada mobil berkecepatan tinggi berjalan kea rah Soo Hwa berdiri. Soo Hwa masih belum menyadari keberadaan mobil itu sepertinya. Ah andwe. Aku harus melakukan sesuatu.

Tanpa piker panjang aku letakkan begitu saja koper yang sedari tadi mengganggu jalanku. Dengan cepat aku berusaha berlari sekencang mungkin kea rah Soo Hwa untuk menolongnya sebelum semuanya terlambat.

“Soo Hwa AWASSS.” Kudorong tubuh Soo Hwa agar dapat terhindar dari mobil yang akan menghantamnya. Kudorong tubuhnya keras.

Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku setelah ini. Mobil itu tinggal beberapa senti lagi menghantam tubuhku. Tapi sebelum mobil itu menghantamku aku justru melihat suatu pemandangan yang jauh lebih menyaitkan.

Kulihat tubuh Soo Hwa yang kudoorong tadi diterima oleh sebuah mobil lain yang berkecepatan tinggi. Dapat kulihat tubuh Soo Hwa terpental karena bertubrukan dengan mobil itu. Bodohnya aku, bukanya menyelamatkan tapi justru menggiring Soo Hwa ke bahaya yang lain.

JDERRRR

Akhirnya mobil ini menghantam tubuhku kuat. Sama seperti Soo Hwa tubuhku juga terpental. Kurasakan darah dengan deras merembes dari tubuhku. Detik berikutnya hanya kegelapan yang menyelimutiku. Aku hanya berharap Soo Hwa dapat selamat.

@@@

Rumah Sakit

<Siwon pov>

Apa ini? Apa yang terjadi sebenarnya. Belum sempat keterkejutanku mereda akibat Shilla yang tiba-tibaingin pergi ke China, aku kembali dikejutkan kenyataan pahit kalau 2 orang yang sangat berharga dalam kehidupanku mengalamin kecelakaan. Dan yang lebih parah lagi keduanya sama-sama mengalami masa kritis sekarang.

Oh Tuhan, kumohon aku tak sanggup jika harus kehilangan mereka berdua.

Soo Hwa dan Shilla dirawat diruang berbeda. tapi hatiku serasa teriris melihat keadaan mereka. Tubuh mreka penuh luka, banyak selang-selang memnyelimuti tubuh mereka. Mereka pasti sedang berusaha keras melawan rasa sakit. tuhan kumohon beri mereka keselamatan.

Tak ada yang bisa aku lakukan untuk menolong mereka. Yang dapat aku lakukan adalah berdoa. Berdoa untuk kesembuhan mereka. Dan berdoa untuk bayiku yang belum sempat terlahir kedunia ini. Aku kehilangan bayiku dan Soo Hwa. Hatiku benar-benar hancur dan sedih sekarang. Aku tak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi.

Setelah 3 hari mereka tak sadarkan diri akhirnya Soo Hwa sadar juga. Tetapi Shilla masih belum sadar juga.

“Oppa..” kata Soo Hwa lirih.

“Soo Hwa akhirnya kau sadar juga untunglah.”

“Op,,pa..a..ku,,I,,ngin..kau..tas” Soo Hwa terlihat susah berbicara. Hatiku miris akan hal ini.

“Soo Hwa tenanglah tak perlu banyak bicara dulu.”

“Andwe opp…pa..aku tak punya.. waktu lagi”

“Aniyo, kenapa berbicara seperti itu? Kau akan sehat. Percaya padaku.” Soo Hwa hanya menggeleng. Apa ini? Kenapa dia berbicara seperti ini. Tanpa terasa air mataku menetes.

“oppa jebal jangan menangis. Oppa tas aku ambilkan tas aku.”

Aku menuruti katanya. Aku buka tas itu dan yang aku temukan hanya dompet dan sebuah surat. Surat ???

“Itu surat dari Shilla unni untuk oppa. Bacalah nanti..tapi..oppa kumohon tolong aku.”

“Waeyo?”

“Aku ingin berbicara dengan Shilla unni.” Air mata ini menetes lagi

“Shilla belum sadar Soo Hwa.” Kulihat gurat kekecewaan dari wajahnya.

“Kalau begitu rekam aku oppa.”

“Untuk apa? Toh nanti kau bisa bicara langsung sendiri padanya.” Soo Hwa menggeleng lagi.

“Aniyo oppa..aku…tidak punya banyak waktu..aku merasa aku sudah dekat..”

“,,,,” aku hanya melihatnya dengan pandangan tak percaya. Bagaimana bisa istriku yang sangat kucintai berbicara seperti ini seolah dia akn segera dipanggil. Tidak aku tak mau itu terjadi.

“Oppa jebal..aku..tak..mau..menyesal..aku..ingin..Shilla unni tau isi hatiku. Anggap saja ini pesan terakhir untuknya oppa. Jebal !” Soo Hwa tampak memohon. Aku tak tega. Dengan berat hati kukeluarkan handphone ku dan mulai merekamnya.

Kurekam setiap kata yang keluar dari mulutnya. Kurekam pesan terakhirnya. Tapi yang terjadi adalah aku tak kuasa membendung lagi air mata ini. Aku tersayat dengan setiap kata yang meluncur dari mulutnya. Apa aku tak akan melihat wajahnya lagi?? Andwe andwe…

“Oppa jangan menagis.” Soo Hwa menghapus air mata ini. Dia telah selesai kurekam. Dia juga menangis. Tapi bukanya tangisku ini berhenti tapi malah semakin deras.

“Oppa..ku..moh..hon” Soo Hwa tampak susah bernapas.

“Oppa..ba,,ha,,gia lah,,,oppa temukan cinta lain selain aku…aku..ingin melihat oppa bahagia..”

“ANDWE.. aku hanya mencintaimu Soo Hwa jangan tinggalkan aku.”

“Oppa,,mi..anhae.. terseyumlah..ba..ha..gialah…saranghae oppa…”

“Nado Soo Hwa” dia hanya membalas dengan seyuman. Senyuman yang manis. Dan senyuman yang terakhir. Aku kehilangan orang yang aku cintai lagi..

“Soo Hwa-ah..” aku hanya bisa menangis. Menangis hingga seluruh tubuhku bergetar. Kenapa seperti ini Tuhan?? Kenapa setelah calon anakku kau ambil, kenapa sekarang istriku kau ambil?? Aku harus bagaimana?? Aku tak sanggup menanggung semua ini sendiri.

Aku butuh Shilla. Butuh seseorang yang bisa menghiburku. Tapi kenyataanya seseorang itu bahkan tak sanggup bangun sekarang. Orang itu masih belum sadar. Jadi siapa yng akan menemaniku. Tuhan kumohon sadarlkan Shilla, jangan kau ambil dia seperti kau ambil istriku.

@@@

Sudah seminggu tapi Shilla belum sadar juga. Soo Hwa sudah dimakamkan 2 hari yang lalu. Dan betapa berat hidupku seminggu ini. Aku hanya berharap sekarang Shilla akan segera sadar. Aku rindu celotehnya selama ini. Aku tak sanggup hidup sendiri sperti ini.

Aku kembali mengunjungi Shilla yang masih betah menutup matanya. Sekarang ini rumah sakit seolah rumahku. Siang malam yang aku lakukan hanya menjaga Shilla. Menantinya untuk membuka matanya lagi.

“aneyeong haseyo Siwon-ssi” dokter Kim yang menangani Shilla menyapaku. Tapi ekspresi wjahnya tak bisa aku mengerti. Sedihkah?? Atau prihatin???

“Aneyeong haseyo dokter. Bagaimana perkembangan Shilla dokter?”

“Itu juga yang ingin saya sampaikan Siwon-ssi. Saya merasa ini tidak akan bertahan lama”

“maksud dokter?”

“Sudah seminggu Shilla tak sadarkan diri. saya takut kalau lewt mala mini Shilla tak sadar juga, saya takut Shilla akan…”

“maksud dokter..”

“Ne Siwon-ssi. Maafkan saya”

Aku tak sanggup lagi harus bagaimana sekarang? Aku benar-benar tak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup deritaku kehilangan Soo Hwa dan calon bayiku. Tidak dengan Shilla. Aku bahkan belum sempat membahagiakanya. Tuhan kumohon. Jangan lakukakn ini padaku. Aku tak sanggup Tuhan.

“Shilla sadarlah. Sadarlah. Jangan pernah tinggalkan aku seperti Soo Hwa. Kumohon sadarlah.”

@@@

Aku terus terjaga sepanjang malam. Aku hanya berdoa, berdoa dan berdoa agar Shilla bisa sadar secepatnya. Aku tak ingin kehilanganya. Aku sadar betapa berartinya dia dlaam hidupku.

Dan tanpa terasa pagi sudah menjelang. Tapi tetap saja shilla belum sadar juga. Dokter Kim bilang kalau sampai pagi ini Shilla belum sadar juga maka Dokter hanya bisa pasrah. Ah Shilla kenapa kau belum sadar juga. Kumohon sadarlah.

Mataku sungguh terasa berat. Semalaman brjaga ternyata melelahkan juga. Kuputuskan untuk ke kamar mandi mencuci mukaku. Kumohon Shilla saat aku kembali dari kamar mandi kumohon sadarlah.

Setelah selesai dari kamar mandi aku melihat Dokter Kim datang ke kamar Shilla dengan tergesa-gesa dan wajahnya tampak serius. Dan dari raut mukanya sepertinya dia… tegang????

Apakah mungkin ini berarti Shilla… andwe andwe… Shilla kumohon bertahanlah jangan tinggalkan aku…

tbc

 
9 Comments

Posted by on September 24, 2010 in fanfiction

 

Tags: ,

9 responses to “My Everlasting Friend part 3

  1. neneng

    February 5, 2011 at 12:32 am

    hiks…hiks…sedihx.nggak sabar nunggu lanjutanx..

     
    • shilla_park

      February 6, 2011 at 10:42 am

      lanjutanya dah ada kok diatas noh… cari aja..
      gomawo ya chingu…🙂

       
  2. Minkijaeteuk

    April 4, 2011 at 7:58 pm

    Ngak nyangka bakal begini, mati kah shilla y, lanjut ke part akhir

     
  3. eunjae25

    August 21, 2012 at 10:14 pm

    waduh, napa jadi dua-duanya kritis gitu,,? kacian siwon,,,
    shilla mati juga ato bertahan ni?
    langsung lanjut aja deh, dari pada penasaran hehehe

     
    • shilla_park

      August 21, 2012 at 10:18 pm

      haha bner..langsung aja sok lah..😀

       
  4. Siregar Sri Fauziah

    December 9, 2013 at 5:13 am

    Ya ampun…. Kasihan Wonppa kehilangan calon bayi sma istriny… jdi Duren dong… :p
    Apa Shilla mw sma Duren??? Hehehehe…
    Semoga Shilla g knpa2…
    Rekamanny ttg apa ya??

     
    • shilla_park

      December 10, 2013 at 5:28 pm

      mau dong..klo duren tajir mah siapa yg nolak…*plakkk*

       
  5. inet

    September 25, 2015 at 3:16 pm

    ya ampun,gk nyngka bkal kyk gni jdinya… ><
    mdh2n shilla cpt bgn..n bs cpt smbuh..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: