RSS

Even If You’ll Die

24 Jun

Entah kenapa kepikiran ff aneh ini…

Sementara ya sebelum saya beralih lagi pada SS-scandal *kaga bagus amat namanya*😀

Just imagine your self as the girl if u like Yesung

Happy reading!!!!

😀

Your pov

Katakan aku bodoh. Karena memang mungkin aku begitu.

Hanya saja apa yang salah dari sebuah kata cinta? Kagum? Suka?

Tidak ada.

Layaknya diriku. Mungkin kata ‘itu’ terlalu naif untuk kuucap. Tak pantas kata ‘itu’ mengalir mulus dari bibirku. Tak pantas bagiku untuk mengatakan kata indah itu terhadapnya.

Bagai langit dan bumi.

Ia punya segalanya. Seolah semua bumi dan isinya ini miliknya. Mungkin  aku terlalu hiperbola. Tapi itu adalah perumpaan yang cocok.. kurasa.

Tak sebanding dengan diriku. Sebuah punguk merindukan bulan kurasa itu ungkapan yang cocok.

Apa yang membuatku pantas untuk dia? Tak ada.

Sebuah kata cinta tak akan pernah kuucap. Untuk apa?

Hanya sebuah kekaguman yang selama ini kuakui untuknya. Kekaguman yang terus merayap dalam benakku. Yang bagaikan bunga sakura yang semakin indah bersemi.

Bodoh memang ketika diriku hanya bisa melihatnya. Demi sebuah senyum yang mampu menghangatkan hariku. Demi pesonanya yang mampu membuat bibit-bibit kekaguman di hatiku semakin berkembang.

Aku tak ingin berhitung. Menghitung berapa detik, jam, hari, bulan dan tahun yang telah berlalu bagiku untuk mengaguminya. Dia terlalu indah untuk begitu saja dilewatkan. Meski aku hanyalah sebuah kuman yang tak kasat mata.

Tak peduli jika ia tak pernah melirikku. Meski aku adalah hoobaenya tapi aku tak berani berharap ia pernah sedikitpun melihatku. Terlalu takut untuk berharap. Karena harapan yang tak pasti hanya akan menumbuhkan benih-benih luka.

Cukup dengan senyumnya aku bahagia. Meski harus kujalani hidupku dalam pura-pura. Pura-pura sebagai resepsionis di residence tempat ia tinggal. Padahal hidup nyataku adalah seorang perawat.

Kenapa? Karena semenjak ia lulus aku tak tahu lagi cara untuk bisa melihatnya. Senyumnya terlanjur menjadi candu untukku. Sehari tanpa itu akan membuatku susah. Bodoh atau gila, terserah kalian menyebutnya.

Kenyataanya senyum yang semakin menambah wajah rupawannya itu menyihirku begitu kuat. Kurelakan satu jam hidupku untuk berpura-pura. Asal aku bisa melihatnya itu cukup.

Tapi hari ini berbeda. Candu itu tak ada. Sudah lebih 3 jam aku menunggunya. Kemana dia?

Aku hanya sibuk bermain dengan jemariku. Meremas atau menjentikkan jariku di meja. Menghalau semua rasa bosanku menunggunya. Tapi ia tetap tak kunjung tiba.

Ah aku ingin melihatnya. Tapi bahkan ini sudah waktunya untukku kerja. Jam kerjaku akan mulai sebentar lagi.

Dengan langkah gontai kutinggalkan meja resepsionis itu. Dengan hati penuh kecewa.

“Bersemangatlah. Kurasa ia sedang ada urusan di luar kota.. mungkin.” Ujar Shilla tepat sebelum aku melangkahkan kakiku. Mencoba menghiburku. Karena dialah aku bisa menjalani pura-pura ini. Dia resepsionis sesunguhnya. Tapi karena aku memohon padanya akhirnya ia bersedia memberikan sejam kerjanya untukku menggantikannya.

Aku mengulas senyum kecutku kemudian melangkah menuju rumah sakit tempatku bekerja.

***

Kubuka ruang rawat seorang pasien. Masih dengan langkah gontaiku. Seolah aku kehilangan semangatku satu-satunya.

Kuamati pasien itu. Korban kecelakaan. Tubuhnya terbalut perban putih tapi bercak darah masih jelas terlihat. Tak bisa kulihat jelas wajahnya, tertutupi selang yang menyangga napasnya.

“Dia kecelakaan di dekat tempatmu tinggal. Di jalan yang sama. Dari kartu identitasnya dia tinggal di apartemen dekat tempatmu” ujar Dokter Song. Kutolehkan kepalaku ke atas. mencoba mensejajarkan pandanganku dengannya yang beberapa senti lebih tinggi dariku.

“Keluarganya?”

“Tidak ada kontaknya. Yang berhasil dihubungi hanya sekretaris di perusahaanya saja. Ia salah satu ahli waris Kim Corp ternyata” jelasnya kemudian.

“Ini recap kondisinya saat ini. Kau yang bertugas untuk merawatnya” ujar Dokter Song lagi sebelum akhirnya meninggalkan ruangan ini. Menyisakan diriku dan pasien itu.

Kubuka recap yang Dokter Song berikan. Seketika mataku terbelalak. Tak percaya dengan yang kubaca.

Kim Jongwoon.

Ribuan belati rasanya kini tengah menusuk hatiku. Otakku tak mampu mengkoordinir saraf kakiku. Membuatku hanya terdiam di tempat.

Kim Jongwoon. Pria yang berhasil merebut hatiku tanpa pernah kuharapkan ia mengembalikannya. Manusia yang telah mampu membuatku nyaris terkena serangan jantung setiap hari. Membuyarkan susunan syarafku.

Aku menggelengkan kepalaku. Di korea ini bukankah banyak nama yang sama? Dia pasti bukan pria yang sama yang kukagumi.

Kupaksakan otot kakiku melangkah. Mendekati tubuhnya yang terbaring lemah.

Kuamati wajahnya. Dan kenyataan selanjutnya membuatku tak percaya.

Wajah itu, wajahnya. Meskipun kini goresan-goresan luka mendominasi tapi bisa kupastikan itu dia. Meski aku sangat berharap kalau itu bukan dia.

Cairan kristal kemudian mengalir mulus dari kelopak mataku. Kurasa aku juga membutuhkan bantuan oksigen untuk bernapas. Karena kini rasanya begitu sesak. Begitu sakit hanya untuk menghirup udara yang setiap harinya mengisi rongga paru-paruku.

Brain Death.

Kata itu jelas tertera dalam papan record yang kupegang. Pertahananku runtuh. Perlahan aku merosot.

Aku tidak bodoh. Meski aku hanya seorang suster tapi aku cukup tahu apa arti brain death itu. Kondisi dimana otak kita tak sanggup lagi menjalankan tugasnya. Meski tubuh masih hidup tapi otak tak lagi berkuasa menopang hidup.

Cairan bening itu semakin deras berjatuhan menyentuh pori-pori pipiku. Membawaku semakin  jauh dalam duka yang tak tertahan.

Kemungkinan seorang dalam kondisi brain death untuk hidup lagi sangatlah sempit. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jemari.

Aku menggigit bibir bawahku keras. Membuatku bisa merasakan asinnya air mata yang sedari tadi mengalir tanpa aba.

Kuberusaha meredam tangisku. Tapi aku tak bisa. Perih yang kurasakan di ulu hatiku membuatku tak bisa melakukan apapun selain menangis.

***

Kuamati wajahnya lagi. Sudah 48 jam ia dirawat. Masih dalam kondisi yang sama. Tak bergerak, seolah sudah tak ada lagi kehidupan di raganya.

Aku mendambakan senyumnya. Senyum yang jika kuhitung sudah 2 hari tak kulihat. Sudah kubilang kan senyumnya seperti candu? Dan ketika aku bahkan tak bisa melihatnya maka ragakupun ikut tersiksa.

Wajahnya kini datar. Goresan luka itu membuat wajahnya tampak berbeda. Seolah tengah menahan sakit yang teramat.

Bibir itu tak bergerak. Tak lagi menyunggingkan senyum. Yang ada hanya sebuah bibir pecah-pecah. Wajar, karena asupan cairan ke tubuhnya terbatas. Hanya berdasarkan selang infus yang menopangnya.

“Annyeong haseyo” kudengar sebuah suara berat menginterupsi. Kutolehkan kepalaku. Seorang pria paruh baya dengan stelan jas dan kemeja putih menghampiriku. Ia ulas sedikit senyumnya untukku.

“Bagaimana kondisi Tuan Muda Kim?” tanyanya lurus ke arahku. Aku tahu ia menanyakan pria yang kini tengah terbujur lemah di sampingku.

Aku menggeleng pelan. “Masih sama seperti hari lalu. Kalau boleh tahu Anda siapa?” ujarku berusaha mengutarakan raguku akan identitas pria paruh baya ini.

“Ah perkenalkan saya Park Jungsoo,sekretaris pribadi Tuan Muda.” Ucapnya singkat. Tapi cukup mudah bagiku untuk memahami sepenuhnya.

“Dimana orang tua pasien?” tanyaku hati-hati. Bagaimanapun pria di depanku ini asing. Aku belum bisa paham sepenuhnya tabiatnya.

Kudengar desahan napasnya. “Eopseoyo” singkat ia berucap. Membuatku tak mengerti.

“Orang tua Tuan Muda sudah tidak ada. Satu-satunya keluarganya hanya adiknya. Itupun dia tidak disini. Ia bersama harabojinya di Britain” tegasnya lagi. Aku hanya menatap miris pasien di sampingku ini.

“Kalau begitu sudahkah mereka tahu keadaan pasien?”

Pria itu mengangguk lesu. “Ne. Tapi mereka menyerahkan semuanya padaku”

Aku terpana. Bagaimana mungkin keadaan seperti ini bisa terjadi? Seorang cucu dan kakak sedang terbaring tak berdaya, bahkan tak ada seorang pun yang tahu berapa lama ia bisa bertahan, tapi kenapa kakek dan adiknya seolah tak peduli?

Aku penasaran. Tapi tak berani berucap. Takut kalau aku disangka terlalu mencampuri urusan orang lain. Bagaimanapun aku ini orang asing untuk mereka.

“Tuan muda sangatlah ceria. Tak peduli seberapa berat hidupnya ia akan terus tersenyum. Saya menyayanginya seperti anak saya sendiri. Saya mohon rawat Tuan Muda dengan baik selama saya harus bekerja. Sepulang kerja saya akan menjaganya” ucapnya penuh harap. Tanpa dimintapun aku akan melakukannya.

Aku menganggukkan kepalaku. Kulihat senyum tulus ia berikan padaku. Ia membungkukkan badannya sedikit. Ia berjalan ke arah Jongwoon. Ia tersenyum lembut.

***

Aku masih menunggunya. Menunggunya untuk membuka matanya. Meski aku tahu itu harapan kosong.

“Hey sunbae” ucapku. Berusaha memecah keheningan diantara kami. Kebodohanku satu lagi.

Tapi aku tahu. Kondisi seperti ini, ia mungkin bisa mendengarku. Tubuhnya mungkin memang tak memberikan respon yang kuinginkan, tapi entah mendapat keyakinan dari mana aku tahu kalau jiwanya bisa mendengarku.

Kutatap lekat wajahnya. Betapa aku merindukan senyum itu.

“Kau bisa mendengarku?” tanyaku pada raga kosongnya.

“Sudah 3 hari dan kau masih saja tak mau bicara padaku?” candaku. Kububuhi bibirku dengan senyum. Berusaha membalas semua senyum yang selama ini selalu ia berikan. Meski percuma. Toh ia tak bisa melihatnya.

Aku tak sanggup. Berbicara seperti ini, membuatku tak tahan. Air mataku berusaha berontak. Aku tak bisa.

***

Kim Jongwoon’s pov

Ragaku terperangkap. Di garis antara hidup dan mati. Bisakah aku melewati garis itu?

Akan lebih indah jika aku berhasil. Entah itu menuju kematian ataukan kehidupan lagi. Manapun itu, aku bersyukur. Setidaknya aku terbebas dari ketidakmampuanku. Menangis tapi tak ada yang mendengar. Menjerit tapi tak ada yang sadar akan itu.

Aku bisa melihat jelas ragaku. Memprihatinkan. Aku ingin menggapainya tapi tak bisa. Ada halangan yang begitu besar untukku dekat dengan ragaku.

Tuhan selalu punya cara untuk menegur hambanya. Mungkin ini tegurannya. Aku tak tahu.

Tapi seberapa besarpun teguran-Nya, dia selalu menyayangi hambanya. Sebuah teguran yang bahkan aku tak pernah tahu. Tapi kini teguran itu bagaikan sebuah oase di tengah gurun. Bagaikan sebuah keindahan dibalik kehancuran.

Membuatku bisa dekat dengannya.

Gadis itu, suster yang merawatku. Hoobaeku, dan kurasa cintaku.

Ya, aku menc intainya. Tapi terlalu angkuh untuk mendekatinya. Benih itu muncul saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah yang sama denganku.

Kekaguman yang kupendam sekian lama. Tak luntur sedikitpun. Tapi sekali lagi, keangkuhanku untuk mendekatinya membuatku masih berada pada posisi yang sama. Hanya terus memandangnya dari jauh.

Inginku untuk bisa dekat dengannya. Menunggu momen-momen ia menyapaku dan bercerita panjang lebar. Tapi tak pernah terjadi sebelumnya.

Dan kini saat ragaku bahkan tak bisa menanggapinya, ia malah begitu dekat denganku. Bercerita padaku seolah kami berteman lama. Inikah yang namanya hikmah? Mungkin.

***

No one’s pov

Sudah seminggu Jongwoon masih tak sadar. Kau masih dengan setia merawatnya. Kau selalu menarik bibirmu memunculkan senyum tiap kali di dekat Jongwoon. Sebuah senyum yang menurutmu sia-sia tapi merupakan sebuah kehangatan tersendiri untuk Jongwoon.

Kau memang tak melihat jiwanya. Tapi ia selalu tersenyum padamu.

Bagaikan dua hati yang terpisah ruang dan waktu.

Kau mengelap tubuhnya. Rutinitas yang biasa kau lakukan. Tugasmu untuk merawatnya.

“Sunbae, apa kau tidak bosan mendengar ceritaku?” ucapmu pada raga Jongwoon. Tanpa kau sadari Jongwoon tengah tersenyum ke arahmu.

Tidak. Justru aku bahagia mendengarmu.

Jongwoon selalu menjawab percakapanmu. Menyedihkan. Kalian sama-sama bicara tapi kau tak tahu itu. Kau tak tahu kalau Jongwoon menemukan sedikit kebahagiaanya karenamu.

“Kau tahu Sunbae? Senyummu itu sangat manis. Apakah kau pernah sadar kalau senyummu bisa memberi semangat untuk orang yang melihatnya?”

Jongwoon tersenyum lagi. Seandainya jiwanya bisa terdengar maka kini jiwanya tengah terkekeh karena ucapanmu.

“Aku.. merindukan senyummu”

Jongwoon mengerjabkan matanya. Tak percaya dengan yang kau ucap. Kalau seandainya jiwanya memiliki jantung sekarang, maka jantung itu akan berpacu begitu cepat.

“Jadi ayolah buka matamu. Tersenyumlah untukku.”

Aku juga berharap begitu. Kalaupun bisa aku ingin memberikan senyumku untukmu selamanya.

***

Hari terus berlalu. Sebulan rasanya begitu terlewat dengan cepat. Memisahkan Jongwoon dan gadis yang ia cinta. Meski sedetikpun gadis itu tak pernah meninggalkannya.

“Sunbae kau tidak bosan tidur ya?” kamu masih tetap bicara sendiri. Sebulan kau habiskan waktumu seperti orang gila yang bicara sendiri. Kau tak peduli.

“Kau tahu? Sejak lama aku ingin dekat seperti ini denganmu. Mengobrol banyak denganmu.”

Jongwoon masih terus mendengarmu. Ia menatap lurus ke arahmu. Mengamati garis wajahmu yang selalu ia damba.

“Aku penasaran Sunbae, apa kau pernah mengenalku?”

Tentu saja aku mengenalmu.

“Apa kau tahu siapa aku?”

Tentu saja. Lebih dari yang kau kira.

“Baiklah kalau begitu aku perkenalkan diriku. Aku ini hoobaemu. Aku juga gadis yang menjadi resepsionis di tempatmu tinggal. Kau tahu?”

Sangat tahu

“Ah kurasa lebih baik sekarang aku mengakuinya saja. Sebenarnya aku bukan resepsionis sungguhan. Aku hanya memohon pada Shilla untuk menjadi resepsionis sejam saja. Pernahkah kau tahu kenapa?”

Jongwoon menatap mu bingung. Dia bukan pembaca pikiran orang. Tak tahu apa yang kau pikir.

“Karena aku ingin melihatmu. Melihat senyummu”

Jongwoon terpana. Tak pernah menyangka kau akan berucap seperti itu.

“Mungkin kau tidak peduli. Tapi… aku… menyukaimu” ucapmu lirih. Tapi Jongwoon jelas bisa mendengarnya. Membuatnya kini lebih tak percaya lagi.

Kau tidak mengatakan mencintainya. Tak akan.

Tak ingin sedikitpun melanggar sumpahmu. Sumpah untuk tak pernah mengatakan cinta padanya. Sebelum ia sendiri yang menyatakan cintanya padamu. Kau tahu itu mustahil. Dan sekarang hal itu semakin mustahil.

Jiwa Jongwoon terisak. Jika boleh berandai maka ia akan berandai kalau ia hidup sekarang. Bisa menyentuh balik tubuhmu. Menggapaimu. Merengkuhmu.

Andai ia bisa berucap. Melantunkan sebuah kata cinta untukmu. Ia sangat ingin. Keinginan itu kini mendominasi.

Sebuah doa ia panjatkan untuk Tuhan-Nya.

Kalaupun aku harus mati, ijinkan aku untuk mengucap selamat tinggal padanya. Ijinkan aku untuk mengucap kata cinta itu untuknya.

Jongwoon semakin jauh berada dalam tangisnya. Semakin penuh harap ia berdoa.

ia tak ingin mati sia-sia. Jikapun takdirnya berkata ia harus mati, setidaknya ia ingin mengakui cintanya. Setidaknya sebelum ia benar-benar pergi ia ingin gadisnya tahu ia mencintainya.

Jiwa Jongwoon seketika merasakan suatu perbedaan. Bagaikan tertarik medan magnet yang kuat. Ia tersedot dalam raganya sendiri.

Inikah jawaban Tuhan?

Iya.

Perlahan Jongwoon bisa menggerakkan tubuhnya. Matanya kini bisa terbuka lagi. Menangkap sosok wanita yang berhasil meluluhkan hatinya.

Kau hanya terpana dengan pemandangan di depanmu. Sebuah keajaiban pikirmu.

Perlahan air matamu jatuh. Sebuah air mata bukti keharuanmu. Tuhan mendengar doamu setiap malam. Berharap bisa melihat Jongwoon lagi.

Keheningan yang tercipta. Hanya derap napas kalian yang terdengar. Sibuk menatap. Menelusuri ke dalam mata masing-masing. Menjelajahi pikiran masing-masing.

“Kau.. kau sudah sadar?” tanyamu akhirnya. Menyuarakan kelegaanmu.

Jongwoon menarik ujung bibirnya. Menghasilkan sebuah senyuman yang sekian lama kau tunggu. Sebuah obat dari semua kekacauanmu selama ini.

Kau membalas senyumnya. Suatu hal yang sejak lama ingin kau lakukan.

“Aku panggilkan dokter” ucapmu. Merasa kalau seharusnya Dokter memeriksa kondisi Jongwoon.

Jongwoon menahan tanganmu. Kau terpana. Seorang Kim Jongwoon menyentuhmu? Kau tak bisa menyembunyikan debar jantungmu. Berharap kalau Jongwoon tidak mendengar kerasnya hentakan jantungmu.

“Tetaplah disini.” Jongwoon berucap lembut. “Temani aku disini. Ceritalah padaku”lanjutnya. Kau menarik garis alismu, menampakkan wajah bingungmu.

“Aku hanya ingin bersamamu” kau semakin merasa tak mengerti. Perubahan sikap Jongwoon. Seolah kalian sudah lama saling dekat. Kenyataanya memang iya. Hanya kau tak pernah menyadarinya.

Kau menggerakkan  kepalamu. Menciptakan sebuah anggukan lemah. Jongwoon tersenyum lagi, untukmu.

“Kau.. ingin dekat denganku kan?” tanya Jongwoon yang spontan menciptakan rona merah di pipimu. Kau tak menjawab.

“Kemarilah, ranjangku begitu lebar kurasa.” Ucapnya lagi. Menepuk pinggiran ranjangnya. Mengisyaratkanmu untuk menemaninya.

Kau ragu. Bukan karena takut Jongwoon akan menyakitimu. Tidak mungkin. Kau hanya takut kau tak pantas. Entah kenapa kau begitu merasa Jongwoon begitu rapuh, bagaikan sebuah kaca yang mudah retak karena suatu tekanan.

Kau menggeleng. Jongwoon hanya menatap penuh harap padamu. Pada akhirnya kau tak sanggup melawannya.

Kau menyibakkan selimut yang menutupi setengah tubuh Jongwoon. “Apa tidak apa?” ucapmu ragu. Jongwoon mengangguk sambil tersenyum.

“Ini lebih baik” ucap Jongwoon saat kau sudah berada di sampingnya. Jongwoon mencoba menyamai posisimu. Terduduk.

“Aku juga sama” ucap Jongwoon singkat. Kau meliriknya. Dengan jelas ia kini tersenyum penuh arti padamu.

“Aku juga sama. Ingin dekat denganmu” ucapnya memperjelas. Menghilangkan semua tanda tanya di otakmu karena ucapan singkatnya.

Kau sekali lagi terpana. Dunia ini sudah gila atau dirimu yang benar-benar gila? Dalam mimpipun kau tak pernah berharap bisa sedekat ini dengan Jongwoon. Dan sekarang bahkan Jongwoon sama halnya denganmu. Menginginkan kedekatan.

Tangan kanan Jongwoon meraih tanganmu. Selang infus yang tertanam dalam kulit tanganya sedikit mengganggu. Tapi tak lantas menciutkan niatnya untuk menggapaimu.

Kau hanya dibuat bingung dengan tindakannya.  Tapi toh kau membiarkannya. Hatimu tak menolak, justru menginginkannya. Kau tak bisa memungkiri hatimu kalau kau bahagia.

“Gomawo” Jongwoon terus berucap singkat. Membuahkan sebuah kebingungan darimu.

“Gomawo karena menjagaku selama aku tak hidup” ucapnya. Baginya kondisi brain death sama saja mati. Kau mengerti maksudnya. Membuatmu hanya menganggukkan kepalamu.

“Gomawo karena menyukaiku” ucapnya lagi. Kau terhenyak. Benakmu bertanya, bagaimana ia tahu?

“Aku juga menyukaimu, bahkan lebih” tambah Jongwoon. Kau menatapnya dalam. Ia balik memandangmu. Dengan sebuah senyum yang menghiasi wajah tampannya.

“Aku mencintaimu”

DEG

Jantungmu berpacu. Seolah pompa jantungmu kehilangan kendali. Menghasilkan detak jantung yang lebih dari biasanya.

Ini hanya sebuah mimpi, pikirmu. Mencoba menepis semua kemungkinan. Dan kalaupun ini mimpi kau tak ingin terbangun.

“Aku sungguh mencintaimu. Aku hanya terlalu angkuh selama ini. Mencintaimu tapi tak pernah berani mendekatimu” aku Jongwoon. Kau tak percaya tentu saja.

“Sungguh. Aku sudah mencintaimu saat kau menjadi murid baru di sekolahku dulu. Tapi aku terlalu pengecut untuk mendekatimu”

Kau terpana lagi. Kalau memang ini mimpi maka  ini adalah mimpi yang terindah.

“Aku… juga mencintaimu” ucapmu akhirnya. Berusaha mengucapkan kata cinta yang selama ini mati-matian kau simpan.

Perlahan Jongwoon meraihmu. Menyalurkan aura kebahagiaannya karena kau juga mencintainya. Ia bersyukur begitu dalam pada Tuhan-Nya.

Kau rasakan kehangatan dan kedamaian dalam dekapannya. Sesuatu yang tak pernah kau minta tapi dengan mudah kau dapat.

Kau tak kuasa menahan tangis. Kebahagiaan yang Tuhan berikan begitu besar. Tak sanggup bagimu menerimanya sekaligus. Membuatmu hanya bisa menangis bahagia.

“Kenapa? Kenapa tiba-tiba kau mengatakannya Sunbae?” tanyamu mencoba menjawab keraguanmu.

“Karena aku tak tahu kapan lagi kesempatan seperti ini akan ada.” Ujarnya. Membuatmu bertanya dalam diam.

“Aku bahagia kau mencintaiku. Terimakasih.” Ketulusan jelas terbersit dalam nada bicara Jongwoon.

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Apakah ini hanya sesaat atau selamanya. Yang jelas aku bahagia, dan aku berharap kau juga bahagia. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, entah itu bersamaku atau tidak.”

“Maksud Sunbae?”

Jongwoon  tersenyum. “Intinya aku ingin kau bahagia” ucapnya lagi. Kau menautkan alismu heran.

Jongwoon mengeratkan dekapannya. “Satu lagi. Panggil aku Oppa!” titahnya. Kau  tersentak. Jongwoon masih menunggumu berucap.

“Nde..Op… Oppa” ucapmu kaku. Tapi Jongwoon begitu senang dengan sebuatan yang keluar dari bibirmu.

“Malam ini temani aku tidur, Ne? Aku ingin tidur sambil memelukmu” ucap Jongwoon yang lagi-lagi berhasil membuat susunan sarafmu jadi tak beraturan. Kau mengangguk gugup.

“Sebagai gantinya aku akan menyanyikan lullaby untukmu” tambah Jongwoon. Suaranya memang terkenal indah. Kau tak menolak. Tak akan pernah.

“Aku bahagia dan kuharap kau bahagia. Saranghae.” Ucapnya kemudian mulai menyanyikan lagu tidur untukmu.

Suaranya terdengar begitu lembut di telingamu. Setiap alunan nada yang mengalun indah membuat hatimu merasa hangat. Tapi entah kenapa kau merasakan segetar kepedihan di dalamnya. Dari caranya bernyanyi seolah mengisyaratkan sebuah perpisahan.

Kau menggeleng. Menepis pikiran burukmu. Sekarang kau hanya ingin menikmati alunan indah suaranya. Menenangkan. Membahagiakan. Kau tarik bibirmu untuk tersenyum, dan menuju alam mimpimu.

***

Your pov

Kukerjabkan mataku ketika kurasakan sapuan sinar mentari pagi. Semalam adalah tidur terindahku. Disamping orang yang paling kucintai.

Kutengokkan wajahku menatapnya. Wajahnya tersenyum. Bahkan dalam tidur pun ia tersenyum.

Kulepaskan lingkaran tangannya di perutku. Kurasakan dingin. Tidak.. tidak mungkin.

Tak bisa kurasakan kehangatan yang semalam ia berikan. Kugoyangkan tubuhnya tapi ia tak merespon.

Kuraba nadinya. Tidak ada.

“Oppa, bangunlah! Bangunlah ini sudah pagi. Hey bangunlah” ucapku frustasi. Kutahu ini sia-sia. Ia tak akan membuka matanya lagi. Tidak akan pernah.

Tak hanya ngilu yang kurasakan di ulu hatiku. Melebihi itu. Rasanya hatiku begitu sakit, perih, tak tertahan.

Ia hanya bangun sementara.

Seharusnya kutahu sedari awal. Tak mungkin seseorang dalam kondisinya untuk hidup kembali. Aku hanya memupuk harapan kosong.

Aku terisak lebih keras.

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Apakah ini hanya sesaat atau selamanya. Yang jelas aku bahagia, dan aku berharap kau juga bahagia. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, entah itu bersamaku atau tidak.”

Kau hanya ingin mengucap selamat tinggal?

Apa kau benar-benar bahagia?

Senyum itu, kau berikan untukku? Senyum perpisahan?

Tak bisakah lagi kulihat senyum indahmu? Tak bisakah lagi?

Aku semakin terisak. Aliran air mata rasanya kini sudah menciptakan sungai kecil di wajahku.

“Saranghae Oppa. Jongwoon Oppa jeongmal saranghae” ucapku berat. Sesak begitu jelas kurasa.

“Selamat tinggal. Aku akan bahagia” ucapku pada raganya yang telah tak berjiwa itu. Sungguh berat mengatakannya.

Tapi layaknya ia yang masih memberiku senyuman bahagianya. Maka aku juga akan menuruti kemauannya. Aku akan bahagia. Meski kuharap aku bisa bahagia bersamanya. Mungkin di kehidupan mendatang? Bisakah Oppa?

Aku harap.

~FIN~

Hahaha.. pingin bikin ff dengan gaya penulisan yg beda tp spertinya saya gagal…

Malah jadi ff aneh gini,, tau ah… hahaha..

 
42 Comments

Posted by on June 24, 2011 in angst, fanfiction, oneshot

 

Tags: ,

42 responses to “Even If You’ll Die

  1. Shiningtaem...

    June 24, 2011 at 11:35 am

    Sumpahhhhh,,,kamu berhasil bikin oennie menggalau siang2 gini,,,hikkkkkssssss,,,,berasa benar2 jd diri sendiri pas baca ff mu,,,,,tp tp tp kenapa jongwoon oppa mati???tadi pas baca judulnya udah nebak bakalan ada yg mati soalnya ada tulisan *angst* nya,,,,huuhuhuhuhuhu,,,,bahasa FFnya keren bgt,,,,,huwaaaaaaaa,,,great job saeng,,,,tp jeballll,,,jgn sering bikin ff sad ending yaaaa,,,,gomawooooo,,,,🙂 tp km tetap eksis ya di ff ini,,,DAEBAK

     
    • shilla_park

      June 24, 2011 at 12:42 pm

      woahh..
      kok jd galau si eon? saya kan ga da maksud.. hahaa..😀
      ya masalahnya ide sayanya gt eon… hahaha..
      tenang saya jarang kokn bikin sad end.. kalo lg pengen aja..😛
      hehehe.. saya kan emang tukang eksis..😀

       
  2. jung yurin

    June 24, 2011 at 1:08 pm

    ya ampuuuunn.. aku nangis ini siang-siang😥 ini sedih banget,sumpah..

     
    • shilla_park

      June 24, 2011 at 7:46 pm

      heh? kok bisa nangis? emang knapa?;; lol😛

       
  3. dongdongchen

    June 24, 2011 at 3:04 pm

    hiks..hiks..srooootttt ff yg inimah bener2 bagai punguk merindukan kura2 *tabok*
    giliran yesung aja “Just imagine your self as the girl if u like Yesung” coba kalo kuda,
    ane jg kan pengen mencicipi kuda wkwkwk….
    pas ane ngebayangin suami ane park jung soo yg brain death nya ternyata
    disitu jd pria paruh baya, mentang2 dia dah ahjussi…
    author sirik nih ma suami ane yg gantengnya minta ditabok wkwkwkwk………
    author kereeeennn, ff nya keren…. sumpah nyesek….*berbanggalah soalnya ane jarang muji*

     
    • shilla_park

      June 24, 2011 at 7:50 pm

      hohohoho…
      ya kan kalo yesung mah milik bersama.. kalau kuda mah milik saya seorang…gyahahahha😀
      hahaha.. habis yg mukanya mendukung jd ahjusi cuma teuk oppa.. *digampar*
      gomawo eoni atas pujiannya… saya terharu sangatt..😀

       
  4. park_ahrin

    June 24, 2011 at 6:13 pm

    hiks hiks
    ff ini ngasih hikmah buat aku, spya aku brani ngungkpin rasa sayang sma org2 d.sktar aku, soalnya kta gtau brpa lma kta hdup n kpan ksmpatan k.2 bkal dtang..
    hoaaa~ ff.nya bagus onn🙂

     
    • shilla_park

      June 24, 2011 at 7:53 pm

      wihii… syukurlah kalo begiitu.. :d
      gomawo ya,,😛

       
  5. Rina Orin

    June 24, 2011 at 8:45 pm

    HWAAAAAAAAAA …
    OPPA nya PERGIIII TTT______TTT
    *ambil tisu*
    hiks .. Menyedihkan! *iyalah, judul.a aja angst*😦

    Selamat jalan oppa~
    semoga kau tenang disana!! 😦
    *taburin bunga*

     
    • shilla_park

      June 24, 2011 at 9:50 pm

      haha… dasar..
      kurang ajar ni anak nebar2 kembang ma yesung..
      *ditabok clouds”
      gyahahahha😀

       
  6. princessradita

    June 24, 2011 at 9:26 pm

    Hwaaaaa~ sediiiiih
    T______________T
    Kenapa mereka gk bisa sama-sama aja
    Huhuhhuuu

     
    • shilla_park

      June 24, 2011 at 9:50 pm

      hahaa… ga bisa eon.. udah takdirnya gt.. (?)😀

       
  7. wonwonwon

    June 25, 2011 at 2:25 am

    Huaaaa jongwoon😦 *sobs
    meweknya pas ending cobaaaa😐😐

    nih onn ff sad endingnya, untung bukan di untouchable married xD

    bagus onn ff nya, bikin mewek *sobs

     
    • shilla_park

      June 25, 2011 at 8:44 pm

      hahha.. saya ga mau bikin sad end untuk kisah saya… ahhaha😀

       
  8. mumblingme

    June 25, 2011 at 10:38 am

    huwaaaa oenni…. *lempar kotak tisu.*

    oenni taggung jawab! kotak tisuku abis. padahal udah kueman-eman buat ingusku. kehabisan deh.

    bagus oenni.. bikin nangis. terharu. *sobs*

    tapi… oenni horor deh.

    “Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jemari.” hiii~ kayak di Sweeny Todd aja. hiii~😛

     
    • shilla_park

      June 25, 2011 at 8:46 pm

      hahaha.. aku masih ada tisu ni sekotak mau ga??..lol😀
      horor??.. ckckkckkc😛

       
      • mumblingme

        June 25, 2011 at 9:17 pm

        mau.. mau..😛

        horror banget oenni. masak nyari jarum di tumpukkan jemari? yang bener kan mencari jarum ditumpukkan jerami.😛

         
      • shilla_park

        June 25, 2011 at 9:54 pm

        hah? saya salah nulis gt ya??…
        hahahaha… maaf kalo gt…😛

         
  9. min nira

    June 25, 2011 at 2:02 pm

    Eonni ffnya nyentuh banget😦
    sedih deh yesung harus pergi.. tapi syukur deh dia sempet bilang “aku mencintaimu” walau castnya bukan siwon, shilla eonni tetep ngeksis ya di dlm ff -_-

    eonn sekali kali bikin ff castnya kyuhyun sama aku gitu u.u /plak #maunya

     
    • shilla_park

      June 25, 2011 at 8:47 pm

      hahaha… gomawo..😛
      mau ama kyu??
      boleh kapan2…hahhha😀

       
  10. Park yeon gi

    June 25, 2011 at 4:37 pm

    (╥﹏╥) sedih bnget jongwoon’y pergiiii …
    Ni FF bener2 nyentuhh ..

     
  11. agitaraka

    June 25, 2011 at 7:39 pm

    aku nangis baca ff ini. .
    bneran. .
    daebakkkk!!! tragis buanget.. . .

     
    • shilla_park

      June 25, 2011 at 8:48 pm

      nangis?? jangan nangis nak.. aku kasih permen deh,, lol😛

       
  12. vanny

    June 27, 2011 at 9:20 am

    keknya neh Ff efek dari nonton 49days ya??
    hahahahaha…

     
    • shilla_park

      June 27, 2011 at 8:59 pm

      hohohoho.. anda betul sekali eoni…
      gara2 keracuanan 49days ni eon.. wkwkkwkw😀

       
  13. Carrie Cho

    June 27, 2011 at 9:47 pm

    Jongwoon bangun bener-bener buat .____.
    kirain aku emang udah ‘sadar’ dan yah seterusnya sembuh wkwkwk
    setidaknya pembuktian cinta si ‘SOMEONE’ ngga bertepuk sebelah tangaaaan~

     
    • shilla_park

      June 27, 2011 at 11:06 pm

      hahahha/// who’s that someone??..
      hahahha😀

       
  14. lusiani haheho

    June 28, 2011 at 12:00 am

    sebenernya aku gak mau baca karena ini angst pasti bakal sedih dan mewek, ck, tapi dari pada aku penasaran gak baca ceritanya aku bisa gilak karena cast nya yesung hahahaha, eh udh di baca ternyata bener bener pergi yesung nya ckck miris banget onnieeeee, untung itu cuma di ff onnie aja amit2 deh jauh2 dari aslinya hahahaha, aku suka sama jalan ceritanya onnie alur nya pelan lagi gak terburu buru kkkk~~, onnie kapan cerita shilla siwon bakal di publish lagi aku tunggu loh onn cerita mereka hahahay, sampe ketemu di next story onnieeeee kkkkkk~~

     
    • shilla_park

      June 28, 2011 at 7:32 am

      hoohoho..
      gomawo kalo gt karena dah baca…
      hahahha😀
      iya amit2 jangan sampai crita aslinya kek gt..
      tenang aja hari ini aku publish kok😀

       
  15. YesungBiased

    September 3, 2011 at 12:02 pm

    Huaaaaaaaaa
    hukshuks
    kenapa kau mati disini yeobo?!
    Haiiiiish author ny sukses bikin saya berkaca kaca deh..
    Good job thor!🙂

    mm btw saya reader baru disini..
    Diah imnidaa..
    Ff yg main cast ny yesung baru ini ya thor?
    Kebanyakan si abang kuda..
    Hehe
    saya ijin baca” yg laen yaaa?
    Gomapsumnidaaa
    *bow

     
    • shilla_park

      September 3, 2011 at 6:28 pm

      haha.. ada istrinya bang ddangkoma eh maksud saya bang yes.. perkenalkan saya slingkuhannya yesung oppa *plakk*
      yg main cast bang yes ga cuma ini kok.. dulu jg pernah ada yg lain.. ubek2 aja sapa tau nemu.. *plakk* hehe..😀

       
  16. LJK~

    December 11, 2011 at 9:13 pm

    huaa
    Sedih sedih
    Jongwoon idup bntr bwt mati lg
    Klo gk salah ad ya syndrom atau apa gtu namanya org yg sakit parah trus idup sehat2 aj tp terus meninggal
    Huaaa sediihhhhh
    Mreka sling mncintai pdhal

     
    • shilla_park

      December 11, 2011 at 10:09 pm

      hehe.. iya emang ada kasus kek gt.. ini jg saya nemu ide ini entah drmana..wkwkw😀

       
  17. ryeosa

    March 26, 2012 at 7:08 pm

    Mataku berkaca-kaca! God! Ni terlalu tragis! Hanya semalam!ungkapkan cinta n go!

    True love? Bisa dsbt seperti i2

     
    • shilla_park

      March 26, 2012 at 7:30 pm

      haha,,yup just take it as true love…lol😀

       
  18. MissClouds

    April 6, 2012 at 11:46 pm

    Shillaaaaaaaaaaaaaaa~~~~
    akhirnya ini ane baca juga*petama.a gg tega cz dh tw bakal bikin mwek…

    Tega amat sih ama ane shillaaaa~~~
    mana pekerjaan tuh yeoja sama ama ane jdi menghayati banget…
    JongWoon~ah seandainya ini beneran terjadi
    aku gg bakal suka sama seorang JongWoon…terlalu menyakitkan berpisah kaya’ gtu//remas tissu//

    Tapi walopun gtu…aku bakal relain kamu kok…
    lbh menyakitkan melihat hanya raga tapi tak bisa merasakan….
    Neomu saranghae Kim JongWoon…. T_T
    berbahagialah kamu disana//dadah2//

    Yeye: koplakk gue blom mw mati tauuu==”

     
    • shilla_park

      April 7, 2012 at 8:20 pm

      woah..baru tahu kalo situ perawat..ya jadinya kan makin dpt feelnya ama abang yesung..haha
      kalo kamu ga mau sama jongwoon maka biarlah saya yg menampung.. *kedip2 sama yesung*😀

       
  19. lala chan (@heldaftigh_chan)

    June 1, 2012 at 12:20 pm

    huwaaaaaaaaa…….
    yah yah yah kenapa bang yesung mati, kagak rela saia #tarikbangyesungbawakeindo😀
    huuuff sumpaaaah ini daebakk, fell ku bener2 terbangun dengan sendirinya ketika membayangkan wajah bang yesung

    aaaaah pokoknya top markotop daah kagak bisa ngomong apa2 saia ^^

     
    • shilla_park

      June 1, 2012 at 9:43 pm

      aduh maaf ya…yesung udah saya bayar mahal buat acting mati..lol😀

       
  20. Reena Yu Lee

    May 24, 2013 at 10:01 pm

    OMG !! Mengharu biruuuu. . .:'(

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: