RSS

(FreeLance) Changeover #2

28 Nov

AUTHOR: HENBABY

 

Siwon’s POV

DRRTT DDRRTT

Aku baru saja selesai mandi saat ku lihat ponsel ku menyala.

‘Dari siapa pagi-pagi begini?’

Sambil mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk, aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja samping tempat tidurku.

From: +978585xxx

Tuan, kami sudah memiliki beberapa informasi. Kapan kami bisa bertemu Tuan?

Ini berita baik. Dengan segera aku mengetik kan balasan.

To: +978585xxx

Pagi ini jam 10, di tempat biasa.

DDRTT DDRRT

From: +978585xxx

Baik Tuan.

Aku berharap, informasi kali ini bisa memperjelas semua kejanggalan yang aku rasakan.

****

Woochy’s POV

“Kau sudah bangun?” Siwon menatap heran aku yang sudah duduk manis di meja makan untuk sarapan.

Aku hanya mengangguk, aku sedang malas untuk meladeninya. Sepertinya bad mood ku sedang datang.

“Aku antar pulang ya Woochy~ya? Aku ada urusan di luar,”

“Aku ikut,” ucapku tegas.

“Tidak bisa Woochy~ya, ini masalah bisnis appa. Kau juga sering mengomel karena bosan menunggu ku. Ya sekarang sudah tidak di ajak malah mau ikut,”

Siwon menghela nafas berat.

“Ya sudah, antar kan aku ke dorm suju saja ya oppa? Aku tidak mau pulang ke rumah,”

“Andwae! Nanti kau merusuh di sana, lagi pula tidak ada aku yang bisa melindungi mu dari kejahilan mereka semua,”

“Pulang lah, di rumah ini juga appa dan eomma sedang ke luar negeri jadi tidak ada yang bisa menjagamu,” Siwon menatapku dengan tatapan membujuk.

“Shireo oppa! Pokoknya antarkan aku ke dorm!” jeritku dengan keras kepala.

“Ara, ara. Sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain,” ucapnya pasrah.

Aku mengeluarkan evil smirk terbaik ku.

****

Author’s POV

“Waa, ada yang memasuk kan dirinya secara sukarela ke dalam sarang singa rupanya,” Eunhyuk terkekeh ketika melihat Siwon dan Woochy masuk ke dalam dorm mereka.

“Hyung, Woochy datang!” teriaknya dengan lantang.

Woochy mendelik ke arahnya dengan kesal dan mencoba menyembunyikan tubuhnya di belakang Siwon.

Terdengar bunyi gemuruh beberapa orang turun dari tangga.

“Mana, mana?”

“Aku duluan hyung!”

“Aku, aku,”

Woochy menatap komplotan manusia itu dengan ngeri.

‘Nyawa ku sepertinya akan berakhir di tangan mereka’ batinnya.

“Aku titip Woochy di sini ya, aku sedang ada urusan,”

Siwon menepuk bahu Woochy dengan pelan.

“Jangan berulah,”

****

Woochy’s POV

‘Jangan berulah?’

‘OMO oppa, aku yang akan di makan mereka hidup-hidup di sini!’

Sepertinya keputusan ke dorm neraka ini adalah salah besar. Aku memang evil tapi mengalahkan 6 binatang buas yang sedang menatapku dengan lapar sepertinya benar-benar buruk.

“Jangan mendekat atau aku akan mencincang kalian hidup-hidup,” ucapku dengan penuh tekanan dan memandang mereka dengan ragu.

Ucapan ku barusan seperti lampu hijau di mata mereka.

“Ayo kita main game Woochy~ya, starcraft sudah menunggu kita!”

“Temani aku memasak Woochy~ya!”

“Woochy~ya, aku ingin di temani mu jalan-jalan!”

“Ikut aku pemotretan hari ini!”

Tubuh dan tanganku di tarik paksa oleh mereka semua.

“APPO OPPA!!!” aku berteriak sekencang-kencangnya.

Aku melirik ke arah lengan ku yang sudah memerah karena cengkraman mereka.

Aku menatap mereka yang sekarang terdiam dan menatapku dengan mata puppy eyes mereka yang menjijik kan itu.

Kyu menarik tangan ku.

“Sudah, kau lebih baik ikut aku saja!”

Kemudian Kyu menarik ku ke arah kamarnya dan Sungmin.

Tidak ada perlawanan dari member yang lain. Siapa yang berani melawan Evil Magnae ini coba!

‘Yah, sepertinya game adalah selingan yang menarik’

****

Henry’s POV

Aku mendengar samar-samar suara teriakan di telingaku yang kemudian di ikuti umpatan kesal dari pemilik suara.

Aku membuka mata ku dan melihat apa yang sedang terjadi.

‘Woochy dan Kyu hyung sedang bertanding game’

Pantas saja ribut sekali. Aku menguap lebar dan meneruskan tidurku. Tapi telingaku masih saja bisa mendengar percakapan mereka berdua.

“Oppa aku lapar,” suara Woochy terdengar di telinga ku.

“OMO kau ini, baru beberapa jam kau sarapan kenapa sudah lapar lagi??”

“Mollayo. Buatkan aku makanan Oppa,”

“Shireo! Masak saja sendiri!” Kyu hyung menolaknya dengan tegas.

“Ara, jangan harap aku akan memberitahu mu bagaimana menamatkan level ini,” ucapnya cuek.

“Kau benar-benar sadis Woochy~ya, ara akan ku buatkan makanan!”

Aku mendengar suara pintu di banting keras dan Kyu hyung sudah keluar.

Aku membuka mata kembali dan menatap yeoja yang ada di hadapanku ini.

‘Aku ingin sekali melihatnya menderita’

“Kau sedang apa?” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku.

Dia menatap ke arah ku dengan pandangan mencela.

“Kau tidak bisa melihat babo! Aku sedang bermain game!”

“Kau itu jadi yeoja galak sekali!”

Aku sudah bangun dari tempat tidur dan berjalan untuk duduk di sampingnya.

“Jangan mendekat, kau mau apa?”

Dia menoleh ke arahku dan segera merapatkan tubuhnya ke dinding.
Pandangan takutnya itu membuat aku ingin tertawa terbahak. Aku ingin menggodanya.

“Memangnya apa? Aku akan mencium mu,” aku mendekatkan wajah ku ke arahnya dan menatap matanya dengan lekat.

“TIDAK SUDI,” umpatnya seraya melemparkan stick game yang di pegangnya ke arah ku.

Sekarang dia sudah berdiri dengan kedua tangan terlipat di dadanya.

“Oppa, kenapa kau mesum sekali?”

Aku agak terkejut kemudian tertawa terbahak.

“Memangnya aku bernafsu hah melihat wajahmu yang tidak menarik itu,”

“Kau sudah bosan hidup rupanya HENRY LAU yang rupawan?”

Kata-katanya sangat sadis di dengar. Aku masih saja tertawa terbahak.

BRAK!

Dia keluar kamar dan menutup pintu dengan kasar.

‘OMO, Apa aku masih berniat menyakiti yeoja sepolos itu?’

****

Woochy’s POV

“TIDAK SUDI,”

Aku menjerit kesal dan refleks melemparkan stick game ke arahnya.

Aku berdiri dan menatapnya dengan marah.

“Oppa, kenapa kau mesum sekali?”

Henry tertawa terbahak.

‘Sebegitu aneh kah pertanyaan ku tadi?’

“Memangnya aku bernafsu hah melihat wajahmu yang tidak menarik itu,”

Aku mendelik ke arahnya dengan bengis.

“Kau sudah bosan hidup rupanya HENRY LAU yang rupawan?”

Ucapan ku barusan tidak mampan terhadapnya dan Henry masih saja menertawakan ku. Cukup sudah, aku tidak tahan lagi.

BRAK!

Aku keluar kamar dan menutup pintu dengan kasar.

Aku berjalan dengan cepat menuju dapur dan menemukan Kyu yang sedang membuatkan jjangmyeon untuk ku. Memang hanya jjangmyeon masakan yang di kuasainya.

“Oppa!! Kenapa ada Henry di kamarmu?!” protes ku ke arahnya dan duduk di meja makan dengan wajah frustasi.

Kyu berbalik dan menatapku heran.

“AC di kamarnya sedang rusak makanya Henry pindah ke kamar ku. Sungmin sedang di mengunjungi kerabatnya yang sedang sakit,” jelasnya panjang lebar.

“Cih, dia itu benar-benar magnae yang lebih sialan dari mu Oppa!”

“MWO?? Kau ini sudah aku buatkan makanan, masih saja mencerca ku dengan makian mu itu,” Kyu merengut ke arah ku dan menyodorkan semangkok jjangmyeon panas.

Aku sudah kehilangan selera untuk makan.

“Aku sudah tidak lapar lagi!”

Pletak!

Kyu menggeplak kepala ku.

“Aw!”

“Appo!” aku mengelus kepalaku yang berdenyut-denyut.

“Makan atau aku akan menyeret mu ke kamar dan menyuruh Henry membuat mu kesal lagi,”

Aku hanya diam dan memakan jjangmyeon yang ada di hadapan ku.

“Oppa, antar aku pulang,”

“Tidak. Siwon menyuruh kami menjaga mu di sini,”

“Tunggu lah, dia pasti tidak lama lagi akan pulang. Lagi pula kau belum mengajari ku level terakhir starscraft, aku menagih janji mu,”

“Ara ara tapi bawa laptop Oppa ke bawah saja. Aku muak kalau melihat wajah Henry lagi,”

Kyu mengangguk dan pergi untuk mengambil laptopnya.

‘Padahal aku sudah tergoda olehnya tapi kenapa dia begitu menyebalkan?’

****

Siwon’s POV

“Kami sedang menyelidikinya lebih dalam lagi Tuan tapi kami menemukan beberapa informasi penting termasuk catatan dokter yang mengotopsi jenazah, di tubuh korban yaitu dalam aliran darahnya, sel-sel darah terutama plasma darahnya mengandung molekul-molekul yang bisa membunuh sel-sel jantung,”

“Molekul itu di dapat dari suatu zat yang masih belum kami ketahui namanya. Di ambil dari tanaman langka di jepang. Zat itu sepertinya tertelan secara berkala oleh korban,”

“Tertelan berkala? Apa maksudnya?” aku mencoba memahami semua perkataan kedua pesuruh ku itu.

“Ya, zat itu sepertinya di berikan secara teratur kepada korban. Entah disengaja atau tidak. Hasil laboratorium menunjuk kan zat itu sudah masuk ke dalam tubuh korban selama 3 tahun sebelumnya,”

“Kau sudah menyelidiki riwayat penyakit Ahjusshi sebelumnya?”

“Sudah Tuan. Ternyata korban menderita hipertensi dan sedikit gangguan di saluran kencingnya,”

“Hanya untuk di ketahui Tuan, sebelum korban mati di tembak, umur korban memang hanya sebentar lagi, itu lah informasi yang bisa kami dapatkan,”

“Tunggu sebentar. Apa kalian mempunyai petunjuk siapa saja yang mungkin terlibat dan mengetahui tentang penyakit Ahjusshi ini?”

“Ada beberapa nama Tuan. Selain keluarga beliau ada beberapa nama koruptor yang di jebloskan korban ke penjara sebelumnya,”

“Sebutkan semuanya,” pinta ku pada mereka.

“Istri beliau, Miara. Putrinya, Hye Wook. Asisten Pribadi dan Kepala Pelayan di rumah keluarga Shin. Mantan Perdana Menteri Han. Anggota Senat Agung Kang Gyuhyo. Pemilik HNO Corp, Tuan Seon Jung Ho dan Mantan Ketua Dewan agung di kanada bernama Peter Lau yang merupakan sahabat karib dari korban tetapi beberapa tahun yang lalu korban memasukkan Tuan Peter Lau juga ke penjara karena tuduhan pencemaran Teluk Minamata di jepang dan penyeludupan obat-obatan terlarang di kawasan Asia dan Amerika,”

“Peter Lau? Apa dia mempunya anak?” aku penasaran sekali dengan nama ini.

‘Kanada?’

‘Bukan kah itu negara asal Henry dan marganya memang sama dengan Henry’

“Kami tidak tau Tuan, tapi kalau Tuan memintanya kami bisa mencarikan informasi itu segera,”

“Ya, segera kabari aku,” aku mengisyaratkan kalau pertemuan ini sudah selesai.

Mereka mengangguk dan membungkuk hormat ke arah ku kemudian pergi.

‘Cat among the pigeon’

Kucing di tengah burung Dara.

‘Bukan kah itu arti dari kalimat pendek itu?’

Aku memang merasakan kejanggalan terhadap kematian Shin Ahjusshi dan menyuruh dua orang kepercayaan ku itu untuk menyelidikinya.

Aku masih tidak mengerti semua ini. Kalimat pendek itu sepertinya ingin menuntunku kepada sesuatu tetapi aku masih tidak tau apa.

Sebaiknya aku kembali ke dorm dan menjemput Woochy. Aku harus mengantarkannya pulang sebelum jadi bulan-bulanan member yang lain.

****

“Oppa!! Akhirnya kau datang aku ingin segera pulang!”

Aku melihatnya sedang bermain game bersama Kyu di ruang tengah dorm.

Woochy langsung menghambur memeluk ku.

“Woochy~ya, kau belum selesai mengajari ku!” teriak Kyu kesal.

“Aku tidak peduli. Aku mau pulang Oppa!”

“Ne, aku kan mengantarkanmu pulang,”

****

Woochy’s POV

“Sebentar Oppa, aku mengangkat telepon dulu,”

Aku melirik ke arah ponsel ku kembali.

‘Ada apa pengacara Lee menghubungi ku?’

“Yeoboseyo?”

“Kita bisa bertemu sekarang nona?”

“Sekarang?”

Aku mencoba meyakinkan kembali apa yang aku dengar.

Iya nona, ada hal penting yang perlu saya bicarakan,”

“Baiklah, dimana kita bisa bertemu?”

“Di kantor saya saja. Saya tunggu nona,”

“Ara,”

Aku menutup telepon dan masih mencoba memikirkan apa yang ingin pengacara Lee kepadaku. Pengacara Lee adalah pengacara keluarga kami. Terakhir aku bertemu dengannya adalah seusai pemakaman appa dan dia membacakan surat wasiat untuk Aku dan Eomma.

“Dari siapa?” Siwon menatapku dengan rasa ingin tau.

“Antar aku ke kantor pengacara Lee Oppa, dia ingin bertemu dengan ku,”

“Jinjayo? Baiklah, ayo!”

Aku mengikuti dengan berjalan di belakangnya.

****

“Miss. Shin, kami menemukan surat wasiat baru Tuan Shin,” katanya dengan tenang.

“MWO?”

“Bukan kah surat wasiat Appa sudah di bacakan 2 tahun yang lalu??”

“Benar nona, kami baru saja menyelesaikan pendataan aset kekayaan Tuan Shin dan di brankas kantornya, kami menemukan surat yang ternyata merupakan surat wasiat terbaru beliau. Tanggal yang tertera adalah 2 hari sebelum beliau terbunuh,”

“Kenapa butuh waktu 2 tahun untuk kalian bisa menemukan surat itu??”

“Maaf nona, karena prosedur yang banyak dan menunggu persetujuan dari Presiden menyebabkan baru sekarang kami bisa membuka brankas itu,”

“Presiden? Memangnya sebegitu penting kah brankas itu?”

“Sangat penting nona karena brankas itu adalah brankas khusus yang berisi semua data dan bukti kasus-kasus yang di tangani oleh Hakim Juna,”

“Boleh saya beritahukan isi surat wasiat itu kepada anda?”

Aku mengangguk.

“Hakim Juna mewariskan seluruh harta kekayaannya kepada anda ketika berusia anda sudah berusia 21 tahun, tanpa campur tangan orang lain dan anda berhak mengelola semua itu sendiri,”

“Termasuk eomma?”

“Benar nona,”

“ANDWAE!! Bukankah aku dan eomma mendapat masing-masing setengah dari keseluruhan??”

“Surat wasiat sebelumnya tidak berlaku lagi nona karena sudah di temukan surat wasiat yang baru,”

“Aku tidak akan menerimanya. Aku akan memberikan separuhnya untuk eomma,”

“Tidak bisa nona, ini sudah ketenTuan dari wasiat ini. Anda tidak boleh menghibahkannya kepada siapaun termasuk ibu kandung anda sendiri,”

‘Ini benar-benar gila!’

****

Siwon’s POV

‘Ahjusshi tidak memberikan warisan sama sekali kepada istrinya?’

Ini wajar, aku tidak merasa aneh karena Ahjumma memang wanita karir yang sukses jadi aku rasa dia tidak memerlukan warisan untuk menopang hidupnya karena dia sendiri memiliki uang yang banyak.

Aku menyimak semua perkataan pengacara Lee dengan baik.

Woochy masih tetap tidak bisa menerima tapi nanti aku akan mencoba menjelaskan kepadanya.

“Dan saya harap anda berdua bisa merahasiakannya kepada siapa pun karena surat wasiat ini hanya akan di bacakan saat ulang tahun ke 21 Miss. Shin, sesuai pemintaan almarhum dalam surat wasiat ini,” ucap pengacara Lee mengakhiri pertemuan kami.

****

“Kenapa kau diam Woochy~ya?”

Dia terkaget ketika aku menegurnya. Dia hanya diam selama perjalanan aku mengantarkannya untuk pulang ke rumah.

“Ah gwaenchana Oppa, aku hanya heran dengan surat wasiat dari Appa,”

“Bukankah itu bagus sekali? Ahjumma sudah memiliki banyak uang tanpa harus mendapat warisan dari Ahjusshi. Kau tidak usah memikirkan hal yang seharusnya kau khawatirkan. Ahjusshi pasti memiliki maksud baik kepadamu,”

Aku berbicara kepadanya dengan mata ku masih fokus menatap jalan di depanku.

“Semoga memang begitu Oppa,” bisiknya lirih.

****

Henry’s POV

Hari suju M akan mengisi acara di KBS. Aku mengatakan akan pergi sendiri ke KBS karena ada yang ingin aku beli terlebih dahulu dan menyuruh hyungdeul pergi duluan ke sana. Aku ingin mengganti senar violinku. Bunyi yang di hasilkannya sudah tidak sebagus dulu, sepertinya memang harus mengganti senarnya.

Aku terlambat 10 menit dari waktu yang di tentukan. Dengan segera aku keluar dari mobil dan memasuki gedung KBS.

‘Aishhh liftnya penuh’

Aku menunggu sebentar di depan lift dan tak lama lift terbuka.

TING!

Aku terkejut melihat seseorang yang ada di dalam lift.

‘Woochy?’

‘Sedang apa dia di sini?’

Aku hanya diam dan masuk ke lift.

Aku memencet lantai tempat kami syuting.

Dia menatapku dengan aneh.

“Ada apa? Kenapa kau ada di sini?” kataku kepadanya.

“Aku ada perlu dengan Siwon Oppa!” ucapnya ketus.

Aku hanya bisa tersenyum. Sepertinya kejadian kemarin membuatnya menjadi benci kepadaku.

Selama menunggu kami berdua hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku melirik pakaian yang dia kenakan.

‘Kenapa rapi sekali?’

Dia menggunakan dress berwarna tosca selutut yang di padukan dengan high heels dan tas tangan berwarna putih.

‘Cantik’

Aku memang mengakuinya.

TING!

Pintu lift terbuka. Aku bergegas pergi sebelum manager Han memarahi ku habis-habisan karena keterlambatan ku ini.

“KYAA!”

Aku menoleh ke belakang mendengar jeritan itu.

Woochy tersungkur di depan lift. Aku berbalik dan menghampirinya.

“Kau tidak apa-apa?” aku menatapnya dengan khawatir.

Dia meringis pelan dan berusaha berdiri. Namun high heels yang dia kenakan tersangkut di pintu lift.

‘Aisshhh yeoja ini merepotkan saja’

****

Woochy’s POV

Kenapa aku ceroboh sekali. Aku lupa sudah meninggalkan undangan wisuda nuna nya Chaerin di dashboard mobil Siwon. Chaerin mengundangku untuk menghadiri wisuda nuna nya, aku sama sekali melupakan undangan itu setelah pertemuan dengan pengacara Lee.

Aku sudah berpakaian rapi dan harus ke gedung KBS untuk mengambil undangan itu. Siwon sedang syuting di sana.

‘Aishh kenapa lift ini lama sekali’

Aku mendengus kesal.

TING!

Lift terbuka.

‘OMO, Henry!’

Aku menatapnya dengan curiga.

‘Kenapa dia tidak berangkat bersama oppadeul?’

“Ada apa? Kenapa kau ada di sini?” katanya sambil masuk ke dalam lift.

“Aku ada perlu dengan Siwon Oppa!” jawabku ketus.

Dia tersenyum mencemooh ke arahku.

‘Masa bodoh’

Aku sedang tidak ingin berdebat dengannya. Lebih baik aku segera mengambil undanganku dan pergi jauh dari hadapannya.

Aku hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku merasa gugup berdiri di dekatnya seperti ini.

TING!

Pintu lift terbuka kembali. Henry bergegas keluar. Sepertinya dia terlambat ke lokasi syuting.

Aku mengikutinya dari belakang.

“KYAA!”

Aku tersungkur di lantai.

Aku meringis dan mencoba berdiri.

‘Aigoo~ high heels ku tersangkut’

“Kau tidak apa-apa?” suara Henry terdengar sangat dekat di telinga ku.

Aku memandangnya dengan mengiba.

“Sepatu ku tersangkut,”

Posisi yang tidak mengenak kan. Kaki ku sangat sakit karenanya.

“Sudah lepaskan saja sepatu mu itu,” ucapnya seraya membantu ku melepaskan lilitan high heels yang aku kenakan.

Aku di bantunya untuk berdiri. Henry menarik sepatu yang tersangkut dengan sekuat tenaga.

CRAK!

Hak nya patah.

“KYAAA!!!! Kau merusaknya babo!!” aku memukul punggungnya dengan kesal.

Dia berbalik dan menyengir lebar.

“Mian” ucapnya seraya menyerahkan high heel yang patah itu ke tangan ku.

“Henry! Jadi sekarang aku harus pakai apa hah?? Aku harus ke acara wisuda kenalan ku!”

“Batalkan saja,” jawabnya enteng.

Dia kemudian berjalan dan meninggalkan ku yang masih terpaku melihat high heels yang tidak berguna lagi di tangan ku ini.

‘Ingin sekali rasanya aku menerkamnya hidup-hidup!’

Aku berbalik dan masuk  ke dalam lift dengan bertelanjang kaki.

‘Lebih baik aku pulang!’

****

Aku menghempaskan diri di atas tenat tidurku. Malu sekali rasanya semua mata memandang ku dengan aneh. Aku berjalan tanpa alas kaki keluar dari gedung KBS. Memalukan!

DDRRTT DRTTTT

Ponsel ku bergetar. Aku mengambilnya dan menatap layarnya dengan tidak bersemangat.

Nomor tidak di kenal.

‘Ah abaikan saja’

Aku meletak kan ponsel ku kembali.

DDRRTTT DDRRTTT

Ponsel ku bergetar kembali.

‘Sepertinya yang menelpon ini ingin mendengar omelan ku’

“Yeoboseyo?”

“Woochy~ya, ini Henry!”

‘Wah kebetulan sekali!’

“Bodoh! Ganti high heels ku!”

“Aku menelpon mu memang ingin mengajak mu membeli yang baru” ucapnya tenang.

“Bagus, kau tau diri juga rupanya!”

“Kapan kau bisa?”

“Sekarang bagaimana?”

“Baiklah, syuting baru saja selesai dan aku tidak ada jadwal lagi seharian,”

“Aku menjemputmu dimana?”

“Tidak usah. Langsung ketemu di toko sepatu di kawasan Kichi saja,”

“Aku ke sana sekarang,”

Aku menutup telepon dan berganti pakaian. Aku bergegas keluar.

“Kau mau kemana Woochy~ya?”

Eomma sedang berdiri mengangkat telepon dari seseorang dan menatapku dengan heran.

“Keluar sebentar eomma. Bolehkan?”

“Tapi kau diantar supir ya?”

Aku mengangguk mengiyakan dan bergegas keluar rumah.

Tak lama sebuah mobil keluar dari garasi dan aku masuk ke dalamnya.

“Ke kawasan kichi pak,”

“Baik nona,”

****

“Dasar  norak, kau tidak bisa membedakan warna hah?” cibir Henry melihat high heels yang sedang aku kagumi.

Ingin sekali rasanya aku melempar high heels yang sedang ku pegang ini ke wajahnya yang sok tidak berdosa itu.

Henry ini seleranya benar-benar buruk sekali. Celotehnya membuat aku pusing. Bukannya membantu ku memilih yang mana yang terbaik, dia hanya mengganggu ku dengan komentar yang tidak jelas.

“Kau ini berniat membelikan ku apa tidak?” aku merengut ke arahnya.

“Tentu saja! Kau saja yang terlalu cerewet dengan mode!”

“Dengan selera mu itu, kau mau menyamakanku dengan Ahjumma kantoran hah? Aku ini masih 20 tahun!”

“Jinjayo??” wajah imutnya itu menatapku dengan ragu, “Aku kira umurmu sama seperti halmeoni ku,”

PLAK!

Sekarang aku benar-benar sudah melemparkan high heels yang ada di tanganku ke arahnya.

LOLOS!

Dia menghindar dengan gesit sekali. Sekarang dia malah tertawa dan mencibir ke arah ku.

“Ppali, pilih yang mana kau suka. Setelah ini aku ingin mengajak mu ke suatu tempat,” katanya sambil berlalu.

Dengan menggerutu aku mengambil kembali high heels yang sudah aku aku lemparkan tadi. Aku memang menginginkan ini tapi Henry terus saja menggerecoki aku dengan komentarnya.

Henry sebelumnya memang sudah memberikan ku beberapa ratus ribu won untuk membayar ke kasir. Dia sepertinya sudah menunggui ku di luar.

Aku menenteng high heels yang sudah ku beli dengan kebahagiaan yang tidak bisa aku sembunyikan. Mode terbaru dan ini moment yang sangat pas untuk aku shopping. Seandanya saja aku bisa memperalat Henry lagi.

Aku keluar dari toko dan mendapatinya sedang memandang jenuh ke arah jalan. Pakaian penyamarannya itu terlihat cocok sekali dengannya. Menggunakan jaket hitam, hoodie dan kacamata hitam. Jujur, aku sangat menyukai Henry dengan kacamatanya.

‘Dia terlihat begitu, yah.. tampan!’

Aku segera menepis pikiran ku itu. Aku tidak mungkin tertarik keda laki-laki mesum seperti dirinya.

“Kita mau kemana?”

Dia tersenyum misterius dan menggandeng tangan ku.

“Ikuti aku,”

****

Henry’s POV

Cih, untunglah. Aku bisa menghindar tepat pada waktunya. Jika tidak, high heels barusan akan sukses mematahkan tulang hidungku.

“Ppali, pilih yang mana kau suka. Setelah ini aku ingin mengajak mu ke suatu tempat,”

Lebih baik aku menunggunya keluar, sudah cukup aku menggodanya dengan pilhan-pilihan mode aneh ku. Dia ternyata benar-benar evil seperti yang di katakan hyungdeul. Bahkan dia adalah satu-satunya yeoja yang aku kenal yang tidak menyukai kami Super Junior.

Aku menyandarkan tubuh ku ke etalase toko sepatu itu dan menatap jalan yang ada di hadapanku. Ramai sekali. Banyak orang lalu lalang dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada beberapa yeoja yang menujuk ke arah ku dan berbisik-bisik. Hari ini aku tidak menggunakan masker seperti biasanya. Hanya jaket tebal, hoodie dan kacamata hitam. Tidak sulit mengenali ku sebagai Henry Lau.

Aku akhir-akhir ini merasa jenuh dengan rutinitasku. Aku memerlukan penyegaran oleh karena itu aku ingin mengajak Woochy ke kawasan dataran tinggi di Daegu. Pemandangan alamnya sangat indah dan udaranya sejuk untuk di hirup, membuat perasaan menjadi tenang.

“Kita mau kemana?”

Aku menoleh dan menatap Woochy yang sudah membawa tas belanjaannya.

Aku menghampirinya dan meraih tangannya ke dalam genggaman ku.

“Ikuti aku,”

****

Woochy’s POV

Jantung ku berdetak dengan cepat sekali ketika Henry menggandeng tangan ku. Aku mengikutinya berjalan dengan patuh. Jiwa setan di dalam diri ku sepertinya sudah terkurung oleh wajah tampannya itu.

Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan dia hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa.

‘Ah aku belum mengabari Siwon kalau aku batal menghadiri wisuda nuna nya Chaerin’

Aku mengambil ponsel ku dari dalam tas kecil yang aku bawa dan mulai mengetik pesan untuknya.

To: Captain Siwon

Oppa, aku tidak jadi mengambil undangan. Aku membatalkan untuk pergi ke acara wisuda itu. Sekarang aku sedang pergi bersama Henry Oppa. See you again soon.

Aku memandang Henry di sampingku yang sedang menyetir dengan serius.

‘Apa yang di pikirkannya ya?’

****

Henry’s POV

“AIGOO~ indah sekali!”

Woochy menatap pemandangan yang mulai kelihatan di hadapannya dengan terkagum-kagum. Aku berbelok ke arah kanan dan memakirkan mobil di tepi jalan.

“Turun lah, kita akan berjalan kaki saja menuju atas. Aku akan menunjuk kan tempat yang lebih indah lagi dari ini,”

Dia mengangguk dan kami berdua keluar dari mobil.

Aku berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam jalan setapak kecil yang langsung menuju ke atas bukit ini. Woochy mengikuti ku di belakang.

Salah satu Strings pernah menuliskan surat dan menceritakan tempat indah ini kepada ku. Karena penasaran, aku mencoba ke sini dan ternyata benar, aku bahkan tidak merasa menyesal sudah jauh-jauh ke sini dan menjadi ketagihan untuk kembali datang untuk menyegarkan pikiran dan kejenuhan ku karena jadwal kami yang padat.

“OMO OMO OMO, kau yang mesum itu kenapa bisa tau tempat seindah ini Henry~a??” katanya terkagum-kagum ketika kami sudah sampai di atas. Dari sini memang terlihat kota seoul dari kejauhan sana, di bawah adalah tebing terjal dengan aliran sungai berwarna biru muda yang sangat indah di lihat. Pepohonan di sini besar dan rindang.

Aku hanya terkekeh dan melihat Woochy sudah merentangkan tangannya di ujung tebing dan menghirup udaranya dengan dalam.

“WHOAAAAAA aku merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini,”

‘Orang paling bahagia di dunia ini, eh?’

Aku kembali teringat dengan pertemuan terakhir ku dengan eomma 2 minggu yang lalu di kanada.

FLASHBACK

“Henry~a, kau sudah besar nak. Melihat kau sudah terkenal seperti ini, pasti appa mu sangat bangga,”

Aku tersenyum masam kepada eomma yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Kanker yang di deritanya membuat tubuhnya tergolek lemas seperti ini. Dokter mengatakan, kanker yang ada di dalam tubuh eomma sudah dalam stadium akhir. Kemoterapi yang di jalankan hanya untuk mengurangi penyebaran lebih luas.

“Menjadi terkenal bukan kehendak ku kan eomma? Aku hanya ingin mencari uang untuk pengobatan eomma dan biaya hidup keluarga kita,”

Aku menatap eomma dengan sedih, aku mengusap pipi eomma dengan lembut. Begini besar pengorbanannya untuk bertahan hidup agar tetap bisa melihat kami anaknya terus tumbuh. Kemoterapi yang sangat menyakitkan itu di lewatinya tanpa mengeluh. Clinton sekarang cacat dan hanya bisa melakukan aktivitasnya di atas kursi roda. Usaha bunuh dirinya dengan melemparkan diri ke tengah jalan raya membuat kedua kakinya harus di amputasi. Withney masih duduk di grade terakhir di SMA. Dia ingin sekali berhenti sekolah dan membantu ku mencari nafkah untuk kami semua. Aku menolaknya dengan keras karena tugas ku lah memastikan Withney mendapatkan pendidikan yang baik hingga lulus kuliah.

Panggilan untuk bergabung dengan SM family 2 tahun yang lalu adalah sebuah keberuntungan untuk ku. Sekarang aku sudah berkecukupan membiayai pengobatan eomma dan sekolah Withney.

Semua penderitaan ini berawal dari Appa yang di jebloskan ke penjara oleh sahabatnya sendiri, Shin Ahjusshi 14 tahun yang lalu. Appa di tuduh bertanggung jawab atas pencemaran teluk minamata dan penyelundupan obat terlarang. Anehnya appa tidak menyangkal sama sekali. Satu kali sidang yang di pimpin langsung oleh Shin Ahjusshi membuat appa langsung di masukan ke dalam penjara. Semua aset kekayaan kami di sita oleh pengadilan dan membuat kami jatuh miskin.

Di penjara saat itu terjadi wabah penyakit kulit menular dan berbahaya. Kulit seseorang perlahan akan membusuk dan mengeluarkan nanah yang berbau menyengat. Appa 2 bulan kemudian meninggal karena infeksi itu. Kami sekeluarga sangat shock dan jujur, sejak saat itulah aku sangat membenci keluarga Shin. Keluarga yang sudah membuat kami menderita seperti ini. Kebahagiaan perlahan-lahan pergi dari kehidupan kami.

FLASHBACK END

****

Siwon’s POV

Aku baru saja keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dorm ketika ponsel ku bergetar di dalam saku celana yang aku pakai.

From: Little Woochy

Oppa, aku tidak jadi mengambil undangan. Aku membatalkan untuk pergi ke acara wisuda itu. Sekarang aku sedang pergi bersama Henry Oppa. See you again soon.

Aku menautkan kedua alis ku. Tumben sekali Woochy mau di ajak pergi oleh member Super Junior selain aku. Biarlah, biarkan dia bersenang-senang bersama dongsaeng kami itu.

Aku masuk ke dalam lift dan memencet angka 11.

DDRRTTT DDRRTTT

Ponsel ku kembali bergetar. Aku merogoh saku dan mengangkat telepon yang masuk.

“Yeobseyo”

“Tuan kami sudah mendapat informasi yang anda inginkan”

“Beritahukan aku sekarang,”

“Keluarga Lau jatuh miskin ketika Tuan Peter masuk penjara. Semua aset kekayaannya di sita oleh pengadilan. 2 bulan kemudian Tuan Peter meninggal karena wabah penyakit di penjara. Istri beliau menderita kanker parah. Anak laki-laki terTuanya mencoba bunuh diri di jalan raya karena frustasi. Kedua kakinya di amputasi dan sekarang hanya bisa beraktivitas di kursi roda. Adiknya satu orang namja dan yang paling kecil adalah seorang yeoja. Hidup mereka sangat menderita Tuan. Begitulah informasi yang saya dapat,”

“Siapa nama anaknya? Apakah kau sudah mencari tau?”

“Sudah Tuan,”

“Clinton, Withney dan Henry .. “

Tubuh ku serasa mengejang dan kedua kaki ku tidak dapat di gerak kan. Pintu lift sudah terbuka sedari tadi.

‘Henry?’

‘Woochy saat ini sedang bersamanya’

Rasa takut perlahan menyelimuti ku.

‘Mungkinkah Henry membalaskan dendam keluarganya kepada Woochy?’

‘TIDAAAAKKKK!!!!!’

Aku kembali ke lantai dasar dan berlari ke basement untuk mengambil mobilku.

‘Aku harus mencari mereka!’

****

Henry’s POV

‘Kau pikir kau adalah orang paling bahagia Woochy~a?’

‘Tidak tau kah kau seberapa menderitanya kami atas perlakuan appa mu itu?’

Aku memandang punggung Woochy yang sedang membelakangi ku. Dia masih saja merentangkan tangannya.

‘Tewas terjatuh dari jurang sepertinya tidak terlalu buruk’

Aku berjalan menghampirinya dan mengangkat tangan ku untuk menggapai tubuhnya.

TBC

 
12 Comments

Posted by on November 28, 2011 in chapter, fanfiction, freelance

 

Tags: , ,

12 responses to “(FreeLance) Changeover #2

  1. shilla_park

    November 28, 2011 at 7:44 am

    oho.. mochi jd jahat..jangan jahat2 mochi sayang.. ntar masuk penjara lo.. *plakk*
    disini peran siwon udah bener2 kek superman selalu membela kebenaran dan melindungi yg lemah… *eaaaaa*
    *peluk siwon n mochi*😀

     
    • Hyejin_csw

      November 28, 2011 at 4:45 pm

      Superman ,, jd inget ss4..

       
    • HenBaby

      November 29, 2011 at 1:40 pm

      Haha aku bikin ini juga eonn rada ragu si mochi jadi cast nya. mukanya terlalu polos di bikin jahat😦 beda ama eonn yang di two faces, sadis :p :p

       
  2. Hyejin_csw

    November 28, 2011 at 4:37 pm

    Ahh siwon pasti datang d’wktu yg tepat … Kasian Henry …

     
    • HenBaby

      November 29, 2011 at 1:42 pm

      semoga, hehehe

      mksh eonn sdh baca dan coment ^^

       
  3. cemoymoy

    November 28, 2011 at 6:23 pm

    henryy…jgn jahat2 ,,bales dendam tu ga baik loh,dosa…ckckkk
    siwon dtg tepat waktu kh??smoga gada apa2..
    woochy kan ga slh apa2,ga tau jg..

     
    • HenBaby

      November 29, 2011 at 1:43 pm

      Hahahaha tebakannya bener ga ya? tunggu next part aja eonn.. gomaweo udah baca dan coment ya ^^

       
  4. minkijaeteuk

    November 29, 2011 at 10:48 pm

    henry urungkan niatmu dong,,, jgn jd jahat gt kan jd ngak sebanding sm muka y yg imut2…..
    appa y kok ngak ninggalin harta y buat istri y,,, q jd sedikit curiga nih…..
    Lanjut…..

     
    • HenBaby

      December 2, 2011 at 4:54 pm

      curiga? baca part 3 nya aja chingu, udah publish tuh, hehehehehe

      gomaweo udan baca dan koment ^^

       
  5. seung jisun

    November 30, 2011 at 1:43 pm

    yaaaah? mochi muka polos loh onnie-_- kok jadi jahat sih._.
    bales dendam ga baik loh~ ntar kena ceramah siwon oppa baru tau rasa!😛
    kekekeke~ lanjut^^

     
    • HenBaby

      December 2, 2011 at 4:57 pm

      hihi sekali2 pengen Henry jadi jahat, biar seru loh saeng ^^

      gomaweo udan baca dan koment ya ^^

       
  6. evilkyu dinda

    December 8, 2011 at 11:17 pm

    OMO OMO henry mau membunuh woochy.
    Gyaaaaaaaa~~ mesti buru2 baca part selanjutnya nih >.<
    Tapiiio_O Henry oppa mukanya terlalu imut buat jd orang jahat yaa kekekeekkkk😛

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: