RSS

(FreeLance) Changeover #4

03 Dec

AUTHOR: HENBABY

 

Siwon’s POV

“Ini jenis paparan radiasi tingkat tinggi dan dengan sangat menyesal saya beritahukan umur Miss. Shin tidak lebih dari 2 minggu lagi nyonya,” ucap Dokter yang sedang duduk di balik meja.

Raut wajah Ahjumma berubah menegang dan matanya terlihat berkaca-kaca.

“Do..Dok, apa tidak bisa di sembuhkan?” tanya Ahjumma dengan terbata-bata.

Dokter menggeleng lemah,”Maaf nyonya,”

Shin Ahjumma menangis tersedu-sedu. Aku mengusap punggung Ahjumma dan berusaha menghiburnya,

“Ayo kita keluar Ahjumma,” aku berusaha membantunya untuk bangkit berdiri dan mengangguk singkat ke arah dokter.

Mataku mengedarkan pandangan di ruang isolasi tempat Woochy di rawat. Ahjumma telah duduk di samping Woochy dan mengusap puncak kepala anaknya dengan prihatin. Woochy sedang tertidur lelap karena obat tidur yang di berikan kepadanya.

Aku dan Ahjumma menggunakan baju pelidung berwarna hijau tua, khas rumah sakit dan masker yang melindungi wajah kami. Entahlah tapi aku yakin, keadaan Woochy  kali ini benar-benar parah.

****

“Oppa, Bagaimana keadaan Woochy?”

Aku menatap Shilla dengan sedih.

“Buruk,”

Shilla terperanjat mendengar perkataanku barusan. Ia menggeser kursi yang di dudukinya agar menjadi lebih dekat denganku. Sekarang kami berdua sedang berada di cafetaria rumah sakit. Aku meminta Shilla datang kemari setelah Ahjumma pamit untuk pulang.

“Apa yang sudah di katakan dokter?” tanyanya.

“Paparan radiasi tingkat tinggi Hee~ya,” ucapku berat.

“Tingkat tinggi? Jadi Woochy..” Shilla tidak dapat melanjutkan perkataannya lagi.

“Ya, umurnya hanya sebentar lagi,”

Shilla menutup mulut dengan tangannya dan kedua matanya membeliak kaget. Ia mencoba menguasai dirinya dan sekarang tangannya mengusap punggungku dengan pelan.

“Oppa, aku tau oppa sudah menjaganya dengan sangat baik,”

Aku hanya mengangguk lemah.

“Bagaimana bisa dia terpapar radiasi seperti itu?  Bahkan dia tidak pernah lepas dari pengawasanku,” gumamku lirih.

‘Aku semakin tidak mengerti’

****

Author’s POV

“Jelaskan lah, aku perlu informasi itu,” Siwon memegang tangan Shilla dengan erat.

“Aku sedang mencobanya Oppa,” ucap yeoja cantik yang berpakaian rapi itu kepada Siwon. Jari tangannya dengan mahir mengetik sesuatu di laptopnya. Matanya terfokus dan bola matanya bergerak-gerak mencari sesuatu di layar laptopnya.

“Ah ini dia!” pekiknya senang.

“Baru-baru ini memang ada kasus paparan radiasi di Jepang akibat gempa dan reaktor kami meledak. Oleh karena itu aku ada menyimpan beberapa data tentang paparan radiasi dan sebabnya. Dari gejala yang di tampakkan Woochy kemarin, itu sepertinya adalah paparan langsung,” jelasnya dengan penuh keyakinan kepada Siwon yang sekarang mendengarkan semua perkataannya dengan serius.

“Apa Oppa tau Woochy terakhir ada berpergian kemana? Ke laboratorium kimia mungkin?”

Siwon menggelengkan kepalanya.

“Mollayo, Woochy bukan yeoja yang suka dengan sesuatu berbau ilmiah,”

“Kemarin aku ke rumahnya dan katanya Woochy pergi dengan Ahjumma. Setelah itu aku tidak ada bertemu dengannya lagi,”

Shilla menganggukkan kepalanya,”Tidak ada yang aneh Oppa. Aku jadi heran bagaimana bisa Woochy terpapar dengan begitu hebatnya,”

“Ah Oppa, bacalah. Mungkin ini dapat mempermudah oppa memahami tentang kebocoran radiasi,”

Siwon mendekatkan wajahnya ke layar laptop milik Shilla dan mulai membaca.

“Dampak radiasi tidak bersifat langsung. Bisa beberapa hari atau minggu kemudian baru muncul gejala tergantung dari lamanya waktu paparan

Siwon menyernyitkan wajahnya ketika membaca kalimat pertama.

“Dampak radiasi pada tubuh tergantung pada material radioaktif yang dilepaskan dan durasi paparan. Level paparan yang tinggi bisa menyebabkan sindrom radiasi akut, bahkan kematian. Sindrom tersebut akan menimbulkan gejala mual, muntah, kelelahan, rambut rontok, serta diare. Pada level yang lebih tinggi, korban yang terpapar bisa meninggal dalam hitungan minggu. Penyebabnya dapat berupa usus yang gosong akibat paparan yang lama”

“Mual dan muntah? Bukankah itu yang di alami Woochy kemarin?” Siwon menoleh ke arah Shilla yang duduk di sampingnya.

Shilla mengangguk membenarkan. Ia menatap Siwon dengan serius untuk kesekian kalinya.

“Ya Oppa. Karena itu aku merasa yakin Woochy sudah terpapar. Kulitnya yang pucat dan muntahannya yang berwarna hijau, itu adalah tanda yang mudah dikenali,”

Siwon menjauhkan laptop Shilla dari hadapannya kemudian mengambil cangkir kopi dan mulai menyesapnya perlahan.

Matanya memandang berkeliling. Di dalam cafetaria  ini hanya ada dirinya dan Shilla. Ia mencoba menimbang-nimbang sesuatu dan menghela nafas berat.

“Aku yakin ini semua perbuatan dari musuh almarhum Shin Ahjusshi. Aku masih tidak bisa menebak bagaimana bisa mereka menjebak Woochy tanpa sepengetahuanku,”

“Tunggu..” Siwon membulatkan kedua matanya dan berusaha mengingat sesuatu yang terlupakan olehnya.

“Henry!” teriaknya gusar.

****

“Kerja yang bagus. Aku puas dengan pekerjaan kalian,” Ahjumma paruh baya itu tersenyum lebar ke arah tiga orang berjas putih di hadapannya,”Semuanya berjalan sesuai rencana,”

“Terima kasih nyonya,” jawab laki-laki yang berdiri di paling ujung sebelah kanan yang membungkuk dengan hormat ke arah majikannya.

“Ya, kembalilah bekerja,” ia mengibaskan tangan. Ketiga laki-laki itu berjalan keluar ruangan. Sekarang tinggallah nyonya itu dan seorang pesuruh kepercayaannya.

“Aku tadi malam mendapatkan kabar penting dari kau-tau-siapa. Perempuan itu sudah kembali ke korea. Aku ingin kau menyuruh beberapa orang kita mencarinya. Habisi dia kalau perlu. Tikus seperti itu tidak dapat di biarkan berkeliaran lebih lama,”

Pesuruh itu agak terkejut mendengar berita yang di sampaikan majikannya.

“Dia nyonya?” pesuruh itu mencoba memastikan sesuatu.

“Ya. Dia yang sudah menghilang beberapa tahun itu dan membawa bukti milik kita semua,” ucap Ahjumma paruh baya itu dengan dingin,”Aku tidak akan pernah kalah dengan rencana picisan tua bangka yang sudah tiada itu,”

Pesuruh itu mengangguk tanda mengerti. Ia membungkukkan badan dan memohon permisi untuk meninggalkan ruangan.

Ahjumma paruh baya itu mengangkat tangannya dan memberi isyarat dia boleh keluar. Sepeninggal pesuruh kepercayaannya itu, Ahjumma itu tersenyum kecil. Senyum licik yang memang sangat pantas terukir di wajahnya.

“Ah, ini baru permulaan.. ”

****

Henry’s POV

“Hyung, aku pergi sebentar ya?”

Aku mengenakan jaketku dan memasang masker sambil berjalan keluar menuju pintu Dorm.

Eunhyuk yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel ditangannya mengangguk kecil ke arahku.

“Jangan lupa, 1 jam lagi kita ada fansmeting,” ujarnya ketika aku sudah mencapai pintu keluar.

“Ne hyung,”

****

Aku merapatkan mantel yang ku pakai dan merapikan letak masker di wajahku. Langit terlihat mendung. Awan hitam tampak menutupi cahaya matahari siang hari ini sehingga semuanya terlihat agak gelap. Dengan menundukkan kepala dan berjalan agak cepat aku menyusuri pertokoan tradisional di kawasan Sanggu ini. Jalan yang sempit mengharuskan aku memakirkan mobil jauh di jalan utama di depan.

“Aishh kenapa harus tutup,”

Aku menggerutu pelan dan menatap toko obat herbal yang ada di depanku dengan tidak bersemangat. Aku melihat iklan di televisi kemarin kalau di toko ini ada menjual obat herbal untuk kanker. Setidaknya aku ingin mencobanya untuk kesembuhan eomma.

Terdengar bunyi gemuruh dari atas langit dan tetesan hujan mengguyur ke bawah. Aku merapatkan diri ke etalase toko obat yang tutup dan mencoba menjauhkan tubuhku dari percikan air hujan yang menetes di tepi jalan.

‘Sial, mobil ku terparkir lumayan jauh dari sini’

Aku memandang orang-orang yang berlarian mencari tempat untuk berteduh dari guyuran hujan. Aku mengangkat tangan kiriku dan melirik sekilas ke arah jam tanganku. 15 menit lagi sebelum fansmeting. Dengan keadaan seperti ini aku tidak yakin bisa datang ke sana tepat ada waktunya.

Aku merogoh ke saku mantelku dan mengeluarkan ponsel untuk menelpon hyung.

“Omo, kenapa harus habis baterai!” umpatku kesal.

Aku mengembalikan ponsel ke dalam kantong dan melipat kedua tanganku ke dada. Angin berhembus menusuk ke kulit. Terasa dingin sekali. Aku semakin merapatkan mantelku. Tanganku tanpa sadar menyentuh sebuah benda yang agak menonjol di dalam mantel. Refleks aku mengeluarkannya dari dalam kantong.

‘Ah buku agenda kecil milik Siwon hyung’

Aku tadi memang membawanya dan berniat mengembalikan kepada Siwon hyung saat fansmeting nanti karena tadi malam hyung tidak pulang ke dorm. Aku menatap buku agenda di tanganku itu dengan penuh minat untuk kesekian kalinya. Tanganku kembali membuka lembar demi lembar halaman tapi aku masih tidak dapat menemukan satu gorespun tulisan di dalamnya.

Bruk!

Buku agenda di tanganku terlempar begitu saja dan jatuh ke dalam genangan air yang ada di depanku. Tubuhku agak sedikit terhuyung karena ada sesuatu yang menabrak ku dengan lumayan keras.

“Ah maaf tuan, saya sedang terburu-buru,”

Seorang anak kecil berlari meninggalkan ku begitu saja dengan sebuah keranjang berukuran lumayan besar di tangannya. Belum sempat aku mengucapkan apa-apa, anak kecil itu sudah menghilang dari pandangan.

Aku memungut buku agenda yang tergeletak di aspal jalan yang sedang di guyur hujan deras.

‘Aigoo Siwon hyung pasti akan memarahiku karena sudah membuat rusak buku agendanya’

Aku menatap buku agenda yang sudah basah kuyup di tanganku.  Dengan panik aku membalikkan sampul depannya dan mengecek halaman yang di dalamnya yang sudah pasti basah.

The book property of

Shin Juna

Hakim Agung, Korea Selatan

Aku tersentak kaget melihat tulisan berwarna merah yang ada di halaman pertama buku agenda yang basah itu. Air hujan yang membasahi kertas ternyata dapat menampakkan tulisan yang tersembunyi di tiap lembarnya. Aku membalik ke halaman berikutnya dengan susah payah karena kertas yang saling menempel. Halaman kedua terdapat tulisan berwarna merah kembali tapi dengan tulisan yang agak kabur. Aku menjulurkan tanganku ke depan dan membiarkan buku agenda itu kembali di guyur hujan. Dan benar saja, air hujan itu membuat tulisan yang agak kabur itu menjadi jelas.

“Cat among the pigeons”

‘Apa maksudnya ini?’

Kucing di tengah burung dara. Kutipan yang aneh. Tapi entah mengapa aku merasa familiar dengan nama ini. Shin Juna. Seorang hakim. Bukankah dia ini adalah..

‘Appa Woochy!’

Aku kembali membuka halaman berikutnya dan membaca tulisan yang terlihat seperti jadwal kegiatan dan di tulis dengan urutan waktu yang matematis. Judul bercetak tebal yang ada di paling atas halaman sangat menarik perhatianku.

Kasus Pencemaran Teluk Minamata dan Mafia Narkotika Asia-Amerika.

Tersangka utama : Peter Lau (death)

Mendadak tubuhku terasa mengejang.

****

Siwon’s POV

Aku langsung mengedarkan pandanganku ketika memasuki dorm. Namun tidak nampak batang hidung Henry sama sekali. aku masuk ke dalam kamarnya dan Zhou Mi tapi Henry tidak dapat ku temukan dimanapun. Aku kembali ke ruang tengah dan mendecak kesal.

“Mencari siapa?” Eunhyuk menatapku dengan heran.

“Mana Henry, hyung?”

“Baru 10 menit yang lalu Henry pergi,”

“Kemana?”

“Mollayo,”

Aku bergumam tidak jelas dan meninggalkan eunhyuk yang masih kebingungan dengan sikap ku.

“Siwon~a, jangan lupa fansmeting kita 1 jam lagi!!” teriaknya dari ruang tengah ketika aku sudah hampir menutup pintu.

‘Ah aku berniat membolos nanti, yang terpenting adalah menemukan Henry dan meminta penjelasan akibat perbuatannya’

Aku menggeram dengan kesal dan berjalan menuju basement untuk mengambil mobilku. Aku membuka pintu mobil dan menghempaskan tubuh ke jok kemudi. Pikiranku sedang kacau. Aku merutuki diriku  sendiri yang sudah lalai menjaga Woochy.

Aku mengeluarkan ponselku dan mencoba menghubungi Henry.

Tidak aktif.

Tanganku mengetuk stir dengan tidak sabar.

‘Sekarang aku harus kemana?’

****

CITTTT!!

Aku menginjak pedal rem dengan kuat ketika seorang wanita paruh baya mendadak berlari ke arah mobilku. Hujan di luar sangat deras dan aku tak lebih dari 200 meter meninggalkan dorm. Aku hampir tidak sempat mengerem dan menabraknya. Wanita itu mengetuk-ngetuk kaca pintu mobilku dan aku melihat sesuatu berwarna merah mengalir dari pergelangan tangannya.

‘Omo, apa aku sudah melukainya’

Aku dengan panik keluar dari mobil.

“Ka.. kau.. Choi Si.. Siwon?”

Aku menatap tangan wanita itu yang bersimbah darah. Sekarang ia sudah menarik ujung baju yang ku kenakan dengan setengah memaksa. Nampak sekali di raut wajahnya terlihat sangat ketakutan. Manik matanya menatapku dengan nanar.

“Ya, aku Choi Siwon. Ada apa ahjumma??”

Aku mengeraskan suaraku. Hujan yang turun dengan deras dan dengan tubuh yang basah kuyup seperti ini aku tidak dapat mendengar dengan baik. Aku menatapnya dengan fokus di tengah air yang mengguyur ku dan ahjumma yang ada di hadapan ku ini.

Tangannya yang gemetar masih saja memegang bajuku yang sekarang sudah berwarna merah karena darahnya.

“Aa.. aku.. saksi kunci Hakim Juna.. too.. tolongg.. aa.. ku.. ada yang ingin membunuhku…”

Aku terperanjat kaget dan mencoba mencerna ucapannya.

“Ahjumma, aku akan mebawamu ke rumah sakit, arasseo??” aku agak berteriak dan segera saja mendorong tubuhnya untuk masuk kedalam mobilku.

Ketika aku hendak melaju kan mobilku, ahjumma yang sudah duduk di sampingku itu mencengkram pergelangan tanganku dengan erat.

“Ku mohon tuan, jangan bawa aku ke rumah sakit. Mereka akan menemukanku. Ini hanya luka sayat tuan. Aku mohon bawa aku ke tempat yang aman. Aku akan menceritakan segalanya tentang kematian hakim juna sebelum mereka menemukanku kembali dan membunuhku,”

“Tidak ahjumma, kau sudah banyak mengeluarkan darah,” tukas ku.

Aku menurunkan tangannya dan hendak menginjak gas tapi ahjumma itu kembali mencengkram pergelangan tanganku.

“Aku mohon.. ini demi Shilla.. dan nona Shin… “

“Ahjumma ini siapa?”

Aku menatapnya dengan heran. Kenapa ia mengenal Shilla.

Ia menunduk kan kepala dengan sedih,” Shilla itu anak kandung ku tuan..”

“Nyawaku ini sama sekali tidak berharga di bandingkan penderitaan Shilla selama ini… “

****

Author’s POV

FLASHBACK

Seoul, South Korea (July, 1998)

“Mochi, mochi, mochi!” yeoja kecil berumur sekitar 6 tahun itu melambaikan tangannya dengan semangat ke arah namja kecil yang sedang berjalan menghampirinya.

Namja kecil berwajah aegyo, berkulit putih bersih dan berpipi agak tembam itu menyerigai ke arahnya. Namja kecil itu  3 tahun lebih tua dari Woochy. Mochi adalah tetangga barunya yang baru pindah seminggu yang lalu dan adalah anak dari sahabat karib Appa nya. Woochy sangat senang karena baru kali ini Appa nya mengizinkan dirinya bergaul dengan namja, Appa nya memang agak sedikit protektif terhadapnya.

“Woochy~ya, ayo kita main,” balasnya tak kalah bersemangat.

Yeoja kecil itu menggeleng kuat-kuat.

“Shireo! Kau harus ikut dengan ku. Aku ingin mengenalkan mu kepada teman-temanku yang lain,”

Namja kecil yang di panggil Mochi itu menatapnya dengan heran,”untuk apa?”

“Kau kan baru pindah, aku mau memamerkanmu kepada mereka, Ppali!”

Woochy menarik tangan Mochi dan mereka berdua berjalan cepat ke arah belokan yang tak jauh dari halaman rumah tempat mereka berdiri. Ternyata di sana ada taman bermain kecil dan ada beberapa orang yeoja sebaya Woochy yang sedang bermain-main di dalam bak pasir.

“Annyeong, ini suami ku di masa depan!!”

Teriak Woochy kepada teman-temannya.

Mochi menoleh ke arahnya dengan pandangan kaget dan wajahnya bersemu merah menahan malu.

FLASHBACK END

*****

FLASHBACK

Toronto, Canada (October, 2009)

“Jinjayo appa? Ahjusshi akan pindah ke kanada??” Henry menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya.

“Ne. Kau senang kan bisa bertemu dengan Woochy lagi?”

Henry mengangguk dengan bersemangat. Sudah 11 tahun ia tidak bertemu dengan cinta pertamanya itu. Sekarang umur Woochy sudah 17 tahun. Henry sudah membayangkan kalau yeoja pujaannya itu pasti tumbuh menjadi yeoja yang cantik. Henry ingin sekali menemuinya dan meminta maaf karena 11 tahun yang lalu sudah pergi tanpa pamit kepada Woochy. Henry dan keluarganya memutuskan pindah dari seoul karena mutasi mendadak Appa Henry ke kanada. Henry dengan setia sampai sekarang menunggu hingga saat ia bisa bertemu kembali dengan Woochy dan itu hanya sebentar lagi.

Henry tidak dapat menyembunyikan senyum lebarnya.

FLASHBACK END

****

Henry’s POV

FLASHBACK

Toronto, Canada (December, 2009)

“Tidak.. Appa tidak mungkin bersalah… itu tidak mungkin…”

Withney menangis dan berusaha menghalangi beberapa orang intelejen yang menggiring appa ku masuk ke dalam mobil berwarna hitam mereka.

Eomma hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat kepergian Appa. Clinton sedang mengikuti darmawisata sekolahnya dan tidak ada bersama kami saat ini. Tubuhku hanya mengejang kaku dan tidak dapat berbuat apa-apa melihat kejadian mengejutkan seperti ini.

Appa dengan patuh mengikuti mereka masuk ke dalam mobil dan tidak mengatakan apa-apa.

Aku meremas surat perintah penahanan yang ada di tanganku dengan kuat.

‘Kenapa kau begitu tega menjebloskan sahabat karibmu sendiri ke penjara, Shin Ahjusshi’

FLASHBACK END

Sekelebat kejadian itu kembali terulang di dalam benak ku. Rasa marah dan dendam yang kemarin sempat mengabur karena pesona Woochy kepadaku kini semakin terasa kuat dan dalam. Dengan tidak sabar aku membalik ke halaman berikutnya dan mendapatkan beberapa baris tulisan kembali.

Sandi 159. Rekaman suara berdurasi 10 menit pertemuan antara tersangka 1 dan tersangka 2. Kyoto, Jepang.

Sandi 135. Obatan terlarang di dalam 10 peti kemas keberangkatan incheon-narita.

Sandi 112. Kumpulan foto dugaan tersangka utama.

Sandi 110. Sampel air teluk minamata. Hasil laboratorium.

Sandi 99. Daftar nama tersangka.

Sandi 87.  Pelacakan pertama. Seoul, Korea Selatan.

Sandi 86. Pelacakan kedua. Tokyo, Jepang.

Sandi 76. Penyelidikan temuan jenazah hangus terbakar. Seoul, Korea Selatan.

Sandi 65. –

Sandi 45.  Lost.

Sandi 32. Lost.

Sandi 01. Penangkapan Peter Lau. Toronto, Kanada.

****

Siwon’s POV

Aku memperhatian setiap gerak gerik Ahjumma yang sedang duduk di depanku ini.  Ia menyesap teh yang aku suguhkan dan mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang dan siap menceritakan semuanya kepadaku. Aku baru saja selesai membersihkan dan membalut luka sayat yang ada di pergelangan tangannya. Untung saja tidak terlalu dalam dan tidak memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Aku membawa ahjumma itu ke villa keluarga kami yang terletak di luar kota seoul. Dengan kecepatan hampir 200km/jam, dalam waktu 15 menit kami sudah tiba di villa.

“Apa Ahjumma sudah merasa lebih baik?” tanyaku padanya yang sekarang sudah meletakkan cangkir tehnya di meja kembali.

“Ne, terima kasih nak,”

“Ahjumma kenapa bisa mengenalku?”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat ingin aku ajukan sedari tadi. Aku rasa aku tidak pernah mengenal ahjumma di depanku ini. Walaupun ia mengaku sebagai ibunya Shilla. Jujur saja, aku tidak pernah bertemu dengan orangtua Shilla sebelumnya.

Garis wajahnya memang terlihat mirip dengan Shilla. Aku kembali memperhatikan gerak-geriknya yang terlihat sangat gelisah.

“Tuan Shin pernah menceritakan tentang anda tuan. Tuan Shin sangat bangga kepada anda. Anda adalah salah satu orang kepercayaannya oleh karena itu saya harus menceritakan semua ini kepada anda dan menyerahkan semua bukti sebelum mereka perlahan membunuh saya,” jelasnya lirih.

“Mereka siapa??” aku membelalak kan mataku,”Apa yang Ahjumma maksud dengan membunuh Ahjumma secara perlahan??”

“Tuan, aku akan menceritakan semuanya dan tolonglah jangan sela aku sedikitpun karena waktu ku sangat sedikit,”

Ahjumma itu memohon kepadaku dengan tatapan mata yang sayu. Aku semakin merasakan hal yang tidak beres di balik semua ini.

“Baiklah ahjumma, ceritakanlah,”

****

Woochy’s POV

“urgghh ..”

Aku menggeliat di tempat tidur dan merasakan semua badanku terasa pegal sekali. aku mengerjapkan mata dan mengedarkan pandanganku berkeliling.

Ini bukan kamarku.

Aku menoleh ke samping dan mendapat selang infus yang terpasang di tangan kiriku. Aku berada di rumah sakit.

Aku kembali teringat ketika aku menelpon Siwon dan memintanya untuk menjemputku pulang. aku melihat dirinya keluar dari mobil dan perutku yang sudah dari pagi terasa mual mendadak memuntahkan isinya. Setelah itu aku merasa setengah sadar dan kepalaku terasa seperti mau pecah.

Aku tidak mengingat apa-apa lagi begitu sampai di rumah sakit.

Aku mengangkat tanganku dan melihat warna kulitku yang sudah berubah membiru. Tidak hanya tangan, kaki ku juga berwarna yang sama. Aku mengangkat tangan kananku yang tidak terpasang infus dan meletaknya di kening. Entah kenapa, tubuhku terasa dingin sekali. Padahal aku sekarang tidak menggigil kedinginan.

‘Astaga, apa yang sudah terjadi kepadaku?’

****

Henry’s POV

“Temuan Jenazah berjenis kelamin perempuan berusia 40 tahun dalam keadaan hangus terbakar di dalam sebuah gedung kosong di kawasan incheon. Hasil sidik jari terlampir. Dugaan kuat memdukung hipotesis sebelumnya”

Tulisan itu di tulis tangan dengan rapi. Ini sepertinya buku catatan pribadi milik Shin Ahjusshi. Aku kembali membaca halaman selanjutnya. Lembar demi lembar sudah aku baca sedari tadi dan berharap menemukan sesuatu yang dapat memjelaskan kepadaku alasan appa bisa di tangkap karena tuduhan yang dsangat tidak mungkin di lakukannya.

“Hasil laboratorium sampel air teluk minamata positif terkandung merkuri. Membahayakan masyarakat yang hidup di sekitar pabrik yang membuang limbah dan menyebabkan kecacatan dan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Ini buruk”

“10 peti kemas yang sudah di temukan berisi penuh heroin, ganja dan berbagai jenis opium. Hanya sebagian kecil yang sudah bisa di amankan. Sistem kerja tersangka sudah hampir bisa di ketahui. Hipotesis semakin jelas”

“Mafia ini sangat licin. Memang harus dengan jebakan agar mereka sedikit mau menampakkan wujud aslinya”

“Setelah berdiskusi panjang lebar. Sahabatku, Peter. Bersedia membantu ku”

Aku tersentak kaget membaca kalimat terakhir ini.

****

Siwon’s POV

“Suamiku adalah orang kepercayaan Tuan Shin. Intelejen bersama pengadilan tinggi melakukan penyelidikan di korea dan jepang. Suamiku dengan kesadaran sendiri menyatakan kesediaan untuk menjadi mata-mata di jepang. Semula aku tidak setuju karena mereka ini adalah organisasi yang berbahaya dan sudah terkenal di dunia internasional. Penyelundup narkotika global. Awalnya semua berjalan lancar tapi ketika suamiku akan kembali ke korea, ia di tembak mati salah satu petinggi organisasi. Suami ku tidak tau kalu ponselnya yang diam-diam di gunakannya untuk berkomunikasi dengan pemerintah korea sudah di sadap organisasi,”

Ahjumma itu mejelaskan semuanya dengan beberapa kali menghela nafas panjang. Tangan kanannya memegang bagian depan perutnya dan terlihat menahan sakit. Aku ingin sekali menyela tapi aku kembali teringat kesepakatan kami tadi dan akupun mengurung kan niatku.

“Tuan Peter sama sekali tidak bersalah tuan. Tuan Peter hanya sebagai umpan agar aktivitas organisasi itu yang sempat berhenti karena sudah hampir ketahuan intelejen agar memulai aktivitas pengiriman narkotikanya lagi. Tapi sangat di sayangkan, wabah penyakit itu merenggut nyawa tuan Peter, semua di luar dugaan tuan Shin,”

“Pencemaran teluk minamata murni karena limbah pabrik yang mengandung merkuri. Pabrik itulah yang membantu menyalurkan aktivitas organisasi mendistribusikan narkotika ke berbagai belahan dunia,”

“Ini adalah fakta yang paling penting tuan. Tuan Shin bukan mati di tembak oleh musuhnya tetapi penembak itu adalah suruhan tuan Shin sendiri,”

Aku terhenyak dan sudah akan membuaka mulutku untuk menyela tapi Ahjumma itu dengan cepat melanjutkan ucapannya.

“Kesehatan tuan Shin sudah sangat memburuk tuan. Ada orang organisasi yang masuk ke dalam rumah beliau dan menyamar menjadi penghuni rumah tuan Shin. Obat yang setiap hari di berikan untuk mengobati hipertensi tuan Shin adalah racun Hallium yang bisa merusak sel jantung. Tuan Shin sudah sangat terlambat ketika menyadari semua itu,”

Aku tidak dapat mengantupkan mulutku ketika mendengar semua penjelasan dari Ahjumma yang duduk di depanku ini.

“Tuan,” ucapnya lagi seraya melepaskan kalung yang ada di lehernya.

“Ini kunci brankas yang terdapat di belakang lukisan tuan Shin bersama nona Woochy yang ada di dalam kamar nona Woochy. Di dalamnya ada semua bukti yang dapat menyeret organisasi dan dalang semua ini kepenjara. Tuan Shin menyuruhku bersembunyi ketika tuan akan mati di tembak. ini semua untuk melindungiku dan Shilla. Entah bagaimana, organisasi mengetahui aku adalah saksi kunci semua ini. Aku di perintahkan tuan Shin mengatakan kesaksianku di pengadilan saat hari ulang tahun nona Woochy yang ke 21 tahun tapi sepertinya aku tidak akan bisa tuan … “

Suara Ahjumma semakin melemah ketika mengucapkan perkataan terakhirnya. Ia menjerit perlahan dan terus memegangi bagian depan perutnya. Aku segera saja berdiri dan menghampirinya.

“Ya Tuhan.. Ahjumma bertahanlah!!”

Aku terpekik kaget ketika melihat darah yang berceceran di lantai. Aku dengan panik berusaha membantunya berdiri dan segera mengantarkannya ke rumah sakit. Namun Ahjumma tiba-tiba ambruk ke lantai. Aku meletakkan tanganku di bawah kepalanya dan berusaha menyadarkannya.

“Ahjumma bertahanlah, aku akan menelpon ambulance!!”

Matanya perlahan terbuka dan menatapku dengan airmata yang sudah keluar dari pelupuk matanya.

“Tidak usah nak. Luka tembak di perutku ini tidak akan membuatku bertahan lebih lama lagi. berjanjilah akan selalu menjaga Shilla ..”

Tangannya yang tadinya mencengram kerah bajuku dengan erat sekarang terkulai lemas jatuh ke lantai. Kedua mata Ahjumma tertutup rapat. Aku masih tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat.

“Ahjumma, ireona.. Ahjumma!!”

****

Henry’s POV

“Setelah berdiskusi panjang lebar. Sahabatku, Peter. Bersedia membantu ku”

Aku kembali membaca kalimat itu untuk kesekian kalinya.

‘Appa membantu Appa Woochy?’

Ini membingungkan. Aku kembali membalik ke halaman berikutnya, namun tidak bisa aku temukan tulisan. Kosong. Hingga bagian belakang buku agenda itu aku masih tidak dapat menemukan lanjutan catatan Shin Ahjusshi.

Hujan sudah berhenti sedari tadi.  Matahari sudah bersinar kembali dan membuat semuanya terlihat terang. Hawa dingin masih sedikit terasa, nampak orang-orang sudah mulai melakukan aktivitasnya kembali dan berjalan hilir mudik di depanku. Aku memasukkan buku agenda itu ke dalam saku mantel dan bergegas pergi menuju mobilku.

‘Siapa yang bisa menjelaskan kepadaku tentang semua ini?’

****

Siwon’s POV

Bunyi sirene ambulance terdengar nyaring meninggalkan halaman villa ku. Sekarang ada beberapa orang polisi yang meminta keterangan dariku. Aku menceritakan semuanya. Tentang bagaimana Ahjumma itu mencegatku di jalan dan aku mengajaknya ke sini untuk mengobati lukanya. Aku sama sekali melewatkan bagian alasan sebenarnya kenapa Ahjumma mendatangiku. Untunglah kedua polisi itu menerima pengakuan ku atas ketidak tahuan ku  tentang luka tembak yang ada di perut Ahjumma. Aku mengatakan aku hanya berniat menolong dan Ahjumma sendiri yang menolak untuk di antar ke rumah sakit.

Aku sudah menghubungi Shilla dan sekarang Shilla sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku tidak kuasa untuk memberitahunya kalau ibunya sudah meninggal karena kehabisan darah.  Tubuhku bergetar dengan hebat ketika mengingat kembali kejadian barusan. Semua ini sungguh mengejutkan ku.

Aku mengambil air minum di dapur selagi beberapa polisi masih menyelidiki bercak darah yang ada di lantai dan hal lain yang mereka perlukan. Aku sudah sempat menyembunyikan kunci brankas yang di beraikan Ahjumma tadi kepadaku.

Sambil menegak air minum aku kembali memikirkan semua perkataan Ahjumma.

‘Merkuri’

‘Jenazah wanita’

‘Penyelundup di rumah Shin Ahjusshi’

‘Racun Hallium’

‘Obat Hipertensi’

“Molekul itu di dapat dari suatu zat yang masih belum kami ketahui namanya. Di ambil dari tanaman langka di jepang. Zat itu sepertinya tertelan secara berkala oleh korban,”

Penjelasan dari pesuruhku tiba-tiba saa kembali terbersit dalam otak ku.

‘Di telan berkala’

‘Pabrik membantu penyelundupan narkotika’

Mataku perlahan membulat ketika menyadari semua itu membawaku menyimpulkan sesuatu. Keanehan yang aku rasakan belakangan ini mendukung semuanya. Semua itu merujuk ke satu orang. Ya, hanya orang itu.

Aku mengeratkan pegangan pada gelas yang ku pegang dengan geram.

‘Cat among the pigeons’

‘Kenapa aku baru menyadarinya sekarang!’

 

 

TBC

Credit: http://shinhyewook.wordpress.com/

 

 
21 Comments

Posted by on December 3, 2011 in fanfiction, freelance

 

Tags: ,

21 responses to “(FreeLance) Changeover #4

  1. shilla_park

    December 3, 2011 at 11:09 pm

    uwo uwo…
    siwon sayang kamu memang pintar yeobo.. 8peluk cium*
    henry-ya tetaplah jd anak polos nak.. aku mendukungmu (?)😀

     
    • HenBaby

      December 3, 2011 at 11:16 pm

      Pintar? tapi sering bikin istri nya kelaperan??? kasian shilla eonnie😀😀 *evil laugh*

       
      • shilla_park

        December 4, 2011 at 7:13 am

        woi suami saya gapernah bikin saya kelaperan ya..dia slalu memberi saya asupan gizi dan cinta yg cukup.. *eaaaa*😀

         
      • HenBaby

        December 4, 2011 at 7:17 am

        ciyeeee… makan cinta setiap hari pantes aja galak kayak gitu (?)

        *kabur sebelum kena tendang*

         
  2. Naria

    December 3, 2011 at 11:50 pm

    wah daebak dech lnjt lnjt

     
    • HenBaby

      December 4, 2011 at 7:18 am

      Ne, gomaweo ^^

       
  3. ana_kim

    December 3, 2011 at 11:51 pm

    like it..
    daebak eonnii..aku suka banget ff ini gak hanya criata cinta tapi ada sedikit pengetahuan yang ada…fighting eonnii!!

     
    • HenBaby

      December 4, 2011 at 7:19 am

      Mwoya? hahaha tp itu ad yg aku karang sendiri juga sih, jd jgn ambil 100%, hahahaha

      gomaweo, aku jadi lebih bersemangat ^^

       
  4. cemoymoy

    December 4, 2011 at 2:34 pm

    hoo..ngebut bc part 3&4
    seruu bgt!
    keren uy..penuh konspirasi
    syp c pelakunya..
    cwe? omma ny woochy??
    kasian woochy kena radiasi, bisa sembuh ga?

     
    • HenBaby

      December 4, 2011 at 8:43 pm

      pelakunya? coba tebak aja deh ya, tunggu next part, hehehehehe

      aku ada baca, radiasi itu ga bs sembuh sih.. tergantung waktu lama paparan..

      gomaweo udah baca dan coment ^^

       
  5. lusiani haheho

    December 4, 2011 at 7:13 pm

    sumpah keren degdegan bacanya, baru kali ini aku baca, eh ternyata seru juga angst pula, agak2 sedih gitu ya ceritanya ck, ah daebak!!!😀

     
    • HenBaby

      December 4, 2011 at 8:46 pm

      Ne.. mau bikin yg beda aja.. bosan kan happy ending mulu? ^^

      gomaweo udah baca dan coment, heehehe

       
  6. seung ji sun

    December 4, 2011 at 7:47 pm

    I like it~like it~like it~
    Woah! Henry diem2 ternyata jahat ya?-_-
    Ih masih rada ga ngerti-_- ahjumma itu siapa?
    Cewek itu siapa? Jadi yg jahat siapa dong?
    Henry salah pengertian dong? Woochy gimana? *banyaktanyamaap* *kabursebelumdiusir* kekeke~ eh mampir ke wp author ah~

     
    • HenBaby

      December 4, 2011 at 8:48 pm

      hee moga di next part chingu jadi lebih ngerti ^^

      ne silahkan berkunjung ke wp ku… gomaweo..

       
  7. minkijaeteuk

    December 4, 2011 at 11:26 pm

    tegeng banget part ini….
    perkiraan q salah eomma.y.ahilla.m woochy ternyata beda,,,,tp klo soal yg celakain woochy q tetep.curiga ma eomma y woochy….
    lanjut penasaran abis……

     
    • HenBaby

      December 5, 2011 at 2:54 pm

      tegang? yg ngetik mah biasa2 aja, hihi

      ne, tunggu last part ya.. gomaweo udah baca dan coment ^^

       
  8. vanny

    December 5, 2011 at 11:21 am

    huaahhhhhhh……….. makin seru critanya.. makin bikin deg2an
    kasian amat ya, ibu mertua meninggal di depan mata.
    turun beruka cita ya buat shilla *sodorin melati*

     
    • HenBaby

      December 5, 2011 at 2:56 pm

      hehehe gomaweo ^^

       
    • shilla_park

      December 5, 2011 at 6:43 pm

      ini eoniku yg paling ‘baik’ ini memang kadang2 minta ditabok..kalo turut bewrduka jangan kasih melati dong…kasih bunga bank kek..wkwkwk😀

       
  9. evilkyu dinda

    December 9, 2011 at 12:25 am

    Waahh hipotesa atau pemikiran km bikin ni ff baguuss bangettt (>.<)
    Kereeennn km bisa bikin genre misteri yg bgini😀

     
    • HenBaby

      December 9, 2011 at 6:46 am

      ne, berkat banyak baca , gomaweo ^^

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: