RSS

(FreeLance) Misunderstand

15 Dec

Author : Charismagirl @charismaagirl

Rating : PG-15 (ratingnya agak tinggi yak!

Genre : Romance, Sad, Friendship, Life

Cast : Choi Minho, Park Minri, Gong Chan Shik

Other Cast : SHINEE, B1A4, SMENT

A.N : Hai hai readers, seperti biasa jangan lupa meninggalkan jejak, FF ini sungguh menguras otak, hati dan duit fikiran. Mohon maaf jika tidak memuaskan maupun alurnya kecepetan. Perlu kalian tahu, ini oneshot terpanjang yang pernah saya bikin, XDD yuhuuu… di blog pribadi saya www.flamestory.wordpress.com saya ptotect loh, heehee. Buat yang dibawah umur, jangan terlalu dibayangkan, oke? Let’s check it out!!~

 

Incheon Airport

8 Des, 16.30 KST

Seorang yeoja berdiri di depan mobil sport berwarna hitam dia mengetukkan kakinya ke lantai, tampak sekali kalau dia sedang kesal. Bagaimana tidak? Sudah hampir dua jam dia menunggu seseorang yang sangat ingin ditemuinya, yang sudah lama tidak bertatapan langsung dengannya apalagi berbicara langsung, dia namjachingu-nya memiliki profesi sebagai seorang artis, yang tentunya memiliki kesibukan yang sangat padat.

Pandangannya menyusuri jalanan mencari sesuatu yang menarik, meski tak ada yang menarik pada saat itu. Dari jarak sepuluh meter tampak orang yang sedang bergerombol, minta tanda tangan dan berfoto-foto dengan namjachingu-nya. Dia kembali mendengus saat melihat jam tangannya yang sudah berputar lebih cepat, diluar perkiraannya.

Yeoya itu terus saja menunggu, tidak peduli bahwa cuaca sudah memasuki musim dingin yang berada dipuncaknya. Meskipun memakai blazer panjang yang cukup tebal namun tetap saja angin musin dingin bisa menyusup ke dalam tubuhnya lewat celah-celah kecil. Sesekali dia menggosokkan tangannya yang sudah terbalut sarung tangan biru muda pemberian si namja.

Yeoja ini bukan yeoja biasa. Memangnya mudah bisa mengenal seorang Minho? Apalagi menjadi yeojachingu-nya? Dia, seorang yeoja berumur delapan belas tahun, seorang trainee yang satu manajemen dengan Minho sekarang. Sudah dua tahun dia menjalani trainee yang bisa dibilang melelahkan. Selama dua tahun itulah, dia mengenal Minho, namja yang dikaguminya karena sifatnya yang baik, ramah dan alasan terakhir mungkin karena wajahnya yang tampan. Memangnya siapa yang bisa menolak seorang rapper keren seperti Minho.

Pertemuan mereka berawal di ruang latihan. Saat itu Minri dan empat trainee lain sedang latihan, tiba-tiba shinee masuk dan tentu saja membuat mereka –para trainee terkejut. Karena beberapa alasan, jadilah mereka menggunakan ruangan itu bersama-sama. Minri adalah seorang yang pendiam dan terlihat dingin jika baru mengenalnya. Saat istirahat, dia lebih memilih duduk sendiri dipojokan dan memasang headset ditelinga sesekali meneguk air mineralnya. Kontras sekali dengan para trainee lain yang saat itu mengobrol dengan member shinee. Saat itulah Minho mulai menatapnya dari kejauhan, menatap intens setiap lekuk wajahnya dan ekspressi wajahnya yang kebanyakan memasang ekspressi datar. Hal itu pula yang membuat Minho penasaran dan akhirnya, dia meminta pertolongan Key, mengingat Key pandai bergaul dan dekat dengan orang. Dia meminta Key untuk bicara dengan Minri,mengusahakannya agar dekat dengan semua member termasuk dirinya –Minho. Entah secara sengaja atau tidak, mereka selalu menggunakan ruang latihan bersama. Dan itu berlangsung seterusnya. Hingga mereka mulai dekat dan Minri bisa tersenyum meskipun itu pemandangan langka. Dan hingga sekarang, mereka semakin akrab.

Mengingat semua kenangan tentang awal kisah mereka, membuat Minri sedikit terenyuh. Terlalu indah jika dibayangkan, mengingat saat itu shinee tidak terlalu sibuk dan berbeda sekali dengan sekarang yang sungguh membuatnya lelah menjalani hubungan ini.

Minri memegang pipi dengan kedua tangannya, memegang pipinya yang sudah mulai putih memucat, cuaca sekarang memang sedang tidak bersahabat. Dilihatnya lagi namja-nya yang ternyata sudah selesai dengan ‘kegiatannya’ sang namja berjalan kearah yeojanya seraya tersenyum manis. Tak ada balasan untuk senyuman itu karena kekesalannya sudah berada diambang batas. Dia hanya mengerucutkan bibirnya.

“Lama menunggu princess?”

“Menurutmu? Terus saja lebih lama lagi sampai tubuhku membeku pun kau mungkin tak akan pernah peduli” Minri melengos masuk ke mobil, tak peduli kening Minho sudah mengkerut karena bingung akan sifatnya yang mendadak mengerikan. Yeoja yang mendadak bersifat dingin sedingin cuaca di musim dingin ini. Apa yang membuatnya berubah setelah dua minggu tidak bertemu? Rasa kerinduan yang berlebih kah? Atau cemburu dengan para fans yang sesungguhnya itu tak periu terjadi, karena dia harus siap mengambil resiko menjalin hubungan dengan seorang artis.

Minho ikut masuk ke dalam mobil dan tidak langsung menjalankan mobilnya. Hari ini mereka memang merencanakan untuk kencan, mengingat hari ini Minho ada jadwal kosong sebelum kembali sibuk dengan promo album ‘The First’. Minho menatap yeoja-nya yang memandang lurus kedepan dan masih mengerucutkan bibir. Menyadari cukup lama Minho menatapnya dia balas menatap Minho. Pandangan mereka bertemu, mata itu, tatapan yang dirindukan Minho begitupun sebaliknya. Tidak tahan dengan keadaan ini, Minri mengangkat kedua ujung bibirnya, dia tersenyum.

“Begitu lebih bagus” gumam Minho. Mereka masih berpandangan, keadaan ini membuat atmosfer dalam mulai menghangat. Semakin lama wajah mereka semakin dekat, dan…

Sebuah dering ponsel berbunyi dari saku Minho dan mereka segera menghentikan kegiatan –kalian tentu tahu lah–. Bunyi itu menandakan sebuah panggilan masuk, dari menajer Jun. Tanpa basa basi, Minho langsung mengangkatnya. Ternyata manajer meminta Minho untuk datang jam enam sore membicarakan jadwal kegiatan mereka dan itu berlangsung satu jam lagi.

Mendengar itu, Minri kembali murung. Dia menghela nafas berat, ditunggunya Minho yang masih bicara, cukup lama –lima belas menit. Setelah pembicaraan berakhir, Minho memasukkan kembali ponselnya dan mulai menstarter mobil itu.

“Ku harap kita bisa memanfaatkan waktu selama satu jam ini” ucap Minho. Sedang Minri hanya mengangguk mengiyakan.

Dering ponsel itu kembali bedering membuat Minho tidak jadi menjalankan mobilnya, dia kembali mengabaikan yeoja disebelahnya yang sudah berkecamuk dengan fikirannya. Kesabarannya, hampir habis atau mungkin… sudah habis?

Minri melakukan sesuatu diluar dugaan, dia merampas ponsel Minho dan mematikannya. Hal itu membuat Minho melebarkan matanya, sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

“Bisakah kau meluangkan waktumu untukku, meski itu hanya sedetik!” seru Minri yang kemudian membuka pintu mobil dan…

Bukk!! Menutup dengan penuh emosi, dia meninggalkan Minho yang masih melongo, sedetik kemudian Minho memukul keras setir mobil. Bayangannya untuk kencan dan bersenang-senang hari ini buyar sudah. Tidak ada interaksi yang berarti dengan pertemuan mereka yang berselang hanya beberapa menit.

“Mianhae, Minri-ya…”

***

Trainee Apartment, 17.00 KST

“Unni! bagaimana…” ucapan Jinra tertahan saat melihat wajah Minri yang tidak bersahabat. Minri langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan kasar.

Yonhee yang saat itu juga ada di ruang tengah bersama Shinra saling pandang dan kemudian mengendikkan bahu, tentu saja mereka tidak tahu apa yang terjadi. Lagi pula menanyakan hal pribadi seperti itu pada Minri termasuk hal yang sulit. Minri lebih memilih memendam perasaannya sendiri, bukannya berlagak menjadi wanita tegar, namun dia tidak ingin merepotkan orang yang disayanginya.

“Bukankah dia bilang akan berkencan dengan Minho oppa?” tanya Shinra pada Yonhee yang melihat televisi.

“Ne, saat pergi tadi dia terlihat sangat senang. Apa yang terjadi ya, sampai Minri begitu emosi seperti tadi? Aku bahkan tidak pernah melihatnya emosi seperti itu” jelas Yonhee.

“Dan satu hal lagi yang langka dari Minri unni, dia menangis” tutur Jinra seraya mengambil remote di atas sofa.

“Jinjja? Kau melihatnya?” pekik Shinra, sedang Jinra hanya mengangguk mengiyakan.

Jinra mengganti-ganti saluran televisi, tangannya behenti memencet remote saat melihat lima orang namja yang di kenalnya sedang berada di depan layar.

“Sepertinya shinee oppadeul akan kembali sibuk” gumam Jinra.

***

Minri melempar ke sembarang tempat tas selempang yang tadi tergantung di bahu kanannya, terdengar berbagai macam bunyi entah itu ponsel atau apapun yang di dalam sana. Dia tidak peduli. Lalu dia melepaskan blazer, sarung tangan dan menggantinya dengan kaos santai dan hot pans. Sekarang kamar itu tampak berantakan.

Dia menghempaskan dengan kasar tubuhnya ke kasur. Cairan bening terus mengalir di pipi mulusnya, mengalir teratur bagaikan arus sungai yang yang tenang. Dia pun tidak menyangka bisa berlaku sekasar itu pada Minho. Sejauh hubungannya dia tidak pernah seperti itu, meskipun dia selalu menampakkan wajah dinginnya, namun hal tadi diluar dugaan.

Minri memeluk lulutnya dadanya naik turun dan dengan bibir sedikit bergetar. Siapapun tidak akan mempercayai kalau yang menangis sekarang adalah Minri.

“Haruskah kita berakhir Minho-ya” gumamnya. Hatinya terlalu lelah menjalani hubungan seperti ini. Egois? Memang, dia ingin menuntut lebih. Rasa cinta yang terlalu besar membuatnya dengan mudah mencemburui namjachingu-nya, bahkan dengan fans.

Perlahan dia merosotkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Dia menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya. Tidak peduli apa yang terjadi diluar sana. Dalam fikirannya sekarang hanya ingin melupakan kekesalannya.

***

19.10 KST

“Minri-ya, waktunya makan malam” teriak Shinra dari balik pintu. Namun tidak ada jawaban dari dalam, seolah tidak ada yang menghuni kamar tersebut.

“Bagaimana Shinra-ya?” tanya Yonhee di meja makan setelah melihat Shinra duduk di sebelahnya dengan wajah murung.

“Tidak ada jawaban” jawab Shinra singkat. Dia meraih sepiring kimchi yang sudah tersedia untuknya. Sedang Jinra hanya menatap kedua unni-nya dengan wajah sedih.

“Wae Jinra-ya?” tanya Yonhee.

“Aku takut terjadi apa-apa dengan Minri unni” ucap Jinra.

“Stt! Jangan bicara seperti itu”

Kini tidak ada yang bersuara, hanya suara dentingan sendok dan piring yang sedang beradu. Mereka larut dalam fikiran masing-masing.

Selesai makan mereka kembali dengan kegiatan masing-masing. Jinra yang masih memegang status sebagai pelajar harus belajar untuk persiapan ujian akhir. Dalam kamarnya, Yonhee duduk malas-malasan di atas kasurnya seraya membaca novel favoritnya. Shinra masih berkutat di ruang tengah, memasang headset, dia bernyanyi untuk melatih vokalnya sendiri.

Suara bel membuat Shinra melepas headsetnya sebentar, meyakinkannya bahwa dia tidak salah dengar, dan bel itu kembali terdengar. Shinra berjalan menuju pintu, sebelum membukanya dia mengintip di sebuah lubang kecil, memastikan bahwa yang datang adalah orang yang berkepentingan dengan salah satu diantara mereka berempat. Dan benar, seseorang yang dikenalnya tengah berdiri di depan pintu dengan wajah yang terlihat sedih. Perlahan Shinra membuka pintu, dan menyapa dengan senyuman.

“Anyeonghaseo, Minho oppa” sapa Shinra seraya membungkuk.

“Anyeonghaseo Shinra-ya, apa Minri ada didalam?” tanya Minho to the point.

“Ne, kajja masuk dulu oppa” ajak Shinra. Minho masuk dan duduk setelah di persilakan. Jinra yang kebetulan juga berada disana menghentikan kegiatannya dan menyapa Minho.

“Oppa, sejak tadi sore Minri unni tidak keluar kamar” ucap Jinra.

“Jinjja?” tanya Minho, sedikit ada nada penyesalan dari suaranya.

“Tunggu sebentar, biar aku bangunkan. Mungkin dia sedang tidur”  Shinra berdiri hendak menuju kamar Minri, namun Minho sempat menghentikannya.

“Tidak perlu, mungkin dia lelah. Aku akan menunggunya…disini” ucap Minho yakin.

“Mengapa oppa tidak istirahat saja, bukankah sebentar lagi oppa akan sibuk album terbaru? Sekarang saja oppa terlihat lelah sekali”

“Kalau kalian hendak istirahat, silakan saja. Aku tetap akan menunggunya disini” ucap Minho ramah seraya tersenyum.

“Baiklah kalau begitu, aku masuk ya oppa” Jinra dan Shinra masuk ke kamar masing-masing, sedang Minho masih duduk di ruang tengah. Tidak ada yang dilakukannya. Dia hanya duduk menunggu, matanya mulai terasa berat.

***

9 Des, 01.30 KST

Minri membalikkan badannya ke kiri dan ke kanan, baru tersadar kalau dia tadi ketiduran, dia berdiam sebentar mengumpulkan seluruh kesadarannya. Perlahan dia membuka matanya yang terasa berat. Dia merasa sangat haus. Minri bangkit dari tidurnya dan berjalan ke pintu, dia melirik sebentar ke cermin di dekat pintu. Sedetik kemudian dia menyadari kalau ada yang tidak beres dengan kelopak matanya yang sekarang terlihat bengkak, dan ini karena dia tidur setelah menangis. Mengabaikan persoalan mata, dia kembali membuka pintu dan berjalan ke dapur. Di bukanya pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral, dalam waktu sebentar saja dia sudah menghabiskan minumannya.

Berniat kembali masuk kamar namun Minri menangkap sesuatu yang ganjil di ruang tengah. Perlahan dia mendekat dan matanya sedikit melebar melihat siapa yang tertidur di atas sofa.

“Choi Minho” gumamnya. Minri masih berdiri, menatap nanar wajah Minho yang tampak sekali kalau dia kelelahan, ada rasa penyesalan dalam dirinya.

“Mianhae, aku terlalu egois untuk menjadi yeoja-mu” Minri menunduk, cairan bening itu kembali mengalir. Minri menghapus air mata dengan punggung tangan kanannya. Kemudian dia melangkah ke kamarnya, mengambil selimut dalam lemarinya. Perlahan dia menyelimuti Minho dengan selimut yang di bawanya. Tangannya bergerak sangat lamban, takut membangungkan Minho. Kemudian Minri mendekatkan wajahnya dengan Minho. Cup! Dia mengecup pipi Minho. Menatap wajah yang dirindukannya. Kemudian dia bermaksud untuk kembali ke kamarnya, tetapi sesuatu kembali menghentikan langkahnya.

“Minri-ya, mianhae…” gumam Minho dengan mata yang masih terpejam. Minri mendengarnya dengan jelas, sangat jelas.

“Ku rasa sebaiknya kita berpisah”

***

07.00 KST

“Minho oppa, kau tertidur disini” Shinra mengguncang pelan tubuh Minho, perlahan Minho membuka mata dan menyadari bahwa sudah satu malam dia berada disini.

“Aku harus kembali” Minho terlihat panik setelah melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. “Sampaikan salamku pada Minri” ucapnya sebelum benar-benar pergi. Usahanya untuk menunggu ternyata tidak dapat mempertemukannya apalagi untuk bicara secara baik-baik.

“Ne. hati-hati dijalan oppa” Shinra menatap sedih punggung Minho sampai menghilang dari pandangannya.

“Kasian Minho oppa”

“Unni! Tanda ini untuk apa?” Jinra menunjuk kalender yang terpajang di dinding, sebuah angka sudah di lingkari dengan spidol merah.

“Molla” jawab Yonhee singkat.

“Shinra-ya, apa kau tahu apa maksud tanggal yang di lingkari ini?” tanya Yonhee yang juga bingung dan penasaran dengan lingkaran merah di tanggal sembilan itu.

“Ah, apa mungkin itu Minri unni yang melingkari?”

“Bisa saja” jawab Shinra.

***

Minri kembali membuka matanya, cahaya matahari masuk melalui celah-celah kecil jendela kamarnya. Matahari mulai meninggi, namun udara masih saja sangat dingin. Dengan langkah gontai dia melangkah ke kamar mandi, sekedar untuk mencuci muka dan menggosok gigi.

Minri mengganti celananya dengan training kemudian meraih jaket tebal dalam lemari dan tak lupa kacamata yang menutup setengah wajahnya. Dia tidak mungkin keluar dalam keadaan mata yang masih agak bengkak. Dia berniat untuk olahraga. Sudah lama dia tidak melakukan kegiatan ini. Setelah merasa lengkap, dia membuka pintu kamar dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Tak ada seorang pun disana, ruangan ini benar-benar sepi. Penghuninya yang lain sudah pergi melakukan kesibukan mereka masing-masing, dan kini hanya tinggal Minri sendiri di dorm para trainee.

Matanya tertuju pada sebuah lingkaran merah yang tergantung di dinding dekat kamarnya, dia ingat betul untuk apa tanda itu. Dia tersenyum ketir, setahun yang lalu dia merayakan dengan gembira, dan sekarang rasanya tidak mungkin hal itu terjadi untuk hari ini. Bahkan satu kata ‘selamat’ pun tidak tersampaikan.

“Baiklah mungkin hari ini yang terakhir kita sebagai sepasang kekasih. Aku akan bicara padamu Minho-ya, dan ini juga hadiah terakhirku sebelum kita benar-benar berpisah. Aku… akan memberikan kejutan untukmu”

Dia kembali meneruskan niatnya untuk olahraga, walaupun sekarang sudah pukul delapan, peduli apa? Kesibukan di Seoul kentara sekali terlihat. Minri memandang lurus ke depan seraya berlari kecil. Beberapa mata melihatnya aneh, jelas saja karena kacamata besar yang dikenakannya sangat kontras dengan orang yang berlalu lalang di sekitarnya, dan sekali lagi dia tidak peduli.

Seseorang menyipitkan matanya dari jauh untuk menatap Minri lebih intens, meyakinkan dirinya apakah itu benar Minri atau bukan. Dia, seorang namja yang cukup dekat dengan Minri. Dia paham betul bagaimana sifat Minri, dingin, datar dan agak galak. Namun namja ini kagum dengan sifat Minri yang pekerja keras. Kebetulan dia –Gongchan, teman sekolah Minri dulu. Gongchan menyamakan langkahnya dengan Minri, entah kenapa mereka bisa bertemu disini dengan keadaan yang sama, sedang lari yang bisa di bilang siang, bukan pagi.

“Minri-ya! ini benar kau?” Minri memperlambat larinya dan menengok ke samping, tidak ada keterkejutan sedikitpun. Dia mengenal siapa yang baru saja memanggilnya.

“Ne. Waeyo Chan-ah?” tanya Minri, mereka masih dalam keadaan berlari.

“Kau kelihatan berbeda, terutama kacamata itu. Haha~” Gongchan tertawa renyah, Minri menoleh dan mendelik tajam membuat Gongchan berhenti tertawa dan menggantinya dengan senyum.

Minri teringat akan sesuatu, dia menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba dan Gongchan ikut menghentikan langkahnya.

“Chan-ah, kau kan bisa membuat kue tart. Bisa kah membantuku hari ini?”

“Tapi, tapi…” Gongchan tidak dapat meneruskan kalimatnya karena Minri sudah menarik tangan Gongchan membuat mereka berdua kembali berlari. Lagi, seseorang dari jauh menatap nanar pemandangan di depannya.

“Kalau kau menginginkan hal ini terjadi, baik akan ku kabulkan”

***

Minri membuka pintu dorm dengan cepat dan menyuruh Gongchan duduk sebentar. Kebetulan saat itu Yonhee sudah pulang dari SM building, dia menyapa Gongchan dengan ramah.

“Chan-ah, kau ngobrol sebentar dengan Yonhee, aku mau mandi dulu” ucap Minri sebelum dia masuk ke kamarnya.

“Yonhee-ssi, apa kabar mu?” tanya Gongchan basa basi, dia tidak tahu harus bicara apa. Walaupun mereka sering bertemu namun mereka tidak terlalu dekat.

“Aku baik-baik saja” Jawab Yonhee seraya tersenyum. “Apa kegiatan B1A4 saat ini?” Yonhee merasa pertanyaan ini akan mengurangi kecanggungan di antara mereka dan ternyata benar. Mereka membicarakan, debut, trainee, kesibukan dan lain-lain yang mereka rasa menarik

Tak lama Minri muncul, dia sudah selesai mandi, berganti baju dan bersiap melakukan hal yang membuatnya harus membawa Gongchan kesini.

Minri dan Gongchan tengah berada di dapur, sedang Yonhee kembali ke kamarnya untuk istirahat, tidak ada yang ingin dilakukannya saat ini.

Di dapur, Minri dengan cukup bersemangat menyiapkan bahan dan peralatan untuk membuat kue tart, seingatnya Gongchan pernah memberikannya kue tart saat ulang tahunnya, meskipun sedikit ragu bahwa saat itu Gongchan bilang sendiri kalau dia yang membuatnya.

“Apa yang pertama kita lakukan?” tanya Minri pada Gongchan yang hanya melihati  bahan-bahan yang tersedia di meja.

“Apa?” tanya Gongchan balik.

“Apa maksudmu APA? Bukankah kau bilang kalau kau bisa membuat kue tart. Kajja! Bantu aku sekarang” ucap Minri tidak sabaran. Gongchan hanya menggaruk terngkuk belakangnya yang tidak gatal.

“Sebenarnya saat itu aku di bantu oleh Jinyoung hyung”

Minri kembali menyipitkan matanya setelah mendengar pernyataan Gongchan barusan.

“Jangan-jangan kau hanya membantu memecah telur dan mengaduk adonan” ucap Minri asal.

“Kau benar!” Gongchan menyengir.

“Mwo?? Haishh” Minri mendesis. Untuk apa dia membawa Gongchan toh dia tidak bisa memberi bantuan yang di perlukannya saat ini.

“Kajja! Kita harus meminta bantuan Jinyoung oppa kalau begitu” Minri meraih ponsel di saku celananya, dan menyerahkannya pada Gongchan. Dengan lincah jari-jari Gongchan menekan tombol angka disana kemudian mendekatkan ponsel ke telinga kanannya. Namun sayang tidak ada jawaban disana.

“Sepertinya Jinyoung hyung sedang sibuk”

Minri menghela nafas “sebaiknya aku mengembalikan benda-benda ini?”

“Bagaimana kalau kita bermain?” Gongchan meraih bubuk tepung dan melemparkannya ke wajah Minri.

“Ya!” pekik Minri kesal, namun dia tidak mau kalah dan dia membalas apa yang dilakukan Gongchan baru saja. Sekarang dapur nampak seperti kapal pecah. Tiba-tiba Minri hilang keseimbangan karena dia menginjak taburan tepung di lantai, hampir terpeleset kalau saja Gongchan tidak memeluk pinggangnya, mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri.

Tanpa mereka sadari seorang namja menatap sinis pemandangan di depannya, dia –Minho yang mengikuti Minri. Sebenarnya dia tidak ingin seperti seorang penguntit, namun dia begitu penasaran dengan apa yang dilakukan yeojanya bersama namja yang cukup di kenalnya –Gongchan, setelah dia melihat Minri begitu erat memegang tangan namja lain. Dia tahu Gongchan adalah teman lama Minri. Tapi apakah salah jika dia merasa cemburu untuk momen yang dilihatnya langsung dengan matanya sendiri.

Minri menghentikan aksi ‘perangnya’ begitu menyadari seorang namja berdiri di ambang pintu dapur, hanya menatap tanpa berkata apapun meskipun tersirat kemarahan dari matanya. mereka bertiga seperti sedang di ‘pause’ dalam game. Detik waktu seakan berhenti. Membiarkan mereka larut dalam rasa keterkejutan.

“Baik, kalau kau menginginkan kita berakhir sampai disini. Sepertinya kau lebih bahagia dengannya” ucap Minho yang terdengar jelas. Minho membalikan badan dan berjalan semakin menjauh. Gongchan menyadari ada hal yang tidak beres dengan mereka berdua, dia merasa dirinya patut di salahkan kalau mereka berdua benar-benar berpisah.

“Ada apa dengan kalian sebenarnya? Apa maksud perkataan Minho hyung tadi? Dan mengapa kau diam saja? Cepat kejar!” seru Gongchan tidak sabaran. Dia mendorong pelan tubuh Minri yang sedang ragu untuk melangkahkan kakinya. Minri menggenggam kedua tangannya di samping badan, sekedar untuk menguatkan hatinya. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Lalu dia melangkah lebar-lebar untuk mencapai Minho sebelum Minho keluar dari dorm.

“Minho-ssi!” panggil Minri saat di ruang tengah. Minho menghentikan langkahnya dan berbalik. Dia mendelik tajam. Tak ada senyuman ramah –sedikitpun.

“Aku…aku…aku rasa kau benar. Kita harus berpisah” Minri menggigit bibir bawahnya berusaha tidak terlihat lemah, dia menunggu reaksi Minho akan perkataannya barusan.

Minho bergeming, tangan kanannya mengepal kuat. Tidak sabar menunggu Minho bicara, Minri kembali membuka mulutnya.

“Aku tahu, aku terlalu egois untuk menjadi yeojachingu-mu. Aku selalu menuntut lebih. Ingin perhatian lebih. Ingin kau seutuhnya hanya milikku. Jadi, maafkan aku membuatmu lelah selama ini” Minri menelan ludahnya, kerongkongannya terasa kaku dan lidahnya terlalu kelu untuk berucap apapun lagi. Hatinya terlalu sakit jika harus benar-benar berpisah. Dia ingin merutuk dirinya sendiri karena telah berucap menginginkan perpisahan yang sungguh tidak pernah diinginkannya. Namun dia tidak ingin lagi menyakiti Minho, membuat Minho lelah karena keegoisan dalam dirinya.

“Semudah itu kah kau mengucapkan perpisahan saat kita memperjuangkannya dan sudah menjalaninya setahun lebih” Minho mempertahankan nada bicaranya agar tidak terdengar tinggi.

“…”

Minho mendelik kepada namja yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari mereka berdua.

“Baik, kalau ini maumu. Ku rasa kau sudah memiliki pengganti diriku. Kita berpisah, Minri-ssi!” Minho membalikkan badannya, tidak ada niat untuk kembali menarik perkataannya yang penuh penekanan itu. Tanpa diketahui Minho tubuh Minri merosot, kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Dia mendongakkan kepalanya menahan air matanya yang bisa jatuh kapan saja. Setidaknya bukan sekarang bukan di tempat yang bisa saja dilihat orang lain.

Damm! Terdengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. Yonhee yang baru keluar kamar, mendengar jelas kalimat terakhir yang di ducapkan Minho. Dia membulatkan mata dan mulutnya, terlalu shock atas apa yang baru saja di dengarnya.

Gongchan pun berlaku demikian, perlahan dia berjalan ke tempat Minri terduduk. Dan Minri menyadari kehadiran Gongchan disampingnya.

“Minri-ya, gwaenchana?” Gongchan menepuk bahu Minri pelan. Sedikit memberikan kekuatan, entah itu berguna atau tidak.

“Aku terlalu mencintainya, Chan-ah” ucapnya lirih seraya menunduk. Mempertahankan nada bicanya agar tidak terdengar bergetar dan begitu lemah.

“Bagaimanapun kau itu yeoja Minri-ya, perasaan yeoja terlalu halus. Tidak perlu bersikap seolah kau bisa memendamnya sendiri. Menangislah…” Gongchan mendongakkan wajah Minri agar menatap matanya. Tetes demi tetes cairan bening mengalir di wajahnya tanpa dia harus mengerjapkan mata, perlahan terdengar isakkan dan Minri kembali menunduk.

“Menangislah kalau itu bisa membuatmu kembali menjadi Minri yang kuat”

**

15.15 KST

Dorm nampak begitu hening, semua sedamg berkumpul di ruang tengah. Jinra, Yonhee, Shinra dan Minri. Setelah kejadian tadi siang, Minri benar-benar membungkam mulutnya. Hanya Yonhee yang mengetahui apa yang terjadi dengan Minri dan Minho, namun dia lebih memilih diam. Setidaknya sampai Minri sendiri yang siap menyampaikannya dengan mereka bertiga meskipun itu juga kemungkinan kecil. Jinra dan Shinra yang menyadari adanya kecanggungan di antara mereka mulai membuka mulutnya.

“Unni! Bukankah hari ini Minho oppa ulang tahun? Aku baru ingat karena teman-temanku di sekolah terus saja membicarakan Minho oppa” jelas Jinra dengan semangat. Dia menatap Minri dengan senyuman lebar, sedang Minri hanya tersenyum tipis yang justru terlihat seperti meringis.

“Oh iya, bicara tentang ulang tahun Minho oppa, tadi aku mendapat kabar dari Soo Man ahnjussi, kalau dia akan mengadakan pesta malam ini di SM Building. Dan kita –para trainee juga di undang. Bagaimanapun kita harus datang. Iya kan, Minri-ya?” Shinra menaik-turunkan alisnya. Dia berusaha menggoda Minri, meskipun dia tahu bahwa hasilnya sia-sia.

Minri mendeham, hendak beranjak menuju kamarnya, tapi suara Yonhee menghentikan langkahnya.

“Kau harus datang, Minri-ya!” ucap Yonhee dengan nada serius. Minri menatap Yonhee datar.

“Akan ku pikirkan” sekarang dia benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Jinra mengerutkan keningnya setelah mendengar percakapan singkat antara Yonhee dan Minri.

“Ada apa eonni?”

“Nanti kau juga tahu sendiri” Yonhee beranjak dari duduknya, meninggalkan Jinra dan Shinra yang masih kebingungan.

***

19.00 KST

“Minri eonni, kau ikut pergi kan?” teriak Jinra di balik pintu kamar Minri. Perlahan Minri membuka pintu kamarnya dan dia sudah siap dengan dress silver mewah yang panjangnya menggantung setengah paha menampakkan kaki jenjangnya yang mulus, rambutnya yang kecoklatan di gulung rapi ke atas.

Jinra, Shinra dan Yonhee sudah siap untuk pergi ke SM Building, mereka tampak seperti bidadari yang turun dari langit, sangat cantik dengan gaun yang lebih mirip gaun boneka barbie. Mereka akan menghadiri pesta ulang tahun Minho yang diadakan oleh perusahaan. Minri yang baru saja memutuskan berpisah dengan Minho, harus menghadiri acara tersebut. Dia tidak ingin orang lain mengetahui hal tersebut, setidaknya bukan sekarang.

Sekarang mereka berada dalam mobil, Yonhee menyetir di depan dan Shinra duduk di sampingnya sedang di belakang ada Minri dan Jinra. Minri memandang kosong ke arah jalan. Jinra di sebelahnya terus saja berbicara yang hanya di tanggapi dengan gumaman kecil dari Minri.

***

Minri, Jinra, Yonhee dan Shinra baru tiba di sebuah ballroom tempat diadakannya pesta tersebut. Mereka di sambut ramah oleh sunbae-sunbae yang sudah tiba terlebih dahulu, seperti Girls Generation, F(x), Dong Bang Shin Ki, Super Junior dan tentu saja SHINee serta beberapa artis lain debutan SM.

Tak lama mereka tiba, pesta pun dimulai. Soo Man ahnjussi memberikan beberapa kata sambutan dan ucapan selamat ulang tahun untuk yang sedang berulang tahun –Minho. Sekarang, Minho berdiri didepan, bersiap untuk meniup lilin. Tepat diseberangnya dengan jarak beberapa meter, Minri berdiri menatap Minho dengan tatapan datar, meski dalam hatinya ingin sekali menangis. Mengapa bukan dia yang berdiri di samping Minho sekarang?.

“Kajja hyung! Tiup lilinnya” pinta Taemin.

Perlahan Minho menutup matanya, membuat beberapa harapan.

God, aku ingin yeoja yang ku cintai bahagia meskipun itu harus tanpa diriku.

Fuuh~

Suara riuh tepuk tangan membahana di seluruh ruangan. Yonhee menyadari daritadi Minho dan Minri saling menatap dingin seakan tidak saling kenal, dia tahu bahwa Minho dan Minri masih mencintai dan perasaan itu masih terlalu kuat melekat. Tidak tahan dengan keadaan ini, Yonhee memutuskan untuk meminta bantuan member SHINee yang lain untuk kembali menyatukan dua manusia yang memiliki ego tinggi tersebut.

“Key oppa, bisa aku bicara sebentar?” Key mendengar dan menyadari kehadiran Yonhee langsung menghentikan perbincangannya dengan Kyuhyun.

“Aku permisi sebentar hyung” Kyuhyun mengangguk mengiyakan.

“Ada apa Hee-ya?” tanya Key.

“Aku ingin meminta bantuan oppa, tapi sebelumnya aku akan menceritakan apa yang terjadi. Ini masalah Minho oppa dan Minri” ucap Yonhee dengan nada serius. Kemudian Yonhee menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya secara rinci, berusaha tidak melewatkan satu kisahpun yang diketahuinya.

“Mwo???” Key terkejut setelah mendengar cerita Yonhee. “Baiklah, aku akan membantumu”

***

Minri mendapat panggilan bahwa dia harus segera ke ruang latihan dansa dan jelas saja Minri bingung. Memangnya siapa yang ingin bertemu di ruang seperti itu malam begini? Masih dengan gaun pesta tadi dia berjalan ke ruang latihan. Perlahan dia membuka pintu dan melihat penggung seseorang yang dikenalnya –Minho. Menyadari ada yang membuka pintu Minho membalikkan badannya. Minri pun berjalan mendekati Minho.

“Kau memanggilku?” ucap mereka berdua yang terdengar hampir bersamaan, formal dan dingin.

Hening. Setelah satu kalimat tersebut meluncur dari mulut keduanya kini mereka bungkam, hanya saling menatap satu sama lain. Dalam hati mereka meronta ingin bicara, namun entah mengapa lidah mereka begitu kelu untuk kembali berucap. Tatapan mata mereka yang awalnya dingin, lama kelamaan tersirat kesedihan. Mereka tidak tahu apakah keputusan yang benar saat mereka memutuskan untuk berpisah.

“Minho-ssi, apa ada yang ingin kau katakan sebelum aku pergi dari sini?”

Minho menghela nafas berat. Banyak hal yang ingin dikatakannya. Tapi apakah mungkin dia akan mendapatkan respon yang memuaskan.

“Minri-ssi, sebenarnya aku…aku tidak ingin berpisah denganmu. Ucapanku tadi siang hanyalah emosi sesaat. Dan aku menyesali karena menyetujui apa keinginanmu” ucap Minho tulus.

“Aku…hanya tidak ingin membuatmu lelah karena sikapku, aku terlalu mencintaimu, Minho-ssi”

Minho berjalan mendekat dan memeluk Minri erat. Minri hanya diam, dia memang merindukan pelukan hangat ini. Dia menyadari status mereka sekarang. Dan berfikir bahwa ini pelukan terakhir mereka.

“Mianhamnida” ucap Minri disela pelukannya.

“Yang perlu minta maaf itu, aku. Aku terlalu sibuk sampai aku tidak bisa lagi memperhatikanmu seperti dulu. Aku minta maaf. Bisakah kita kembali Minri-ssi?”

“Aku tidak ingin lagi menyakitimu”

“Kau tahu, hal yang paling membuatku sakit adalah berpisah denganmu” Minri melepaskan pelukannya dan menatap Minho dalam.

“Jadi, kita kembali?” tanya Minho. Minri menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu dia mengangguk. Kedua ujung bibir Minho terangkat, dia tersenyum dan langsung melumat bibir Minri dan Minri membalasnya. Sesuatu yang mereka rindukan.

“Berhenti lah bicara formal, karena telingaku sudah tidak terbiasa mendengar kau bicara seperti itu denganku” ucap Minri setelah mereka berhenti kisseu.

“Sebenarnya lidahku juga sulit bicara seperti itu denganmu” Minho tertawa kecil.

***

23. 10 KST

Semua member SHINee tiba di dorm, mereka pulang bersama Shinra, Yonhee, Jinra dan…Minri. Onew merencanakan untuk kembali merayakan ulang tahun Minho. Tidak ada yang spesial, karena mereka tidak melakukan persiapan yang berarti. Hanya saja makanan di kulkas mereka keluarkan dan kue tart yang dibuat Key tadi siang tersusun rapi di atas meja.

Kini mereka duduk melingkar.

“Minho-ya! saengil chukkae~ semoga kau selalu diberikan yang terbaik” ucap sang leader.

“Saengil chukkahamnida!!” Koor mereka semua secara bersamaan.

“Terimakasih semuanya” ucap Minho tulus

“Bagaimana kalau selanjutnya kita karaoke?” usul Jonghyun dan semua menyetujuinya. Ketika yang lain asyik bernyanyi Minri beranjak dari ruang tengah dan menuju suatu tempat yang dia sudah hafal kalau ini tempat favorit Minho dan juga sekarang menjadi tempat favoritnya. Minho mengikuti Minri dan sekarang Minho dan Minri sedang berada di balkon, Minri duduk dan Minho juga duduk disampingnya. Mereka memandang lurus ke langit yang bertabur bintang. Minri menyandarkan kepalanya di bahu Minho. Udara dingin menerpa wajah mereka membuat Minri merasakan kenyamanannya dan memejamkan matanya.

“Minho-ya, apa harapanmu sebelum hari ini berakhir?” tanya Minri.

“Aku ingin SHINee terus bersinar seperti bintang itu yang mengerlip dan selalu menenangkan hatiku ketika aku melihatnya, aku ingin shawol dan flames selalu mencintaiku dan menyayangiku. Serta diberikan yang terbaik dan dimudahkan menjalani hidup ini”

“Oh, tidak ada harapan yang untuk hubungan kita ataupun yang menyangkut dengan diriku” ucap Minri. Minho tersenyum dia merasa ada aura kecemburuan lagi dari Minri, tapi dia sangat senang –itu berarti Minri sangat mencintainya.

“Baiklah, mengenaimu…aku ingin yeoja disampingku ini memanggilku dengan sebutan Oppa”

“Shireo! Kau tidak cocok ku panggil begitu!” Minri menegakkan kepalanya.

“Aishh, tidak sopan sekali” Minho menjitak pelan kepala Minri.

Minri dan Minho sama-sama menoleh, sekarang jarak mereka hanya terpaut beberapa senti.

“Sekarang apa yang harus ku lakukan agar yeoja-ku ini tidak mudah cemburu?”

“Sepertinya sulit jika kau masih tampan seperti ini Choi Minho” ucap Minri santai. Mereka masih berhadapan.

“Baiklah, aku akan semakin mempersulit karena aku akan selalu tampan dimatamu Minri-ya!” Minho memegang tengkuk belakang Minri dan menempelkan bibir mereka, ciuman yang cukup liar sedikit memberikan atmosfer kehangatan disekitar mereka yang cuacanya jelas begitu dingin. ini kisseu yang dirindukan mereka berdua.

You are my everything to me,

You are my everything to me,

Jangan pernah memintaku untuk berpisah, karena jawabanku hanya satu dan hanya itu –TIDAK. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintaimu. Saranghaeyo~

FIN

Yuhuu selesai! kok sekarang FF-ku banyak kisseunya ya -___-. Sebenernya ini FF ultah buat Minho tapi gak apa-apa deh, gak ngaruh juga kok. Di tunggu komentarnya readers sayaaang ^^

 
11 Comments

Posted by on December 15, 2011 in fanfiction, freelance, oneshot

 

Tags: , ,

11 responses to “(FreeLance) Misunderstand

  1. shilla_park

    December 15, 2011 at 7:43 pm

    elah makanya jd orang jgn ganteng2 minho-ya.. *plakk*
    si minri jg kaga sabaran amat jd cewek.. tenang2 kalo udah cinta mah kaga kemana… *peluk siwon*😀 hehe

     
    • Hyejin_csw

      December 15, 2011 at 8:20 pm

      hug siwon:)

      oh y , two faces kapan eonie ??

       
    • charismagirl

      December 16, 2011 at 12:00 am

      aigoo~ unn, jgn pelukan didepanku *peluk Minho /eh?

      gak bisa lah unn, Minho itu selalu ganteng dimataku /plakk

      gimana mau sabar coba, udah nunggu dua jam , cuaca nya kayak gitu , tambah limabelas menit.mau nambah berapa lagii?? *ganyante*

      hehee, makasih udah di post ya unn.
      BY THE WAY, suami kita read (Minho – Siwon) syuting running man kan. waw~ daebak!! dua orang ganteng main running man bareng, tapi bareng sohee -__-, iyakan kalo gak salah.

      huhaa~~ makasih skli lg ^^

       
      • shilla_park

        December 16, 2011 at 12:12 am

        haaha.. saya udah gede ini jd ga papa pelukan didepan orang. *eh?*😀
        iyaaaaaa… duo choi itu syuting running mannnnnnnnn..\uwo saya ga sabar nunggunya.. *peluk siwon minho*😀

         
  2. tivaclouds

    December 15, 2011 at 8:44 pm

    Tinggalkan jejak~

     
  3. ahsanti

    December 15, 2011 at 11:31 pm

    huhu..
    ceritanya bagus..
    aku tunggu cerita2 selanjutnya..🙂

     
  4. Han Hyomin cantik

    December 16, 2011 at 9:59 am

    Baggguuuusss….
    Simple tapi ngena euy..
    Bwara ff simple simple simple ..hahaha

     
    • charismagirl

      December 19, 2011 at 9:08 am

      simple?
      haha~ jadi pengen bikin yang complicated. /plakk

      makasihh

       
  5. ana_kim

    December 17, 2011 at 3:56 pm

    critanya bagus…feelnya juga dapet..aku tunggu crita selanjutnya…:D
    fighting eonnii!!!
    hmm,,,,two faces nya kapan eonni??

     
    • charismagirl

      December 19, 2011 at 9:11 am

      keke~ iya ini menurut aku FF yang bahasaku agak lumayan udah

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: