RSS

(Freelance) Cold As You

21 Feb

Author       : Specialshin

Disclaimer : Everything except the Character is not mine. Also pubished on my personal blog Specialshin.wordpress.com . do not plagiarize

All of us have someone who is hidden in the bottom of the heart
When we think of him, we will feel like ummm… always feel a little pain inside
But we still want to keep him,
Even though I don’t know where he is today, what he is doing…
But, he is the one who makes me know “A Crazy Little Thing Called LOVE

-oOo-

Moskova, Rusia January 2012

Seorang gadis melesat cepat diatas sepatu luncurnya. Kaki rampingnya menggilas permukaan licin es dengan mulus, dan melakukan double spin dengan mulus dan mendaratkan kedua kakinya diatas es beku itu sebagai penutupan dari performance luar biasanya hari ini.

Dengan satu hentakan ia mendarat dan menyilangkan kakinya lalu membungkuk dengan tangan di dada. Tribun ramai menjeritkan kekaguman mereka, sekaligus meneriakkan namanya.

“Shin Jangmi! Shin Jangmi!…” sorak sorai masih terdengar dan semakin lama semakin tidak jelas ketika Jangmi meluncur menuju pintu kecil di sudut ring menuju ruang gantinya.

Ia berjalan seimbang di atas ubin marmer, masih dengan sepatu skatenya. Dia memang sudah biasa melakukan ini jadi mungkin mengenakan sepatu skate sambil berjalan diatas kelereng juga dia akan tetap seimbang.

Hal ini menimbulkan kecemburuan sendiri pada skater skater seangkatannya yang mungkin sekarang sudah mulai jadi pembenci rahasianya.

Ditambah lagi dengan fakta bahwa pelatihnya adalah seorang Choi Siwon, skater kebanggaan Korea yang sekarang menonaktifkan dirinya dari dunia kompetisi dan mulai bekerja di balik panggung, seperti yang ia lakukan sekarang. Menjadi pelatih.

Yang lebih hebatnya lagi, sang legenda inilah yang menunjuk sendiri Jangmi dengan tangannya. Ia sendiri yang datang menyuruh Jangmi menjadi muridnya dengan iming iming bisa membawa gadis itu menuju pertandingan kelas internasional, seperti yang diikutinya saat ini.

“dan Shin Jangmi skater pendatang baru pertama dari Korea yang bisa menembus kancah internasional, baru saja mengakhiri penampilan spektakulernya dengan double spin yang sangat anggun. Berikan tepuk tangan anda!” terdengar suara pembawa acara dari podium menggema ditengah riuh rendah sorakan penonton.

Sorak sorai itu masih terdengar jelas membahana walaupun Jangmi sudah berjalan memasuki ruang gantinya. Ia membuka pintu dan mendapati Siwon sedang duduk disana menunggu sambil menatap lurus layar TV plasma yang menunjukkan ring tempat dia beratraksi tadi.

Suara pintu tertutup saat Jangmi memasuki ruang ganti membuat Siwon menoleh dan tersenyum sumringah padanya. “Perfecto!” serunya bertepuk tangan mendekati gadis itu dan mendekapnya singkat.

“Selamat, itu tadi penampilan pertamamu di panggung dunia,” ucapnya. Jangmi hanya menatapnya sepintas dan duduk di bangku panjang tempat Siwon menonton tadi dan mencoba menguraikan tali tali rumit di sepatu skatenya.

Siwon berlutut di depan Jangmi dan menyingkirkan tangan gadis itu pelan, lalu menguraikan tali temali itu dengan cepat, sehingga sepatu itu bisa terlepas dari kaki pemiliknya. Jangmi menggoyang goyangkan kakinya yang telanjang sekarang. “Ringan,” katanya.

“Well, sepatu skatemu kan memang berat,” ucap Siwon sepintas lalu duduk lagi di sofa dan mengeraskan volume TV yang menampilkan acara di luar dengan menyorot para skater secara close up.

“Dan inilah dia, Skater lama professional dari Korea Selatan juga, Lee Jooyeon. Ex- Skate Partner dari Choi Siwon dan mereka merupakan parter skating paling sempurna sebelum Siwon memutuskan untuk menonaktifkan dirinya,”

“Tch…” Ujar Jangmi sinis. Saat Siwon melangkah keluar dari dunia kompetisi skating memang merupakan keputusan yang membuat orang membelaklakkan matanya tidak percaya.

Pasalnya, Choi Siwon memang merupakan Skater terbaik Korea, diikuti oleh Lee Jooyeon, partnernya. Tetapi tidak banyak yang tahu kalau mereka berdua adalah mantan kekasih. Gadis itu jugalah yang membuat Siwon mundur dari dunia kompetisi.

Sudah berkali kali Jangmi mengatakan pada pelatihnya tersebut bahwa meninggalkan dunia yang kita cintai hanya karena mantan pacar itu adalah keputusan terbodoh yang pernah dimiliki oleh seorang pengharum nama Negara. Namun sepertinya sia sia saja.

Jangmi bukanlah tipe gadis yang akan mencecar seseorang. Pasalnya dia adalah gadis yang dingin dan introvert. Dia bisa bekerja sama dengan baik bersama Siwon saja sudah merupakan kemajuan besar.

Siwon menancapkan matanya lurus pada layar televisi, mempehatikan gerak gerik dan lekukan ramping gadis dengan sepatu skate putih gading yang sedang beratraksi di dalam ring.

“Gerakan Double Axel  yang dilakukannya memang selalu khas. Entah, itu memang gerakan favoritnya,” komentar Siwon saat gadis di ring itu melakukan gerakan gerakan atraksinya yang diiringi oleh tepuk tangan tak putus dari para penonton.

“Kau masih mencintainya,” komentar Jangmi pelan sambil melepas mantelnya dan masuk ke ruangan tertutup di sudut ruangan untuk berganti pakaian. “Siapa yang bilang?” kilah Siwon dari luar.

“Tanpa dibilang juga aku tahu,” jawab Jangmi mantap.

Beberapa menit kemudian gadis itu keluar dari ruangan gantinya dengan mengenakan baju casual, menenteng mantel hitam untuk menghalau udara dingin di luar. “Ayo, kita ke hotel,” ucap Jangmi pelan tetapi Siwon sepertinya terelalu berkonsentrasi dengan Jooyeon di hadapannya.

“Ya,” panggil Jangmi tidak sopan. Memang dengan gap umur 6 tahun diantara mereka mengharuskan gadis itu minimal memanggil Siwon dengan sebutan Oppa. Tetapi dengan berbagai alasan Jangmi menolak melakukannya.

“Choi Siwon,” panggil gadis lagi tapi Siwon tidak mendengarkannya.

“Pelatih Choi,” panggil Jangmi kehabisan stok kesabarannya yang sangat terbatas itu.

“Flight kita besok jam delapan pagi,” kata Jangmi tidak sabar.

Kali ini Siwon segera menoleh padanya. “Mwo?” katanya seolah olah tidak mendenganrkan panggilan gadis itu tadi.

“Terserahmu. Pandangi saja Lee Jooyeon itu sampai bosan,” ujar Jangmi cuek sambil meraih tas tangannya dan berjalan keluar, menghadapi udara Moskow yang dingin menggigit.

“Ya,” Siwon berlari kecil menyusul Jangmi yang sudah berada di luar ruangan ganti, dan berjalan menyusuri koridor gedung besar itu untuk sampai ke lobby depan. Ternyata Siwon buru buru meraih ransel dan mantelnya untuk mengikuti gadis itu.

Mereka sama sama berdiri menunggu di lobby setelah Siwon menelepon supir mereka. Keduanya hening, sementara Jangmi sibuk mereview performancenya tadi di dalam pikirannya dan tampaknya Siwon mengerti itu.

“Sepertinya kau terlalu khawatir. Layback Spinmu tadi spektakuler kok,” hibur Siwon sementara Jangmi hanya menatapnya tidak puas. Gadis ini justru berharap Siwon selaku pelatihnya akan memberitahu dibagian bagian mana saja ia telah melakukan kesalahan.

Jangmi mengalihkan pandangannya. “Kau mengtakan itu hanya untuk membuatku senang,” katanya dingin. “Bahkan kau lebih terpaku saat melihat Double Axel yang dilakukan Jooyeon,” kilahnya lagi.

Tidak sampai satu menit ia merutuki dirinya sendiri untuk mengatakan hal bodoh itu membuat Siwon menatapnya jail. “Kau cemburu?” katanya menggoda.

Jangmi lagi lagi menutupi rasa gugupnya dengan ekspresi dingin. “tidak penting. Ayo, itu mobil kita,” ucapnya sambil berjalan mendahului siwon memasuki Modena mulus itu.

-oOo-

Suasana bandara benar benar ramai. Orang orang berlalu lalang dengan kesibukan masing masing sementara Siwon dan Jangmi dengan koper sedang di tangan kanan masing masing berusaha untuk menembus kerumunan orang orang sibuk tersebut.

Setelah berkutat dengan berbagai macam yang harus diurus, mereka duduk di sebuah kursi panjang di dalam bandara, dekat dengan duty free untuk mengistirahatan kaki mereka.

Semua awalnya baik baik saja sampai ketika seorang gadis dengan rambut cokelat panjang, tubuh dan wajah kecil dengan sedikit ekspresi antagonis mendatangi mereka.

Dengan cepat ia berjalan kearah tempat dimana mereka berdua beristirahat. “Siwon Oppa,” panggilnya dari jauh. Siwon menoleh padanya sedikit terkejut dan membalas lambaian tangan gadis itu. Dengan kaki rampingnya gadis itu berjalan mendekati mereka.

“Hey Choi Siwon Oppa, sombong sekali,” katanya mendatangi Siwon hingga mencapai jarak kedekatan yang tidak wajar dengan Siwon lalu mencium pipi pria itu pelan.

Mungkin Siwon terkejut melihat perlakuan mantan kekasihnya ini teteapi Jangmi jauh lebih terkejut lagi. Setelah perpisahan mereka berdua, Jooyeonlah yang mati matian menjauhi Siwon dan entah bagaimana membuat pria itu mundur dari posisi sebagai partner seorang Lee Jooyeon.

Tetapi sekarang tanpa alasan dan terlalu tiba tiba gadis itu datang menyapa Siwon ramah dan mengecupnya tepat di pipi. Siwon mudah diluluhkan, Jangmi bisa lihat itu. Ia masih bertahan pada pendapatnya bahwa Choi Siwon masih mencintai mantan kekasihnya itu.

“Oppa, kau akan kembali ke Korea hari ini?” tanya Jooyeon menengadah menatap wajah Siwon. Siwon hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “Ya, aku masih harus melatih,” kata Siwon pelan.

Jooyeon mengerutkan keningnya. “Melatih?” tanyanya heran dan Siwon mengarahkan dagunya menunjuk Jangmi. “Ia masih harus latihan Russian Spin dan beberapa gerakan lainnya agar bisa bertanding dengan skater kelas duna,”

Dalam satu lirikan saja Jangmi sudah mengetahui bahwa Jooyeon menatapnya terang terangan dengan pandangan tidak suka. “Kan masih banyak pelatih lain Oppa,” rengek Jooyeon membuat Siwon menggaruk garuk tengkuknya. Kalau sudah begini Jooyeon susah untuk ditolak. Ini sudah hukum mutlak sejak mereka berpacaran dulu.

“ya.. tapi Yeon, dia tanggung jawabku,” Siwon mencoba menjelaskan sementara Jooyeon menggeleng keras kepala. “Lagi pula tidak seurgent itu kan? toh di masih baru di kancah dunia, belum harus diperhatikan intensif 24 jam,” bantah Jooyeon.

Sebenarnya ingin sekali Jangmi menampar mulut lantang gadis yang memang sebaya dengannya itu. Terlalu meremehkan orang lain. Tetapi ditahannya niatan tersebut karena ini di Negara orang dan dia malas membuat desas desus tidak enak tentang skater baru yang membuat masalah pasca pertandingan.

Dengan intens Jooyeon menggamit lengan Siwon manja. “Ayolah Oppa,” mohonnya. “Aku tidak mungkin meninggalkannya pulang sendiri, Yeon,” kata Siwon. Jangmi menghembuskan nafas kesalnya. Jadi hanya karena itu? Karena pria ini tidak berani meninggalkan seorang gadis pulang sendiri?

Cepat Jangmi angkat suara dengan angkuh. “Kalau kau mau membatalkan flight silakan saja, perusahaan kan yang membayar? Aku bisa pulang sendiri,” katanya dingin dan menyeret kopernya memasuki waiting room yang dilarang bagi pengunjung luar.

“Dengar kan? dia bahkan bisa pulang sendiri,” ucap Jooyeon penuh kemenangan. “Pali, satu hari saja, kau temani aku,” ujarnya lagi sambil menarik lengan Siwon bersamanya.

-oOo-

SEOUL. Southern Korea

Jangmi terjatuh untuk yang kesekian kalinya saat ia berlatih Russian Spin yang sampai sekarang belum benar benar dikuasainya itu. Lututnya membentur permukaan keras es dan menimbulkan lebam di lututnya. Sebenarnya ini jarang terjadi. Entah kemana perginya semua konsentrasinya hari ini.

Sambil tetap menjaga keseimbangan tubuhnya ia mencoba untuk kembali ke sudut ring untuk beristirahat sebentar, dan orang yang dilihatnya adalah gadis yang entah bagaimana paling tidak ingin ditemuinya.

“Kalau belum bisa menyeimbangkan diri di Russian Spin, lebih baik jangan coba coba ring internasional,” katanya arogan. Senyumnya tipis namun menyebalkan. Jangmi hanya menatapnya dingin dan duduk untuk membuka tali temali rumit sepatu skatenya.

Lee Jooyeon, gadis yang ditemuinya di bandara kemarin, sang primadona skate sekarang berdiri di samping Ring melipat kedua tangannya.

“Aku akan menguasainya dalam waktu tiga hari,” ujar Jangmi cuek. Jooyeon hanya tersenyum sinis mendapati gadis menarik ini ternyata sifatnya sangat mirip dia. “Jangan berkhayal dulu, teman. Russian Spin itu tidak semudah yang kau bayangkan. Aku sudah berpengalaman,” katanya sombong.

Terdengar pamer memang, tetapi Jangmi sepertinya memilih untuk tidak ambil pusing. “Aku itu fast learner. Itu alasan Siwon memilihku,” ujarnya cuek dan menaruh sepatu yang berhasil terlepas itu ke dalam lokernya.

Jooyeon tersenyum sinis mendapati bahwa gadis ini ternyata memiliki sifat yang tidak jauh beda dengannya. “Kau tahu, Siwon itu tidak suka sesuatu yang instan. Dia butuh proses,” lanjut Jooyeon menyindir.

Oke, mungkin proses yang dimaksudkannya adalah betapa lama waktu yang telah ia dan siwon lalui dan kedekatan Jangmi dan Siwon terkesan instan karena hanya dihubungkan oleh urusan pekerjaan. Tetapi Jangmi sudah muak dan tidak ambil pusing omongan gadis arogan itu.

“Sepertinya hal berproses itu sedikit membosankan,” ucapnya sambil memasukkan barang terakhirnya ke dalam tas dan berjalan meninggalkan Jooyeon yang menatapnya kesal.

-oOo-

Jangmi masih mendecakkan lidahnya ketika melewati pintu kaca bangunan tempatnya biasa berlatih Skate.  Konon sekolah skate ini milik keluarga Siwon tetapi pria itu tidak pernah bersedia membahasnya di hadapan Jangmi.

Gadis itu terus melangkah agar cepat sampai di rumah, tetapi ia menghentikan langkahnya saat menemukan orang yang sudah ditunggunya bersandar pada pintu mobil mewahnya. “Hoi,” ujar pria itu santai dan Jangmi langsung mengerti maksudnya, dan masuk ke dalam mobil itu.

Siwon duduk di belakang kemudi. “Pulang?” tanya Siwon memastikan dan Jangmi-pun mengangguk. Tanpa di duga, Siwon mendengus dan menggeleng pelan. “Tidak. Temani aku makan dulu,” ujarnya. Jangmi tidak berkomentar lagi.

Sambil bersiul mengikuti irama CD, pria itu mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Jangmi hanya diam memperhatikan jalan. Entah, dia memang selalu sedingin itu. Entah karena memang sifatnya tertutup atau terlalu banyak bekerja di atas dinginnya es.

Tidak lama kemudian Siwon membelokkan mobilnya di sebuah restoran Italian Food terkenal di daerah itu. “Lapar?” tanyanya yang hanya dibalas gelengan singkat Jangmi. “Ya sudah. Temani aku saja. kajja,” katanya turun dari mobil.

Sementara itu Jangmi menarik nafasnya dalam dalam sebelum akhirnya turun juga. Siwon memutari mobil dan meraih tangan Jangmi agar gadis itu berjalan mengikutinya. Entahlah, sedingin apapun gadis itu, ia tidak pernah menolak saat Siwon hendak menggandengnya.

Mereka berdua memilih spot yang paling nyaman di sudut ruangan, dan Jangmi memandang Siwon yang dengan kalapnya memesan berbagai macam makanan mulai dari garlic bread sampai dengan Lasagna. Sementara Jangmi hanya memesan satu buah low fat soda dikarenakan dietnya.

“Jadi… seberapa besar kau ingin memenangkan kompetisi di Rusia minggu depan?” tanya Siwon mengaduk aduk soda dengan sedotannya. Jangmi hanya tersenyum tipis. “Seperti hidupku tergantung padanya,” ujarnya.

Siwon hanya tersenyum kecil. Ia mengerti betapa gadis di hadapannya ini sangat berambisi besar terhadap kompetisi itu. Betapa gadis ini akan melakukan segalanya demi figure skate dan betapa besarnya impian gadis ini untuk menjadi skater ternama wakil dari Korea Selatan. Siwon mengerti semuanya.

Tetapi satu hal yang pria itu tidak mengerti adalah bahwa pria itu, Choi Siwon juga merupakan salah satu alasan besar mengapa Shin Jangmi harus menang. ia tidak pernah tahu itu.

Lagi lagi Jangmi hanya bisa bersikap dingin untuk menutupi segalanya. Ia membuang muka dari Siwon yang berusaha menatapnya dan memainkan gelembung soda di gelasnya. “Omong omong, tadi di Ring ada Jooyeon,” ucapnya terpaksa. Tidak mungkin kan ia menyembunyikan semua ini dari Siwon?

Terlihat Siwon mengangguk. “Ah, sedang apa dia disana?” tanyanya. Jangmi hanya mengangkat bahunya. Jelas tidak mungkin baginya untuk menjawab ‘sedang cari masalah denganku,’

Pesanan mereka datang dan Siwon mulai memakan Lasagnanya. “Jadi? Setelah ini kau akan pulang?” tanyanya tidak penting. Jelas sejak awal tadi Jangmi minta untuk diantarkan kembali ke rumahnya. Tetapi tidak penting bagi Jangmi untuk menyergah pria ini jadi dia mengagguk saja.

“Setelah itu nanti malam kau akan kemana?” tanyaSiwon lagi. “Ke Ring. Jelas aku masih harus latihan,” ujarnya. Siwon hanya mengangguk angguk. “Oke, aku temani. Russian Spinmu belum lancar kan?” tanyanya. Tentu saja Jangmi harus mengakui ini.

“Ku tunggu di ring nanti malam. Aku ingin melihatnya,” kata Siwon membuat Jangmi tersenyum kecil. Dia lebih mirip seorang pelatih sekarang.

Siwon dengan cepat menyelesaikan segala jenis makanan Italianya. Membuat seorang gadis menunggu rupanya bukan manner yang diajari keluarganya turun temurun. Setelah membayar billnya, ia meraih mantelnnya yang tersampir di kursi dan mengajak Jangmi kembali ke mobil.

“Kajja,” ajaknya dan tanpa disuruhpun Jangmi sudah bersiap untuk pergi. Mereka kembali memasuki mobil dan Siwon menyetir dengan kecepatan sedang kembali ke rumah Jangmi. Suasana benar benar hening saat itu. Sebenarnya Jangmi sedang berspekulasi di otaknya hanya saja ia menahan kata kata itu di bibirnya.

Tidak lama kemudian mobil Siwon berhenti di depan rumahnya yang bercat hijau. Siwon menginjak dalam dalam pedal rem seiring dengan berhentinya mobil tersebut perlahan lahan. Tetapi alih alih turun dari mobil, Jangmi justru hanya diam di tempatnya seperti memikirkan sesuatu.

Siwon tahu  ada hal hal tak terkatakan yang berputar di kepala gadis itu hanya sejauh ia mengenal Shin Jangmi, gadis itu tidak mengatakan sesuatu kalau ia tidak mau. Jadi Siwon hanya diam menunggu dia selesai berpikir atau kalau ia beruntung, Jangmi akan menyuarakan apa yang bermain main di otaknya.

Dan ternyata keberuntungan itu sedang menghampirinya. Jangmi menarik nafasnya sebelum mulai berbicara. “Kau tahu, aku sedang memikirkan sesuatu,” ujarnya.

“Katakan,”

Lagi lagi Jangmi terlihat hati hati sebelum berbicara. “Kau… tidak berencana kembali lagi bersama skater itu? Lee Jooyeon?” tanya Jangmi akhirnya dan Siwon hampir saja kelepasan tertawa kalau ia lupa salah satu manner keluarganya lagi, jangan tertawakan wanita sekonyol apapun dia.

“Dan alasannya?” Siwon mencoba menjawab di sela sela usahanya menahan tawa.

“Ya… kau kan dulu bahagia dengan dia. Dan kalian putus secara sepihak, bukan? Sekarang dia mencoba mendekatimu lagi, bukankah itu kesempatan bagus?”

Serius. Itu tadi adalah kalimat terpanjang yang diucapkan Jangmi seharian ini. Kalau Siwon menyadarinya, pasti ia akan langsung tahu seberapa pentingnya jawaban dari pertanyaan tersebut untuk Shin Jangmi. Untungnya para pria tidak ditakdirkan untuk sepeka itu.

“Kenapa aku harus? Apakah aku terlihat desperate karena ditinggal wanita? Ingat, aku memenangkan award skater tertampan versi situs internet terkenal,” kata Siwon membuat Jangmi berdecak. “memang kau terlihat desperate, dengan meninggalkan panggung skate, bodoh,” ujar Jangmi sinis.

“Jadi? Apakah kalian akan bersama lagi?” tanya Jangmi dan sepertinya mulai menyadari kalau gadis ini sudah sampai pada tahap kelewat penasaran.

“Hubungan yang sebenarnya adalah bukan betapa kau bahagia kalau bersamanya. Tetapi bagaimana kau tidak bisa hidup tanpa dia. dan lihat? Aku bisa hidup walau tanpa dia. Sepertinya kalaupun ada ide tentang memulai kembali dengan dia, aku harus berpikir lagi,” jawab Siwon bijak.

Jangmi hanya diam, mencoba mencerna perkataan tersebut dan tersenyum tipis. Itulah jawaban yang dibutuhkannya. Tetapi ia memasang wajah dingin lagi. “Terserah sih, lagi pula aku tidak terlalu butuh jawabanmu,” ujarnya singkat sebelum keluar dari mobil meninggalkan Siwon yang lagi lagi menahan tawanya.

-oOo-

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan Siwon baru saja sampai di ring skate milik keluarganya tersebut. Shin Jangmi baru akan ada di sana pukul setengah delapan nanti. Siwon memang mau pemanasan, melemaskan kakinya yang sudah sekitar seminggu belum merasakan permukaan licin es.

Diluar ekspektasinya ia menemukan seorang gadis meliuk indah diatas sepatu skatenya. Bajunya berwarna pink tua dengan training putih dan sepatu skate seputih salju. Walaupun dari jauh, dari teknik khasnya, Siwon sudah tahu siapa gadis itu.

Ia berjalan mendekat, dan masuk ke dalam ring membuat gadis itu menoleh. “Jooyeon,” ucap Siwon pelan dan gadis itu hanya tersenyum. Sepertinya memang gadis itu sudah tahu kalau Siwon akan datang dan ia sengaja menunggu.

“Hey,” ucapnya ceria dan dengan teknik tidak biasa ia meluncur kearah Siwon. “Berlatih?” tanya Jooyeon dan Siwon hanya menggeleng. “Menunggu muridku,” ujarnya. Pandangan Jooyeon berubah tidak suka. “Shin Jangmi itu?” ujarnya dan Siwon mengangguk.

Sungguh, walaupun ia tidak akan memulai lagi dengan gadis ini tetapi ia tidak bisa untuk bersikap ketus. Gadis ini pernah menjadi bagian penting dari dirinya.

“Kusarankan kau mengganti pesertanya, kau tahu? Russian spinnya payah,” Jooyeon memanyunkan bibirnya. Seumur hidup, hanya Choi Siwonlah yang pernah melihat Jooyeon melakukan Aegyo. Siwon hanya terkekeh kecil. “Jangan khawatir, dia itu fast learner. Bahkan Spin itu baru ia pelajari kemarin dan sekarang sudah mendekati 80 persen, “ katanya.

“Tetapi dia akan melawanku nanti kalau kau mengirimnya ke Moskow,” sanggah Jooyeon. “Dan dia mungkin menang,” jawab Siwon membuat Jooyeon semakin tidak suka. “Terserahmu,” ujarnya lalu meluncur pergi. Sayangnya karena terlalu kesal ia melupakan keseimbangannya dan hampir tergelincir mencium permukaan es.

Beruntung Siwon segera menahannya walaupun mereka sekarang berada di posisi yang tidak menguntungkan.

“Ehm.. chogi..” terdengar suara yang sangat familiar dan Siwon langsung membenarkan posisi mereka berdua. “Bisa aku latihan?” tanya Jangmi dan Jooyeon menatapnya seolah Jangmi telah mengganggu sesuatu yang penting. “Tentu,” Siwon terlihat salah tingkah, menggaruk tengkuknya.

Dengan dagu detegakkan Jooyeon meluncur angkuh keluar dari ring, melewati Jangmi seraya menatapnya sinis. Siwon mengikuti di belakangnya, memberikan Jangmi lebih banyak space untuk berlatih sementara ia akan menonton dari podium.

“Bagaimana Russian Spinnya?” tanya Siwon seraya mereka berpapasan tetapi Jangmi entah mengapa hanya menatapnya dingin. “Kau lihat saja nanti,” ujarnya. Dan meluncur ke tengah Ring.

Ia memberi aba aba pada Siwon untuk menyalakan music dan dengan sigap Siwon menyalakan tape yang terhubung dengan speaker di sebelahnya. Musik mulai mengalun membahana di seluruh ruangan, dan Jooyeon mengambil tempat duduk di sebelah Siwon, memperhatikan gadis itu.

Sepertinya sudah banyak peningkatan dari koreografi yang diajarkan oleh Siwon terakhir kali karena ia menampliknannya dengan mulus dan hampir sempurna kalau saja dia tidak hampir tergelincir saat melakukan head spin.

“Lihat? Dia berpotensi menang,” ujar Siwon bangga pada Jooyeon. “Jangan terlalu berharap, Oppa. Dia itu anak baru,” jawab Jooyeon. Selalu ada nada berbahaya setiap kali Jooyeon mengucapkan kata ‘Oppa’ itu tetapi Siwon tidak ambil pusing kali ini. “Tetapi dia sudah mengalami kemajuan pesat semenjak aku mengangkatnya sebagai murid,”

Musik terus mengalun dan Jangmi melanjutkan performancenya. Siwon terus mengawasi setiap detail gerakan dan lekukan gadis itu, memperhatikan bagian bagian yang rawan salah. Ternyata Jangmi memang belajar dengan cepat. Kesalahan disana sini yang terjadi kemarin sekarang sudah hampir sempurna.

Jangmi mengakhiri penampilannya dengna empat kali Spin yang memuaskan, dan membungkuk dengan anggun sebagai penutupnya. Siwon memberikan standing applause tanda ia benar benar puas dengan hasil kerja gadis itu. Jangmi hanya tersenyum tipis dan meluncur kembali ke luar ring.

“Perfecto!” seru Siwon dari jauh dengan girang, berlari kearah Jangmi dan dengan cepat menarik gadis itu kedalam pelukan eratnya. Ia benar benar senang kali ini mengetahui gadis ini mungkin akan lolos di babak final di Rusia minggu depan.

Ia tidak menyadari Jangmi yang hanya diam, tidak berkutik dalam pelukannya. “Kerja bagus, Shin Jangmi! Kupastikan minimal tempat ketiga akan ada ditanganmu! Itu luar biasa, kau tahu? Untuk ukuran pendatang baru sepertimu,” ujarnya.

Untuk pertama kalinya Jangmi tersenyum puas. “Mudah mudahan,” ujarnya berharap. Inilah impiannya sejak kecil. Menjadi seorang skater dunia dan dengan mengikuti kompetisi ini maka ia telah mengambil langkah besar menuju cita citanya itu. “Aku benar benar ingin menang,” ujarnya lagi membuat Siwon tersenyum. Jarang sekali Jangmi mau mengutarakan isi hatinya ini.

“Aku benar benar ingin menang. Sangat ingin,” ujarnya. Siwon melepaskan pelukannya pada gadis itu tanpa menyadari bahwa pelukan itu sama sekali tidak membuat mereka canggung. “Aku tahu. Aku tahu,” ujarnya pengertian.

Jangmi duduk di salah satu kursi podium sementara Siwon berlutut di depannya. Seperti biasa, ia akan melepaskan tali temali rumit sepatu skate Jangmi. Setelah menguraikan satu persatu ia meletakkan sepatu itu di paperbag, dan membawakannya. “Ayo pulang,” ujarnya.

Jangmi mengenakan sepatu flatnya dan berjalan menyusul Siwon. Mereka bersama sama keluar dari ruangan yang sudah gelap. Jangmi berjalan beberapa langkah di depan Siwon. Ia membuka pintu kaca di depannya dan merasakan kakinya menyandung sesuatu.

Semua seperti terjadi dalam satu detik. Kakinya menyandung benang yang melintang tidak wajar di depan mintu,membuatnya jatuh. Disaat bersamaan sebuah benda berat dan panjang terbuat dari beton menimpa kakinya.

Ia merasakan sesuatu yang retak di dalam sana membuatnya menjerit kesakitan.

“AAAAAAAAAAKHHH!!!” teriaknya memecah keheningan malam. “Shin Jangmi!!” Siwon dengan panik berlari ke arahnya dan menyingkirkan beton yang menimpa kakinya. Jangmi mencoba menggigit bibirnya menahan teriakan dan sakit yang terjadi bersamaan.

Kaki gadis itu terlihat membiru di daerah pergelangannya, tepat dimana beton itu menimpa kakinya naas. Sakitnya luar biasa sampai pandangannya terasa mulai mengabur karena itu. Terdengar suara halus yang terdengar panik dari jauh sana.

“Jangmi? Shin Jangmi…? Ada apa?” katanya menghambur kearah Siwon yang merangkuk Jangmi. Sekilas mata mereka berdua bertatapan. Lee Jooyeon. Ekspresinya sebegitu rupa. Bagaimanapun Jangmi bersumpah, ia yakin Jooyeon yang melakukannya.

-oOo-

“Kakinya patah di pergelangan. Mungkin ia harus mengenakan alat bantu selama enam bulan. Segala kegiatan skate harus dihentikan untuk sementara,”

Kata kata itu cukup untuk meruntuhkan dunia Jangmi dalam waktu sedetik. Seberapapun sakit kakinya waktu itu, sudah tidak bisa terasa lagi. tubuhnya terasa mati. Yang pertama teringat olehnya adalah kompetisi skate beberapa hari lagi, dan piala itu sudah meluncur lolos dari tangannya.

Ia sudah sekitar 4 hari ia hanya berdiam diri diatas kursi rodanya. Dua hari belakangan ini dia di rumah, dan dua hari sebelumnya di rumah sakit. Orang pertama yang ditemuinya setelah sadar adalah Choi Siwon yang sedang berusaha menelepon keluarganya.

Tetapi keesokan dan keesokan harinya lagi sampai detik ini, Choi Siwon tidak pernah datang lagi. sekalipun, tidak pernah datang. Tidak menelepon, tidak mengirim pesan. Tidak ada kontak yang berati. Tidak sama sekali.

“Jangmi,” terdengar suara ibunya memanggil. Dari pintu kamar wanita itu masuk membawakan susu putih diatas nampan yang dibawanya. “Sudah, jangan pikirkan lagi. Kompetisi masih bisa diikuti di lain waktu. Eomma tidak kecewa padamu, kok,” ujarnya bijaksana.

Jangmi hanya mengangguk. Benar memang kata ibunya, semua benar. Tetapi kali ini bukan itu yang berkelebat di dalam kepalanya. Bukan masalah kompetisinya yang gagal setelah persiapan begitu lama. Bukan cita citanya yang tertunda. Bukan pula piala keemasan itu.

Tetapi betapa ia tidak mengerti mengapa Siwon tidak menghubunginya. Apakah pria itu kecewa? Mungkin memang iya. Pria itu sudah capek capek melatihnya sehingga ia berkembang pesat. Dan beberapa hari sebelum pertandingan, ia menghancurkan segalanya.

Kalau Siwon ingin marah, memang itu pantas.

Jangmi menarik napasnya panjang dan menghembuskanny perlahan lewat bibirnya. “Arasseo Eomma,” jawabnya memaksakan senyum. Dengan malas ia meraih remote TV di sebelahnya dan menyalakan benda persegi empat itu.

Dengan asal digonta gantinya channel tersebut karena tidak menemukan program yang menarik perhatiannya. Tetapi tangannya berhenti menekan tombol tombol itu di berita olah raga yang menarik perhatiannya.

Seorang wanita dengan blazer cokelat, berkacamata dan rambut dicepol keatas membacakan sebuah berita dengan cuplikan gambar dua orang di sudut kiri atas televisi.

“Skater handal Korea, Choi Siwon yang sudah beberapa lama ini vakum dikarenakan alasan yang belum diketahui kepastiannya, akhirnya memutuskan untuk menantang lagi dirinya untuk maju ke kejuaraan skate internasional di Moskow, Rusia lusa minggu ini. Pagi ini ia terlihat berangkat dengan skater muda yang disebut sebut sebagai mantan kekasihnya juga, Lee Jooyeon. Sekarang seluruh masyarakakt korea sedang bersama sama berdoa untuk kesuksesan mereka yang akan menghadapi….”

PIIP

Terdengar suara panjang saat televisi dimatikan begitu saja oleh Jangmi. Gadis itu membaringkan dirinya di kasur dan menutup wajahnya dengan selimut. Ibunya terlihat ingin  menanyakan lebih jauh akan tetapi kelihatannya dia tidak mau memaksa putrinya menjelaskan apa yang tidak mau dijelaskannya.

Dengan langkah pelan, sang ibu diam diam keluar dari kamar memberikan kesempatan bagi putrinya itu untuk sendiri. dipikirnya mungkin anaknya itu hanya sedikit terbebani melihat berita tentang acara skate yang seharusnya diikutinya itu.

Jangmi menyembunyikan air matanya di balik bed cover berwarna putih favoritnya. Jadi inikah yang diinginkan Siwon? Karena ia sudah tidak berguna lagi sekarang pria itu memutuskan kembali dengan Jooyeon dan menginjakkan kakinya lagi di atas ring skate, bersama gadis itu.

Memang bukan salahnya. Hanya itu menyakitkan. Jangmi menutup matanya rapat rapat, mencoba untuk tidur. Berharap besok ia sudah berubah amnesia  dan melupakan segalanya.

Termasuk perasaan tersembunyinya pada Choi Siwon.

-oOo-

Beberapa hari sudah berlalu. Kalau dihitung hitung mungkin sudah satu minggu semenjak Jangmi terakhir meliat wajah Siwon, itupun di televisi. Ia menarik nafas beratnya dan memutar roda di kursinya, mengitari kebun belakang rumahnya.

Udara dingin yang menggigit sama sekali tidak mempengaruhinya. Ia merapatkan mantel di tubuhnya dan terus mendorong terus kursi rodanya dengan mudah. Tangannya sudah mulai terlatih untuk ini sepertinya.

Angin malam berhembus kencang mengigit tetapi Jangmi tidak peduli. Ia akan bertemu ayahnya hari ini. Ayahnya yang sudah tiga tahun bertugas di Jerman, dan sekarang menyempatkan pulang untuk bertemu dirinya yang sakit. Kalau tahu bisa bertemu ayahnya ia akan sakit dari kemarin,mungkin.

Ia tersenyum lebar ketika melihat sepasang kaki yang duduk di kursi panjang. Pandangannya mengikuti sampai atas dan terlihat terpaku melihat siapa yang sedang menunggunya.

Choi Siwon.

“Kau?” tanyanya memicingkan matanya mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak salah lihat. Dan sepertinya matanya masih sehat sempurna.

“Tetapi Aboji—“

“Maaf, Jangmi. Sepertinya bukan aku yang kau harapkan sekarang tetapi—“

“Eomma tadi bilang—“

“Maaf lagi, Shin Jangmi aku terpaksa meminta ibumu untuk membantuku karena—“

“Oke apa maumu?” Setelah saling potong memotong kalimat satu sama lain akhirnya Jangmi yang mengakhirinya dengan satu pertanyaan simple yang to the point. Memang ia sedikit kecewa karena tidak jadi bertemu ayahnya tetapi tidak bisa dipungkiri dia juga butuh untuk bertemu pria ini walaupun gengsinya mengatakan sebaliknya.

Siwon hanya terkekeh dan duduk di bangku cokelat itu, membuat posisi mereka berhadapan sekarang walaupun sama sama duduk. “Apakah ada yang salah? Aku hanya mengunjungimu sambil membawa oleh oleh dari Rusia,” katanya menepuk nepuk benda di sebelahnya. Jangmi baru sadar ia membawa koper cokelat berukuran kecil.

Jangmi hanya membuang mukanya. “Kalau kau mau mengatakan betapa kau sekarang sudah kembali ke ring setelah gagal mendidikmu, sekalian kembali lagi pada mantan kekasihmu yang beruntungnya juga skater dunia, aku sudah tahu jelas jalan ceritanya,” ujar Jangmi menolak menatap Siwon.

Lagi lagi Siwon terkekeh dan Jangmi benci betapa ia yang cuek ini terlihat hanya seperti anak kecil tak berarti saat Siwon tertawa seperti itu. “Berhenti tertawa. Aku tidak melucu,” Jangmi terlihat ketus dan Siwon berusaha menahan kekehannya.

“Apalagi yang kau dengar?” ujarnya. Jangmi lagi lagi membuang muka. “Tidak perlu mendengar apapun juga aku sudah mengasumsikan sendiri semuanya. Silahkan kembali ke rumahku, dan kalau kau  masih sudi mengajariku sampai kelas internasional, kau bisa kembali enam bulan lagi,” kata Jangmi.

Dengan gesit ia memutar kursi rodanya dan mencoba sebisa mungkin menghilang secepatnya dari hadapan pria itu. Tetapi tentu saja itu tidak berarti. Siwon segera menahan bahunya dari belakang, dan mengalungkan tangannya disitu. Menyandarkan dangunya di puncak kepala Jangmi, membuatnya merasa hangat di tengah angin  malam yang menusuk itu.

“Tunggu nona. Kau lupa oleh olehmu,” ujar Siwon. Ia mengangkat koper di sebelahnya dengan mudah dan berlutut di hadapan Jangmi yang duduk di kursi rodanya sehingga sekarang mata mereka sejajar. Siwon meraih kedua tangan Jangmi dan meletakkannya terbuka di atas paha gadis itu. “Kau melihat pertandinganku tidak?” tanyanya. Jangmi hanya menggeleng.

“Tega sekali. kau seharusnya menonton,” ujar Siwon pura pura cemberut. Kemudian ia membuka koper di sebelahnya dan mengeluarkan piala besar keemasan. Jangmi terperangah melihatnya terlebih ketika dengan perlahan Siwon meletakkan piala itu diatas kedua tangan Jangmi yang terbuka.

Ini potongan dari harapannya. Walaupun tidak berseluncur diatas es itu, benda ini salah satu hal yang paling di harapnyannya. Dan sekarang benda keemasan itu terlihat berkilau mewah dalam genggamannya.

Setetes air mata terjatuh turun begitu saja di pipi Jangmi membuat Siwon mengulurkan tangannya dan menghapus air mata haru itu. “Maaf untuk tidak menemuimu setelah kecelakaan itu. Aku hanya memikirkan bagaimana cara untuk membawa piala itu ke tanganmu dan satu satunya jalan adalah kembali ke ring dan merebut piala itu dengan tanganku sendiri, sebelum Jooyeon yang melakukannya,” ujarnya sambil lagi lagi mengusap air mata yang mengalir di  mata Jangmi.

Jangmi memberanikan diri menatap mata Siwon. “Kenapa… kau lakukan ini?” tanyanya dengan suara bergetar dan Siwon mengusap kepalanya pelan. “Karena Shin Jangmi… pantas diperjuangkan,” ujarnya lembut membuat Jangmi semakin terisak.

“Gomawo…” katanya di sela sela isakannya dan Siwon hanya menggeleng kecil. “Aku tidak mau dengar itu. Aku mau dengar ‘Saranghae,’” ujarnya membuat Jangmi meneteskan lagi air matanya.

Dan satu lagi hal yang membuat hari ini sempurna. Ternyata perasaannya dan pria ini adalah sama.

“Saranghae,” balas Jangmi. Siwon tersenyum tipis, memberikan ciuman singkat di bibir gadis itu yang basah karena air mata.

“Nado Saranghae. Kalau tidak untuk apa aku melakukan itu semua?”

FIN

 
10 Comments

Posted by on February 21, 2012 in fanfiction, freelance, oneshot

 

Tags:

10 responses to “(Freelance) Cold As You

  1. shilla_park

    February 21, 2012 at 9:27 am

    ah gomenasai/.. baru liat email hr ini..ternyata ada beberapa kiriman ff..
    suami saya emang rajanya romantis ya..jd makin cinta saya.. *peluk ma yeobo*😛

     
  2. iKa Rachmawati P. (@1kaa39)

    February 21, 2012 at 5:38 pm

    nice ff🙂
    iyaaa, siwon emang pas kalo meranin yang beginian..😉
    ikuuut meluukk siwon ah.. *evil smirk*
    kyaaa kabuuur… *sebelum dilempar sendal Park Shila*😀

     
  3. minkijaeteuk

    February 22, 2012 at 12:49 am

    oh so sweet bgt deh pa lg perjuangan u siwon bikin ikut meleleh….
    ma’nyus gt jd y nih….. deg deg ser gmn gt….

     
  4. specialshin

    February 22, 2012 at 4:49 pm

    waaaah makasih yaa kak shilla udah dipost xDD

     
  5. lusiani haheho

    February 22, 2012 at 7:03 pm

    subhanallah siwonnya so sweet banget huaaa envy saya hahahaha, ah gila klepek2 dah tuh /plak *lebay😀

     
  6. Kyubong

    February 23, 2012 at 5:54 am

    Baguuuuuuuuuuuuusss, apik(?) tenan😀

     
  7. peephz

    February 27, 2012 at 10:37 pm

    waaaaaahhhhhhhhh
    wonniee aaahhhhh…. so swiiiittt bangeeettt hahahaa
    mau juga nah klo coatch siwoonn :p
    sukaaa kalo yang cold cold nya tuh yang cew nya😀

     
  8. ahsanti_sparkyu

    March 20, 2012 at 11:06 pm

    huaaa..bru buka blok ini lg..
    gk taunya ff yg belom dibaca udh numpuk..
    wah harus baca semua nih..

    ih wonppa romantis bgt si.
    tp kyuppa gk kalah romantis kok..

     
  9. Siregar Sri Fauziah

    January 5, 2014 at 7:53 am

    Iiisshhh… Keren dah ni cerita.. bru nemu Wonppa meranin skater… kren pasti ya diarena skate…🙂
    Ooohhh…. this is so romantic…
    Simba memang King of the romance.. hehehe..
    Makin cintrong ni… ^^

     
  10. ji

    April 22, 2014 at 7:21 pm

    nyebelin banget si jooyeon nya..
    tapi siwon oppa romantis banget

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: