RSS

(Freelance) Chocolate Piece

27 Feb

Author       : Specialshin

Disclaimer : Everything except the Character is not mine. Also pubished on my personal blog Specialshin.wordpress.com . do not plagiarize

 

There’s a huge similarity between love and Chocolate. Both of them are sweet. Both of them makes you smile. Both of them are so unpredictable but still you cant let go of it. You will keep waiting and waiting for the surprise it will give….. and still you will smile in the end.

-oOo

Dengan langkah kecil hati hati, seorang gadis dengan apron putih meletakkan segelas Hot Chocolate mengepul dari gelasnya itu di atas meja kerja yang tertata rapi. Dengan hati hati ia melihat wajah pria yang sedang duduk di kursi kerja itu tetapi bersandar lelah dengan mata tertutup.

Walaupun sedikit segan toh diberanikannya menyentuh lengan pria itu sedikit, agar ia terbangun. “Donghae-ssi,” ucapnya pelan, tetapi pria yang dipanggil Donghae itu tidak kunjung membuka matanya sehingga gadis itu mencoleknya lagi pealn.

“D… Donghae-ssi,” ulangnya sedikit ragu ragu tetapi pasti. Donghae sudah meminta dia untuk membangunkannya sekitar pukul 2 siang dan sekarang jam sudah menunjukkan waktu yang dimaksudkan oleh Donghae tadi.

Donghae perlahan lahan membuka kedua matanya, lalu merenggangkan jemarinya yang terasa pegal karena menyangga kepalanya sedari tadi. “Ah. gomawo, Kyungie,” ucapnya pelan. Ia menegakkan posisinya dan menemukan Hot Chocolate mengepul di mug yang tergeletak di mejanya. Hye Kyung mengangguk. “Bagus untuk menghilangkan lelah,” katanya.

Dengan hati hati Donghae meniup pelan Hot Chocolate itu dan menyesapnya. “Mashita. Gomawo,” ucapnya. “Ah, baiklah aku harus kembali ke dapur,” ucap Hyekyung lalu membungkuk pelan. “Berurusan dengan cokelat, eh?” canda Donghae yang hanya dibalas oleh senyuman kecil oleh Hyekyung.

Tanpa suara gadis itu melangkah menuju pintu ruangan Donghae dan kembali ke dapur kafe tempatnya bekerja sebagai pembuat cokelat dan cake. Ia sebenarnya adalah adik kelas Donghae saat SMA dulu dan pria itu dengan senang hati menawarkan posisi itu padanya mengingat Hyekyung memang berbakat dalam cooking and baking.

Dan disinilah ia bekerja sekarang, sebagai koki full time spesialis membuat chocolate caka and drinks. Dusk to Dawn Patissier, sebuah kafe sukses milik keluarga Lee yang sekarang di handle oleh putra mereka Lee Donghae, sedangkan cabangnya yang berada di Ilsan dipegang oleh Donghwa, Hyungnya.

“Ya, habis membangunkan si sleeping handsome, eh?” goda Ryeowook, Chef handal kafe itu. Bekerja dengan bayaran super tinggi dikarenakan skillnya dan pengalamannya bersekolah jurusan boga di Paris, dan menjadi chef tetap selama tiga tahun di kapal pesiar taraf internasional.

Hyekyung hanya tersenyum kecil menanggapinya, lalu mengambil kotak makan siangnya dan mengambil tempat di depan Ryeowook. Sekarang memang break time dan dia merasa sudah tidak makan berhari hari. Oke, berlebihan tetapi ia begitu lapar sampai merasa sanggup untuk memakan porsi lima lelaki dewasa.

“Ya! Makan yang rapi, aish… gadis ini,” omel Ryeowook melihat Hyekyung makan terlalu lahap, tidak seperti gadis normal. Kim Ryeowook memang begitu. Dibandingkan sahabat dia selalu terlihat seperti Eommanya Hyekyung.

Hyekyung hanya memutar bola matanya lalu makan pelan pelan. Toh akhirnya gadis ini menurut daripada terpaksa  mendengarkan omelan Ryeowook yang sudah mulai kambuh penyakit eomma-wannabe nya.

Ryeowook melipat tangannya diatas meja dan terlihat berpikir. “Ya, Hyekyung-ah, kalau dipikir pikir, si Donghae itu belakangan ini terlihat semakin stress, matchi?” ucapnya pelan. Hyekyung hampir tersedak menahan tawa karena dibadingkan khawatir, Ryeowook lebih terlihat seperti sedang bergosip.

“Ya, Hyekyung-ah.. apakah masalah keluarganya lagi?” kata Ryeowook terlihat khawatir. Ryeowook memang selalu khawatir, dan merasa bertanggung jawab berlebihan kepada semua penghuni kafe ini. Mulai dari si general manager Donghae, Baker Hyekyung, Bartender Sungyeol, dan terlebih sebagai kepala chef, dia sering sekali mengkhawatirkan anak buahnya Jinki dan Kibum.

Hyekyung mengulum senyumnya melihat si Eomma satu ini. “Ya, kira kira begitu,” ucapnya pelan. Ryeowook menarik nafas panjang. “Anak itu… aku juga pasti akan stress kalau orang tua berada di ambang perceraian,”

‘apalagi aku?’ batin Hyekyung dalam hati. Tidak ada yang tahu kalau ia menyimpan perasaan pada bos-nya yang satu itu. Memang tidak semenjak SMA. Beberapa bulan semenjak bekerja di kafe ini, ia jatuh cinta pada Donghae, dan tidak mengatakannya sampai sekarang.

“Kyung-ah. sekali kali kau hiburlah dia. Dia kan paling sering memanggilmu kalau ada perlu,” ucap Ryeowook menarik nafas panjang. “Padahal aku bisa mengurusnya, mengapa dia tidak memanggil aku saja?” kata Ryeowook sambil setengah melamun.

Hyekyung mengulum senyumnya. “Karena kau sering mengkhawatirkannya seperti eomma eomma, Ryeowook ssi. Ia pasti pusing,” kata Hyekyung terus terang membuat Ryeowook melotot padanya. Anak ini sudah mulai berani. “Ya! Neo!” Ryeowook mengayunkan sendok tehnya pada Hyekyung ketika Donghae tiba tiba muncul.

“Yah.. yah… apa yang kalian lakukan?” katanya menahan tawa lalu mengambil tempat di antara Ryeowool dan Hyekyung di meja bundar kecil itu. “Ani, gadis ini mulai berani meledekku,” gerutunya menunjuk Hyekyung dengan dagunya.

Donghae menoleh pada Hyekyung menahan tawa. “Ah benarkah? Wah, sekarang kau berani ya, seingatku  kau takut pada omelannya yang seperti eomma eomma,”candanya sehingga Ryeowook menoleh padanya juga. “Ya! Kau!” katanya membuat Donghae tertawa terbahak bahak.

Suasana hening dan Donghae menyandarkan punggungnya di kursi dengan nyaman. Kafe lagi sepi hari ini, hal yang jarang sekali terjadi. “Kemana perginya para pelanggan setia kita?” kata Donghae santai memperhatikan kursi kursi yang tersusun rapi.

“Ini hari biasa, Donghae ssi, mungkin mereka akan muncul nanti saat jam istirahat kerja,” ucap Hyekyung dan Donghae hanya mengangguk angguk mengerti. Ryeowook menoleh pada Donghae heran. “Kau sendiri? Tumben duduk duduk disini,” katanya memicingkan mata.

Donghae merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. “Mataku lelah menghadapi kertas kertas. Lagi pula aku sedang butuh udara segar,” katanya pelan. “Ah, aku butuh sesuatu untuk membuatku lebih rileks,” katanya lagi.

Sigap Hyekyung bangun dari kursinya dan pergi ke dapur. Donghae menatap Ryeowook bertanya tanya sementara si master chef itu hanya mengangkat bahunya dan menggeleng tanda tidak mengerti.

Tidak sampai 5 menit kemudian Hyekyung muncul dari dapur membawa sepiring kecil cake dengan hiasan cokelat diatasnya, dan meletakkannya di depan Donghae.

“Itu cheesecake dengan chocolate coating,” jelas Hyekyung. “Mengandung gula dan bubuk kokoa. Mengandung chocolate liqor dan choco butter sebagai penambah rasa. Mereka bukan cokelat murni dan tidak akan meleleh jika dipanaskan, tetapi akan terlihat bagus bila digunakan sebagai hiasan,” jelasnya professional.

Perlahan Donghae memotong ujung cake tersebut degnan garpu kecilnya dan memasukan potongan kecil cake itu ke mulutnya. “Seperti yang diharapkan dari baker professional,” pujinya bangga, sementara Hyekyung tersenyum malu.

“Er,  itu juga bagus untuk relaksasi,” katanya dan Donghae tersenyum. “Jadi gara gara aku bilang aku butuh sesuatu untuk rileks tadi? Kau baik sekali Hyekyung-ah,” katanya melanjutkan memakan cakenya.

“Ani, hanya saja aku melihatmu terlalu lelah jadi—“

“Woah…. Shin Hyekyung neo…. Ah, ternyata dia menaruh perhatian pada Donghae,” komentar Ryeowook asal. “Ani  Ryeowook ssi aku hanya berusaha untuk—“

“Hyekyungie~ mengapa kau tidak bilang padaku kalau kau suka si-bos?” goda Ryeowook lagi membuat Hyekyung terlalu malu untuk menjawab apa apa. Sepertinya Ryeowook sedang balas dendam karena dikatai mirip Eomma tadi.

“Sudah Wookie-ah, jangan menggodanya terus,” kata Donghae santai membuat Ryeowook semakin mengikik. “Kau senang, Kyungie? Dia membelamu,” katanya. Membuat Hyekyung menatapnya sebal.

Candaan mereka diusik oleh suara ponsel Donghae yang langsung diangkatnya begitu melihat nama yang tertera disana. “Ne, Eomma,” katanya pelan. Ryeowook dan Hyekyung langsung bertatapan mengetahui siapa penelepon tersebut.

Ekspresi Donghae berubah keras. “Kita bicarakan di rumah,” katanya dingin lalu bangkit berdiri dari kursinya.

“Ada urusan penting. Aku pergi dulu, Wookie, Kyungie,” katanya dengan keramahan yang dipasakan lalu meraih kunci mobil dari meja dan menekan tombol locknya. Dalam sekejap mobil itu sudah berderum pergi meninggalkan halaman kafe.

Tinggalah Hyekyung dan Ryeowook bertatapan. “Menurutmu sudah separah apa sekarang?” katanya.

-oOo-

Hyekyung terbangun dan mendapati kepalanya menyandar pada meja. Tadi ia tertidur ketika sedang menunggu Donghae kembali. Ya, ini sudah pukul 11 malam dan ia masih menunggu Donghae kembali. Hyekyung hafal sekali saat banyak masalah maka pria itu akan tidur di kantornya.

Terdengar tarikan nafas putus asa dari bibir gadis itu, sekali lagi memandang surat resign yang sudah siap diserahkan pada Donghae malam ini juga. Ya, ia akan segera keluar dari kafe ini. Menurutnya masalah perasaannya pada bos-nya ini sudah memasuki tahap serius. Ia harus segera pergi sebelum benar benar tidak bisa melepaskan Donghae.

Dan keputusan itu suah ratusan kali ditundanya. Surat resign itu sebenarnya sudah dia buat sejak sebulan yang lalu, entah apa yang menahannya untuk tidak memberikan surat pengunduran diri itu pada Donghae. Dan malam ini ia sudah membulatkan keputusannya untuk keluar.

Terdengar suara langkah gontai dan pintu kaca terdengar di buka dari luar. Hyekyung bergerak cepat menyimpan surat resignnya kedalam tas, berencana memberikannya setelah berbicara dan menjelaskan secara baik baik. Ia sudah menyiapkan alasan sudah menemukan pekerjaan dengan bayaran yang lebih tinggi di tempat lain.

Langkah Donghae terdengar semakin dekat, dan Hyekyung merasakan pria itu sekarang berdiri di belakangnya. “Hyekyung ssi?” panggil Donghae pelan, terdengar heran. Hyekyung menoleh dan memandang pria itu, berakting seolah olah ia terkejut. “Ah, wasseo?”

Perlahan Donghae berjalan mendekat dan mengambil tempat di hadapan Hyekyung. “Apa yang kau lakukan disini? Jam kerja sudah berakhir,” katanya heran memandang Hyekyung penuh tanda tanya. “um.. masih ada beberapa yang belum kuselesaikan,” kilah Hyekyung.

“Hm?” Donghae menuntut penjelasan dan Hyekyung menolak untuk menatap matanya. “Er… aku belum menyelesaikan adonan buat besok. Aku sedang menunggu chocolate liquor yang sedang berada dalam pemanas,” ucapnya dan Donghae mengangguk percaya.

Tanpa sengaja Hyekyung menatap mata lelah Donghae. “Er.. Donghae-ssi apa yang terjadi padamu?” tanyanya hati hati. Hanya khawatir memang hanya saja ia takut Donghae mengsalah artikannya sebagai ikut campur.

Donghae menggeleng pelan tersenyum. “Tidak apa apa,” katanya berbohong. Ia mengalihkan pandangannya lagi pada Hyekyung yang hanya bergeming menatapnya. “Kau yakin tidak akan pulang dalam waktu dekat?” tanyanya memastikan, dan Hyekyung hanya menggeleng.

Tiba tiba Donghae berdiri perlahan, dan pergi ke ruangannya. Hyekyung menarik nafas memikirkan kata kata apa yang akan diucapkannya saat memberikan surat resign itu tetapi belum sampai lima menit Donghae kembali dengan botol dan dua buah gelas kecil di tangannya.

Dengan hati hati diletakkannya botol yang ternyata botol wine itu di depan Hyekyung dan satu lagi di hadapannya. ia menuangkan wine pada dua gelas kecil tersebut dan mengembalikan botolnya di posisi semula. “Kau temani aku minum saja,” katanya.

Hyekyung hanya diam bergeming memandang Donghae ketika pria itu menyesap tegakan kedua winenya mengakibatkan Donghae menatapnya bingung. “Kenapa? Kau lebih suka dengan es batu?” tanyanya. “

“Tidak,” Hyekyung menggeleng.

“Lalu?”

“Aku bukan peminum,”

Donghae diam mencerna perkataan Hyekyung. “Ah, mianhae,” katanya lalu mengambil gelas Hyekyung dan menegak isinya.

Perlahan Hyekyung bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur, lalu kembali membawa sepiring chocolate cake dan tiga buah macarons. “Tch.. cokelat. Seperti anak kecil saja,” kata Donghae becanda.

“Dan kau minum wine seperti orang dewasa,” timpal Hyekyung sambil memakan potongan cokelat pertamanya. “Aku memang sudah dewasa.” Balas Donghae.

Hyekyung tidak menjawabnya dan lanjut memakan cakenya sedikit demi sedikit. Dia memang penggila cokelat. Sejak kecil ia tahu, masa depannya adalah seorang baker handal. Dan sekarang disinilah ia, menjadi baker di sebuah kafe terkenal dengan bayaran yang lumayan tinggi untuk pengalaman pertama.

Wajah Hyekyung menatap Donghae terlihat memikirkan sesuatu, lalu kembali berkonsentrasi dengan cakenya. Donghae menatap Hyekyung lekat. “Ada pertanyaan berputar dalam kepalamu,” katanya. Itu pernyataan.

“Tidak terlalu penting,” timpal Hyekyung. “Marhaebwa,” kata Donghae menanggapi.

Hyekyung memainkan sendoknya, memutarnya di perlahan dengan jemarinya. “Mengapa orang dewasa selalu minum alcohol saat banyak pikiran,” katanya. Donghae terkekeh kecil. “Aku juga tidak bisa menjelaskannya. Kau sudah dewasa, kau pasti tahu,” kata Donghae.

“menurutku minum bukan menunjukkan kedewasaan,” kata Hyekyung sok tahu. Tetapi toh Donghae mendengarkannya baik baik. Shin Hyekyung bukan tipe gadis yang bisa berbicara dengan banyak orang. Dan moment dimana dia bisa berpendapat seperti sekarang adalah moment langka.

“Maksudmu?” tanya Donghae. “ya… kalau kau minum karena banyak masalah, berapa botolpun itu tidak akan menyelesaikan apapun. Hanya akan membuat mabuk. Orang dewasa yang sebenarnya adalah tetap sadar, dan selesaikan semuanya,” ucap Hyekyung bijak.

Donghae hanya tersenyum miris melihatnya. “Tapi masalahku itu unsolved, kau tahu? Tidak bisa dipecahkan,” ucap Donghae memandangi gelas wine-nya. Hyekyung terlihat salah tingkah. “Eh… mianhae Donghae ssi aku tidak bermaksud menyindirmu atau—aku—“

Donghae hanya terkekeh melihatnya gelagapan seperti itu. “Tenang saja, aku mengerti kok kau tidak bermaksud apa apa,” ucap Donghae. Pria itu memandangi sebentar Hyekyung dan chocolate cakenya.

“Kau mengapa begitu mencintai cokelat sih?” kata Donghae heran.

Hyekyung hanya tersenyum simpul. “Well, cokelat tidak akan mengkhianatimu. Pria akan membuatmu menangis tetapi cokelat akan selalu membuatmu bahagia setiap memakannya,” ucap Hyekyung gamblang.

Lagi lagi Donghae tersenyum tipis. “Andai saja aku berpikiran sesimple otakmu,” katanya.

Segan segan Hyekyung bertanya, “memang masalah unsolveable apa yang kau hadapi sekarang?” tanyanya takut takut.

“Yah… sepertinya semua orang sudah tahu kalau keluargaku diambang kehancuran,” kata Donghae berbicara ringan seakan membahas perceraian orang tuanya seperti membahas apa yang ia makan pagi tadi, walaupun pastinya membicarakannya tidak semudah itu.

“Jadi itukah yang membuatmu pulang lebih cepat kemarin? Karena telepon dari Eomma-mu?” tanya Hyekyung memberanikan diri, dan Donghae hanya mengangguk sambil terus memandangi gelas winenya yang jernih seakan akan menemukan kejernihan disana.

Donghae menarik nafas berat. Sepertinya ia memang butuh orang untuk melampiaskan semua ini. “Mereka memutuskan untuk bercerai besok,” ucapnya hampir tidak kedengaran.

“mwo?” Hyekyung memastikan pendengarannya. “Ya, mereka memutuskan untuk bercerai besok. Setelah pertengkaran tidak ada habisnya, setelah ketidak cocokan yang terjadi. Mereka berpisah besok,” kata Donghae pasrah.

Hyekyung tersenyum mencoba menghibur. “Baiklah, kalau sekarang minum adalah satu satunya jalan bagimu,” katanya malah menuangkan wine lagi pada gelas Donghae. “Gomawo,” kata Donghae dan menegak minumannya.

“Kau terlihat stress,” komentar Hyekyung. “tetapi aku baik baik saja,” ujar Donghae. “Tidak ada anak yang bahagia orang tuanya bercerai. Tetapi menjadi dewasa itu adalah menerima yang seharusnya terjadi. Walaupun kau tidak perlu campur tangan dalam itu,” ucap Donghae bijak.

Dan saat itulah Hyekyung tahu bahwa Donghae jauh lebih mengerti arti kedewasaan dibandingkan dia.

Hyekyung beranjak ke dapur dan membawakan Donghae cokelat balok yang diletakkan diatas piring kecil. “ini namanya grand cru chocolate,” kata Hyekyung. “terbuat dari kacang kacangan yang tumbuh di area tertentu bahkan dengan teknik penanaman tertentu. Pembuatannya adalah dengan menyeleksi kacang kacang tersebut untuk menciptakan rasa yang unik. Memang awalnya ini menjadi kontroversi tetapi bahkan perusahaan cokelat sekelas Hershey’s juga mencoba metode ini. Karena itu menurutku ini tipe cokelat yang unik,”

Donghae tersenyum menatap cokelat balok tersebut grand cru. Namanya saja sudah unik. “Kau mengerti banyak tentang cokelat, ya?” kata Donghae membuat Hyekyung menatapnya seakan pria ini aneh. “Hey, aku baker di kafemu, Dusk to Dawn,” protesnya.

Donghae terkekeh. “Arasseo, arasseo, master chef,” ucapnya lalu mengigit ujung cokelat itu. “Terima kasih, omong omong,” ucapnya dan Hyekyung hanya mengangguk.

Tanpa sengaja mata Donghae menatap jam dinding yang berdetak diatasnya. Sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan tanpa terasa sudah hampir dua jam mereka berada disini. “Jadi kau tidak berencana pulang?” tanyanya.

Kaget Hyekyung mengecek jam tangannya. “Ah, eomma pasti khawatir,” katanya panic lalu meraih tasnya. “Donghae ssi, aku pulang duluan,” ucapnya terburu buru.

“Tidak perlu kuantar?” Donghae ikut ikutan berdiri meraih kunci mobilnya tetapi Hyekyung sudah berlari jauh. “Hyekyung-ah gomawo!” teriak Donghae dan Hyekyung hanya mengangkat ibu jarinya tanda ia mendengarkan.

Suasana hening lagi. Donghae merasa suasananya langsung berbeda. Saat bersama Hyekyung tadi gadis itu membuatnya memikirkan hal hal lain dan mendengarkan perkataannya sehingga ia melupakan masalah pelik dihadapannya tersebut.

Donghae menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Matanya kembali menancap pada cokelat yang tergeletak di atas meja, dan teringat pada penjelasan unik gadis itu. “grand cru,” ulangnya tersenyum. Unik, seunik gadis yang memperkenalkan jenis itu padanya.

-oOo-

Keesokan harinya, Hyekyung sampai di depan Dusk to Dawn lagi. Sebelum masuk Hyekyung menatap sekali lagi plang nama kafe itu di depan pintu. Tidak disangkanya hari ini ia menginjakkan kaki lagi di tempat ini untuk bekerja.

Ia kira kemarin adalah hari terakhirnya bekerja disini. Hari terakhirnya bertemu Lee Donghae dan ia akan memulai hidup baru tenang tanpa harus menyembunyikan perasaannya dari siapapun. Tetapi semalam, lagi lagi ia tidak menyerahkan surat resign itu pada Donghae.

Setelah menarik nafas panjang Hyekyung mendorong pintu ayun tersebut dengan satu tangannya dan disambut oleh Ryeowook di dalam. “Wasseo.” Katanya sambil lanjut menghias kue kue natal yang sudah dikeluarkannya dari dalam oven.

Hyekyung menaruh tas di kursi dan membantu Ryeowook menghias kue kue tersebut. “Terlihat senang hari ini,” kata Hyekyung pelan dan Ryeowook hanya tertawa mendengarnya. “Biasanya hari selasa memang hari baikku,” jawabnya gamblang.

“Oh ya, Kyungie kau tahu Donghae dimana? Seharian ini ia tidak terlihat,” katanya. Hyekyung hanya tersenyum tipis dan mengangkat bahunya berpura pura tidak mengerti. Ia malas bercerita panjang lebar tentang orang tua Donghae yang akan bercerai hari ini.

“Apakah dia akan datang?” tanya Ryeowook lagi. naluri Eommanya kambuh rupanya. Dan lagi lagi Hyekyung hanya mengangkat bahunya berpura pura tidak tahu dan lanjut memberikan ukiran ukiran pada Krim gula diatas kue keringnya,

Hyekyung mengukir dalam diam. dapat dibayangkannya surat Resign yang sudah tersimpan rapi di tas, dan dibayangkannya wajah semua orang saat tahu dia akan mengundurkan diri. Bahkan alasan dan alibi untuk Donghae sudah disiapkannya.

Entah Donghae akan datang atau tidak, Hyekyung akhirnya menyeduh Hot Chocomint yang mengepul karena panas. Perlahan dibawanya mug itu ke ruang kerja Donghae dan matanya menatap dimeja yang kosong terdapat sebuah surat.

Dengan penasaran Hyekyung mengambil surat itu dan membacanya.

Untuk Shin Hyekyung yang unik seperti Grand Cru,

Terimakasih untuk perbincangan singkat dan waktu tadi malam. Terima kasih untuk definisi kedewasaan. Terima kasih untuk mengajariku untuk menjadi dewasa. Untuk dengan berani menghadapi masalah. Terima kasih untuk mengajari cara membedakan manisnya cokelat dan pahitnya wine. Shin Hyekyung ssi, semalaman penuh aku memikirkan kata katamu sambil memandangi Grand Cru yang unik itu kau tahu? Dan ya, berkat perkataanmu aku lebih siap hari ini. Gomwo,

Lee Donghae

Hyekyung menatap tidak putus surat itu, tidak menyangka Donghae akan meninggalkannya pesan seperti itu di hari ini, hari perceraian orang tuanya. Akankah dia datang ke kafe hari ini?

Entah dia datang atau tidak, Hyekyung harus menyerahkan surat resign itu.

-oOo-

Waktu menunjukkan pukul 10 malam, dan tidak ada tanda tanda kemunculan Donghae. Dengan menarik nafas panjang Hyekyung merapikan barang barangnya dan memang sepertinya ia harus menunda lagi penyerahan surat pengunduran diri ini.

Tetapi tiba tiba terdengar bunyi derum halus mobil Donghae dari luar. Hyekyung mematung mengenali suara tersebut. Persis seperti kejadian kemarin ia hanya diam di tempat dan terdengar suara pintu kaca di dorong dari luar.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah masuk tetapi dari suaranya saja Hyekyung tahu langkah itu tidak stabil. Dan benar, dalam hitungan detik Donghae masuk dengan jalan sempoyongan dan tangan menumpu pada tembok.

Sontak Hyekyung reflek berlari ke arahnya dan menangkap dia yang sudah menunjukkan tanda tanda akan jatuh mencium lantai. Tubuh Donghae berat tetapi Hyekyung masih bisa menahannya. Tercium bau alcohol dari bibirnya dan Hyekyung langsung tahu pria ini mabuk.

Walaupun sedikit berat Hyekyung berhasil menumpukan tubuh Donghae ke tubuhnya, dengan cara mengalungkan lengan pria itu ke lehernya. Tidak terlalu sulit, Donghae masih bertumpu pada kakinya juga. Dengan susah Hyekyung membawa Donghae ke ruangannya.

Perlahan hati hati direbahkannya tubuh Donghae terbaring di atas sofa panjang beludru yang terletak di ruang tamu kamar kerja Donghae. Dengan cekatan Hyekyung membuka satu persatu kancing jacket Donghae, mengangkat tubuh pria itu sedikit agar bisa melepaskannya.

Hyekyung berlari ke dapur dan menganbil baskom berisi air. Dibasuhnya wajah Donghae dengan kain basah yang sudah direndam dengan air dingin. Lalu setelah itu dilepaskannya sepatu beserta kaus kaki pria itu.

Tidak sengaja telapak tangannya menyentul leher pria itu saat ia hendak membuka dasinya. Donghae demam. Pantas saja tubuhnya menggigil. Sudah mabuk, demam pula. Hyekyung menarik nafas panjang dan menggelengkan kepala sendiri melihat keadaan Bos yang diam diam disukainya ini.

Dengan sabar Hyekyung memasukkan thermometer yang ditemukan di kotak P3K di sela sela bibir pria itu. Dan rupanya suhunya mencapai 40 drajat. Hyekyung menarik nafas panjang lagi. kalau begini ceritanya pra ini tidak bisa ditinggalkan.

Terdengar suara Donghae mengerang dan dia membuka matanya sedikit. Hanya bangun, tetapi tidak sadar. Sepertinya pikirannya masih dikuasai alcohol. Tetapi itu cukup, Hyekyung mengambil air dan pil menurun demam, memasukkannya ke mulut Donghae lalu membantunya minum.

Hyekyung sudah akan meraih gelas itu dan membawanya lagi ke dapur ketika Donghae menahan telapak tangannya. Hyekyung membatu dan menoleh kebelakang. “Donghae-ssi?” tanyanya heran.

“Tetap disini,” kata Donghae. Matanya terpejam dan tangan yang menahan Hyekyung itu terasa panas. “Donghae-ssi. Kau mabuk,” Hyekyung memperingatkan.

Donghae mengerang. “Berhenti memanggilku ‘Donghae-ssi,’ kau tidak tahu aku kesal setiap mendengarnya,” katanya diluar kesadaran. Hyekyung menarik nafas panjang. Sepertinya mabuknya benar benar sudah parah.

“Lepaskan aku dulu, aku mau pulang,” kata Hyekyung. Ia berubah pikiran. Dengan keadaan Donghae yang seperti ini mungkin lebih baik dia pulang dan meninggalkan Donghae beristirahat. Toh dia sudah menelan penurun panas tadi.

Donghae mengeratkan cengkramannya pada telapak tangan Hyekyung. “Ani, tadi kubilang tetap disini,” katanya tegas. Hyekyung sekuat tenaga menarik tangannya tetapi ternyata itu pilihan salah. Ia kalah kuat dari Donghae.

Hanya dengan tarikan biasa Donghae menarik  Hyekyung kembali. Ia duduk dan menarik Hyekyung hingga jatuh tertidur di sofa. Tenaga orang mabuk memang sering mengejutkan karena dengan Hyekyung yang meronta Donghae berhasil menahan kedua tangan gadis itu hanya dengan satu tangan saja.

Dengan kekuatan tidak terduga ditahannya Hyekyung tetap disana, ditindihnya gadis itu tidak mempedulikan besarnya teriakan Hyekyung dan ditahannya jeritan itu dengan bibirnya yang hangat.

Hyekyung terdiam. Dalam imajinasinya yang terliar pun tidak pernah dibayangkannya ia akan mencium Donghae.

Tetapi tidak di saat seperti ini. Tidak dengan posisi ini. Dan tidak dengan Donghae yang sedang dalam keadaan mabuk. Hyekyung mencoba mendorong dada Donghae sekuat tenaga tetapi ia tidak bergeming.

Akal sehat Hyekyung bekerja. Dengan keras ditamparnya pipi Donghae sehingga ia melepaskan ciuman mereka. Donghae terlihat terpaku sebentar dan kesempatan itu digunakan Hyekyung untuk mendorongnya kuat kuat sehingga ia oleng.

Hyekyung segera bergerak bangkit dan menoleh kearah Donghae lagi. pria itu tertidur di sofa dengan tidak sadarkan diri. Air mata Hyekyung mengalir juga akhirnya. Ditendangnya pelan kaki Donghae yang terkulai lemas. “Nappeun,” isaknya.

“Kalau tidak mencintaiku jangan pernah menyentuhku, arra?” ucapnya lagi walaupun ia tahu tidak ada gunanya karena Donghae tertidur. Diraihnya kasar tas tangannya di lantai dan dengan langkah cepat ia berjalan kea rah pintu.

Ia menoleh untuk terakhir kalinya kearah Donghae. Hyekyung menarik nafas pelan. Tidak tega juga ia meninggalkan Donghae dalam posisi seperti itu. Ia berjalan kembali mendekati Donghae dan diangkatnya kedua kaki pria itu ke atas sofa, menidurkannya dengan posisi yang benar seperti tadi.

Dengan cepat ia berjalan kearah kemari besar di pojok ruangan dan dikeluarkannya selimut yang biasa digunakan Donghae kalau ia menginap di kantor. Perlahan diselimutinya tubuh Donghae yang mengigil karena demam.

Segera Hyekyung berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikitpun pada Donghae lagi.

-oOo-

Hyekyung menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan lahan. Sekarang jam delapan pagi dan dia berdiri kaku di depan plang kafe dimana ia sudah menghabiskan waktunya setahun belakangan ini. Dusk to Dawn.

Digenggamnya erat surat resign yang sudah hampir sebulan ditahannya dan sepertinya hari ini benar benar akan diserahkannya. Apapun yang terjadi bahkan bumi berguncang sekalipun tetap tidak akan ditundanya lagi.

Untuk terakhir kalinya ia meyakinkan dirinya sendiri sebelum masuk melalui pintu dorong yang berada di bagian depan bangunan elite tapi mini tersebut. Ia masuk dan langsung dihampiri Ryeowook dengan kebakaran jenggot.

“Ya! Shin Hyekyung! Kau kira sudah jam berapa ini? Kau sudah telat satu jam!” kata Ryeowook panic. “Cepat buatkan pesanan chocolate cake dari pelanggan di meja ujung sana, kasihan jinki sedari tadi kelabakan melayani mereka,” omelnya lagi.

Hyekyung menelan ludah dan menatap Ryeowook takut takut. “Ani, Ryeowook ssi aku…. Ehm aku akan menyerahkan surat pengunduran diri hari ini,” katanya hampir tidak kedengaran tetapi sepertinya Ryeowook mendengarnya dengan jelas karena matanya membelalak lebar.

“Tidak lucu, Kyungie! Sama sekali tidak lucu,” ucapnya setengah tidak percaya.

“Tetapi aku……,”

“Ya! Apa kau serius? Kau sudah hampir menjadi master chef disini! Dengan segala macam mengetahuanmu tentang makanan penutup dan cokelat, kau sudah dibayar mahal. Apa yang membuatmu berub—“

“Er…. Ryeowook ssi,” potong Hyekyung. “Tidak bisakah aku bertemu Donghae ssi sekarang?” katanya melanjutkan.

Ryeowook hanya menelan ludahnya. “A…rasseo. Dia didalam,”

Hyekyung mengangguk kecil lalu menelan ludahnya dan berjalan masuk ke dalam ruangan Donghae. Bahkan saat mau membuka pintu sudah terbayang olehnya adegan dimana Donghae menciumnya paksa dalam keadaan mabuk.

‘Donghae tidak akan ingat kejadian semalam,’ katanya menenangkan dirinya sendiri. ‘ia mabuk. Ia tidak sadar,’ bisiknya dalam hati lagi.

Hyekyung mengetuk pintu tiga kali, dan terdengar jawaban dari dalam. ia membuka pintu dan mendapati Donghae sedang ada di meja kerjanya. Donghae mengalihkan pandangannya pada Hyekyung. “Hey,” ucapnya ringan.

Dengan cepat Hyekyung menarik nafas lega. Ternyata Donghae tidak ingat. Donghae menatapnya aneh. “Apa yang membuatmu lega begitu?” katanya heran dan Hyekyung hanya tersenyum tipis dan menggeleng kecil. “Ani,” bisiknya.

“Jadi, ada keperluan apa?” kata Donghae. Sebenarnya Hyekyung sedikit curiga mengapa Donghae tidak mempertanyakan keterlambatan satu jamnya tersebut tetapi Hyekyung membuang pikiran semacam itu jauh jauh dan kembali menatap Donghae.

Dengan satu tarikan napas ia menenangkan dirinya lagi dan meraih surat pengunduran diri dari tasnya dan meletakkannya pelan di meja Donghae yang menatap surat itu dengan alis terangkat.

Resign?” ucapnya heran. “Apa yang membuatmu ingin keluar?” katanya menginterogasi.

“Aku… menemukan pekerjaan baru di tempat lain dengan bayaran yang lebih tinggi,” katanya pelan. Entah ia akan dinilai gadis matre atau apapun itu terserah yang jelas ia harus menghilang dari hadapan Donghae sekarang.

Dan lagi lagi Donghae menaikkan satu alis matanya heran. “Oke, bayaran lebih tinggi? Aku bisa menaikkan gajimu,” tawar Donghae.

Hyekyung menggeleng pelan, dan tersenyum tipis. “bukan itu satu satunya masalah, Donghae ssi. Tetapi tempat kerjaku yang baru letaknya lebih dekat dari rumah, dan beberapa alasan lainnya,” ucap Hyekyung kelewat cepat dan mencurigakan.

Donghae melipat tangannya, menyandarkan diri di kursi dan memandang gadis itu heran. “Baiklah, bisa kau beritahu dimana tempat kerja barumu? Bukan apa apa, aku harus menjamin kepastian setiap employersku,” ucapnya menyelidik.

Hyekyung menelan ludahnya dan mengingat ingat beberapa kafe yang ia ketahui. “Er.. The Macarons Heaven,” jawabnya ragu mengucapkan suatu kafe elit di dekat rumahnya. Tiba tiba wajah Donghae berubah cerah dan ia menjentikkan jarinya.

“ah, pemiliknya sahabatku. Biar aku konfirmasikan dulu,” katanya dan mengangkat telepon di sebelanya sebelum mendial nomor yang sepertinya ia hafal.

“Yoonji-ssi. Kau baru menerima Employer baru dengan nama Shin Hyekyung?…… tidak?…… mengherankan…. Aah arasseo, sampai nanti,” ucapnya dan menutup teleponnya sembari menatap Hyekyung heran. “dia bilang ia tidak menerima pekerja baru,” ucapnya.

Dengan cepat Hyekyung mendorong surat pengunduran diri itu lebih dekat kepada Donghae. “Apapun itu alasannya aku ingin mengundurkan diri sekarang,” lanjutnya berani. “Dengan atau tanpa spersetujuanmu aku akan pergi. Kita tidak terikat kontrak hukum sama sekali, tidak ada ganjaran khusus untuk tindakan ini,” ucapnya tegas dan berbalik mendekat menuju pintu.

Donghe berdiri dari duduknya dan menatap punggung Hyekyung lurus. “Kalau ini karena semalam aku menciummu, aku minta maaf,” kata Donghae sedikit pelan namun mampu membuat Hyekyung menghentikan langkahnya.

Donghae melangkah keluar dari mejanya dan berjalan mendekat kearah Hyekyung. Sekarang mereka dipisahkan oleh lima atau enam langkah orang dewasa. Donghae tahu kalau ia melangkah lebih dekat gadis itu tidak akan ragu dan berlari keluar pintu.

Terdengar suara nafas terkesiap Hyekyung. “Kau…. Ingat?” katanya terkejut. Donghae hanya sedikit mengangguk. Hyekyung mengepalkan tangannya dan berjalan kearah Donghae sehingga jarak mereka hanya beberapa inci saja.

Plak!

Dengan sekuat tenaga ditamparnya pipi Donghae agak terlalu keras sehingga membuat sudut bibir pria itu berdarah. “Oke tadinya aku maklum karena kau pasti tidak mengingatnya tetapi ternyata kau ingat dan itu balasannya,” ucap Hyekyung sinis.

Donghae mengelap darah yang mengalir di sudut bibir dengan ibu jarinya. “Oke, aku pantas,” katanya ringan. Hyekyung menatapnya tajam dan berbalik pergi.

Tetapi dengan cekatan Donghae menahan siku gadis itu. “Tunggu. Aku sudah menerima penjelasanmu sekarang dengarkan kata kataku,” kata Donghae.

Hyekyung sudah malas mendengar ucapan Donghae dan hanya berbalik menunggu apapun yang akan dikatakan pria itu dan pergi. “Sekarang katakan,” katanya.

“Walaupun mabuk, aku tidak akan mencium orang sembarangan,” katanya hampir tidak kedengaran. Hyekyung menoleh dan menajamkan telinganya. “Apa katamu?” Hyekyung memicingkan matanya.

“Aku-tidak-akan-mencium-sembarang-wanita. Walaupun aku mabuk,” kata Donghae dengan segala penekanan pada kata katanya. Hyekyung memandangnya tepat di manic mata, tidak berani mengartikan perkataan pria itu tadi.

Oke sebenarnya gadis ini sudah mengartikannya hanya saja ia takut prediksinya salah.

Hyekyung menatap Donghae sinis Donghae dan berbalik. Donghae kehabisan akal, dan berteriak keras. “Aku mencintaimu! Kau dengar itu!?” teriak Donghae frustasi karena gadis ini tidak kunjung mengerti maksudnya.

Dengan pelan Hyekyung menghentikan langkahnya dan menoleh.

“Aku sudah mencintaimu sejak lama. Gadis kecil berkepang dua, juniorku di sekolah menengah. Bertahan menjadi gadis freak pecinta cokelat dan tidak menjadi sama dengan gadis gadis fashionista yang hobi bergaya seusianya. Yang selalu datang ke kafe kecil di dekat sekolah dan memesan chocolate mint ice cream dan well, itu kafe nenekku,” kata Donghae panjang lebar.

“Aku mencintai gadis itu, yang selalu duduk di pojok kafe membaca komik detektif sambil melahap chocochip cake dan milkshake cokelatnya. Dia yang berbincang ramah dengan pemilik kafe tersebut tentang berbagai hal dan yah, pemilik kafe itu nenekku,”

“Dia selalu berjalan sediri setiap pulang sekolah dan beberapa kali aku mengikutinya sampai rumah untuk memastikan dia sampai dengan selamat. Dia lulus dari paris dengan nilai baik dan tanpa mau kehilangan kesempatan aku merekrutnya menajdi employer disini, agar bisa tetap dekat denganku,”

Donghae menarik nafas. Ia sudah mengungkapkan setengahnya dan tidak usah ada yang disembunyikan lagi.

“Aku selalu ingin mengatakan betapa aku mencintainya. Hanya dia selalu menjaga jarak dariku. Selalu seperti itu. Dia tidak tahu betapa aku ingin selalu ada di sisinya sampai aku menahannya di sampingku secara tidak langsung……. Sampai detik ini,”

Dengan langkah pelan Donghae berjalan mendekat kearah Hyekyung. Langkahnya hati hati, takut gadis itu akan melangkah pergi. Diraihnya kedua bahu Hyekyung dan dia menunduk, menatap gadis itu tepat di mata.

“Dan sekarang gadis itu memutuskan untuk pergi, Kyungie. Bagaimana aku harus hidup?” kata Donghae lirih sementara Hyekyung menahan nafasnya, mencoba mencerna kembali pernyataan panjang Donghae barusan.

Dan dalam satu menit posisinya berubah total. Dari gadis biasa yang mencintai bos-nya diam diam menjadi seorang gadis misterius yang membuat seorang pria mencintainya, hingga detik ini. Hyekyung menarik nafas. Donghae sudah mengatakan segalanya. Bukankah tidak adil kalau dia menyembunyikan perasaannya?

Hyekyung memberanikan diri menengadah menatap Donghae. “Aku…. Juga mencintaimu,” ucapnya pelan. Donghae membelalakkan matanya tidak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya. “Mwo?”

“Sejak kapan?” tuntutnya.

Hyekyung menundukkan kepala dalam dalam. “Sejak beberapa bukan setelah aku bekerja disini,”. Donghae memutar bola matanya. “Lihat kan? aku bahkan mencintaimu lebih lama. Aku sudah memulainya duluan jauh bertahun tahun lalu,”

Hyekyung menghela nafas lagi. “Dan aku tidak pernah tahu,” Donghae mengangkat dagu gadis itu dengan telunjuknya. “Dan sekarang kau tahu,” ucapnya lembut. “Jadi apakah kau akan pergi?”

“Saranghae,” balas Hyekyung pelan.

Donghae mengernyit. “Ya, itu aku sudah tahu. Aku mau bertanya apakah kau akan pergi atau tidak,” ucapnya tidak sabar.

Hyekyung mengerutkan keningnya melihat kelambanan pikiran Donghae. “Ya, tidak bisakah kau menyimpulkan saja dari perkataan tadi?”

Seulas senyuman kecil muncul di sudut bibir Donghae. Diraihnya pinggul gadis itu dari belakang dan ditariknya merapat kearahnya. Hyekyung menatapnya was was.

Donghae menundukkan wajahnya, mendekatkan wajahnya pada wajah Hyekyung. Hyekyung hanya mematung tidak tahu apa yang harus di lakukan dan dadanya berdegup kencang sehingga ia takut Donghae bisa mendengarnya.

Wajah Donghae smakin mendekat dan mendekat sehingga Hyekyung sendiri bisa melihat detail bulu mata lentiknya. Akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya juga. Tetapi dengan sialnya pintu tiba tiba menjeblak dan muncullah Ryeowook lengkap dengan apronnya.

“SHIN HYEKYUNG! KAU SERIUS AKAN MENGUNDURKAN DIR….ups,”

Hyekyung mundur reflex menjauhkan dirinya dan Donghae yang hanya menggaruk kepalanya frustasi.

“YAH! Aish…”

FIN

 
10 Comments

Posted by on February 27, 2012 in fanfiction, freelance, oneshot

 

Tags: ,

10 responses to “(Freelance) Chocolate Piece

  1. shilla_park

    February 27, 2012 at 10:25 pm

    itu wooki ganggu momen2 penting deh.. tp bagus deh kalo ga ntar terjadi sesuatu yg sesuatu bgt diantara mereka (?)..
    i love u too donghae-ya.. *loh?*.. *diplototin siwon*😀

     
  2. peephz

    February 27, 2012 at 11:49 pm

    bahahahhahhaaa..
    wookie pengganggu nih :p
    padahal udah mau nyampe tuh tinggal dikit lagi😀
    coklat tuh banyak macam nya juga yah, tapi lebih suka kopi sihh hhehehe #abaikan

     
  3. minkijaeteuk

    February 28, 2012 at 4:14 am

    bener tuh wookie ganggu ja,,, n jd lucu q ngebayangin y wookie pake baju chef n bawa peralatan masak wkwkwkwkwkw!!!!
    q suka cerita berasa semanis coklat jd y pa lg pas bagian d ruangan hae tu n pengungkapan hati dongjae tau y jauh lebih dulu hae cinta dr pada hyekyung……..

     
  4. tata

    February 28, 2012 at 11:04 am

    Aku udh komen ff ini di blog kamu
    Skrng liat disini bingung mau komen apa
    Yg jelas donghaenya romantis
    Mendam cinta bertahun2

     
  5. Shin Je Rim

    February 28, 2012 at 12:38 pm

    wookie ganggu bget nih…🙂
    wah… akhir yg bahagia trnyta gag bertepuk sebelah tangan…

     
  6. Kim eun mi

    February 28, 2012 at 5:05 pm

    ‎​​ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​
    Wookie masuk di saat Чά‎​πƍ tidak tepat,,,
    Ganggu aja, padahal bentar lagi tuch,,,,
    FF’a bagus, nambah info tentang coklat,,,
    Good job !!!

     
  7. Carol

    March 1, 2012 at 7:10 pm

    Suka. Omo… Suka suka suka…..
    Jujur akhir2 ini feel sm si abang ikan agak ilang tp hbs baca jadi suka lagi.. Ahahahahahahaha.
    Keren.

     
  8. Denha Park a.k.a Nabilagaemgyu

    March 2, 2012 at 7:36 pm

    wah leedonghae aku padamu!!!!!
    gak tau kenapa suka banget dengan ff ini🙂

     
  9. Rhuky93

    May 5, 2014 at 10:58 pm

    manisnya.. ehhehehehheee..
    wah.. tak kira bertepuks sebelah tangan..

     
  10. achi_hilda

    January 26, 2015 at 7:48 am

    Tak dapat berkata apa-apa!!!
    Ini….. So sweet

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: