RSS

(Freelance) Starting To Love You

21 Jun

Tittle: Starting To Love You

Casts:

-Kim HaRa

-Kim Jong Woon

-Lee Joon

-Park Ji Yeon

-Kim Ji Eun

-Other Cast

Genre: Romance, Angst

Length: Chapter

Author: haracheonsa

Since when is it, You come into my heart

My heart keep thumping even for your little smile

For along time, I’ve been waiting for this fate like love

You’re like a cotton candy that melting all day in my heart

You’re like rainbow that coming dazzlingly into my heart

Will you whispered me with your sweet voice

That from the beginning your heart everyday loving me too

I love you just be my love

Why I keep laughing when I heard your playfull voice

When your two little eyes stare at me, I even trembling like this.

That my love is you

Do you now?

The day we fall in love like this

Do you believe?

The Cupid’s arrow sent from Heaven

I love you who miraculously come like a gift

Let’s be together forever,

Everyday loving me

I love you just be my love

(The Day We Fall In Love-Park Shin Hye)

 

~At Coffe Purple~

 

Suasana menyejukkan ditawarkan dari café ini, tumbuhan yang menghias di sekeliling, serta outdoor seat yang ditata begitu apik, membuat semua pengunjung merasakan kenyamanan ketika berada di kedai kopi ini.

Tanpa terkecuali, sepasang kekasih yang dengan tenang menyeruput Coffe Macchiato yang masih hangat.

Menghirup aroma khas dari cairan hitam nan pahit, namun begitu sangat digemari oleh sebagian orang Korea.

Kopi memang sudah jadi gaya hidup bahkan sudah seperti sebuah acara wajib setelah makan. Yeah, it’s lifestyle!

Keheningan masih tercipta diantara keduanya, belum ada yang memecahnya. Mungkin masih terlena akan cita rasa kopi yang barusan diteguk oleh mereka.

Atau keduanya sedang berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk membuka pembicaraan.

Hara mengamati jemari Lee Joon yang menari-nari sambil terus mamatuk-matukkannya di atas meja.

Berharap-harap cemas akan apa yang disampaikan Lee Joon nanti setelah seminggu lamanya tak berjua.

Ada sedikit kekesalan bermain-main di batas nuraninya sebab lelaki itu tak kunjung membuka pembicaraan.

Ia terus mengamati jemari itu, jemari yang selama ini mengisi ruang kosong di antara jemarinya.

“Wae geurae?”HaRa memecah keheningan.

“Mmmm”laki-laki itu tersentak, sekilas berpapasan dengan manik mata gadis itu lalu menunduk.

“Yakk! Lee Joon~oppa, mengapa kau hanya diam hah? Ini seperti bukan dirimu tau, apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku, setelah seminggu kau tak pernah mengunjungiku bahkan hanya sekedar untuk menghubungiku! Aissh, apa kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sehingga mengabaikanku sebagai kekasihmu?”Gadis itu merengut setelah mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya.

Ia menunduk, menatap pinggiran dari cangkir kopi yang di depannya. Masih menantikan jawaban dari sang kekasih yang terus bungkam, tak mau bicara.

Lee Joon mengangkat kepalanya, menarik nafas dalam dan meyakinkan hatinya kalau sudah saatnya untuk bicara.

“Hara~ya, kurasa hubungan kita tak bisa dipertahankan lagi..mungkin diantara kita berdua memang tidak ada kecocokan satu sama lain!” Lelaki itu mengungkapkan sesuatu yang semenjak tadi mendesak untuk keluar.

Kening HaRa berkerut, tak begitu paham namun ada sebuah jarum yang sedang merayap di hatinya. Menusuk-nusuk secara perlahan.

“Maksudmu oppa?” Berusaha serileks mungkin namun malah terdengar aneh karna suaranya yang bergetar menahan tangis.

Lelaki itu manatap mata HaRa yang mulai berkaca-kaca, ia tak dapat mengelak bahwa kekasihnya itu senantiasa selalu membuatnya bahagia.

Hara adalah salah satu alasannya untuk bertahan hidup, gadis itu selayaknya oksigen baginya bernafas.

Gadis yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama dua tahun.

Tak begitu banyak kata yang dapat mendeskripsikan perasaannya terhadap HaRa, selain rasa cinta berlebih yang sulit terdefinisikan.

Lee Joon kembali berpikir keras, batinnya meletuskan pertempuran hebat.

Menguatkan jantungnya yang mulai berpacu kuat agar nanti tidak langsung berhenti berdetak ketika melihat gadisnya mengeluarkan air mata.

Baginya air mata itu terlalu berharga bila menetes jatuh hanya karna lelaki macam dia.

“Aku mau kita putus!!”ucapnya lantang tanpa ekspresi. Lebih tepatnya menahan segala ekspresi yang akan dikeluarkannnya.

Bagai sebuah bom atom yang meledak, kalimat yang paling dibenci oleh Hara pada akhirnya meluncur dengan lancar dari bibir kekasihnya.

Hatinya mencelos mendengarnya, dan kini semua berjalan tanpa kendalinya. Paru-parunya merasakan sesak yang amat sangat, menginginkan udara berlebih karna suasana ini terasa pengap baginya.

Bukan jarum lagi yang menusuk-nusuk hatinya namun pisau tajam yang dengan sadis menghujam jantungnya, ia merasakan keperihan hati yang secara perlahan menjalari seluruh bagian tubuhnya.

Matanya pun kian memanas, menahan air mata yang sudah berontak keluar dan bersiap untuk membanjiri kedua belah pipinya.

Menunduk dan diam, hanya sebatas itu yang bisa ia lakukan, karna kalau sampai gerak matanya menangkap tatapan mata itu sudah dapat dipastikan bahwa hatinya takkan pernah rela hubungan mereka berakhir.

Lee Joon merasakan ketidaktenangan dalam hatinya, melihat gadis itu hanya bisa diam dan tak membalas ucapannya. Ia mulai merasakan detak jantungnya berlari dari tempat semestinya.

“Itukah alasan oppa menemuiku? Hanya untuk itu? Tidak bisakah kau menyampaikannya lewat sms saja, setidaknya kau tidak melihat betapa terpuruknya aku saat ini! Saat kau mengajakku bertemu hari ini, aku girang bukan main, tapi ketika bertemu kau dengan mudahnya menghancurkan kebahagiaanku dengan kalimat sialan itu. Tidakkah oppa berpikir betapa jahatnya dirimu?”kini aliran air mata itu meluap bersamaan dengan emosinya, kehilangan kendali menahan semua perih hatinya saat ini.

Bahunya bergetar hebat, bisa dirasakan kalau gadis ini sedang terperosok ke jurang yang dalam dan penuh dengan duri.

Dua tahun?? Tidak cukupkah waktu selama itu membuat Lee Joon sadar akan rasa cinta Hara yang sudah menggunung tinggi untuknya?

“Aku menyadari kalau semakin lama kadar cintaku sudah berkurang untukmu. Kau…tidak mendapat tempat lagi dihatiku, bahkan hanya sekedar di pikiranku. Rasa cintaku terhadapmu sudah semakin menipis sekarang, dan kalau aku terus melanjutkan hubungan ini aku hanya akan semakin tersiksa Hara~ya”

“Aku juga tidak suka caramu yang seolah bergantung padaku, kau terlalu kekanak-kanakan. Sifatmu, tabiatmu dan semua kebiasaanmu membuatku jengah bila terus berdampingan denganmu dan menjalani hari-hari denganmu.”

“Kau bersikap seakan begitu memahami apa yang kurasakan, namun pada kenyataannya jauh dari kata memahami. Kau tidak pernah benar-benar dapat memahamiku, karna kau selalu bertindak semaumu tanpa perduli dengan orang lain. Sebelumnya aku memang mencintaimu, namun sekarang semuanya sudah pudar dan tak bersisa. Mianhae Hara~ya, kurasa hubungan kita hanya sampai disini”nada suaranya memelan diakhir kalimat, mencoba sekuat mungkin menahan air matanya yang bisa jatuh karna telah membuat gadis yang amat dicintainya terluka.

Hatinya juga merana melakukan itu semua, namun ini semua demi kebahagiaan gadisnya yang akan lebih berharga jika tanpanya.

Hara bersikap seolah-olah tak ingin mendengar apa yang diucapkan lelaki yang dihadapannya. Hatinya sudah teriris ketika sang kekasih meminta hubungan mereka berakhir secara tiba-tiba, tak ingin lagi semua ucapan yang keluar barusan akan menambah luka dalam yang akan membekas selamanya.

“Jadi beginikah perasaanmu terhadapku selama ini? Dan ini jugakah yang menyebabkanmu menghindari kontak dariku, lalu kau juga merasa terbebani dengan caraku yang menggantungkan hidupku padamu? Iya? Aku mengerti, dan tak ada upaya lagi yang bisa ku lakukan untuk menahanmu, baik hanya sampai disini. Dan pergilah dari kehidupanku, sebelum aku berusaha mencegah kepergianmu!”

Tanpa pikir panjang, Lee Joon langsung beranjak dari duduknya. Melangkah pergi dan menjauh dari kehidupan sang gadis untuk selamanya.

Memang berat, namun harus tetap ia lakukan karna tak ingin menghancurkan hidup gadis yang dicintainya.

“Semua yang ku lakukan ini karna aku begitu mencintaimu Hara~ya…Mianhae!!”lirihnya ketika berjalan pergi menuju mobil Marcedes Benz-nya yang tengah terparkir manis di depan gerai Coffe Purple tersebut.

Sepeninggal lelaki itu, Hara tak sedikit pun bergeming dari posisinya sebab tak kuasa menahan perasaan hatinya.

Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan, mengucur deras di atas pipinya. Dengan sisa-sisa tenaganya ia mencoba bangkit, berdiri lalu berjalan keluar dari café itu.

Ia tertatih-tatih menyeret kakinya yang entah akan melangkah kemana, tanpa tujuan. Jalanan yang ia tapaki itu tiba-tiba basah oleh guyuran hujan yang tumpah ruah dari langit yang menghitam di atas sana.

Hara mendongakkan kepalanya, terdiam dan hanya bisa memandangi titik-titik air hujan yang memaku bumi.

Tak peduli dengan air hujan yang menghantam tubuhnya, dengan langkah gontai ia terus menerobos deraian hujan yang semakin deras.

Pandangannya kosong, dan terus-menerus menyusuri jalanan itu tanpa menghiraukan orang di sekitarnya memandang iba.

Namun ia mensyukuri hujan yang datang tiba-tiba, karna dengan begitu air mata yang mengungkapkan kepedihan itu bisa tersembunyi dibalik air hujan.

Merasa tak sanggup lagi untuk melangkah, ia terduduk di bangku taman yang kosong itu. Membiarkan tangisnya pecah disana, sekujur tubuhnya bergetar karna tangisan juga karna dinginnya air hujan yang membuat tubuhnya menggigil.

Seluruh angan-angan yang telah ia rancang sedemikian rupa bersama sang kekasih, memudar bersamaan dengan deraian hujan.

Ia menggigit bibir bawahnya yang tengah bergetar dan terus meratap disana.

 

***

~At The Park~

Jong Woon, lelaki yang kebetulan melintasi kawasan pinggir taman itu, melihat seorang gadis yang sedang duduk di kursi taman sambil menyilangkan tangannya di atas kakinya, yang sengaja ditekukkan ke dadanya.

Dan gadis tersebut sengaja membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Jong Woon turun dari Renault Samsung SM5-nya, lalu menghampiri sang gadis tersebut tanpa memperdulikan tubuhnya yang kuyup karna air hujan.

“Agasshi? Neo gwaenchana?”tegur Jong Woon.

“. . .” Gadis itu seperti kaget mendengar ada yang bicara padanya. Namun kebekuan di bibirnya membuatnya tak bisa bicara.

Ia menegakkan kepalanya dan menatapi manik mata lelaki yang ada di hadapannya dengan pandangan yang menyiratkan sebuah luka.

“Yakk! Gwaenchana? Ku mohon, bicaralah nona”Jong Woon memegangi bahu gadis itu dan mengguncangnya dengan pelan.

“Na. . .”lirihnya lemah ingin mengucapkan sesuatu, namun terhenti ketika pandangannya semakin mengabur sampai pada akhirnya tubuh itu terkulai lemas dan tak sadarkan diri di pelukan Jong Woon yang tampak kaget.

Berkali-kali ia mengguncang tubuh gadis itu tapi hasilnya nihil. Tak tahu harus berbuat apa, akhirnya ia memutuskan membawa gadis itu masuk dalam mobilnya dan pulang bersama kerumahnya yang tidak jauh dari taman tersebut.

***

~At Jong Woon’s Home~

 

Lelaki itu berulang kali memencet intercom rumahnya dengan susah payah karna masih diberatkan oleh beban tubuh gadis yang ditolongnya tadi.

Begitu pintu rumahnya terbuka sempurna, ia langsung masuk tanpa menghiraukan pertanyaan yang terus dihujani oleh gadis yang berada di rumahnya itu, yang tak lain adalah adiknya, Kim Ji Eun.

“Oppa, siapa gadis ini? Apa yang kau lakukan padanya hah?”gadis yang bernama Ji Eun itu kaget setengah mati ketika oppanya pulang dengan seorang wanita yang dalam keadaan tak sadarkan diri, sebab sebelumnya belum pernah Jong Woon berhubungan dekat dengan lawan jenis semenjak kisah cintanya yang berakhir memilukan.

“Jangan banyak tanya, cepat ganti bajunya sekarang! Aku tak mau gadis itu mati kedinginan hanya karna kau yang cerewet dan banyak tanya”perintah Jong Woon kepada adiknya ketus.

“Arasseo! Tapi aku akan menghabisimu kalau kau-lah yang menyebabkan dia menjadi seperti ini”ancam Ji Eun tak kalah ketusnya.

Setelah Ji Eun menyelesaikan perintah oppanya, ia langsung menghampiri Jong Woon dengan tatapan seolah meminta penjelasan namun lebih mengarah ke menghakimi oppa~nya sendiri.

“Jawab dengan jujur, siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang oppa lakukan padanya?”tanyanya penuh penasaran dan mengambil posisi duduk di sebelah oppanya yang sedang serius membuat sketsa gambar.

“Kau bertanya seolah aku ini lelaki kurang ajar yang sering mempermainkan wanita saja. Dongsaeng~ku tersayang, kau tenang saja dia begitu bukan karna oppamu yang tampan ini. Aku menemukannya di taman dan tiba-tiba di pingsan, aku tidak mungkin tega membiarkannya disana, jadi aku membawanya kesini. Bagaimana? Kau sudah puas mendengar penjelasan oppa?”ucapnya sembari mendelik kesal ke arah Ji Eun yang tampak menciut karna tatapan itu. Lalu ia mengalihkan pandangannya lagi ke sketsa yang belum sempat terselesaikan olehnya.

Ji Eun menyegir dan memperlihatkan deretan giginya yang putih.

“Mianhae oppa, aku kan hanya khawatir jika kau benar-benar melakukan sesuatu pada gadis itu”berucap dengan nada menyesal yang sudah menuduh oppanya tanpa alasan yang jelas.

“Berhentilah berpikiran buruk pada oppa-mu sendiri babo!”ujar lelaki itu sembari menjentikkan jari ke jidat adiknya lalu beranjak pergi, bertujuan ingin memeriksa kondisi gadis yang ditolongnya.

Jong Woon duduk di sisi tempat tidur itu, tangannya tergerak untuk memegang dahi gadis itu yang sekarang sedang terserang demam tinggi.

Ia memandangi gadis itu dengan perasaan iba yang mendalam.

Ia telusuri dan pelajari lekuk wajah gadis yang masih belum sadarkan diri itu. Wajahnya pasi tanpa ekspresi, walaupun seperti itu sang gadis masih terlihat cantik dimatanya.

Eh?? Ia dengan terburu menghilangkan pikirannya, jantungnya yang semula normal sekarang berdetak semaunya, tak terkendali.

Dengan susah payah ia menormalkan kembali perasaannya lalu meninggalkan gadis itu sendiri di sana.

***

 

Matahari telah menukik di singgasananya dan memberikan kehangatan bagi semua insan di bumi.

Hara yang sedang terbaring di tempat tidur itu mulai sadarkan diri, mengerjapkan matanya berulang kali mencoba menyesuaikan pandangannya dengan sinar matahari.

Kepalanya yang masih terasa berat menyebabkan matanya belum bisa terbuka sempurna.

Saat sadar ia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan tempatnya berada, yang terasa asing baginya.

“Kau berada di rumahku!”ujar Jong Woon di pinggir pintu sembari melemparkan senyuman terindahnya.

Hara menyipitkan matanya, berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Benar, semuanya masih terekam jelas di memori otaknya, ketika kekasihnya meminta putus, saat ia melangkah di tengah hujan dan ada seorang lelaki yang menghampirinya. Jadi. . .

“Kaukah orang yang menolongku dan membawaku ke rumahmu…”

“Gansahamnida” HaRa tersenyum simpul dan sedikit menundukkan kepalanya ke arah Jong Woon.

“Tidak perlu sungkan, bukankah suatu kewajibanku menolong orang yang sedang kesusahan?” Gadis itu kembali tersenyum, namun senyuman itu seketika sirna saat ia menyadari bahwa kaos yang melekat ditubuhnya bukanlah miliknya. Ia membelalakkan matanya dan menatap tajam ke arah lelaki yang masih berdiri kikuk di daun pintu kamar.

“Eng. . .si..siapa yang mengganti bajuku? Bukan kau kan orangnya?”selidik HaRa dengan khawatir.

“Oh, itu adikku! Adikku yang mengganti bajumu, dan kebetulan ia sedang tidak ada di rumah sekarang”jelas Jong Woon salah tingkah sembari mengusap tengkuknya.

“Begitu rupanya, mianhae aku telah berprasangka buruk padamu”

“Gwaenchana agassi. Oh ya, aku sudah mempersiapkan bubur abalone untukmu, keluarlah dan kita sarapan bersama” Ia berucap sambil berusaha mengendalikan system kerja syarafnya yang serasa tidak berfungsi ketika berhadapan sekaligus bertatapan dengan gadis itu.

Jong Woon tak kuasa membendung tatapan mata sesorang yang ditolongnya setelah sadar dari pingsannya. Pandangan yang memabukkan.

Tatapan yang mampu menggetarkan hatinya. Cinta pada pandangan pertama mulai merasuki dirinya yang semula tidak percaya dengan ‘First Sight’.

Sial! Kenapa ini bisa terjadi? Mengapa matanya begitu menggetarkan hatiku?

Jong Woon menarik nafas dalam. Kemudian menenangkan dirinya untuk segera pergi menuju ruang makan.

Hara mengamati setiap sudut dari ruangan, rumah minimalis bergaya modern namun terkesan alami dan kontemporer.

Dengan interior batu alam dan juga kayu menambah alami dan juga membuat suasana lebih klasik ketika berada di dalam rumah ini.

Gadis itu memposisikan dirinya di kursi meja makan yang juga terbuat dari kayu, kini ia duduk berhadapan dengan Jong Woon yang masih menahan perasaan membuncah dalam hatinya.

“Design interior rumahmu sangat bagus. Kau kah yang merancangnya?”tanya Hara yang masih terpukau akan karya seni menakjubkan di depannya.

“Bagaimana kau bisa tahu?”balas laki-laki itu heran. Hara menunjuk ke arah setumpuk sketsa bangunan yang terpampang di dekat meja kerja Jong Woon.

“Tebakanmu benar nona. . .”ia menggantung kata-katanya sejenak.

“Kim Hara, dan kau?”

“Jong Woon. Aku memang merancang design interior maupun eksterior rumah ini sendiri. Entah mengapa aku begitu menyukai hal-hal yang berbau klasik. Dan suasana rumah seperti inilah yang akan membuatku nyaman”jelasnya sumringah sembari mengamati setiap jengkal rumah miliknya.

“Wooo. . .kau keren sekali! Apa kau bisa membantuku untuk mendesign rumah?”tanya Hara antusias dengan mata yang berbinar.

“Tentu saja aku akan membantumu Hara~sshi!”

“Aissh, tak perlu seformal itu, panggil saja aku Hara. Otte?”gadis itu kembali menyematkan senyum manisnya, sejenak ia bisa mengesampingkan rasa sakit hatinya.

Namun Jong Woon seakan terlena oleh senyuman itu, pesona gadis itu berhasil menawan hatinya yang selama ini merindukan sosok wanita yang bisa membawanya dalam kebahagiaan.

Suasana kembali sunyi, dan masing-masing mereka sibuk dengan dunianya sendiri sampai pada akhir pertemuan mereka yang pertama.

Namun tidak menutup kemungkinan akan lahir pertemuan selanjutnya yang lebih mengesankan. Karna dalam hati Jong Woon mulai menyimpan sebait makna. . .

***

~At HaRa’s Home~

 

Hara menyandarkan tubuh ringkihnya di sofa yang berada di balkon kamarnya, menyaksikan cakrawala langit serta matahari yang tengah menyingsing di ufuk barat.

Ia membiarkan tubuhnya yang hanya dibaluti jeans pendek serta kemeja putih longgar, bersandar pasrah disana.

Rambut indahnya ia gelung asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambutnya berjuntai bebas dan terus berterbangan mengikuti arah terpaan angin.

Ia kemudian melamunkan Lee Joon yang telah menembus pintu hatinya semenjak dua tahun yang lalu.

“Bagaimana kalau kita pacaran saja??”tanya Lee Joon secara tiba-tiba. Hampir membuat Hara tersedak dengan ludahnya sendiri. Hara tak habis pikir namja yang ada di sebelahnya ini mengatakan hal yang manis seperti ini namun jauh dari cara yang romantis.

“Oppa mengungkapkan perasaan padaku? Iya?”Hara balik bertanya. Memastikan apa yang didengarnya barusan.

“Kalau kau tidak salah dengar, ya begitu!”jawab namja itu sekenanya. Membuat Hara sedikit kecewa atas jawabannya, seharusnya ia mengulang perkataannya tadi dengan cara yang lebih romantis dan juga dramatis.

“Aku tidak mau mempunyai pacar yang bodoh seperti oppa!”

“Kau…mengataiku bodoh?”

“Iya! Memangnya kenapa? Aku salah? Dari mana oppa belajar menyatakan cinta kepada seseorang dengan cara seperti itu? Setidaknya ubahlah ucapan tadi dengan kalimat yang lebih pantas, buat aku tersentuh oleh kata-katamu lalu berikan aku sebuah hadiah sebagai tanda cintamu padaku!”

“Aku bukan tipe orang yang akan bersusah payah mengetahui hal itu, hanya untuk menyatakan cinta pada seseorang.”sanggahnya tidak peduli, dan tidak tertarik sedikit pun untuk melakukan hal-hal yang dibicarakan Hara.

“Aku, Kim Hara. Menolakmu mentah-mentah pernyataan cintamu Tuan Lee yang terhormat”ucapnya penuh penekanan pada setiap kata-katanya. Menunjukkan kekesalannya yang begitu cepat menjalari bagian tubuh gadis itu, hingga kini sudah sampai di ubun-ubunnya.

“Dan dapat ku pastikan kau akan menarik semua ucapanmu itu Nona Kim” Lee Joon menyeringai licik, ia mencondongkan tubuhnya sedikit. Dalam waktu sekejap kejadian yang tidak terduga itu telah dilakukan Lee Joon.

~TO BE CONTINUE~

HAIII*Tebar bungaa(eh??)

Thanks buat Shilla Eonni yang bersedia ngepost ff ini, dan makasih banyak juga buat reader yang bersedia membaca, apalagi comment ff aku..

PS: yang tulisannya warna pink berarti flashback

Gansahamnida *deepbow*

 

 
8 Comments

Posted by on June 21, 2012 in chapter, fanfiction, freelance

 

Tags: ,

8 responses to “(Freelance) Starting To Love You

  1. shilla_park

    June 21, 2012 at 8:43 am

    hoho uri jongwoon mulai jatuh cinta…lol.. oya maaf ya baru buka email jd baru bisa publish skarang…hehe

     
    • haracheonsa

      June 22, 2012 at 4:05 pm

      Gwaenchana eon, makasih nih udah mau di publish…
      Thankyu *peluk Eonni mesra*

       
      • shilla_park

        June 22, 2012 at 6:50 pm

        sama2 sayang… *peluk siwon*😀

         
  2. yuraa

    June 21, 2012 at 11:53 am

    onnie adegan di akhr itu apa mksdnya onnie?hehe mreka ngelakuin itu mksdny?

     
    • haracheonsa

      June 22, 2012 at 4:08 pm

      Maksudnya mereka ngelakuin ‘sesuatu’ lah pokoknya! maksih yah udah mau baca+comment…

       
  3. Maula

    June 22, 2012 at 5:31 am

    TBC di waktu yg tepat..
    Tp bikin yg baca bertanya2 apa yg mereka lakukan????????????? Ini ada lanjutnya kan?????????????di tunggu

     
    • haracheonsa

      June 22, 2012 at 4:09 pm

      Ada kok lanjutannya..ditunggu aja yah..gomawo!!

       
  4. merry yohana

    June 28, 2012 at 4:39 pm

    saya sudah baca…boleh kritik sedikit?🙂 maaf jangan marah ya…kamu mengunakan kata “sial” meskipun dalam posisi sedang marah,apa tak sebaiknya diperhalus kata2nya? secara keseluruhan saya suka alur ceritanya… apakah hara akan menemukan pengganti dari lee joon?semoga jong woon namja yg beruntung itu. gak sabar nunggu part selanjutnya..salam kenal ^o^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: