RSS

(Freelance) Starting To Love You Chap 2

26 Jun

Tittle: Starting To Love You

Casts:

-Kim HaRa

-Kim Jong Woon

-Lee Joon

-Park Ji Yeon

-Kim Ji Eun

-Other Cast

Genre: Romance, Angst

Length: Chapter

Author: haracheonsa

Since when is it, You come into my heart

My heart keep thumping even for your little smile

For along time, I’ve been waiting for this fate like love

You’re like a cotton candy that melting all day in my heart

You’re like rainbow that coming dazzlingly into my heart

Will you whispered me with your sweet voice

That from the beginning your heart everyday loving me too

I love you just be my love

Why I keep laughing when I heard your playfull voice

When your two little eyes stare at me, I even trembling like this.

That my love is you

Do you now?

The day we fall in love like this

Do you believe?

The Cupid’s arrow sent from Heaven

I love you who miraculously come like a gift

Let’s be together forever,

Everyday loving me

I love you just be my love

(The Day We Fall In Love-Park Shin Hye)

“Bagaimana kalau kita pacaran saja??”tanya Lee Joon secara tiba-tiba. Hampir membuat Hara tersedak dengan ludahnya sendiri. Hara tak habis pikir namja yang ada di sebelahnya ini mengatakan hal yang manis seperti ini namun jauh dari cara yang romantis.

“Oppa mengungkapkan perasaan padaku? Iya?”Hara balik bertanya. Memastikan apa yang didengarnya barusan.

“Kalau kau tidak salah dengar, ya begitu!”jawab namja itu sekenanya. Membuat Hara sedikit kecewa atas jawabannya, seharusnya ia mengulang perkataannya tadi dengan cara yang lebih romantis dan juga dramatis.

“Aku tidak mau mempunyai pacar yang bodoh seperti oppa!”

“Kau…mengataiku bodoh?”

“Iya! Memangnya kenapa? Aku salah? Dari mana oppa belajar menyatakan cinta seseorang dengan cara seperti itu? Setidaknya ubahlah ucapan tadi dengan kalimat yang lebih pantas, buat aku tersentuh oleh kata-katamu lalu berikan aku sebuah hadiah sebagai tanda cintamu padaku!”

“Aku bukan tipe orang yang akan bersusah payah mengetahui hal itu, hanya untuk menyatakan cinta pada seseorang.”sanggahnya tidak peduli, dan tidak tertarik sedikit pun untuk melakukan hal-hal yang dibicarakan Hara.

“Aku, Kim Hara. Menolakmu mentah-mentah pernyataan cintamu Tuan Lee yang terhormat”ucapnya penuh penekanan pada setiap kata-katanya. Menunjukkan kekesalannya yang begitu cepat menjalari bagian tubuh gadis itu, hingga kini sudah sampai di ubun-ubunnya.

“Dan dapat ku pastikan kau akan menarik semua ucapanmu itu Nona Kim” Lee Joon menyeringai licik, ia mencondongkan tubuhnya sedikit. Dalam waktu sekejap kejadian yang tidak terduga itu telah dilakukan Lee Joon.

Ia mendaratkan sebuah ciuman di bibir mungil Hara, yang berhasil membuat gadis itu mematung dan tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Kau sudah menciumku, itu artinya kau tidak menolak cintaku!”

“Bukan aku yang menciummu, tapi kau yang melakukannya”jerit Hara murka tepat di depan muka Lee Joon yang memasang wajah tanpa dosanya.

“Siapa yang akan peduli?” Namja itu mengendikkan bahunya, dan kembali focus pada pemandangan di depan mereka saat ini. Sebuah danau yang begitu indah dan bisa membuat siapa saja berdecak kagum dengan desain taman yang ada di sekelilingnya.

Hara ingin sekali membunuh pria di sampingnya, kalau ia tidak menyadari perbuatan itu adalah dosa. Dan lagi ia juga masih ingat, kalau ia sangat mencintai Lee Joon yang sudah diberikan tempat khusus di hatinya selama ini.

Diam-diam ia tersenyum, mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Membuat wajahnya memerah dan tanpa sadar sudah mendapat perhatian dari Lee Joon.

“Kau bisa disangka orang gila kalau tertawa seperti itu!”

Pernyataan cinta yang tidak biasa. Namun cukup membuat Hara mengerti besarnya rasa cinta yang ditanamkan oleh Lee Joon dulu. Hara membiarkan hatinya yang semula kosong tanpa sehelai cinta, diisi dengan ketulusan rasa yang diletakkan oleh lelaki itu di dasar hatinya.

Walaupun sudah lebih dari seminggu setelah berakhirnya hubungan mereka, namun masih jelas kenangan diantara mereka berdua bermain dipelupuk matanya.

Hara telah berusaha menepis bayangan Lee Joon yang hadir di setiap gerak matanya. Di setiap ia pandangi hanya Lee Joon yang tampak tersenyum.

Meskipun senyuman itu terkesan hampa tak indah seperti dulu.

Gadis itu menghela nafas pelan, sebab pada kenyataannya ia masih mengingat seseorang yang telah mencampakkannya.

Menghancurkan hatinya berkeping-keping, namun masih bisa ia cintai dengan kepingan sisanya.

“Yakk! Kim Hara~sshi, mau sampai kapan kau mengurung diri di kamar terus hah? Kau mau mati secara mengenaskan disini? Dirimu telihat begitu menyedihkan”gadis bernama Ji Yeon itu langsung menyembur ocehan begitu ia masuk kamar Hara yang sebenarnya terkunci.

“Ji Yeon~ah! Bagaimana kau bisa masuk kamarku, tanpa izin dariku lagi?”Hara terkaget melihat makhluk asing yang tiba-tiba saja masuk ke kamarnya ditambah lagi mengocehinya.

“Eommamu memberikan ini padaku!”Ji Yeon tersenyum setan sembari menunjukkan master key yang ada ditangannya.

“Sudah ku duga, pasti eomma juga yang menyuruhmu kesini kan?”

“Benar, eomma yang menyuruhku kesini…karna ia begitu khawatir melihat keadaanmu belakangan ini. Kau jarang makan, dan terus mengurung diri ke kamar, dan mengapa juga kau tidak mengaktifkan handphonemu?”

“Aku jadi susah menghubungimu tau, katanya kita sahabat tapi mengapa kau selalu menyembunyikan perasaanmu padaku?”

“Aku hanya sedang tidak ingin diganggu, aku sedang menata hatiku kembali setelah dicampakkan olehnya!”Hara memalingkan wajahnya ke arah lain, bukan tidak mau melihat Ji Yeon-sahabatnya-hanya saja ia tidak mau lawan bicaranya itu melihat raut sedih di wajahnya.

“Ayolah Hara, ini bukan cara yang baik untuk menghibur hatimu yang sedang patah hati. Lihat orang lain di luar sana, mereka melupakan masalahnya dengan pergi jalan-jalan bukannya mengurung diri ke kamar!”kesal Ji Yeon yang melihat Hara masih saja belum melupakan rasa sakitnya.

“Aissh, kau ini cerewet sekali…kalau kau datang kesini hanya untuk memarahiku. Lebih baik tak usah datang kemari!”

“Yakk! Aku jauh-jauh datang kemari untuk menghiburmu, tapi kau tidak menghargainya sama sekali. Dasar, gadis jahat!!”umpat Ji Yeon sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

“Aku kan tidak pernah menyuruhmu datang kemari, apalagi untuk menghibur.”Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Hara, membuat Ji Yeon jadi tambah gemas ingin menghabisi sahabatnya itu sekarang juga.

“Ikutlah denganku!”Ji Yeon menarik paksa lengan Hara, yang pastinya sudah berontak ingin dilepaskan.

“Kita mau kemana hah?”

“Bersenang-senang, siapa tau kau bisa bertemu dengan laki-laki yang lebih baik dari mantanmu itu!”gadis itu langsung dengan senang hati mengobrak-abrik isi lemari Hara, dan memilih pakaian yang dikira cocok untuk gadis itu pergi.

Sementara sang empunya, hanya melongo heran sambil memunguti baju yang berserakan di lantai karna Ji Yeon melemparnya dengan asal.

***

~At Coffe Purple~

 

Dua gadis itu kini berada di sebuah kedai coffe yang memang dijadikan tempat favorite mereka untuk menghabiskan waktu bersama.

Untuk sekedar melepas lelah, dan tentunya bisa menikmati hidangan berserta coffe disini yang dikenal begitu enak dan dijamin akan ketagihan untuk menikmatinya.

Mereka mengambil posisi di tempat biasa, yang sudah menjadi hak paten bagi Hara dan Ji Yeon semenjak keduanya masih duduk di bangku kuliah.

“Kau mau pesan apa? Kali ini aku yang bayar, tapi lain kali kau yah yang mentraktirku!”Ucap Ji Yeon yang masih tampak menunggu balasan dari HaRa, yang masih terlihat berpikir.

“Cih! Dasar, kau pasti tidak mau rugi, aku sudah paham siapa dirimu Ji Yeon~ah!”Cibir Hara sembari memperlihatkan tatapan mengejeknya.

“Aissh, sudahlah! Sebenarnya kau mau tidak aku traktir, kalau tidak ya sudah”

“Baiklah. Aku pesan Coffe Americano saja”Ucap Hara akhirnya, sementara Ji Yeon langsung meluncur ke tempat pemesanan.

Di kejauhan terlihat Jong Woon yang baru saja memasuki café itu, detik berikutnya ia mengedarkan pandangannya.

Sedikit terpana saat gerak matanya menangkap sosok gadis yang sudah seminggu lamanya tak ia jumpai setelah pertemuan pertama mereka.

Seorang gadis yang sudah berhasil merasuki hatinya tanpa izin. Seorang gadis yang bahkan baru dikenalnya namun mampu membuat ia merasakan lagi bagaimana indahnya jatuh cinta.

Tanpa dapat ia sadari kakinya sudah dengan lancang mendekat ke arah gadis yang terlihat sedang melamunkan sesuatu itu.

Dengan segala kenekatannya, ia membuka suara untuk menyapa gadis itu. Kali ini ia tak ingin melewatkan begitu saja kesempatan untuk lebih mengenal gadis itu.

“Annyeong Kim Hara~ya!” Jong Woon tersenyum kaku ketika sang gadis menolehkan kepalanya.

Gadis itu tampak masih mengingat siapa seseorang yang ada di hadapannya kini.

Ia langsung menepuk jidatnya ketika otaknya memutar kejadian seminggu yang lalu untuk mengingat orang yang ada di depannya.

“Annyeong. Duduklah, ini kedua kalinya kita bertemu kan? Terima kasih untuk waktu itu!” Hara kini merubah senyuman pahitnya menjadi sebuah keceriaan.

Yang mau tak mau membuat Jong Woon ikut hanyut dalam tawa gadis itu yang terasa memabukkan baginya.

Sebab tawa itu layaknya sebuah magnet yang bisa menyeretnya ke dalam dunia sang pemilik. Dan itu berarti bahwa ia tidak lagi bisa melawan hatinya untuk tidak mencintai gadis itu.

Karna pada nyatanya gadis itu terlanjur menjajah hatinya, dan untuk pertama kalinya ia sangat amat menginginkan seseorang untuk hadir di dalam kehidupannya.

“Kenapa hanya diam? Kau menyapaku untuk mengajak ngobrol kan?” Tanya Hara mencoba ingin menyadarkan lelaki di hadapannya yang hanya tersenyum dan terus menatapnya.

“Maaf, aku kurang berkonsentrasi tadi”Jawab Jong Woon dengan salah tingkah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Membuat sang gadis terkekeh pelan melihat tingkahnya yang sedikit aneh dan lucu di matanya. Dan namja itu hanya menyaksikan kekehan Hara dengan seksama, tak ingin baginya melewatkan sedetik saja momen yang paling membahagiakan ini.

“Oh oke, maaf…aku memang suka tidak bisa mengontrol tawaku. Hanya saja tingkahmu itu mirip dengan seorang yang ku kenal” Memori bersama mantan pacarnya itu kembali menderanya, lelaki yang hingga kini masih ia cintai dengan segenap hati.

Walaupun lelaki itu juga yang sudah membuatnya merasakan bagaimana rasanya patah hati berkepanjangan.

“Kalau aku boleh tahu siapa? Apa itu seseorang yang penting dalam hidupmu?” Ada sedikit perasaan ingin tahu dari Jong Woon, bukan bermaksud ingin mencampuri urusan pribadi Hara, hanya saja ia tak bisa menahan lisannya untuk mengungkapkan pertanyaan yang sebenarnya tidak pantas untuk diajukan kepada seorang yang baru kita kenal.

“Chogi…tapi ini tempat duduk kami Tuan! Kau belum mendapatkan izin dariku untuk duduk disini” Belum sempat bagi Hara menjawab pertanyaan Jong Woon tadi Ji Yeon sudah datang dengan nampan yang berisi penuh makanan.

“Tapi ia sudah mendapatkan izin dariku Ji Yeon~ah!”

“Kau mengenalnya? Siapa dia?” Selidik Ji Yeon yang masih menatap Jong Woon dengan sebal karna mengambil posisi duduknya.

“Ehm, ini Jong Woon. Dia lah yang menolongku saat aku tiba-tiba pingsan di taman” Jelas Hara, yang langsung dibalas kehebohan oleh Ji Yeon, gadis itu merubah tatapan sebalnya menjadi tatapan yang mengekspresikan kebahagiaan.

Ia duduk di kursi yang lain, menopang wajah dengan kedua lengannya dan menatap pria di hadapannya dengan pandangan berbinar-binar.

“Jadi kau kah laki-laki berhati malaikat itu! Ternyata kau memang sangat tampan, lebih tampan dari apa yang ku bayangkan setelah mendengarkan penjelasan Hara” Ujar Ji Yeon berlebihan masih memandangi Jong Woon, sementara yang di tatap sedikit terlihat risih dengan perilaku Ji Yeon.

“Aissh, kau tidak perlu belebihan seperti ini Ji Yeon~ah. Kau membuatnya takut melihat tingkah menjijikkanmu itu!” Tukas Hara sembari memberikan bahasa isyarat ke Jong Woon untuk memaklumi tingkah makhluk yang bersama mereka ini.

”Apa kau bilang? Menjijikkan? Yang benar saja, memangnya kau meragukan ketampanannya?”

“Engg…ya tidak! Tapi kau terlalu berlebihan mengekspresikannya”

Ji Yeon mendenguskan nafasnya, dengan cepat ia menyeruput Coffe Latte-kesukaannya-dan membiarkan Hara dan Jong Woon mencoba membangun suasana kembali untuk mengenal satu sama lain.

Keduanya asyik bercakap-cakap sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan. Mereka terlihat sangat menikmati saat-saat itu.

Seperti air yang mengalir, interaksi di antara keduanya berjalan apa adanya.

“Jadi kau mahasiswa lulusan Seni?” Tanya Jong Woon di sela-sela pembicaraan mereka.

“Ne. Dan aku sangat berkeinginan menjadi seorang penyanyi” Jawab Hara dengan sumringah, tanpa sadar kalau sedari tadi ia tengah mengabaikan Ji Yeon yang tampak gelisah berada di antara mereka berdua.

“Suatu saat kau pasti bisa bernyanyi di atas panggung sebagai penyanyi hebat” Kata Jong Woon lagi.

“Aku harap juga begitu”

“Tapi sepertinya jam makan siangku sudah habis, aku harus kembali ke kantorku sekarang!” dengan berat hati Jong Woon mengatakan itu, ia sungguh tak ingin pertemuan mengesankan ini berakhir begitu saja.

“Aku boleh meminta nomor handphone-mu?” Jong Woon mengeluarkan Iphone dari sakunya, yang langsung disambar oleh tangan Hara.

“Itu nomorku”

“Dengan begini kita tidak akan kehilangan kontak lagi kan?” Jong Woon bertanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Yang hanya dibalas anggukan semangat dari sang gadis.

“Kalau begitu aku pergi dulu” Hara menatap punggung Jong Woon yang semakin lama semakin menghilang dari jarak pandangnya.

“Bagus Kim Hara. Aku yang bermaksud mengajakmu kesini untuk mengibur dirimu, tapi kau lebih tertarik mencari hiburan lain. Dan aku hanya menjadi obat nyamuk diantara kalian, begitu?” Ji Yeon mendengus kesal menatap sahabatnya yang hanya menatapnya seakan tak terjadi apa-apa.

“Aissh, ternyata sahabatku ini sedang marah. Kan kau sendiri yang bilang kalau tujuanmu mengajak ku kemari untuk mencari pengganti mantan pacarku, kau lupa?”

“Jadi kau menyukainya?”

“Mwo? Kapan aku bilang begitu, untuk saat ini aku memang merasa nyaman di dekatnya, tapi itu hanya sebatas teman” ucap Hara dengan penuh penekanan pada kata ‘teman’.

Bibir Ji Yeon membulat mendengar penuturan Hara, tapi setidaknya ada secercah harapan kalau untuk saat ini Hara-sahabatnya-tak akan lagi larut dalam kesedihan, karna putusnya hubungan Hara dengan mantan pacar yang sangat dicintainya itu.

***

~One Year Later~

 

“Oppaaa…aku akan rekaman!!”teriak seorang gadis di seberang telpon yang bisa langsung memekakkan telinga sang penerima telpon. Jong Woon langsung menjauhkan handphonenya dari jangkauan telinganya, alih-alih takut kalau gendang telinganya rusak karna teriakan gadis itu.

“Yakkk! Kau, Kim Hara. Mau membuatku tuli hah? Tidak bisakah kau kecilkan volume suaramu itu?” kesal Jong Woon yang ikut berteriak, bemaksud membalas perlakuan Hara.

“. . . .”

“Oh ya, kau bilang apa tadi? Kau akan rekaman? Jinjjayo?”

“. . . .”

“Ara, kau tunggu disana ya. Aku akan menjemputmu sekarang juga!”

“. . . .”

“Aku ingin merayakan keberhasilanmu pabo!”

“. . . .”

“Ne. Annyeong!” teleponnya terputus.

Senyum namja itu langsung merekah ketika mendapati kabar bahwa Hara lolos audisi di SME, sebuah perusahaan agency artis ternama yang banyak melahirkan penyanyi-penyanyi terkenal.

Yang berarti kini impian gadis itu untuk menjadi penyanyi hebat sudah ada di depan mata.

Gadis itu sudah setahun lama menempati hatinya, membuat ia tidak bisa memikirkan gadis manapun selain ia.

Kini ia begitu amat mendambakan setangkai mawar yang akan ia sirami dengan cinta setiap harinya dan dapat ia nikmati keindahan dan keanggunannya. Dan mawar itu adalah Hara!

Jong Woon mengagumi Hara dengan segala apa yang di diri gadis itu. Tidak peduli baik ataupun buruk, karna memang tak ada yang sempurna di dunia ini.

Dan setelah sekian lama ini masih belum ada sinyal dari Hara untuk dapat menerima cintanya, tampak sekali bahwa gadis itu masih belum bisa lepas dari bayang-bayang sang mantan.

Hara masih belum menyadari ketulusan cinta yang diberikan Jong Woon, yang tersimpan rapi di lembaran hatinya, membentuk alenia cinta yang bekumpul dan bergunung-gunung.

Ia tersenyum sendiri, bahwa penantiannya selama ini masih belum membuahkan hasil dan sekarang ia masih belum bisa menembus hati Hara.

Entah gadis itu tidak peka atau memang pura-pura tidak tahu, yang jelas Hara masih terus menganggapnya sebatas sahabat dan kakak.

Namun itu tak menjadi masalah besar baginya, berada di dekatnya dan bisa menjadi orang yang yang bisa membuatnya nyaman, sudah lebih dari kata cukup.

Tapi tak ia pungkiri juga bahwa untuk mencukupi kebahagiaannya adalah dengan menjadi orang yang paling berarti untuk Hara.

Mewujudkan cita-citanya bersama gadis itu untuk membangun istana cinta paling istimewa di muka bumi.

***

~At Seoul Land Park~

 

Gadis itu tampak sangat menikmati tawaran jalan-jalan yang diberikan Jong Woon. Bagaimana tidak? Seoul Land Park merupakan tempat favorite Hara untuk menghilangkan stress.

Dulu, taman ini juga sering dijadikannya tempat untuk menghabiskan waktu berdua bersama Lee Joon. Berjalan beriringan, bercengkrama bahkan terkadang dibumbui oleh pertengkaran kecil meraka.

Pikirannya kembali melayang saat dimana ia masih bisa tertawa lepas bersama mantan kekasihnya. Namja yang kini masih tak bisa dilupakannya. Ia sudah melakukan berbagai cara untuk membebaskan pikirannya dari orang itu. Namun hasilnya nihil.

Pada akhirnya ia hanya bisa merutuki dirinya sendiri, yang masih belum bisa menetralisir perasaannya dari namja itu. Ia masih enggan membuka hatinya untuk diisi orang lain. Hara masih belum siap untuk jatuh cinta lagi, setelah ia disakiti.

“Haahh, benar-benar nikmat! Minum kopi sambil melihat hamparan bunga. Gomawo oppa”ucap Hara manja dengan wajahnya yang sedari tadi memetakan senyum.

“Mana bayaran untukku?”Jong Woon menengadahkan telapak tangannya bermaksud menjahili gadis itu lagi.

“Memangnya berapa yang harus aku bayar padamu?”

“Kau takkan mampu membayarnya Nona Kim. Service yang ku berikan ini adalah service yang tak akan kau dapatkan dari siapa pun.”

“Baiklah, kalau begitu aku akan membayarnya setelah aku terkenal nanti”

“Seberapa lama lagi aku harus menunggu hah? Kau kira dengan waktu yang singkat kau langsung bisa menjadi penyanyi terkenal?

“Aku akan berusaha keras untuk itu. Kau tidak perlu khawatir untuk itu Tuan Kim yang terhormat”Hara berucap dengan penuh keyakinan dan kemantapan.

“Tapi aku tidak bisa menunggu untuk itu. Bagaimana kalau upahnya kau menikah denganku saja?”ucapnya dengan sebuah kerlingan mata, membuat Hara kaget dan matanya sukses membulat sempurna. Detik berikutnya ia tertawa dengan keras karna ucapan yang meluncur begitu saja dari mulut lelaki yang ada dihadapannya ini.

“Oppa, kalau kau selalu minta upah menikah dengan orang yang punya hutang denganmu. Aku takkan akan bisa membayangkan berapa banyak istri yang kau punya sekarang?”tawa gadis itu semakin meledak melihat ekspresi bodoh Jong Woon sekarang.

“Aissh, sudahlah kau tidak perlu mentertawakanku seperti itu. Aku hanya bercanda tadi”Jong Woon bergegas pergi meninggalkan Hara, menyesali kenapa lisannya itu sama sekali tidak bisa di jaga. Dengan seenaknya mengeluarkan kata itu, dan yang di dapatkannya malah ledekan gadis itu.

“Jong Woon oppa itu menyukaimu kurasa”ucap Ji Yeon enteng di tengah keseriusan Hara yang sedang bermain gitar akustiknya.

“Jangan bicara sembarangan Ji Yeon~ah! Bagaimana kau bisa tahu coba?”

“Ayolah Hara. Tidak bisakah kau melihat sorot matanya itu ketika melihatmu? Itu sudah sangat menunjukkan kalau ia sangat mencintaimu”

“Hara!”

“Mmm”

“Hanya karna pernah terluka, tak berarti kau harus takut mencinta. Jangan biarkan dirimu terpaku dengan hubungan masa lalu, yang berakhir telah berakhir. Percayalah jika ada sesorang yang tepat untukmu di luar sana.”

Kalimat-kalimat saat percakapannya dengan Ji Yeon masih terekam dengan jelas di memori otaknya, membuat ia kembali berpikir kebenaran kata sahabatnya waktu itu.

Apa yang Ji Yeon katakan itu benar? Mungkinkah ia mencintaiku?

“Yak oppa! Tunggu aku!”Hara mencoba mengejar Jong Woon yang sudah berjalan agak jauh darinya. Mensejajarkan kembali langkah mereka dan dengan hati-hati ia sandarkan kepalanya ke bahu Jong Woon. Membuat sang empunya menyambut momen itu dengan ukiran senyum di bibirnya.

“Gomawo untuk semuanya oppa!”gumam Hara pelan. Namun masih bisa terdengar oleh Jong Woon yang hanya tersenyum simpul.

“Kalau oppa punya kekasih pasti tidak akan punya waktu lagi untukku!”wajahnya terlihat sedikit menunjukkan kekhawatiran. Alih-alih takut kalau ia akan merasa kesepian jika Jong Woon sudah punya seseorang yang akan mendapatkan perhatian lebih dari namja itu.

Dan jujur itu membuat Hara merasa tidak rela jika itu sampai terjadi.

“Tentu saja aku akan lebih meluangkan waktu untuk gadis itu. Dan akan memperhatikannya lebih dari aku memperhatikanmu sekarang!” Dan gadis itu adalah dirimu Hara~ya, batinnya.

Helaan nafas itu terdengar jelas, Hara merengut sebal atas jawaban dari Jong Woon.

“Kalau begitu oppa tidak usah punya kekasih saja!”tukas gadis itu seenaknya. Jong Woon tertawa ringan mendengar ucapan Hara yang tidak biasa itu.

“Kau sangat egois!”salak namja itu masih senyum-senyum tidak jelas.

“Yah, aku memang gadis egois. Dan oppa harus menuruti segala keegoisanku! Tidak peduli oppa menerimanya atau tidak, yang jelas tetaplah berada di sisiku!”

Jadi hanya itu yang harus ku turuti. Baiklah, aku akan melakukannya dengan senang hati Nona Kim.

“Kalau aku tidak mau bagaimana?”tanya Jong Woon yang memang berlawanan dengan isi hatinya.

“Oppa pasti mau dan akan menuruti kemauanku!”

“Percaya dirimu terlalu berlebihan”sergah Jong Woon meremehkan. Ia mengulum senyumnya dan terus melanjutkan langkah mereka.

***

~At HaRa’s Home~

 

Hara menyudahi permainan gitarnya, ia menghela nafas berat. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang ingin sekali ia temukan jawabannya.

Namun saat ini, ia masih tak bisa untuk memastikannya. Bahwa Jong Woon yang selama ini menjadi penghibur hatinya itu menyukainya. Seperti apa yang dikatakan Ji Yeon padanya beberapa waktu lalu.

Hatinya bimbang. Jika laki-laki itu benar mencintainya, apa yang harus ia lakukan? Menerimanya? Atau tetap menjadikannya sebagai seorang sahabat?

Beberapa hari ini masalah itu begitu memusingkan otaknya. Hara tak mengerti akan perasaan ia sesungguhnya pada Jong Woon. Walaupun ia tak memungkiri, bahwa sekarang ini ia begitu nyaman di dekatnya.

Namja itu yang selama ini menghiburnya, menjadi teman yang setia mendengarkan curahan hatinya. Dan Jong Woon juga yang terus menyemangatinya untuk mewujudkan impiannya.

Jong Woon bisa dikatakan orang yang baik. Sangat baik malah. Tak jarang ia mengorbankan urusannya demi urusan gadis itu yang notabene hanyalah seorang temannya.

Namun kebaikan yang telah diberikan Jong Woon masih belum bisa mengetuk pintu hati Hara. Gadis itu masih menutupnya rapat-rapat. Tak ada celah bagi Jong Woon untuk menyusup masuk ke dalam hati gadis itu.

Mungkin Hara masih menikmati kesendiriannya, dan ia masih belum bisa sepenuhnya lepas dari angan tentang Lee Joon. Sebenarnya ia juga tak ingin terus larut dalam kilauan masa lalu. Namun sedikit banyak namja bernama Lee Joon itu telah mempengaruhi hidupnya.

Kehadiran namja itu sudah menjadi ketergantungannya.

Dan dalam setahun ini ia tertatih untuk memulai hidup baru tanpanya. Meskipun ada Ji Yeon-sahabatnya-dan juga Jong Woon tetap saja ia merasa tersiksa. Sebab rasa cinta itu sudah melebihi rasa sakit yang Lee Joon torehkan padanya.

Jatuh cinta lagi? Tidak. Ia masih belum siap untuk merasakan patah hati lagi. Bukannya Hara merasa Jong Woon tak pantas untuk dicintai. Hanya saja hatinya kini sedang dalam masa penataan kembali.

Mungkin untuk ke depannya ia akan mencoba, namun untuk sekarang ini ia masih tak bisa.

Ia bangkit dari tepi ranjangnya, menghampiri meja yang terletak tidak jauh dari perbaringan itu.

Gadis itu membuka laci meja itu perlahan, tangannya menyentuh barang-barang di dalamnya. Sebuah foto bergambarkan ia dan Lee Joon terpampang jelas.

Begitu indah senyum yang mereka ukir, mendeskripsikan betapa bahagianya mereka ketika foto itu diambil.

Hara mengambil kotak berwarna ungu dari bawah tempat tidurnya, memasukkan beberapa foto kenangannya bersama Lee Joon.

Ia tersenyum pahit, mengingat Lee Joon yang sering kali menjadikannya objek untuk di potret dengan kamera DSLR-nya.

Kenangan itu kembali terkuak dan mengingatkannya akan masa lalu tak telupakan baginya.

Gadis itu tengah berjongkok sambil mengelus bulu halus kelinci yang ia temukan di taman tempatnya berada.

Lee Joon-kekasihnya-hanya bisa memandangi gadis itu sambil terus tersenyum dan tiba-tiba tangannya terangkat, ia arahkan kamera kesayangannya pada gadisnya.

Ia memotret gadis itu diam-diam, tanpa sepengetahuannya.

Hara yang merasa ada memotretnya, menolehkan kepalanya, menatap kesal ke arah Lee Joon. Ia hentakkan kakinya kesal saat ia sampai di depan Lee Joon. Sementara namja itu terus tersenyum menatap hasil jepretannya.

“Oppa menjadikanku objek foto secara diam-diam lagi?”tanya gadis itu sembari melipat kedua tangan di dadanya.

“Ne. Memangnya kenapa?”balas namja itu santai.

“Aku tidak suka oppa. Kemarikan kameramu!”Hara hendak menarik paksa kamera itu, namun dengan gesit Lee Joon mengelak dan pergi dari posisinya duduk tadi.

“Kau ini kenapa? Aku kan hanya ingin mengoleksi fotomu. Lagipula ini kan bukan foto yang aneh-aneh!”ucapnya dengan penekanan pada kata akhir.

“Aku tetap tidak suka oppa. Di setiap kesempatan kau selalu memotretku dalam berbagai ekspresi, pasti hasilnya jelek sekali!”omel Hara yang tetap tidak mendapat tanggapan dari kekasihnya.

“Tapi aku menyukainya, lagipula hasil jepretanku tak pernah jelek. Yang jelek itu modelnya”Ujar Lee Joon yang diikuti tawanya yang meledak ketika Hara mendelik kesal ke arahnya.

“Menyebalkan. Kapan sih oppa itu tak menyebalkan seperti ini!”gadis itu melenggang pergi, ia benar-benar kesal sekarang karna kekasihnya itu terus saja mengejeknya.

Cih! Apa itu namanya kekasih? Kenapa ia selalu mengataiku?

“Yak, Kim Hara! Tunggu aku!”Lee Joon berlari kecil mencoba menyusul gadis di depannya yang sudah lumayan jauh darinya.

Ia tarik lengan gadis itu sedikit paksa, namun dengan cepat Hara menghempaskan tangan Lee Joon kasar lalu terus berjalan.

Lee Joon menarik nafas berat, kalau sudah begini akan susah baginya untuk bicara. Gadis itu sedang marah dengan begitu ia akan susah untuk menerima maaf darinya.

“Dengarkan aku dulu!”gadis itu masih tak peduli.

Kali ini Lee Joon menyusul langkah gadis itu, berhenti tepat di hadapan Hara. Membuat Hara mau tak mau menghentikan langkahnya tiba-tiba.

Hara melemparkan pandangannya kearah lain, tak mau menatap Lee Joon. Terpaksa namja itu memegang bahu Hara agar berhadapan langsung dengannya.

Ia tangkupkan kedua tangannya di pipi gadis itu, agar mereka dapat bertatapan dan saling memandang.

“Gadisku ini, mengapa tidak pernah dewasa hah? Selalu saja marah dan memasang wajah cemberut. Kau tau tidak? Saat kau mulai mendiamkan aku, tak mengajakku bicara, aku benar-benar tersiksa. Duniaku akan terasa sepi tanpa ocehanmu. Jadi saat kau marah denganku, jangan mendiamiku seperti ini! Terus saja kau mengocehiku, aku lebih suka seperti itu daripada kau diam dan mengabaikanku”Ujar Lee Joon dengan tatapan matanya yang berubah sendu. Menatap mata Hara dalam, sama halnya yang dilakukan Hara.

“Aku tidak bermaksud apa-apa dengan foto-fotomu ini. Aku hanya ingin mengabadikan wajahmu dalam berbagai ekspresi, agar aku selalu mengingat wajah gadis yang telah membuatku jatuh cinta berkali-kali. Aku tak ingin melupakan barang seinchipun bagian dari wajahmu. Dan yang terpenting, disaat aku merindukanmu aku bisa memandangi wajahmu tanpa harus melihatmu secara langsung”Ujarnya lagi dan kali ini membuat hati Hara terenyuh mendengarnya.

“Bahkan aku menempel semua fotomu di dinding”aku Lee Joon yang disambut keterkejutan gadis itu.

“Jinjjayo?”tanya Hara memastikan.

“Ne. Aku menempelkannya di setiap dinding yang aku lihat. Agar aku dapat menyaksikannya di setiap saat kapanpun aku mau. Disaat pagi menjemput dan di kala hari mengundang malam, wajahmulah yang akan terus memenuhi otakku”Lee Joon tersenyum dan Hara ikut menyunggingkan senyumnya mendengar pengakuan kekasihnya.

“Kalau begitu oppa boleh foto aku sepuasnya!”

“Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?”kata Lee Joon, menatap gadis itu heran.

“Agar oppa selalu menatapku, dan tidak akan menatap gadis lain selain Kim Hara”tegasnya yang memicu gelak tawa dari Lee Joon.

Setetes air mata lolos dari kelopak matanya. Ia menangis. Lagi. Ketika kenangan itu kembali terputar selalu saja berhasil membuat pertahanannya runtuh.

Dengan gerakan cepat ia masukkan segala benda yang berhubungan dengan mantan kekasihnya. Namun lagi-lagi geraknya terhenti, ia menahan tangisnya dan memegangi dadanya yang terasa sesak sekarang. Sulit baginya bernafas saat ini.

Dengan tangan bergetar ia ambil benda yang membuatnya kembali menangis. Sebuah kalung. Yang dulu melingkar indah di lehernya, hadiah ulang tahunnya dari Lee Joon. Kalung emas putih dengan bandul berbentuk hati.

Ia kibaskan telapak tangannya di depan mata, berharap air mata itu akan mengering dan behenti keluar. Tapi rasanya itu percuma, cairan bening itu tetap mengalir, membasahi kedua belah pipinya tanpa ampun.

“Oppa…aku merindukanmu!”tangisnya pecah begitu saja. Merasa tak sanggup lagi menahan air mata yang sudah semenjak tadi terus berontak keluar.

~TO BE CONTINUE~

Thanks to Shilla eonni yang ngepost ff aku, dan thanks juga buat reader yang bersedia baca ff ini^^

Gansahamnida #bow

 
4 Comments

Posted by on June 26, 2012 in chapter, freelance

 

Tags: ,

4 responses to “(Freelance) Starting To Love You Chap 2

  1. shilla_park

    June 26, 2012 at 10:55 pm

    aduh maaf ya baru bisa saya post skarang..hehe
    itu yesung kesian amat..haha.. ah ayolah leejoon udah punya yg lain udah ama yeye aja..lol

     
  2. nadia_ccc

    June 27, 2012 at 9:08 am

    iya knp sih gak bs lupain lee joon
    Yesung oppa kan kasihan
    Lanjutttt

     
  3. Specialwonnie

    June 27, 2012 at 2:52 pm

    Ayoo next next next

     
  4. noonajewels

    June 29, 2012 at 5:47 am

    Yesungnya lucu yaa… Pent jadi org yg d.cintainya . .

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: