RSS

Left Alone

30 Jul

oke..akhirnya ff balas dendam ini kelar juga… hehe ff ini hadir karena saya mau balas dendam sama si kecil Henbaby menyebalkan yang membuat saya tersiksa di ff ini.

dan karena saya sukanya bikin karakter yang berbeda jauh dr karakter aslinya jd jangan kaget kalau karakter mochi disini saya bikin berbeda..lol…

warning aja ni ff panjang dan gajelas haha

Kicauan burung itu terdengar merdu di telinga gadis itu. Ia menatap lurus beberapa burung yang bertengger di pepohonan dari balik jendela kaca rumahnya. Hanya memandangnya sanggup membuat hatinya sedikit lebih ringan.

Ia mendesah pelan. Memikirkan kehidupannya kini yang rasanya jauh dari kata bahagia. Mungkin berlebihan kalau hidupnya kini dikatakan tidak bahagia sama sekali karena pada kenyataannya ia cukup bahagia. Satu-satunya sumber kebahagiannya adalah karena ia bisa hidup bersama dengan pria yang ia cintai. Sangat ia cintai hingga rasanya ia rela menghabiskan waktunya hanya bersama orang itu.

Hanya saja untuk sebagian orang kebahagiaan itu saja tak cukup. Hanya hidup bersama orang yang kita cintai tanpa tahu apakah orang itu memiliki perasaan yang sama dengan kita. Atau lebih tepatnya apakah orang itu masih memiliki perasaan yang sama terhadap kita. Itu bukanlah suatu kebahagiaan. Tapi untuk gadis bernama Shin Hyekyo itu kebahagiaan itu sudah cukup.

Dua tahun lamanya ia tinggal bersama pria yang ia cintai, Henry Lau. Membuatnya cukup paham bagaimana tabiat dan kebiasaan tunangannya itu. Well, mereka bertunangan setahun yang lalu. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan apakah status mereka akan menuju ke jenjang berikutnya, pernikahan.

Tapi Hyekyo hanya bisa tersenyum untuk itu. Baginya itu sudah cukup. Dua tahun ini Henry selalu menemaninya bahkan disaat terburuk hidupnya sekalipun. Kehilangan kedua orangtuanya dalam kecelakaan membuat Hyekyo sangat terpuruk saat itu dan beruntung Henry mengulurkan tangannya memberinya kehangatan dan mampu membuat Hyekyo perlahan melupakan kesedihannya.

Selama ini Henry cukup bisa menjadi sosok kekasih yang baik, ah tidak bahkan mungkin sangat baik. Selalu memberi perhatian pada Hyekyo. Selalu tersenyum hangat pada gadisnya dan tentu saja selalu mencintai Hyekyo.

Hanya saja sekarang Hyekyo ragu akan hal itu. Ia ragu apakah Henry Lau yang sekarang sama dengan Henry Lau yang selalu mencintainya. Ia tak berani berasumsi tapi rasanya sikap Henry belakangan ini membuatnya hanya bisa mendesah pilu.

CEKLEK

Sontak Hyekyo membalikkan badannya ketika ia mendengar pintu kamarnya terbuka. Henry berdiri diambang pintu sana. Dengan wajah lelahnya ia berjalan mendekati ranjang kemudian menghempaskan tubuhnya kasar. Hyekyo hanya bisa mendesah kecewa.

Ia pasti dari sana lagi.

Hyekyo berjalan mendekati Henry kemudian melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki pria itu. Henry hanya diam tanpa bereaksi sedikitpun. Ia meletakkan tangan kanannya diatas kepalanya. Memejamkan matanya.

Mianhae…

“Kau..mau aku buatkan sarapan baby?” Hyekyo bertanya lembut. Hari menunjukkan pukul 10 pagi. Dan ia tahu sepertinya tunangannya itu belum sarapan. Entah darimana ia baru pulang yang ia tahu ia pasti dari tempat itu. Tempat yang beberapa hari  terakhir ini kerap ia kunjungi.

Hyekyo bukan tak tahu ia hanya berpura-pura tak tahu. Bersikap seolah semuanya baik-baik saja.
“Ani. Aku ingin tidur” ucap Henry singkat. Nada bicaranya berubah tak seperti dulu yang selalu hangat.

“Hm araseo. Kau istirahatlah baby.” Ujar Hyekyo lirih. Ia memandang Henry yang memejamkan mata itu, hingga akhirnya ia memilih untuk meninggalkan kamar Henry itu. Ia tadi hanya ke kamar itu untuk membersihkan kamar tunangannya itu. Rutinitasnya di pagi hari sebenarnya. Entah Henry pulang atau tidak kerumah mereka tapi yang jelas tiap pagi Hyekyo akan rajin membersihkan kamar itu.

=Left Alone=

Hyekyo hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Mulai hari ini ada anggota baru dalam rumahnya. Orang yang sama yang beberapa hari ini membuat Henry jarang pulang kerumah melainkan mengunjungi orang itu. Orang yang sanggup membuat Hyekyo merasakan keraguan akan masa depannya dengan Henry. Dan ketika Henry meminta ijin agar orang itu bisa tinggal bersama mereka Hyekyo tak punya pilihan lain selain menyutujuinya. Binar memohon yang Henry tunjukkan saat itu membuat Hyekyo hanya bisa menganggukan kepalanya pasrah.

Tapi rasanya Hyekyo menyesali keputusannya saat itu. Kalau boleh mengulang waktu maka ia akan menolak tegas permintaan Henry. Terbukti baru sehari saja orang itu tinggal di rumah mereka, Hyekyo sudah bisa merasakan hidup layaknya di neraka.

“Tidakkah kau merasa kalau selama ini Henry tak sepenuhnya mencintaimu? Tidakkah kau pernah berpikir kalau selama ini kau hanya pelariannya belaka?” perkataan Amy itu serasa seperti belati yang menghantam tepat di dada Hyekyo. Amy Liu, itulah nama gadis itu. Sahabat sekaligus mantan kekasih Henry saat di Toronto dulu dan orang yang sama yang menghancurkan hati Henry. Amy meninggalkan Henry begitu saja.

Tanpa Amy tanyakan pun sejujurnya pertanyaan itu selama ini yang terus menghantui Hyekyo. Pertanyaan yang rasanya Hyekyo tak mampu menjawabnya sendiri. Ia ingin sekali bertanya pada Henry tapi ia takut. Takut kalau ternyata kenyataan yang akan terlontar dari bibir Henry semakin menyakitinya. Dan ia memilih untuk memendamnya seorang diri.

“Dan sekarang ketika aku kembali. Tidakkah kau pikir Henry sadar dengan perasaannya? Kalau selama ini yang ia cintai hanya diriku?” lagi, ucapan Amy serasa seperti belati yang mengiris hatinya. Menyakitkan.

Hyekyo hanya diam. Tak mampu mengutarakan sepatah katapun. Hal itu juga selama ini menjadi ketakutannya. Ketakutan terbesarnya malah. Ketika Henry tak mencintainya dan berniat meninggalkannya.

Aku telah kehilangan Appa dan Eoma, aku tak akan bertahan jika harus kehilangan Henry juga.

Hyekyo mendongakkan kepalanya. Menatap wajah Amy lurus. Ia tak ingin terlhat lemah dihadapan rivalnya itu. Tak ingin Amy semakin menindasnya dengan perkataannya yang jauh lebih menyakitkan.

Hyekyo menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum simpul. “Henry mencintaiku. Aku yakin itu” ucap Hyekyo lirih. Ia berusaha bersikap seyakin mungkin. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Amy tersenyum mengejeknya.

“Kalau ia mencintaimu ia tak mungkin rutin menjengukku dan menghabiskan waktu bersamaku. Dan bukan bersamamu” ucap Amy sembari menyeringai licik. Hyekyo hanya menatapnya datar.

“Itu karena…dia merindukan sahabatnya. Tidak lebih” Hyekyo berusaha mencari alasan. Tapi sayangnya Amy cukup percaya diri dengan dirinya.

“Dengar Hyekyo-ssi. Dari awal Henry itu milikku. Oke mungkin salahku karena dulu meninggalkannya demi obsesiku. Tapi sekarang aku kembali…untuknya.” Amy berucap dengan penekanan pada kata untuknya itu. Sontak hyekyo terkesiap. Ia tahu apa yang akan Amy katakan berikutnya pastilah bukan sesuatu yang baik.

“Dan kau tahu itu artinya? Itu artinya cepat atau lambat Henry akan meninggalkanmu. Jadi kurasa kau harus bersiap untuk itu. Karena aku yakin Henry masih mencintaiku dan akan kembali padaku. Jadi kurasa daripada kau sakit hati lebih baik kau tinggalkan Henry” ucap Amy tajam. Ia menyeringai kecil.

“Shireo. Aku tak akan meninggalkan Henry apapun yang terjadi. Dan aku yakin dia tak akan meninggalkanku” ucap Hyekyo yakin. Amy hanya tertawa mengejeknya.

“Well, kita liat saja nanti.”ucap Amy sembari menyeringai. ia kemudian meninggalkan Hyekyo menuju kamarnya. Seketika Hyekyo memegang dadanya yang serasa sesak itu.

Henry, please don’t leave me.

=Left Alone=

Pemandangan didepan ruang TV itu serasa menyesakkan meski mungkin untuk kebanyakan orang pemandangan itu sangatlah romantis. Henry dan Amy duduk bersebelahan di ruang TV. Canda tawa kentara sekali mengiringi mereka. Senyuman yang keduanya lontarkan satu sama lain serasa begitu tulus dan bahagia.

Hyekyo hanya menatapnya pilu. Seharusnya ia yang berada disana disisi Henry. Seharusnya ia yang membuat Henry tersenyum dan tertawa lepas. Seharusnya dia yang menempelkan kepalanya di pundak Henry. Bukan Amy.

Hanya saja apa yang bisa Hyekyo lakukan? Tidak ada. Henry sepertinya tak menyadari perasaanya. Henry sepertinya tak mau ambil pusing untuk mengurusi tunangannya. Ia lebih memikirkan Amy, Amy dan Amy.

Semenjak wanita itu tinggal bersama mereka, Hyekyo merasa Henry tak sama lagi. Ia merasa Henry memprioritaskan Amy diatas segalanya. Dan jujur saja hal itu membuat Hyekyo hanya bisa menelan perasaan pilu.

Henry bahkan cenderung menghindari Hyekyo. Ketika ia pulang kantor yang ia cari pertama adalah Amy. Dan Hyekyo? Hanya menunggu Henry tanpa hasil pasti. Henry tak ambil pusing untuk menanyakan keadaan Hyekyo. Ia merasa Hyekyo pasti baik-baik saja. Padahal sejujurnya tidak sama sekali,.

Tanpa Henry pernah sadari kalau Hyekyo melawan deritanya seorang diri. Harus menelan kenyataan menyakitkan dari hidupnya beberapa hari lalu. Ia terpuruk tapi sayangnya Henry tak menyadarinya.

Hyekyo butuh teman untuk menghiburnya. Butuh seseorang untuk bersandar dan mencurahkan segala kepedihannnya. Tapi sayangnya Henry tak bisa memenuhinya. Dan sekali lagi Hyekyo hanya bisa tersenyum pilu.

“I love you, Henry” ucapan Amy itu sontak membuat Hyekyo tersentak. Henry menatap Amy kemudian tersenyum lembut.

“Hm, I know” jawab Henry. Ia kemudian mengacak rambut Amy penuh sayang. Dan setelah itu Hyekyo bisa melihat Amy berinisiatif untuk mengecup pipi Henry.

Hyekyo menelangkupkan jemarinya pada mulutnya. Berusaha meredam tangis yang melesak keluar begitu saja. Ia hanya bisa memperhatikan pemandangan itu dari jauh.

“Sudah malam Amy. Tidurlah!” ucap Henry. Hyekyo buru-buru menuju kamarnya tak berniat membuat Henry melihatnya adegan menyesakkan itu.

Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?

=Left Alone=

Hanya isak tangis yang terdengar dari ruangan itu. Seorang gadis hanya bisa merintih sakit sambil memegangi kepalanya. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali meneteskan air matanya.

Sakit di kepalanya begitu terasa hingga rasanya ia tak sanggup untuk menggerakkan badannya. Tak sanggup untuk sekedar meraih ponselnya dan menghubungi tunangannya.

Kalaupun aku meneleponmu apa kau akan datang, Baby?

Kenyataanya Henry tidak pulang selama hampir seminggu ini. Ia bilang ia ada meeting di luar kota. Tapi sedetikpun Henry tak pernah menghubunginya. Tak pernah memberinya kabar. Hal yang tak pernah ia lakukan ketika hubungan mereka masih baik-baik saja dulu. Henry dulu adalah tipikal orang yang tak mau membuat Hyekyo khawatir, membuatnya selalu rajin menghubungi Hyekyo kalau ia tengah ada business trip atau semacamnya.

Yang lebih membuat Hyekyo miris adalah bahwa Henry melakukan business trip dengan Amy. Well, Amy memang sekarang bekerja di kantor yang sama dengan Henry. Entah itu Amy yang merengek sebuah posisi disana atau memang Amy memiliki potensi. Yang jelas Henry dengan senang hati menerima Amy.

“Argh!” Hyekyo mengerang kesakitan ketika sakit dikepalanya sudah tak tertahan lagi. Hal terakhir yang ia tahu adalah semuanya menjadi gelap. Tak ada yang memanggilnya. Karena sejujurnya ia berharap Henry datang dan memanggilnya. Tapi sepertinya semuanya hanya angannya belaka.

Ia hanya bisa tergeletak lemah diranjangnya. Sendiri tanpa ia tahu apakah saat ia sadar ia masih bisa melihat Henry atau tidak. Masih bisa melihat dunia atau tidak.

=Left Alone=

“Bagaimana songsaengnim?” tanya Hyekyo keesokan paginya. Ia bangun dari pingsannya keesokan paginya. Dan itu membuatnya memutuskan untuk segera checkp up ke dokter.

“Sel kankernya sudah menyebar Hyekyo-ssi. Kemoterapi rasanya tak cukup untuk mengobatinya. Sebelum terlambat lebih baik menjalani operasi Hyekyo-ssi”

Ya, Hyekyo memang menderita kanker. Kanker otak lebih tepatnya. Sebulan yang lalu ia mengetahui kenyataan pahit itu. Dan ia menutup mulutnya rapat. Tak mau membuat Henry khawatir sedikitpun. Ia berjuang sendiri di tengah deritanya. Dan sayangnya Henry tak pernah menyadari itu.

Kalau boleh jujur Hyekyo ingin Henry peduli padanya ditengah deritanya melawan sel kanker di otaknya, tapi toh itu keputusannya sendiri untuk tak memberitahu Henry. Jadi ia tak bisa menyalahkan Henry untuk itu. Hanya saja sebulan lalu ketika ia mengetahui kenyataan ia mengidap kanker, ia begitu terluka dan sedih tentu saja. Tapi sepertinya Henry terlalu tak peduli hingga tak menyadari kesedihan tunangannya. Dan sekali lagi Hyekyo hanya bisa menangis dalam diam.

Hyekyo menggelengkan kepalanya. “Gwenchana. Kurasa ini cukup”

“Hajiman…kalau seperti ini terus lama kelamaan penglihatanmu akan semain buruk dan saya takut itu bisa menyebabkan kebutaan. Belum lagi dampak negatif lain dari sel kanker itu. Tidakkah lebih baik kau menjalani operasi itu?”

Dokter itu sepertinya terlihat begitu memperhatikan Hyekyo. Wajar saja karena menurut dokter paruh baya itu, Hyekyolah satu-satunya pasiennya yang keras kepala. Tak peduli seberapa buruk kanker yang ia derita kini ia hanya ingin menjalani kemoterapi. Padahal sel kanker di otaknya sudah mulai mempengaruhi organ lain. Penglihatannya mulai terganggu dan ia menyadari itu. Tapi sekali lagi Hyekyo terlampau keras kepala untuk menjalani operasi.

Bukan tanpa alasan sebenarnya. Ia tahu dampak dari operasi itu. Ia bisa saja kehilangan memorinya, entah itu permanen atau hanya temporal. Dan itu yang paling ia takutkan. Ia tak ingin kehilangan memorinya. Meski kini Henry memberinya memori yang cukup menyakitkan, tapi tunangannya itu selama ini selalu memberinya memori yang indah. Menjadi kekasih Henry dan menjadi tunangannya adalah saat-saat paling bahagia dalam hidupnya. Dan ia berani mengambil resiko demi memori-memori itu.

Sebut Hyekyo bodoh. Tapi itulah dirinya. Ia tak memiliki siapapun lagi di dunia ini kecuali Henry yang selalu mencintainya. Atau begitulah menurutnya. Entah sekarang Henry masih mencintainya atau tidak tapi Hyekyo tak peduli. Yang ia inginkan hanyalah menghabiskan waktu bahkan mungkin hingga napas terakhirnya disamping Henry. Setidaknya ia akan bahagia untuk itu.

Hyekyo tersenyum pahit. “Lebih baik begini. Daripada aku kehilangan memori tentangnya.” Gumam Hyekyo. Ia menyunggingkan senyumnya.

“Kalau begitu saya permisi songsaengnim” ucap Hyekyo. Dokter itu hanya bisa menghela napasnya.

“Kau sangat keras kepala. Araseo terserah padamu, hajiman..kalau terjadi sesuatu atau penglihatanmu makin buruk kau harus menghubungiku, eo?”

“Ne algetsemnida”

“Ah dan jangan lupa besok jadwalmu kemoterapi Hyekyo-ssi. Tidakkah kau ingin menginap dirumah sakit saja sampai kondisimu membaik?” ingat Dokter itu. Hyekyo hanya tersenyum lemah.

“Gwenchana. Besok aku kesini lagi songsaengnim”

“keureom..bisakah kau membawa anggota keluargamu dalam kemoterapi besok? Berada di tengah keluarga yang mendukung kita bisa mengurangi sakit saat kemoterapi kurasa” saran Dokter itu.

Sekali lagi Hyekyo hanya bisa tersenyum lesu. “Aku…sebatang kara songsaengnim” lirih Hyekyo kemudian meninggalkan ruangan dokter. Ia tak sepenuhnya bohong karena memang ia sebatang kara. Satu-satunya keluarganya adalah Henry meskipun kini merasa tak seperti itu.

Her Henry is not the same anymore.

=Left Alone=

“Ugh” Hyekyo menggeliat pelan. Ia merentangkan tubuhnya dan rasanya ia sangat lemah sekarang. Ia memegang kepalanya yang rasanya tiap hari tak lepas dari pening itu. Dengan gontai ia bagkit dari tempat tidurnya. Ia menuju kamar mandinya dan seketika ia tersenyum pahit ketika melihat refleksi dirinya di cermin.

Wajahnya pucat pasi. Matanya sayu dan belum lagi bibirnya yang mulai pecah-pecah. Melihat dirinya sendiri di depan cermin itu serasa melihat mayat hidup. Tak ada kehidupan sama sekali disana.

Ia keluar dari kamarnya setelah selesai mandi. Menuju ke dapur meski sebenarnya tubuhnya sangat lemah pagi itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Toh dirumah itu hanya dirinya yang bisa memasak.

“Argh” Hyekyo merintih pelan ketika sakit kepala kembali menyerangnya. Beberapa hari ini sakit kepala yang menyerangnya jauh lebih sering terjadi. Seolah menandakan kalau kondisinya semakin memburuk. Penglihatannya juga semakin lama semakin bermasalah. Terkadang penglihatannya menjadi kabur atau bahkan terkadang menjadi remang.

Hyekyo menghembuskan napasnya dalam kemudian melongok kearah lemari pendingin. Mengambil sayuran dari sana dan mulai meracik sarapan. Mencoba mengabaikan tubuhnya yang lemah dan sakit kepala yang masih bisa ia rasakan.

TAP TAP

Hyekyo menolehkan kepalanya sekilas ketika ia mendengar bunyi langkah kaki mendekatinya. Dan benar saja, Amy berjalan menghampirinya. Ia kemudian melipat tangannya didada dan memperhatikan Hyekyo yang tengah memasak.

“Kau memasak apa?” tanya Amy dingin. Tidak ada nada bersahabat sedikitpun. Dan Hyekyo sudah terbiasa untuk itu. Biasanya ia akan membalasnya dengan nada yang sama juga.

“Tidakkah kau bisa melihat? Aku sedang memasak galbitang” ucap Hyekyo. Ia bisa mendengar Amy yang berdecak kecil.

“Pastikan masakan itu layak untuk dimakan manusia” ucap Amy. Hyekyo hanya menggelengkan kepalanya. Malas untuk menanggapi ucapan Amy. Karena setahunya menanggapi Amy hanya akan membuat kepalanya semakin sakit saja.

Hyekyo menghela napasnya kemudian berniat untuk mengangkat masakannya. Hanya saja tiba-tiba pandangan matanya menjadi kabur. Ia mengerjabkan matanya berkali-kali tapi tetap saja pandangan matanya tak kunjung membaik.

PRANGGGG

“Argh!” pekikan itu terdengar cukup keras karena dua orang sekaligus berteriak dalam waktu yang sama. Karena pandangan matanya yang kabur ditambah tubuhnya masih lemah Hyekyo tanpa sengaja menjatuhkan panci masaknya. Membuat galbitang yang berisikan cukup banyak kuah itu terjatuh begitu saja dan tentu saja hal itu membuat kuah panas itu mengenai Hyekyo dan Amy pada saat yang bersamaan.

Hyekyo bisa merasakan perih ditangannya akibat kuah panas itu. Begitu pula Amy. Tangan mereka bahkan memerah karena percikan air panas itu.

“Yah! Waegurae?” Henry datang tiba-tiba. Mendengar teriakan dari arah dapur ia langsung saja menghampiri mereka. Dan ia bisa melihat kondisi dapur yang berantakan. Belum lagi ia melihat Amy dan Hyekyo yang merintih kesakitan.

Amy mendongakkan kepalanya menatap Henry kemudian menangis kecil. “Amy, kau kenapa?” tanya Henry khawatir.

“Henry, sakit. Hyekyo sepertinya tidak menyukaiku hingga ia menumpahkan sup itu begitu saja. Sakit!” rengek Amy. Ia menunjukkan wajah kesakitannya sementara Henry menatapnya bingung.

“Kyo, benarkah?” tanya Henry ragu. Hyekyo memejamkan matanya berusaha meredam rasa sakit yang tidak hanya menyakitinya secara fisik tapi juga hatinya.

“Believe what you want to believe, Henry” ucap Hyekyo. Ia membuang mukanya kemudian bangkit dari lantai. Menahan rasa perih dihati dan tangannya itu. Ia bangkit kemudian berjalan menuju kamarnya.

“Henry.. sakit” rengek Amy lagi. Henry bisa melihat tangan Amy yang memerah karena tumpahan kuah tadi. Henry menghela napasnya kemdian memapah Amy. Berniat untuk mengobati lukanya.

Sementara itu Hyekyo menitikkan air matanya. Ia bisa melihat kalau Henry jauh lebih cemas dengan keadaan Amy. Henry bahkan tak menanyakan apakah ia baik-baik saja yang Henry pedulikan hanya Amy. Dan tentu saja hal itu melukai Hyekyo.

It’s hurt, baby. Can’t you see it?

=Left Alone=

“Berhenti bersikap kekanakan Shin Hyekyo!” pekik Henry. Hyekyo hanya bisa menatap Henry sedih. Ini pertama kalinya Henry membentaknya. Dan semuanya hanya karena kesalahpahaman belaka.

“Aku tidak kekanakan baby. Apa salah kalau aku ingin memintamu menemaniku sabtu ini?”

“Kau tahu kan aku sibuk? Sabtu ini aku ada meeting penting” ucap Henry menolak. Hyekyo menatap Henry sekilas kemudian tertawa kecil.

“Meeting? Jangan berbohong baby.” Ucap Hyekyo. Kenyataanya ia tahu kalau Henry berbohong. Ia tahu kalau sebenarnya Henry akan menemani Amy, mungkin lebih tepatnya mereka akan vacation berdua. Hyekyo tak berani menyebutnya date karena hal itu pasti akan membuatnya semakin merasakan sakit hati.

“Apa kau sadar baby? Kita jarang menghabiskan waktu berdua. Jadi apa salah kalau aku memintamu menemaniku?” ujar Hyekyo. Henry hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku sibuk!” ucapnya lagi. Hyekyo berdecak singkat.

“Stop using that excuse baby.”

“Lalu kau mau apa?”

“Aku sudah bilang kan? Aku hanya ingin sabtu ini kau menemaniku. Hanya menemaniku. Tidak bisakah?” ucap Hyekyo. Ia sedikit geram sebenarnya tapi ia berusaha meredam semuanya.

“Dan aku sudah bilang tidak bisa kan?”

“Kenapa? Karena kau ingin menghabiskan waktu bersama Amy? Begitu Henry? Tidak sadarkah dirimu semenjak ada Amy kau berubah terhadapku? Tidak sadarkah dirimu semenjak ada Amy kau tak pernah meluangkan waktumu untukku?”

Henry menatap Hyekyo kesal. “Kau tak perlu menyalahkan Amy seperti itu. Dia tak salah sedikitpun. Dan kenapa kau ini jadi kekanakan seperti ini?”

“Aku kekanakan? Apa tidak salah baby? Selama ini justru aku terus bersabar baby. Apa kau pikir mudah bagiku untuk membagi dirimu dengannya? Perhatianmu hanya pada Amy, sedikit-sedikit Amy. Lalu bagaimana denganku? Apa kau pernah memikirkannya baby? Tidak kan? Kau sebut diriku kekanakan? Sementara aku hanya meminta hak ku sebagai tunanganmu Henry!”

Henry terdiam. Ia bisa melihat raut muka marah yang Hyekyo tunjukkan. Dan Demi Tuhan selama ia mengenal Hyekyo baru kali ini ia melihat Hyekyo semarah itu.

“I’m your fiancee but you never care about me. Kau tahu bagaimana rasanya Henry? Menyakitkan!” pekik Hyekyo. Ia sudah mencoba bersabar selama ini. Mencoba mengerti Henry dan mengabaikan sakit hatinya. Sayangnya kesabaran manusia ada batasnya.

Hyekyo selalu menelan pahitnya sendiri. Ketika Henry begitu memperhatikan Amy. Ketika Henry dengan mudahnya memberi senyumnya untuk Amy. Sementara yang ia berikan untuk Hyekyo hanyalah tatapan dinginnya.

Hyekyo mencoba bersabar untuk itu. Mencoba mengerti Henry ketika rasanya yang tunangannya lakukan hanyalah terus menghindarinya. Ketika yang Henry lakukan hanyalah mengabaikannya. Entah apakah Henry masih mengingat kalau ia memiliki tunangan seorang Shin Hyekyo.

“Dan kurasa kau juga lupa kalau sabtu besok adalah peringatan kematian Appa dan Eoma. Aku hanya memintamu untuk menemaniku menemui mereka. Apa itu juga tak bisa kau lakukan? Apa kencanmu dengan Amy begitu penting hingga kau menolak ajakanku ini, huh?” lanjut Hyekyo. Henry hanya bisa diam. Hyekyo benar, ia bahkan melupakan kalau sabtu besok peringatan kematian orang tua Hyekyo.

“I just wanna spent time with my fiance, is that wrong?” Hyekyo bertanya dengan matanya yang berkaca-kaca. Henry hanya menatapnya pilu.

“Apa salahku baby? Hingga rasanya kau memperlakukan aku seburuk ini? Aku bukan pembantu yang ada di rumah ini. Aku tunanganmu. Tapi sepertinya kau lupa itu. Kau memperlakukanku tak lebih dari seorang pembantu di rumah ini yang bertugas mengurus rumahmu. Seharian kau habiskan waktu bersama Amy dikantor mengingat dia sekretarismu. Tak bisakah saat dirumah kau habiskan waktu denganku? Apa aku begitu merepotkan hingga kau tak mau ambil pusing untuk memperhatikanku?” lanjut Hyekyo. Air matanya melelah begitu saja.

“Apa….kau tak mencintaiku lagi, baby? Begitukah? Apa selama ini aku hanya batu loncatan karena saat itu kau terluka karena Amy? Dan sekarang ketika Amy kembali, apa kau menyadari kalau kau tak mencintaiku? Apa selama ini kau tak pernah mencintaiku? Begitukah?” ucap Hyekyo pilu.

Ingin sekali Henry memeluknya dan meminta maaf. Tapi sepertinya tubuhnya menolak ajakan hatinya. Bukannya mendekat Henry malah membuang mukanya kemudian meninggalkan Hyekyo sendiri. Meninggalkan Hyekyo yang kini hanya bisa tergugu di lantai rumah mereka. Sendiri.

You already left me, your heart has left me
even your body has left me as well

=Left Alone=

Dua hari ini benar-benar seperti sebuah waktu instropeksi untuk Henry. Hyekyo meninggalkannya. Well, bukan meninggalkannya dalam artian sesungguhnya. Hyekyo memilih untuk menginap dirumah Whitney, adik Henry. Keduanya memang cukup dekat jadi wajar kalau Hyekyo memilih untuk tinggal bersama Whitney. Daripada ia harus tinggal serumah dengan Henry dan Amy yang tentu saja semakin membuat deritanya bertambah tiap harinya.

Dan selama dua hari itu Henry merasakan ada yang kurang dalam kehidupannya. Menyadari kalau ternyata selama ini arti Hyekyo dalam hidupnya sangatlah besar. Ditinggal Hyekyo selama dua hari nyatanya sanggup membuatnya merasakan kesepian. Membuatnya takut kalau Hyekyo meninggalkannya untuk selamanya.

Ia sadar selama ini ia mengabaikan Hyekyo. Ia sadar kalau selama ini yang ia lakukan hanyalah menambah beban pikiran Hyekyo. Hanya saja ia bimbang. Kedatangan Amy membuatnya bimbang.

Henry butuh waktu untuk meyakinkan dirinya tentang perasaanya. Amy adalah masa lalunya yang jujur saja memiliki arti yang cukup besar. Henry sangat mencintai Amy hingga ketika Amy meninggalkannya sanggup membuat Henry merasakan perih yang tak terkira.

Ia merasa ia masih mencintai Amy. Sayangnya ia salah. Rasa yang ia rasakan untuk Amy tak lebih dari sekedar sahabat sekarang. Dan waktu dua hari ini membuatnya sadar akan hal itu. Kepergian Hyekyo membuatnya sadar kalau yang ia cintai sekarang hanyalah Shin Hyekyo. Dan ia tak bisa membiarkan keadaan seperti ini terus. Tak bisa membiarkan Hyekyo meninggalkannya.

Henry berjalan menuju pemakaman orang tua Hyekyo. Tadi ia berniat menjemput Hyekyo di rumah Whitney tapi kata adiknya itu mengatakan kalau Hyekyo tengah mengunjungi makam orang tuanya. Membuat Henry tak ragu-ragu untuk menyusul Hyekyo ke makam orang tua Hyekyo.

Henry menautkan alisnya ketika ia tak mendapati sosok Hyekyo di makam orangtuanya. Yang ia dapati hanyalah sebuah buket bunga disana. Ya, Hyekyo baru saja dari sana.

Henry membungkukkan badannya ke makam itu. “Abeonim, eomeonim…jwesonghamnida. aku…sudah membuat banyak kesalahan pada putri kalian. Tapi aku berjanji…setelah ini aku tak akan mengulangi kesalahan itu. Aku janji akan menjaga dan membahagiakan Hyekyo. Dan kumohon restui kami. Aku.. ingin menikahi Hyekyo abenim, emeonim. Kumohon berikan kami restu kalian” ucap Henry. Ia membungkukkan badannya lagi kemudian meninggalkan makam itu.

Ia berlari cepat. Berniat untuk mencari Hyekyo. Karena menurutnya Hyekyo pastilah belum terlalu jauh.

Dan benar saja. Henry menangkap sosok Hyekyo yang kini hendak menyeberang itu. Henry mengulas senyumnya kemudian berlari kearah tunangannya itu.

Di sisi lain, Hyekyo berjalan lesu menuju pulang. Barusan ia telah mencurahkan segala keluh kesahnya di makam orang tuanya. Menangis tersedu untuk pertama kalinya di makam orang tuanya.

Appa…eoma… tidak bisakah kalian membawaku bersama kalian?

Hyekyo tersenyum pilu. Rasanya ia sudah tak sanggup untuk menjalani hidupnya. Kanker yang dideritanya belum lagi hubungannya dengan Henry yang rasanya semakin hari semakin menyesakkan. Ia lelah dan ia frustasi. Tapi tak seorangpun bisa diajaknya bicara.

“Hyekyo-ya…baby!” Hyekyo mendengar panggilan itu. Panggilan yang ia kenal betul suaranya. Perlahan Hyekyo membalikkan badannya dan ia bisa melihat Henry berjalan kearahnya.

Sebuah senyuman tersungging dari bibir Hyekyo. Hanya melihat Henry entah kenapa sanggup membuatnya sedikit melupakan sakit hatinya. Jujur selama dua hari ini ia merindukan Henry hanya saja ia tak ingin menghubungi Henry karena ia tahu tunangannya itu pasti tak peduli dengannya.

Senyuman Hyekyo pudar begitu ia mengingat apa yang selama ini telah Henry lakukan. Ia membalikkan badannya lagi dan berniat untuk menyeberang jalan.

Satu dua langkah ia berhasil menyeberang. Hanya saja dilangkahnya berikutnya sakit kepala kembali menyerangnya. Pandangannya juga ikut mengabur seiring dengan semakin remang cahaya yang ditangkap oleh matanya. Hyekyo menggelengkan kepalanya sembari memegangi kepalanya yang sakit.

Sementara itu Henry menatap Hyekyo horor. Merasa bingung kenapa tiba-tiba Hyekyo berhenti ditengah jalan. Dan sayangnya Henry tak waspada dengan kedatangan mobil kearah Hyekyo. Membuatnya seketika memekik keras ketika ia melihat adegan yang akan terjadi di depannya.

“HYEKYO!!!”

BUGHH

Terlambat. Tubuh Hyekyo terlajur  terpelanting cukup keras. Tubuhnya membentur lantai jalanan itu sangat keras hingga tak butuh waktu lama sebelum tubuhnya bersimbah darah. Henry berlari panik kearah Hyekyo. Ia meraih tubuh Hyekyo yang kini tergeletak tak berdaya itu.

“Baby…”

“Hen-ry…” hanya itu yang bisa Hyekyo ucapkan sebelum ia tak bisa merespon apapun lagi. Kegelapan melingkupinya seketika.

“Baby! Hya! Buka matamu! Baby!”

=Left Alone=

Henry hanya bisa menggigit kukunya sedari tadi. Entah sudah berapa lama ia menunggu di depan ruang UGD itu. Yang ia tahu sudah cukup lama. Dan sampai sekarang bahkan dokter yang memeriksa Hyekyo belum keluar dari ruangan. Membuatnya semakin panik dan takut.

“Gege..” panggilan itu membuat Henry mendongakkan kepalanya. Whitney berlari kearahnya. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

“Bagaimana Hyekyo? Apa yang terjadi?” tanya Whitney lagi. Henry hanya menggelengkan kepalanya. Ia menangis lagi. Tak sanggup menjelaskan detail kejadian sebenarnya.

“Gege!” lirih Whitney kemudian memeluk Henry. Ia tak peduli kalau kemeja Henry bahkan bernodakan darah. Yang ia ingin hanyalah memberi kekuatan untuk kakaknya itu.

“Whitney..kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya. Aku…aku tak akan memaafkan diriku”

“Gege…tenanglah. tak akan terjadi apapun. Hyekyo akan baik-baik saja.” Ucap Whitney. Ia mengelus punggung Henry lembut. Meski sejujurnya ia juga tak yakin dengan yang ia ucapkan mengingat bekas noda darah yang melekat di kemeja Heny begitu banyak. Membuatnya bisa membayangkan kalau pasti kecelakaan yang menimpa Hyekyo sangatlah parah.

CEKLEK

Sontak Henry melepaskan pelukan Whitney begitu ruangan itu terbuka. Ia bisa melihat dokter keluar dari ruangan itu. Wajahnya terlihat lelah.

“Bagaimana… Hyekyo bagaimana?” tanya Henry gugup. Dokter itu hanya menatap Henry prihatin kemudian menggelengkan kepalanya.

“Tubuhnya terhempas cukup kuat dan kondisinya sangat lemah. Kami sudah mengusahakan yang terbaik tapi…kanker yang ia derita memperparah kondisinya. Dan maaf kalau kami harus mengatakan ini tapi Shin Hyekyo dalam keadaan koma”

Henry tak tahu harus memberi tanggapan apa atas ucapan dokter itu. Dunianya serasa runtuh seketika.

“Kan..kanker? hyekyo…mengidap kanker?” Henry bertanya lemah. Dokter itu seperti terkejut dengan pertanyaan Henry itu.

“Kau…tidak tahu?” Henry hanya menggelengkan kepalanya.

“Hyekyo mengidap kanker otak. Beberapa bulan terakhir ini dia sering check up pada saya dan bahkan ia cukup rajin menjalani kemoterapi. Saya sudah menyarankan untuknya menjalani operasi untuk mengangkat sel kankernya mengingat waktu itu kankernya belum menyebar. Tapi ia menolak.” Jelas dokter itu.  Henry serasa ditampar tepat di mukanya. Tunangannya sesakit itu dan bahkan ia tak menyadarinya.

“Saya rasa dia tidak menceritakan kondisinya kepada siapapun. Anak itu… bahkan saat kemoterapipun ia sendirian tanpa seseorang yang mendampinginya. Kukira ia yatim piatu dan tidak ada keluarga dekat disini” sekali lagi Henry merasa tertampar. Ia bahkan tak tahu apapun tentang Hyekyo. Bahkan saat ia berjuang melawan sakitnya ia juga tak tahu. Yang ia lakukan justru menambah beban penderitaan tunangannya itu.

Whitney menepuk punggung kakaknya. Berusaha membuat kakaknya itu lebih tenang. Ia mengerti perasaan Henry. Karena ia juga sama sekali tak tahu kondisi Hyekyo yang sebenarnya. Hyekyo ternyata terlalu pintar menyembunyikan semuanya.

“Kami..sudah bisa menjenguk Hyekyo, kan?” Whitney bertanya lirih. Dokter itu menganggukan kepalanya.

“Ne. Setelah kami pindahkan ke ruang rawat kalian bisa menjenguknya”

“Berapa lama…berapa lama ia akan sadar?”

Dokter itu menggeleng lagi. “Kita berdoa saja agar ia cepat sadar” ucapnya kemudian menepuk Henry. Memberi Henry senyuman prihatin kemudian berjalan keruangannya. Meninggalkan Henry yang kini terduduk lemas dilantai.

“Gege…”

Henry menutup wajahnya kemudian menangis tergugu. Hatinya terlalu sakit hingga rasanya air matanya tak bisa dikendalikan.

=Left Alone=

Mata itu masih terpejam. Sudah dua hari dan Hyekyo sama sekali belum membuka matanya. Henry setia disisinya. Ia selalu menjaga Hyekyo. Berusaha menebus kesalahannya selama ini. Whitney kerap kali membujuk Henry agar pulang dan istirahat. Tapi sepertinya Henry terlalu keras kepala dan tak berniat meninggalkan Hyekyo sedetikpun.

“Baby..sadarlah! kau mau menghukumku, huh? Sadarlah baby. Bicaralah!” gumam Henry. Hyekyo tak bergeming sedikitpun.

Henry meraih jemari Hyekyo kemudian menggenggamnya. “Kau tak kasian padaku. Bukalah matamu. Aku minta maaf baby. Aku minta maaf karena mengabaikanmu selama ini.” Ucap Henry lirih. Air matanya sudah tergenang di kelopak matanya. Melihat keadaan Hyekyo seperti ini membuatnya lemah.

Dua hari ini jujur ia tak bisa tidur sama sekali. Setiap kali ia memejamkan matanya maka ia akan dihantui dengan mimpi buruk yang ia sama sekali tak suka. Mimpi tentang Hyekyo yang meninggalkannya. Dan jujur saja mimpi itu membuatnya takut. Sangat amat takut.

Memikirkan kalau Hyekyo akan meninggalkannya membuat ia bisa merasakan rasa sakit yang mendalam di ulu hatinya. Ia tak siap dan tak akan pernah siap.

“Eo?” Henry sedikit terkesiap ketika ia merasakan jemari Hyekyo bergerak dalam genggamannya. Henry menaruh perhatian sepenuhnya pada Hyekyo dan tak butuh waktu lama hingga Hyekyo membuka matanya.

Henry tersenyum lega. “Baby..kau sudah sadar? Ah syukurlah!” ucap Henry lega kemudian memeluk Hyekyo erat. Sayangnya Hyekyo tak memberikan respon apapun. Henry menatap Hyekyo bingung dan melepaskan pelukannya.

“Baby..” panggil Henry lagi. Hyekyo hanya diam. Ia menatap datar kearah Henry.

Air mata Hyekyo menetes. Dan Henry melihatnya tentu saja. Membuatnya panik seketika.

“Baby..kenapa menangis? Apa ada yang sakit, huh? Bagian mana yang sakit?” tanya Henry panik. Hyekyo tak mengucapkan apapun dan tetap menangis. Air matanya semakin deras mengalir tapi sepatah katapun tak ia keluarkan. Ia hanya menangis dalam diam.

“Baby… katakan mana yang sakit, huh? Apa yang sakit baby? Kau bisa mendengarku baby? Baby…” panik Henry lagi.

Hyekyo mendengarnya. Dengan sangat jelas malah. Ia tahu kalau Henrylah orang yang menggenggamnya begitu sadar. Henrylah orang yang memeluknya. Menanyakan keadaanya. Ia tahu sangat tahu hanya saja ia tak bisa melihatnya.

“Baby..katakan sesuatu..baby…” ucap Henry lagi. Hyekyo masih menangis dalam bisu.

“Suster..dokter!!!” Henry berteriak panik memanggil dokter. Tak lama dokter yang menangani Hyekyo masuk keruangan itu. Ia mengecek kondisi Hyekyo.

“Hyekyo-ssi katakan sesuatu. Apa yang kau rasakan?” dokter itu bertanya lembut. Cukup lama Hyekyo hanya diam hingga akhirnya ia mengutarakan yang ia rasakan.

“Gelap…”lirihnya. baik Dokter atau Henry hanya bisa membulatkan matanya. Dokter itu kemudian menghela napasnya.

“Songsaengnim..apa maksudnya?” Henry bertanya was-was. Dokter itu hanya menatapnya memelas.

“Sepertinya kanker yang Hyekyo derita semakin parah karena kecelakaan itu. Dan sekarang… dampaknya adalah Hyekyo mengalami kebutaan Henry-ssi”

“Bu..buta?”

“Ne. Kau harus bersabar untuk itu” ucap dokter itu kemudian tersenyum tipis. Henry memandang pilu kearah Hyekyo yang kini masih menangis bisu. Air matanya mengalir deras.

Henry meraih jemari Hyekyo. Mengusapnya lembut kemudian mengecupnya penuh sayang. Sayangnya Hyekyo hanya diam. Masih sama seperti tadi, tanpa suara sedikitpun.

“Kyo..baby…mianhae, eo? I’m really sorry baby.” Ucap Henry. Suaranya sedikit bergetar. Hyekyo hanya menatapnya meski sebenarnya tak ada yang bisa ia lihat sama sekali. Hanya gelap yang menyertainya.

Henry mengusap rambut Hyekyo lembut. “Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau kau menderita kanker, Hyekyo-ya?”

Karena aku tak mau membuatmu khawatir, baby.

Hyekyo hanya menjawabnya dalam hati. Entah kenapa rasanya susah untuk mengutarakan sebuah kalimat. Entah kenapa rasanya lehernya tercekat kuat hingga rasanya sangat sakit untuk mengucapkan sebuah kalimat. Mungkin kanker otaknya sudah menyerang saraf-saraf tubuhnya hingga mempengaruhi kinerja otot-otot sarafnya. Ia tak mengerti dan ia tak mau memikirkannya.

“Kenapa aku begitu bodoh hingga tak menyadari kondisimu? Deritamu, huh? Mianhae baby” gumam Henry. Hyekyo hanya tersenyum tipis.

Wajar kalau Henry tak menyadarinya. Selama ini Hyekyo selalu berusaha menutupinya dengan baik. Ia menutupi wajah pucatnya dengan polesan make up. Ia mengenakan baju yang sedikit longgar agar menutupi tubuhnya yang mulai mengurus. Ia memoleskan lipstik yang cukup tebal agar bibir peca-pecahnya tak bisa Henry lihat.

“Kenapa kau tak mau menjalani operasi itu, baby? Kau tahu kan kau bisa sembuh dengan operasi itu” ucap Henry. Ia tak mau menyerah. Meski Hyekyo sama sekali tak membuka suaranya tapi ia tak mau menyerah untuk itu. Ia akan terus mengajaknya bicara hingga Hyekyo berniat untuk membuka suaranya.

I don’t have a reason to.

Lagipula kalaupun aku tetap hidup apakah kau akan terus disisiku? Tidak kurasa.

“Kenapa kau menyembunyikan dariku dan ketika aku tahu kondisimu sudah seperti ini, baby? Kau tak berniat untuk meninggalkanku kan?”

Aku tak pernah berniat meninggalkanmu, baby. Tapi aku takut kau yang akan meninggalkanku sendiri. Jadi kurasa sebelum kau berniat meninggalkanku untuk Amy, lebih baik aku perlahan menjauh dari kehidupanmu. Bertemu dengan Appa dan Eoma disana kurasa bukan pilihan buruk.

Hyekyo memejamkan matanya. Air matanya sedari tadi tak berhenti mengalir. Ia tak mengerti kenapa tapi kendali otaknya sudah tidak benar. Ia berniat menghentikan tangisnya tapi rasanya ia tak bisa. Mungkin kanker otaknya mempengaruhi hal ini? Hyekyo tak tahu sekali lagi.

Napas Hyekyo menjadi tak teratur. Ia tak mengerti kenapa. Mungkin karena sedari tadi ia menangis atau apa ia tak tahu. Yang jelas ia merasakan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba meringsut masuk.

TESS

Hyekyo sedikit terkesiap ketika ia merasakan sebuah tetesan dikulit tangannya. Ia tak perlu bertanya apa itu karena ia tahu kalau itu adalah air mata Henry.

Perlahan Hyekyo mengulurkan tangannya. “H-henry..baby” ucapnya lemah. Henry tersentak kemudian menatap Hyekyo yang tengah mengulurkan tangannya. Henry meraih uluran tangan Hyekyo. Menggenggamnya erat hingga rasanya ia tak berniat untuk melepaskannya.

“U-uljimaro” ucap Hyekyo lagi. Suaranya terdengar sangat lemah ditelinga Henry. Hyekyo kemudian meraba-raba ditengah kegelapan yang ia rasakan. Hingga akhirnya tangannya bisa menggapai wajah Henry.

Ia telusuri setiap lekuk wajah Henry. Seolah berusaha mengingat bagaimana rupa Henry melalui sentuhan tangannya. Perlahan tangan mungil Hyekyo tiba pada kelopak mata Henry. Ia bisa merasakan kelopak mata dan bahkan pipinya basah karena air mata. Hyekyo mengusap air mata itu.

“Baby..” ucap Henry lembut. Hyekyo tersenyum mendengarnya. Seolah ia baru saja mendengar sebuah alunan yang begitu indah dari Henry.

Hyekyo memejamkan matanya lagi. Ketika perasaan aneh itu datang lagi. Ketika perasaan aneh itu serasa mendoktrinnya untuk segera mengutarakan apa yang ingin dia katakan. Ketika perasaan aneh itu seperti mendesaknya.

“Hen..baby…han-hanbondo…” napas Hyekyo sedikit berat. Henry hanya menunggunya melanjutkan kalimatnya.

“Se-sekali saja..aku i-ingin mendengar..ungkapan cintamu, baby. Katakan kau men-mencintaiku” ucap Hyekyo lemas. Henry hanya menatap cemas kearah Hyekyo. Entahlah, tapi ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan ia tak mau itu.

Henry hanya diam sedari tadi. Membuat Hyekyo berspekulasi menyesakkan atas kebisuan tunangannya itu. Hyekyo tersenyum pilu.

“Ka-kalaupun kau tak mencintaiku…tapi…kumohon berpura-puralah mencintaiku. Katakan kau..mencintaiku meski itu hanya pura-pura…dan..kecup keningku seperti saat dulu…kau-kau..menyatakan cinta padaku” ucap Hyekyo susah payah. Ia berusaha sekuat tenaga mengucapkan kalimat panjang itu. Meski rasanya dadanya serasa dihimpit batu besar hingga rasanya begitu sesak bahkan untuk bernapas sekalipun.

Memorinya seketika berputar pada kejadian dua tahun lalu. Ketika Henry mengatakan ia mencintai Hyekyo. Memori itu terasa begitu indah hingga rasanya ia tak ingin melupakannya. Momen dimana Henry mengatakan cinta padanya dan mengecup keningnya setelah itu. Momen dimana Hyekyo merasa sangat bahagia saat itu.

“Han-hanbondo baby…sekali saja..jebal” ucap Hyekyo setengah merengek. Henry tak kuasa menahan air matanya. Hatinya sakit rasanya mendengar yang Hyekyo ucapkan. Seolah sebentar lagi gadisnya itu akan meninggalkannya.

Henry menarik napasnya panjang. “Sa-saranghae…i love you baby. I love you so much” ucap Henry ditengah isakannya. Ia tergugu kemudian mengecup kening Hyekyo.

Kecupan itu serasa membuat seluruh tubuh Hyekyo hangat. Ia memejamkan matanya ditengah kecupan hangat Henry itu. Air matanya mengalir dari sudut matanya. Tapi ia membiarkannya.

“Na-nado…I love you too, Baby. I love you, in-infinity” ucap Hyekyo tersengal. Ia masih menikmati kecupan Henry. Tunangannya itu masih belum melepaskan kecupannya. Henry hanya terus menangis sembari bibirnya menempel pada kening Hyekyo.

Meskipun kau hanya berpura-pura…ataukah boleh aku menganggapnya sebagai ungkapan tulusmu, baby? Keunde.. neomu hangbokae. Gomawo…”

Henry melepaskan kecupannya. Ia masih terus terisak. Ia menjulurkan tangannya dan menyentuh pipi Hyekyo. Gadisnya itu masih memejamkan matanya. Henry perhatikan wajahnya dan ia bisa melihat Hyekyo tersenyum.

“Baby…bukalah matamu!” ucap Henry lirih. Tapi Hyekyo tak mendengarkannya. Ia masih menutup matanya.

“Baby..Hyekyo baby… buka matamu, eo?” ucap Henry. Tapi sekali lagi Hyekyo tak mau membuka matanya. Henry terisak lagi. Ia menyentuh tangan Hyekyo dan ia tak bisa merasakan denyut nadi disana.

“Andwe..baby, buka matamu. Kumohon! Baby!” pekiknya. Tapi sayang semuanya sudah digariskan begitu. Hyekyo benar-benar meninggalkannya.

Henry memeluk tubuh Hyekyo yang sudah tak berjiwa itu. Ia menangis tergugu sembari mendekap tubuh Hyekyo.

“Maafkan aku baby. Keunde…buka matamu. Katakan sesuatu padaku. Kau boleh memarahiku, boleh mencaciku, boleh membenciku karena aku menelantarkanmu belakangan ini. Aku bahkan tak mengerti penderitaanmu. Tapi bisakah kau buka matamu, eo?” gumam Henry sembari sesekali tersengal karena tangisnya.

“Am I really that jerk,baby? Hingga kau menderita aku tak tahu. Aku mohon hukum aku. Tapi jangan tinggalkan aku, baby. Kumohon jangan. Baby. Aku janji akan mengusir Amy dari rumah kita. Aku janji akan membahagiakanmu. Tapi kumohon buka matamu, baby” ucap Henry frustasi sembari sesekali menggoyangkan tubuh Hyekyo. Berharap tunangannya itu akan membuka matanya.

“Baby…aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Aku tidak pernah berpura-pura baby. Aku mencintaimu. Kau juga mencintaiku, kan? Jadi kumohon kembali baby. Kumohon buka matamu. Kumohon jangan tinggalkan aku”

Seberapa memelasnyapun Henry memohon sayangnya Hyekyo tak mungkin membuka matanya. Mungkin untuk Henry semuanya sudah terlambat. Membuahkan sebuah penyesalan besar yang entah apakah ia bisa memaafkan dirinya sendiri. Penyesalan besar yang membuatnya harus kehilangan kekasihnya bahkan untuk selamanya. Keegoisannya yang ternyata benar-benar menelantarkan Hyekyo. Kebodohannya hingga ia harus menelan pahit yang teramat saat Hyekyo pergi begitu saja.

Ia menyesal karena di detik terakhir Hyekyo yang bisa Henry lakukan hanya membuatnya susah. Ia menyesal karena ia tak bisa menemani Hyekyo melawan deritanya. Ia menyesal karena ia merasa belum membahagiakan Hyekyo. Ia mengutuk dirinya untuk itu.

Menelantarkan orang yang ia cintai hingga akhirnya orang itu benar-benar pergi dari kehidupannya. Selamanya.

Tapi untuk Hyekyo ia bahagia. Tercermin jelas dengan senyuman yang terukir di bibirnya disaat terakhir hidupnya. Menghembuskan napas terakhir dalam dekapan orang terkasih. Menghembuskan napas terakhir dengan iringan alunan cinta dari Henry yang terdengar begitu indah di telinganya.

Ia bahagia.

~THE END~

Gyahaha…saya tahu ini angst gagal.. udah gagal gajelas lagi,,,.maaf ya mengecewakan..

dan untuk si kecil yg suka nyiksa eoninya…hehe saya turuti permintaanmu hyekyo bahagia noh diakhirnya.. *plakk*

ff saya lunas jd awas kalau kamu nyiksa2 saya lagi..tp maaf ya kalo mengecewakan..hehe

 
95 Comments

Posted by on July 30, 2012 in angst, oneshot

 

Tags:

95 responses to “Left Alone

  1. yui

    July 31, 2012 at 11:02 am

    hoaaaaa,,
    apa lah ini,,
    nysek banget bacanya..
    henry sih kurang peka..
    ah kesel deh jadinya chingu,.,
    arghh,,
    jadi kepikiran si henry bakal bgmn abis ini,.
    good job chingu,,
    ini gag gagal kok..^^

     
    • shilla_park

      July 31, 2012 at 11:32 am

      hehe hjd merasa bersalah karna saya bikin karakter henry kek gt..haha😀
      ga gagal? jinjja? *terharu (?)* 😀

       
  2. cenuyyy

    July 31, 2012 at 11:17 am

    eonni.. *mata berkaca”*
    kenapa setiap baca ff angst eonni pasti kaya sengatan listrik(?)
    nantikan henry sama hyekyo bisa janjian di bunderan surga(?) hahaha
    itu si amy-nya gimana eonni? mati aja, biar si henry ga sama sapa”.. haha
    jadi perjaka tua *ehhh😛
    hahahaha😛

     
    • shilla_park

      July 31, 2012 at 11:58 am

      sengatan listrik? apa pula itu..ini kan ff bukan kumparan listrik (?)
      amy udah kelaut dia..lol
      henry ga bakal jd perjaka tua kok..karna saya siap menampung..lol😀

       
  3. HanJeSi

    July 31, 2012 at 11:31 am

    Aishhh -__- coba tambah gaib-gaib-nya gitu eon.. Tiba-tiba hyekyo-nya hidup lagi :p lol

     
    • shilla_park

      July 31, 2012 at 11:59 am

      yaelah gaib2? pamali ngomongin gaib siang2 (?)😀

       
  4. Henbaby

    July 31, 2012 at 12:17 pm

    Seharusnya aku komen yg pertama, hiks hiks gr2 td sinyal lola, jd komennya ga bs d post😦

    TOTALLY SPEECHLESS!

    *mewek*

    Eonnie, kok saya nista bgt d sini :((((( andwae! Matinya mengenaskan gitu, onnie tanggung jawab! (ʃ´̩ ̯`̩ƪ)

    Untung Henry ternyata cinta sama saya, kalo ngga, aku cekik ih eonnie -____- amy bikin kesaaaaalllll, rwaarrr..

    Tunggu balesan dr saya ya eon.. Lg nyari inspirasi buat kelanjutann FF eonnie.. Nyari alur yg bagus *evil laugh*

     
    • shilla_park

      July 31, 2012 at 12:26 pm

      haha sabar ya cil.. *puk puk si kecil*
      haha kan saya udah bilang pembalasan itu jauh lbh kejam cil..sapa suruh kamu nyiksa saya….kan saya ga terima jadinya..haha😀
      eh?? duh jgn ganti2 alur yg sebenarnya dr ff ntu dung/…awas aja kalo jadinya sad end..saya cincang kamu cil.. *siapin piso*😀

       
      • Henbaby

        July 31, 2012 at 1:43 pm

        Huahahahahahahaha kalo FF ini mah lebih keterlaluan lg kejamnya :p

        Izin repost di wp aku ya eon🙂

        Nggak sad ending kok.. Tp rencananya mau bikin siwon oppa main2 dulu ama yg lain, hehehe *di bacok*

        Ntar kalo perlu nama cast, aku sms eonnie lg deh😀

         
      • shilla_park

        July 31, 2012 at 4:15 pm

        keterlaluan kejam? engga lah ya… kan ini mah setimpal buat membalas anak kecil yg suka menganiaya yg lbh tua…*smirk*
        eh? kek gini mau direpost? duh ntar malu saya (?)😀
        hya!!! jgn dibuat main2 si siwon..jd korban kekerasan dlm RT aja saya udah nelangsa ini dia mau main2??..andweeee.. *tarik siwon kekamar*😀

         
  5. Nayoon

    July 31, 2012 at 4:29 pm

    Eon, eonni~ engga gagal kok angstnya :3
    demen bener dah yg model model ginih, sedap.
    Cuma mungkin karena diriku ga terlalu suka henry jd yaa kurang nampol, coba ganti castnya siwon atau yunho fix sudah diriku nangis bombay. . .
    ditunggu angst selanjutnya eon :3

     
    • shilla_park

      July 31, 2012 at 4:58 pm

      haha saya kalo nulis yg angst2 gini doyan (?)😀
      haha kurang nampol? duh maaf ya kalo gt..hehe

       
  6. Indah Syam

    July 31, 2012 at 7:39 pm

    Aiih..jadi pengen getok pala Henry.😀
    Eonni, ini ff nyeseknya kok keterlaluan amat sih?? ;(
    Henry jadi perjaka tua, Biar saja.

     
    • shilla_park

      July 31, 2012 at 9:25 pm

      nyesek keterlaluan? masa? bagus lah kalo begitu berarti dendam saya terpenuhi.. *plakk*😀

       
  7. icha

    July 31, 2012 at 7:51 pm

    aduh, dari awal aku sudah agak malas kalau mau baca ff yg genre angst tapi pengecualian untuk karya onnie pasti berhasil bikin aku nyesek dan akhirnya aku kasih empat jempol untuk onnie yeyyyyy*itu dua lagi hasil minjam sama kyuhyun onnie hehee* semangat untuk karya karya selanjutnya onnie. aku pada siwon yeyy ^^V

     
    • shilla_park

      July 31, 2012 at 9:28 pm

      haha kasian amat itu si kyu jempolnya disita..lol
      anyway thanks..😀

       
  8. Na

    July 31, 2012 at 9:59 pm

    Cobalah mengerti, semua ingin mencari arti. Selamanya takan berhenti. Inginkan rasakan rindu ini menjadi satu, biar waktu yg memisahkan.
    DAN, BENER~BENER BERPISAH! HUWAAAAAAAAAA,, NA NANGIS BENERAN INIII… BENER” NYESEEKK!!!
    *tarik napas*
    MAMAAAAAA TTT_______TTT
    *tebar kegalauan*

     
    • shilla_park

      August 1, 2012 at 9:29 am

      ini kenapa malah nyanyi (?)😀
      ga usah tereak2 sambil nangis jelek tahu.. *tendang*😛

       
  9. Cho Miara

    July 31, 2012 at 10:37 pm

    ini sedih bin galau…
    Kasian hyekyo, dan ngapa bru nyadar dah tuh henry??!
    Giliran udah skarat aja bru bgtu…
    Emang dah penyeselan dtng blakangan….

    Dan hyekyo udah tenang dialamnya…
    Aku ampe berkaca kaca bcnya…..
    Hikshiks

     
    • shilla_park

      August 1, 2012 at 9:39 am

      knp pake galau segala..haha😀
      berkaca-kaca? woah terharu saya (?)😛

       
  10. hyuk_ka

    July 31, 2012 at 11:06 pm

    aku nangis,, sumpah
    nyesek bgt
    ㅠㅅㅠ

     
  11. miss Kyu シ

    August 1, 2012 at 3:55 am

    huaaaa.. demi apalah ini nyesekkk bikin nangis~ (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩)
    tanggung jawab noh bikin anak orang pada nangis.. kekeke~

    yeah begitulah hidup.. penyesalan pasti datang belakangan..
    keren lah ni FF :’)

    btw moga mood kamu semakin hari semakin baik deh yaa..
    jadi TPO 10 bisa segera ditulis..😀
    okay baby? *wink*

     
    • shilla_park

      August 1, 2012 at 9:42 am

      knp saya musti tanggung jwb? saya kan ga salah.. *polos*
      haha mood saya perlahan emang udah membaik..tp kita liat saja apa yg akan terjadi sama TPO..
      butuh tambahan mood ini…minta jeje ya…lol😀

       
  12. Riinaaa

    August 1, 2012 at 7:07 am

    Nangiisss T.T
    ditelantarin,ga dianggep emang bikin nyesek yaaaa *crying*

     
    • shilla_park

      August 1, 2012 at 9:46 am

      oho jangan nangis ya..cup cup.. *kasih permen*😀

       
  13. noonajewels

    August 1, 2012 at 8:36 am

    Huwaaaaaaa. . .salah apa anakku eunnie?? Teganya kau buat dia semenderita itu😦
    #nangisbarengsiwon

     
    • shilla_park

      August 1, 2012 at 9:50 am

      anak? nugu??.. *polos*😀

       
      • noonajewels

        August 1, 2012 at 12:52 pm

        Anak ue sm bang won lahhh *tutupkupinghyukkie

         
      • noonajewels

        August 1, 2012 at 12:53 pm

        Uri henry

         
      • shilla_park

        August 1, 2012 at 1:00 pm

        eh? sejak kapan siwon punya anak henry… *tarik siwon ke kamar*B😀

         
      • noonajewels

        August 1, 2012 at 2:42 pm

        Sejak kapan cuma kami yg tau *hoho

         
  14. crifer_tha

    August 1, 2012 at 6:09 pm

    JLEB banget ini ff mah
    untung bukan edisi SS couple wkakakkakakaka
    berasa banget ka sedih nyaaaa T,T
    henry sini ama akuu ajaa, *plak😄

     
    • shilla_park

      August 1, 2012 at 8:33 pm

      kalo ss kopel mana mau saya bikin kek gini…ss kopel mah polepel hepi..lol “:D

       
  15. kimbyen

    August 2, 2012 at 2:18 am

    hahahaha ini apa2an kok jd angst begini… aku kira happy ending….

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 7:36 am

      lah kan emang ini judulnya jg angst..jd ga happyend lah..hagha

       
  16. cloudsoora

    August 2, 2012 at 4:13 am

    Hyaaaaaaa eonni!!!ni ff bener2 angst dehh..
    Kenapa endnya harus mati,,g hidup bahagia selamanya sama mochi*plak*

    bener2 kesel sama amy*bawa2piso*
    yaaa!!!kemana perginya mochi yg unyu2..mochi jadi nappeun namjaT_T

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 7:47 am

      haha karena ini ff balas dendam jd harus bener2 angst dung…wwkkw😀

       
  17. shin rae mi

    August 2, 2012 at 10:57 am

    Angst dpt kok eon, baguss!!
    Buat sekuel eon whkhk

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 12:10 pm

      hehe thankyuu…
      sekuel? ga sanggup ah..minta sama yg ada dicerita ini aja..lol😀

       
  18. Ah rin

    August 2, 2012 at 2:17 pm

    Oenni😦
    paling ga bisa baca yang begini

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 5:24 pm

      haha gwenchana..dont be sad (?)😀

       
  19. Shin Tae Rin

    August 2, 2012 at 2:40 pm

    Ini baca ffnya bikin nangis pas lg ngedit. Dan ada klien. Sukses kok ffnyaa.

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 6:16 pm

      eh? itu kliennya tau ga kalo lg nangis?..ahaha.. tengkyu..😀

       
  20. Henbaby

    August 2, 2012 at 2:41 pm

    Reblogged this on LAUISM FANFICTION and commented:
    Huahahahahaha Shilla eonnie bener2 bales dendam. Di FF ini saya nelangsa banget. Saatnya buat reblog. Keep enjoying guys!🙂

     
  21. uknowacha

    August 2, 2012 at 3:33 pm

    Nangis lah aku baca ini eoon T^T
    sedih bangeet😥
    Dan bener2 daebak! :’D

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 6:17 pm

      aigo..cup cup cup…jangan nangis nak…ini nih saya kasih balon.. *plakk*😀

       
      • uknowacha

        August 2, 2012 at 6:59 pm

        maunya dikasih kibum atau eunhyuk *loh* :p

         
      • shilla_park

        August 2, 2012 at 9:01 pm

        eh? emang ada ya balon merk enhyuk atau kibum? cari ah kalau bgtu…lol😀

         
      • uknowacha

        August 2, 2012 at 9:12 pm

        iih bukan balon eooon -_-” tuh hyung sama dongsaengnya si suamimuh *tunjuk abang kuda*

         
      • shilla_park

        August 2, 2012 at 10:10 pm

        oh gt? tp suami saya perasaan ga punya hyung dia punya dongsaeng tp jg cewe…lol😀

         
      • uknowacha

        August 3, 2012 at 1:27 pm

        hyung sj bukan hyung kandung-,-“

         
  22. LJK~

    August 2, 2012 at 3:52 pm

    waa jrang2 bkin angst
    Sekalinya bikin nyesek
    Kasian henry si imut itu
    Huuhuh

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 6:21 pm

      haha saya jarang y bikin angst??..hehe..
      henry disini udah ga imut lg..maaf yak mochi.. *peluk mochi*😀

       
  23. Hyora Kim

    August 2, 2012 at 8:29 pm

    huaaa.. Nyesek..
    Sebel ama amy.. Btw, amy liu. Jadi inget amber..
    Oya, salam kenal ya.. Kania imnida.
    Aku datang dri blog-nya hyekyo..

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 9:02 pm

      haha emang awalnya saya mau nulis amber liu tp karna saya masih punya rasa kemanusiaan sama Henkyo kecil itu jd saya ganti amy deh..haha
      salam kenal jg kania..😀

       
  24. haemin

    August 2, 2012 at 9:49 pm

    Saeng,,,,kamu hobi bgt bikin angst ya akhir2 ini,,,,huwaaaaaaa,,,,si mochi sih krg peka,,,º°˚˚°:'(°˚˚°º
    /\ :'(нüu :'(нuü:'(
    ^ ^ .. Benar2 ditinggal sendiri kan skrg???ckckkckck tp gpplah haekyo bahagia diakhir hidupnya,,,,good job saeng,,,ini ff g gagal kok,,,daebak!!!nice job

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 10:15 pm

      karena otak saya lg dpenuhi sama angst..lol
      haha betul..at least happy di endingnya..lol😀

       
  25. alfianiluthvi

    August 2, 2012 at 10:01 pm

    Gagal gimana kak? Sukses kok. sukses bikin aku nangis. beneran deeh….
    Pokoknya bagus deh kak!😀

     
    • shilla_park

      August 2, 2012 at 10:16 pm

      haha jinjja?? woah terharu saya.. (?)😀

       
  26. mrs.kim(@azalia2498)

    August 3, 2012 at 2:23 am

    *Hapus air mata*
    eonnie ffmu bnar2 bikin aku nanggisss…
    good job

     
    • shilla_park

      August 3, 2012 at 7:45 am

      haha jinjja? cup cup… *sodorin tisu*😀

       
  27. aralee87

    August 3, 2012 at 9:07 am

    ehhh, sayaa berkaca” lohhh……

    padahal bisanya jarang banget berkaca” kalo baca ff, tapi yang ini kok nyesek amat yah?
    Tapi alurnya berasa banget sih chingu..

    ditunggu ff lainnya…

     
    • shilla_park

      August 3, 2012 at 9:47 am

      haha jarang berkaca2 berarti ga pernah nangis..omom you are a strong girl..lol😀

       
  28. milia

    August 3, 2012 at 10:39 am

    Ya ampun, sedih banget ini cerita. Hahahaaaa pas baca, masuk banget ke alur ceritanya. Berasa pemainnya, hahhaaaaa

     
    • shilla_park

      August 3, 2012 at 10:53 am

      hehe jinjja? woah syukurlah kalau bgitu (?)😀

       
  29. Ah rin

    August 3, 2012 at 12:19 pm

    Oke eonni.
    Eon teruskan tpo mu hehe aku menunggu

     
    • shilla_park

      August 3, 2012 at 12:30 pm

      haha sabar yak kalo buat TPO..haha

       
  30. yendah

    August 3, 2012 at 9:23 pm

    bahagiaNya miris ya…

     
  31. MissCloud

    August 4, 2012 at 12:42 am

    Yaelah shill~angst gagal lo bikin gw mewek ㅠ___ㅠ
    untung bacanya gg siang2…bs” gw terancam batal*jewer shilla xp

    Sii mochi kurang ajar!!!!!mentang2 stu imut yeeee tunangan sendiri dianggurin(?)
    *untung gue tunangan yesung yang setia, seiya sekata*apa ini -___-”
    back to the mochii…..sukurin mewek kan lo dtinggal.mati ama.kyo*tebar duit*
    kyo kesian amat u.u*free hug buat arwah(?) kyo*malah.jdi.horor*

    awas aja klo.sscopelnya dbuat angst…..gue umpanin wonppa k ikan piranha nyahahahaha~~

     
    • shilla_park

      August 4, 2012 at 9:18 am

      mana ada nangis bikin batal..haha😀
      tenang aja saya mah kalo ss kopel biasanya saya bikin happyend..couple lain baru saya bikin angst..lol😀

       
      • MissCloud

        August 4, 2012 at 9:49 pm

        Ada lah shilla~~tuh aermata eonn masuk k mulut kan bikin batal u.u

        hiyyayah drmu kan ratu tega~~suami sendiri aja dnistakan*pukpuk wonwon*
        TPO.a publish ntaran aja dech~gw blom baca y lain kkkkkk~~

         
      • shilla_park

        August 5, 2012 at 7:31 am

        haha..kalo saya ga tega ntar suami saya semena2 trus ninggalin saya deh… *teori dr mana?*😀

         
  32. Maria

    August 4, 2012 at 7:09 am

    Eonni….. Keren ff-nya. hhahaha
    Sukses bikin aku mewek.😛
    Abisnta Hyekyo nya kasian bgt.
    Tapi rada kasian juga sih sama Henry di endingnya. Tapi salah dia juga awalnya g peduli lagi sm Hyekyo. Kkkkk

    TPO-nya buruan dilanjutin dong eonni. Masa eonni tega ngebuat reader2mu ini menunggu tanpa kepastian(?). *puppy eyes* hhehehe

     
    • shilla_park

      August 4, 2012 at 9:23 am

      haha makin hyeyo kasian makin saya seneng.. *smirk*
      TPO sabar aja ya..haha😀

       
      • noonajewels

        August 4, 2012 at 6:44 pm

        eon. . .pasti keliatan kan di dasboard kalo aku cek blog mu ini tiap hari ,kenapa gk pake jadwal aja eon . .hehe

         
      • shilla_park

        August 4, 2012 at 8:06 pm

        apa yg mau dijadwal? crita yg mau dipublish aja kaga ada..haha😀

         
  33. Safrina H Indraswari (@safrinaharli)

    August 4, 2012 at 9:12 pm

    eooooon, TPOOOOOO manaaaa ? :(((

     
    • shilla_park

      August 5, 2012 at 7:27 am

      haha sabar ya dalam proses ini..

       
  34. utit

    August 5, 2012 at 3:57 am

    nih sbnrnya udah nyesek gila tp knp msh ngrasa ada yg kurang ya…tp g tahu di bagian mana
    *reader bingung*

     
    • shilla_park

      August 5, 2012 at 7:35 am

      iya kurang kok…kurang bagus..haha😀

       
  35. Maria

    August 5, 2012 at 5:17 pm

    Eonni, ini udh seminggu lebih, TPO blm di post juga.😦
    Ayolah eon, TPOnya d post. Jebal…. *pasang aegyo*😄

     
  36. eva sari

    August 7, 2012 at 4:03 pm

    nyesek bgt bacanya

     
  37. choharin

    January 3, 2013 at 9:46 pm

    #ambil tisu
    nangis waktu hanry panggil2 hyekyo,
    hanry kau baboya!
    #nyanyi ala kyuhyun
    daebaaakk!
    *joget2

     
    • shilla_park

      January 4, 2013 at 5:25 pm

      haha henry emang babo disini..lol

       
  38. fitrialways

    August 8, 2013 at 4:27 am

    Ini ga gagal kok!!!! Udh berapa kali baca ttp aja nangis kkkk~ ff yang do tulis eonni bagus2 semua ga gagal bikin aku nangis eonniii!! *banyak jempol*

     
  39. fitrialways

    August 8, 2013 at 4:29 am

    Lagi2 ga gagal bikin aku nangus eonni!!

     
  40. lin

    September 3, 2013 at 9:03 pm

    Hikkss hikss😥

     
  41. inggarkichulsung

    September 5, 2013 at 4:55 am

    So sad story.. Henry ge menyebalkan di awal2, kasihannHyekyo hrs menderita sendiri di saat2 terakhirnya, pdhl seharusnya ia merasakan kebahagiaan.. Meskipun Hyekyo tdk th apakah Henry Ge benar2 mencintainya atau tdk di saat2 terakhir tp ia merasa bahagia krn dapat slg menyatakan cintanya kembali

     
    • shilla_park

      September 6, 2013 at 6:57 am

      haha henry berasa kejem amat yak disini haha mianhae lol

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: