RSS

A Perfect Facade Part 14

15 May

Shilla APFix

Shilla bisa sedikit menghela napasnya ketika ia kini sudah bisa duduk di sebuah ruangan inap. Sosok Siwon yang kini tertidur sedikit membuatnya tenang. Setelah beberapa jam lalu ia dibuat panik dengan kenyataan bahwa Siwon tak sadarkan diri di pangkuannya.

Shilla tidak bisa menjelaskan betapa panik dan cemas dirinya. Entah bagaimana dia pada akhirnya bisa berhasil membawa Siwon ke rumah sakit. Setahunya hanya ia meminta tolong pada security apartemen dan setengah jam kemudian dia telah sampai di Seoul SKY Hospital.

Dan ia juga tidak bisa menjelaskan betapa panik dirinya ketika Siwon langsung dilarikan ke Emergency Room. Entah apa yang tim medis lakukan pada Siwon, yang Shilla ingin saat itu hanyalah Siwon segera ditangani dan baik-baik saja.

Dan di sinilah Siwon sekarang. Tertidur pulas paska penanganan dari dokter. Dokter bilang bahwa Siwon masih di bawah obat bius dan akan sadar beberapa jam kemudian.

As long as, he will be fine after this then Shilla won’t mind.

“Eoma!” Siwon berlari lincah sembari terus memanggil sang ibu. Kaki kecilnya melangkah ringan hingga menuju kamar orang tuanya. Dengan senyuman lebar masih terkembang di bibirnya, Siwon membuka kamar sang ibu.

“Eoma, lihat! Siwon-ie berhasil mendapat nilai 100. Seongsaengnim bilang Siwon-ie akan diikutkan dalam olimpiade science. Siwon-ie hebat, bukan?” ucapnya tanpa jeda. Tangan kanannya masih memegang kertas hasil ujiannya dengan bangga. Tas sekolahnya bahkan masih tertempel di punggungnya.

Senyuman lebar itu perlahan menciut ketika ia tidak mendapat sautan sama sekali dari sang ibu. Jika biasanya, ketika Siwon menunjukkan betapa ‘hebat’ dirinya pada sang ibu maka ibunya akan segera memeluknya hangat dan mengucap betapa bangga dirinya. Tapi kini, hanya sebuah keheningan yang Siwon dapat.

Mata Siwon kecil menatap tubuh sang ibu. Menyadari bahwa ibunya terbaring di tempat tidurnya.

“Eoma, jja?” tanyanya pelan. Tidak biasanya ibunya tidur ketika jam Siwon pulang sekolah. Rasa penasarannya mencuat dan ia melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur sang ibu.

Kakinya tiba-tiba berhenti. Dirinya kini berada tepat disamping tempat tidur. Melihat beberapa pil berserakan di lantai dengan sebuah botol yang tertumpah. Tangan kanan sang ibu terjuntai melalui pinggiran ranjang. Sementara tangan kirinya terletak tepat di depan dada.

Mata Siwon melebar ketika ia melihat darah di sudut bibir sang ibu. Melihat betapa pucat wajah sang ibu kini. Melihat hal itu membuat jantung Siwon berpacu kencang. Sebuah perasaan perih melilit dadanya kuat.

Dia tidak bodoh. Anak berumur 8 tahun itu jenius di kelasnya. Jadi rasanya ia tidak terlalu naïf untuk menyadari apa yang tengah terjadi kini. Mungkin dirinya memang tidak sepenuhnya mengerti bagaimana hal itu terjadi tapi ia cukup mengerti bahwa ini adalah mimpi buruk dalam dunia nyatanya. Meski sejujurnya ia sama sekali tidak ingin mengalami mimpi buruk itu.

Anak itu hanya bisa berdiri kaku. Ia bisa mendengar bunyi derap langkah seseorang hingga orang itu berdiri di sebelahnya. Hingga orang itu meneriakkan nama sang ibu dengan teriakan horror.

“Eoni!” Siwon mendengar dengan jelas ketika Cho Yijung memanggil ibunya. Ia mendengar bagaimana Yijung setelahnya memanggil ayah Siwon dengan teriakan panik. Ia bisa melihat bagaimana Yijung menggoyangkan tubuh Booyoung –ibunya.

Ia bisa melihat dan mendengar dengan jelas ‘kekacauan’ di kamar itu. Hanya saja otaknya terlalu enggan untuk merespon apa yang terjadi. Otaknya rasanya tumpul hingga membuatnya hanya bisa berdiri kaku tanpa kata.

Mata Siwon hanya bisa menatap kosong pemandangan di depannya. Pemandangan menyakitkan yang rasanya kalau bisa ia ingin menutup matanya dan berlari sekencangnya dari tempat itu, dari kenyataan itu. Tapi ia bahkan tidak bisa. Menggerakkan satu sendi tubuhnya pun ia tak bisa.

Kertas yang seharusnya ia ingin tunjukkan dan banggakan kepada sang ibu terlepas begitu saja dari genggamannya. Ia tidak begitu peduli karena pada dasarnya ia tidak mengerti apa yang harus ia pedulikan dan rasakan saat itu. Otak dan hatinya terasa beku untuk sekedar memberikan sebuah respon.

Dan kini yang ia lihat bukan lagi sebuah kamar terang dengan segala kekacauan dan teriakan panik. Melainkan sebuah ruangan gelap dimana hanya ada dirinya yang tengah berdiri kaku dan sang ibu yang terbaring tanpa jiwa tepat di kedua matanya. Batinnya menjerit tapi ia tidak bisa mengutarakannya secara lisan. Jiwanya meronta memanggil sang ibu, berharap sang ibu akan terbangun dari ‘tidurnya’ dan memeluk Siwon kembali. Tapi yang Siwon rasakan hanyalah suasana dingin mencekam dan meyakinkannya bahwa semuanya begitu menyakitkan.

He want to scream out loud but he can’t even move a single muscle.

Ia merasakan tubuhnya terangkat. Sang ayah menggendongnya. Tapi mata Siwon masih bisa menatap tubuh sang ibu yang terbaring meski kini secara perlahan tubuhnya menjauh dari posisinya terdahulu.

“jangan dilihat!” ucap sang ayah. Tapi toh Siwon masih melihat dengan jelas pemandangan di depannya.

“Semuanya akan baik-baik saja” ucap sang ayah lagi. Dan batin Siwon menjerit menyangkal, meski sekali lagi tidak ada suara yang terlontar dari bibirnya.

Dan meski ia tidak lagi bisa melihat tubuh sang ibu yang terkapar tapi dalam memorinya terpatri jelas tiap detail kejadian menyakitkan itu. Terpatri terlalu kuat hingga membekukan hatinya setelahnya.

Shilla terhenyak ketika ia memperhatikan tubuh tidak sadarkan diri Siwon. ketika ia melihat air mata yang mengalir dari pelupuk mata Siwon. pria itu menangis diam dalam tidurnya.

Dia menangis?

Shilla hanya terpaku memperhatikan lelehan air mata Siwon. tangan wanita itu terjulur dan menyeka air mata Siwon. tangannya kemudian beralih pada jemari Siwon dan menggenggamnya.

“Apa sakit? Apa begitu sakit, hm?” tanyanya pada sosok Siwon yang masih belum sadarkan diri. Menerka bahwa air mata yang Siwon keluarkan itu bersumber dari rasa sakitnya.

Matanya menatap iba sosok boss-nya itu. Sentuhan lembut ia sebarkan pada jemari yang ia genggam, berharap ia bisa sedikit saja mengurangi rasa sakit Siwon. meski ia tahu ia tidak bisa. Ataukah bisa? Shilla tidak tahu.

Yang jelas, malam itu Shilla tidak melepaskan sama sekali genggaman tangannya pada jemari Siwon.

=A Perfect Façade Part 14=

Wanita itu hanya bisa menggeliat singkat ketika ia merasakan panas matahari pagi menyeruak masuk ke dalam ruangan itu. Ia mengerjap singkat hingga ia menyadari bahwa tangannya masih bertautan dengan tangan Siwon. ia segera melepas kontak mereka. Merasakan dadanya bergetar aneh.

Did I hold his hand all night long?

Shilla menggelengkan kepalanya kikuk. Pandangan matanya kemudian beralih pada jemari Siwon yang tadi ia genggam. Jemari itu perlahan bergerak disusul dengan mata Siwon yang perlahan terbuka.

“Ah, kau bangun? Gwenchana? Ada yang sakit?” pertanyaan itu hanya dijawab dengan kerjapan mata dari Siwon.

“Apha? Aku panggilkan dokter, hm?” tanya Shilla lagi. Siwon menatap sekretarisnya itu dengan tatapan lemah.

“Neo…” ucapan menggantung dari Siwon itu membuat Shilla terhenti. Ia memperhatikan Siwon dan menunggu pria itu menyelesaikan ucapannya.

Siwon disisi lain, juga hanya bisa menatap Shilla. Melihat bahwa baju yang Shilla kenakan masih baju yang sama saat Siwon menemuinya semalam. Dia ingat. Pingsan bukan berarti ia kehilangan ingatannya, bukan? Dan hal itu membuat otak Siwon bisa menarik kesimpulan bahwa Shilla semalaman berada di sisinya.

“Mianhae” Shilla tidak mengerti kenapa Siwon mengucapkan kalimat maaf itu. Suara lirih Siwon nyatanya bisa Shilla dengar dengan jelas.

“Mwo?”

“Maaf merepotkanmu”

“Eh?”

Jujur Shilla tidak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari bibir Siwon. mengucap maaf ketika pertama kali dirinya sadar, rasanya bukanlah tipikal seorang yang terbiasa terlihat arogan seperti Siwon. atau mungkin sejujurnya Siwon memiliki sisi itu yang terkubur dalam watak luar yang biasa orang lihat darinya.

“Kau bicara apa?”

Siwon tersenyum tipis. “Kau menungguiku semalaman? Maaf” ulang Siwon. shilla hanya bisa terpaku di tempatnya sembari menatap Siwon.

Apa sakitnya semalam membuat otaknya sedikit bergeser?

“Ah kau sudah bangun Choi-ssi” ucapan itu membuat Shilla dan Siwon menolehkan kepalanya. Seorang dokter muda mendatangi ruangan Siwon. dari sekali lihat Siwon tahu bahwa ia bukan orang Korea asli.

“Ah, Fabian imnida.” Ucapnya memperkenalkan diri. Alis Siwon terangkat singkat mendengar nama dokter yang menanganinya. Tapi begitu matanya menatap logo yang tertera di atas saku kanan jas putih itu, Siwon tahu bahwa wajar kalau nama dan logat bicara dokter muda itu sedikit aneh. Seoul SKY hospital, memang salah satu rumah sakit international di Seoul. Dan bukan rahasia lagi kalau tim medis di rumah sakit itu juga bervariasi dari beberapa Negara.

“Bagaimana? Apa yang kau rasakan?” tanya dokter berambut pirang itu.

“Kurasa perutku sedikit…tidak nyaman?”

Fabian tersenyum singkat kemudian memeriksa Siwon. “Itu wajar untuk yang baru saja endoscopy seperti dirimu, Choi-ssi”

“Endoscopy?”

“Ah ne. you can call it as minor surgery or so. kau mengalami gastrointestinal ulcer. dan semalam kami harus melakukan endoskopi padamu untuk menghentikan sumber sakitnya.sepertinya Choi-ssi mengkonsumsi pain-killers regularly, ne?” tanya dokter itu dengan bahasa sedikit berantakan. Tapi toh Siwon mengerti dan menganggukkan kepalanya.

“Berapa lama kalau boleh tahu? Berapa lama Choi-ssi mengkonsumsi obat itu?” tanya dokter itu sembari mengecek tetesan infus yang masuk ke tubuh Siwon.

“Ehm…kurasa sudah beberapa tahun. Aku tidak begitu ingat. Is it that bad?” ucap Siwon. Fabian menganggukkan kepalanya.

“Pada dasarnya pain-killers memang dibutuhkan untuk meredam rasa sakit. Hanya saja jika dikonsumsi secara berlebihan dan dalam waktu lama maka bisa menimbulkan beberapa kelainan saluran pencernaan. Seperti yang terjadi pada Choi-ssi. Pola hidup yang tidak terjaga juga bisa memperparah efek samping dari obat-obatan ini.”

“Dia memang terbiasa minum kopi di pagi hari tanpa asupan makanan pendamping lain” celutuk Shilla menginterupsi. Siwon dan Fabian menolehkan kepalanya kearah Shilla. Siwon dengan tatapan tajamnya sementara Fabian dengan senyumannya.

You got a caring fiancée here” komentar Fabian. Kalimatnya tak elak membuat Siwon terhenyak.

“Apa sebelumnya Choi-ssi pernah mengalami sakit sehingga membuat Choi-ssi mengkonsumsi obat-obatan itu?”

Siwon menggeleng singkat. “Aniyo. Hanya…I was just…used to drink it whenever I feel pain” ungkap Siwon.

And whenever I got depressed

“Ah jadi begitu. Well, sayangnya itu tidak baik untuk kesehatanmu Choi-ssi. Dan kalau ucapan tunanganmu itu benar, kopi yang biasa kau minum di pagi hari tanpa asupan makanan lain memperparah efek samping. And I thought you were under stress till you passed out last night, am I right?” tanya Fabian. Siwon menatapnya agak lama kemudian menganggukkan kepalanya.

But it’s okay now. Hanya saja kau harus memperhatikan kesehatanmu dan pola makanmu setelah ini. Tidak mustahil kalau sakitmu bisa kambuh lagi kalau pola hidupmu masih seperti dulu. Bahkan bisa lebih buruk. Jadi saya sarankan untuk memperbaiki pola hidupmu, Choi-ssi” ucap Fabian. Dokter itu kemudian menolehkan kepalanya kearah SHilla.

“Dan kurasa sudah menjadi tugasmu untuk mengawasi tunanganmu, bukan? Make sure he eats decent meals and help him to avoid stress, will you?” ucapnya pada Shilla. Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya kikuk.

“Ah, I forbid you to work for a couple of days Choi-ssi. well, aku keluar dulu kalau begitu. Hubungi aku kalau ada sesuatu” ucap Fabian kemudian membalikkan badannya. Tersenyum singkat dengan kalimat terimakasih yang keluar dari bibir Siwon dan Shilla.

Now you admit that you’re my fiancée?” gumam Siwon. shilla menatapnya singkat.

“Well, aku tidak punya pilihan. They were asking for your guardian and unfortunately I forgot to bring my phone so I couldn’t call your relatives. Jadi ya aku bilang saja kalau aku tunanganmu. Daripada kau tidak cepat ditangani, kan? Dan hey, harusnya kau berterimakasih padaku karena itu”

“Kau tidak membawa ponselmu?”

“Eo. i was panic, okay? Aku hanya membawa dompetku kemari. Dan yah aku tidak hapal nomer telepon keluargamu jadi aku tidak bisa menghubungi mereka. Mian” ucap Shilla.

“Gwenchana. Toh aku juga tidak mengharap mereka ada disini.”

“Tapi tetap saja kalau saja aku bisa menghubungi keluargamu setidaknya aku tidak perlu berbohong kalau aku ini tunanganmu, kan? Ah kenapa juga aku bisa lupa membawa ponselku” gumam Shilla. Siwon tersenyum tipis.

“Kau sepanik itu, huh?”

“Mwo?”

“di saku celanaku kurasa aku membawa ponselku. Kau tidak berpikir untuk memakai ponselku dan menghubungi keluargaku? Are you really that worried?”ucap Siwon dengan senyuman puas di bibirnya.

Shilla terhenyak. Merasa dirinya begitu bodoh. Ia tahu bahwa Siwon membawa ponselnya di saku celananya saat ia pingsan semalam. Ia sendiri bahkan yang menyimpan ponsel dan pakaian Siwon sebelum Siwon berganti pakaian rumah sakit. Hanya saja kenapa Shilla bisa sebodoh itu hingga tidak menyadari akan hal itu?

“Aku…ehm…keunyang,..”

“Aku tidak pernah berpikir kalau kau akan seperti ini. Gwenchana, I like it

“M-mwo?”

“Lupakan.” Potong Siwon. ia terkekeh kecil yang tentu saja tidak lepas dari pengamatan Shilla.

Was I really that worried?

Shilla berpikir sejenak. Dia panic, itu jelas. Melihat Siwon tiba-tiba terkapar di pangkuannya siapa yang tidak akan panik memangnya? Hanya saja sampai sejauh mana taraf paniknya hingga ia kehilangan akal sehatnya? Hingga ia tidak bisa berpikir jernih dan cenderung bertindak bodoh?

=A Perfect Façade Part 14=

Kerutan di kening Siwon menjadi pertanda bahwa pria itu tengah berpikir. Ia mengamati sosok Shilla yang tengah mengunyah sarapannya. Kunyahan terakhirnya. Menyisakan lebih dari setengah porsi dari nasi goreng yang ia pesan.

“Wae?” tanya Shilla ketika menyadari tatapan Siwon terhadapnya. Wanita mengelap sudut bibirnya kemudian menegak air putih sampai habis.

“Hanya segitu makanmu? Diet, huh?” tanya Siwon dengan sedikit mengolok. shilla menggelengkan kepalanya.

“Aniya. Hanya…aku tidak bisa makan terlalu banyak saat sarapan. I easily got nausea if I eat too much for my breakfast” terang Shilla.

“Dan yang baru saja kau makan kurasa tidak bisa dibilang terlalu banyak. Terlalu sedikit bahkan”

“Well, hanya segini jumlah makanan yang bisa ditolerir perutku saat pagi. Lebih dari ini maka aku bisa mual dan bahkan muntah”

“Wae?”

“Entahlah. Tapi seperti inilah yang kurasakan setiap paginya.”

Siwon hanya menganggukkan kepalanya. “Kupikir kau diet” gumam Siwon. dijawab kekehan kecil dari Shilla.

“Aku tidak seperti itu. Aku bahkan tidak peduli kalau aku sedikit gemuk. In fact, I want my body to gain some weight.

Then just don’t skip meals, will you?”

“Says the one who get sick here? Tck!” balas Shilla. Ia melempar tatapan pada Siwon.

You are unbelievable” komentar Siwon. shilla kembali terkekeh.

And somehow, Siwon likes hearing her laughs.

“Kau akan ke kantor hari ini?” tanya Siwon. Shilla menganggukkan kepalanya.

“Aku tidak mungkin absen seperti dirimu, kan? Bukankah sudah tugasku untuk menghandle pekerjaanmu selama kau tidak masuk?”

Siwon mengangguk singkat. “Kau benar. Keunyang…. Jangan beritahu siapapun kalau aku terkapar disini”

“Wae? Kurasa mereka perlu tahu. Terutama keluargamu. Tidakkah kau pikir mereka akan khawatir padamu?”

“No. They never did” balas Siwon singkat. Shilla terdiam singkat. Mengamati Siwon yang tidak menunjukkan rasa ragu sedikitpun. Wanita itu menghela napasnya.

“Araseo. Tapi, aku boleh memberitahu Hani eoni, kan? Meski katamu keluargamu tidak peduli padamu tapi Hani eoni tetap akan peduli, kan?” tanya Shilla. Siwon melirik Shilla kemudian menganggukkan kepalanya.

“Keureom…aku akan kembali lagi setelah pulang kerja. Ada yang ingin kau pesan? Nanti biar aku bawakan saat menjengukmu lagi”

“Gwenchana. Kau juga tidak perlu menungguiku. You need to rest”

“Kalau kau tidak mau memberitahu keluargamu maka biar aku yang menjagamu. Siapa lagi yang akan menjagamu, memangnya?”

“Tidak ada. Tapi aku tidak apa-apa”

“Aniya. Aku akan tetap kesini. And I don’t need your opinion here.” Dengan itu Shilla keluar dari ruangan Siwon. meninggalkan Siwon yang tersenyum tipis.

You really sound like a caring fiancée

=A Perfect Façade Part 14=

“Kenapa dengan muka masammu, yeobo?” Yijung bertanya kepada suaminya. Melepas jas hitam suaminya dari tubuhnya. Kiho menghela napasnya.

“Siwon tidak masuk kerja dua hari ini tanpa ijin”

“Wae?”

“Molla. Kurasa dia serius dengan ucapannya saat bilang akan resign kalau aku mengikutsertakan Kyuhyun dalam perusahaan. Anak itu benar-benar”

“Keureom, haruskah aku berhenti saja, abeoji?” ucap Kyuhyun menginterupsi. Orang tuanya sontak memandang sosok Kyuhyun yang tengah memandang mereka.

“Aniya. Biarkan saja! Anak itu keterlaluan jadi jangan dituruti”

“Tapi tetap saja, abeoji. Kalau Siwon Hyung tetap seperti itu maka pekerjaannya bisa saja terbengkalai dan tentu saja itu akan tidak baik untuk perusahaan, bukan?”

“Kau benar, tapi…”

“Jadi biar aku yang mengalah, abeoji” saran Kyuhyun. Kiho menatapnya diam kemudian menghela napasnya.

“Gwenchana, Kyuhyun-ah. Nanti kita pikirkan lagi solusinya. Tapi kalau anak itu tetap bertindak kekanakan dan pergi entah kemana seperti ini maka aku juga tidak bisa tinggal diam. Anak itu!” ucap Kiho sembari sedikit menggertakkan giginya. Yijung menyentuh pundak sang suami dan menenangkannya.

“Keunde yeobo…mungkinkah ada kemungkinan lain?”

“Maksudmu?”

“Mungkinkah…kalau terjadi sesuatu pada Siwon dan bukan melarikan diri? Kau bilang ia tidak bisa dihubungi dan tidak ada yang tahu keberadaanya, bukan? Jadi…mungkinkah kalau terjadi sesuatu padanya?” tanya Yijung yang kini berubah cemas. Kiho dan Kyuhyun terdiam sejenak. Memikirkan kemungkinan itu.

“Entahlah. Semoga tidak” ucap Kiho kemudian berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Yijung dan Kyuhyun yang kini saling tatap.

“Kyuhyun-ah, kau cari tahu keberadaan kakakmu, eo? temanmu yang waktu itu…dia bukankah kekasih Siwon? tanya padanya kalau-kalau ia tahu dimana Siwon, eo?” pinta sang ibu.

“Shilla maksud eoma?”

“Ne. kakakmu pernah mengenalkannya sebagai kekasih, bukan? Mungkin dia tahu dimana Siwon”

Kyuhyun menghela napasnya singkat. “Sudah eoma. Dan dia bilang ia tak tahu” terang Kyuhyun. Sang ibu ikut menghela napasnya.

Meski aku tak yakin dia jujur padaku.

=A Perfect Façade Part 14=

Shilla meletakkan tas miliknya di kursi ruangan inap Siwon. ia mengerutkan keningnya ketika ia tidak bisa melihat sosok Siwon di kamarnya. Tapi melihat bahwa barang-barang Siwon masih ada di ruangan itu membuat Shilla yakin kalau Siwon belum pulang dari rumah sakit itu.

“Kemana dia?” gumamnya kemudian keluar lagi dari ruangan itu. Berjalan menuju beberapa suster yang tengah berjaga di mejanya.

“Ehm…”

“Ah ne? bisa saya bantu?” tanya seorang suster. Shilla menganggukkan kepalanya.

“Ada yang tahu kemana pasien di ruangan itu?” tanya Shilla sembari menunjuk arah ruangan Siwon.

“Ah, pasien tampan itu?” Shilla hanya tersenyum kikuk pada komentar perawat itu. Well, ternyata wajah tampan Siwon ada gunanya juga. Setidaknya dia terlihat mencolok diantara pasien lain sehingga bisa dengan cepat dikenali oleh suster, bukan?

“Tadi aku melihatnya berjalan kearah sana. Mungkin ada di atap? Pasien memang terkadang suka ke atap untuk refreshing” terang sang suster. Shilla tersenyum kearahnya.

“Ah geuraekuna? Terimakasih kalau begitu” ucap Shilla sembari sedikit menganggukkan kepalanya sopan. Wanita itu pada akhirnya berjalan kearah yang suster tunjukkan padanya. Dan benar saja ia bisa melihat Siwon duduk disana.

Pria itu menatap lurus pemandangan malam yang terjangkau dari atap rumah sakit itu. Entah apa yang tengah Siwon pikirkan tapi sepertinya pria itu tengah berpikir dalam. Shilla berjalan kearahnya kemudian duduk di sebelah Siwon. pria itu menolehkan kepalanya singkat kemudian kembali menatap panorama malam.

How’s work?” tanya Siwon membuka pembicaraan.

“Melelahkan seperti biasa. Terlebih karena kau tidak ada. Tapi setidaknya aku sedikit bisa bekerja dengan tenang tanpa mendengar omelanmu” ucap Shilla dengan candaanya. Siwon tersenyum tipis.

“Aku tidak pernah mengomel”

“Memang. Tapi kau langsung memaki”

“Hya!” tegur Siwon. shilla terkekeh kecil. Hingga keduanya kembali diam hanya sibuk menikmati langit malam.

“Dokter membolehkanku pulang tadi” ucap Siwon melepas keheningan. Shilla sontak menolehkan kepalanya.

“Lalu kenapa masih disini? Kurasa kita harus membereskan barangmu dan pulang?”

Siwon menggelengkan kepalanya. “Tapi aku menolak untuk pulang. Setidaknya sampai besok. Dan mereka mengijinkanku”

“Wae? Kurasa tidak ada orang yang suka menginap di rumah sakit”

“Hanya ingin terbebas dari semuanya satu hari lagi. Setidaknya disini aku tidak perlu memikirkan pekerjaan dan hal lainnya. At least no one pisses me off, here” ungkap Siwon. shilla hanya mengerjap dan menatapnya lama.

You are running away, aren’t you?” gumam Shilla. Siwon tak langsung menjawabnya.

“Mungkin. Entahlah” jawabnya pada akhirnya.

“Kau berlari dari apa memangnya? Keluargamu dan permasalahan kompleks kalian?”

Masih tak menatap Shilla, Siwon berkata “Molla. Aku hanya tidak ingin memikirkan apapun sekarang. Hanya ingin mengosongkan pikiranku. Toh kurasa mereka tidak peduli dimana aku berada sekarang. Kurasa bahkan mereka tengah kesal padaku dan mengira aku bertindak kekanakan karena mangkir dari pekerjaan. Mereka tidak akan peduli apa aku baik-baik saja atau tidak. Selama perusahaan berada dalam kondisi stabil maka tidak ada yang mereka khawatirkan kurasa” jelas Siwon. shilla hanya bisa menatapnya iba.

“Mereka tidak setega itu kurasa”

you don’t know them, Shilla-ya.” Ucap Siwon dengan suara pelan tapi dingin. shilla menghela napasnya.

“Bagaimana kalau ternyata semua pikiran burukmu tentang mereka bukanlah yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kalau nyatanya mereka peduli padamu?”

Siwon terkekeh datar. “Are you in their position to know what their inner thinking says? terlebih kurasa kau bukan diriku yang mengalaminya”

“Aku…”

Have you tried your very best to please someone but you got nothing in return?”

“M-mwo?”

“Pernahkah kau berusaha sekuat tenaga untuk membuat seseorang sedikit saja menolehkan kepalanya padamu tapi pada akhirnya semuanya hanya sia-sia. Seberapapun besarnya usahamu, seberapapun keras usahamu….orang itu tetap tidak berniat sedikitpun untuk melirikmu” gumam Siwon. shilla hanya memandangnya tanpa tahu kemana arah pembicaraan Siwon.

Is he liking someone?

I want to be praised. I want him to be proud of me but I guess I just hang my dream too high” ungkap Siwon.

“He?” tanya Shilla.

“Ne. abeoji” lirih Siwon. shilla merutuk dirinya singkat karena mengira Siwon tengah membicarakan lawan jenis padahal bukan.

The day my mom’s dead… I knew that I only had him as my family. Dia satu-satunya keluarga yang bisa kujadikan pegangan. Selama ini aku baik-baik saja karena Eoma selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Terlalu bergantung pada Eoma hingga saat ia pergi aku bagaikan seorang manusia yang terombang-ambing di tengah samudra. Tidak ada siapapun, tidak ada pegangan” ujar Siwon. bibirnya menyunggingkan senyuman getir.

“Pemikiran bahwa aku masih memiliki ayah sedikit membuatku tenang. Membuatku berpikir bahwa aku harus membuatnya melihatku. Sama seperti bagaimana Eoma memperhatikanku. Aku ingin dia seperti itu padaku. Terlebih saat aku begitu terpuruk dengan kepergian Eoma” Siwon terhenti sesaat.

“Tapi dia tidak melakukannya” sambung Siwon. ia terdiam lagi, seperti tengah mengumpulkan segenap memori masa lalunya.

Shilla tidak mengerti kenapa Siwon tiba-tiba menceritakan ini padanya. Tapi toh wanita itu tidak keberatan. Ia tahu bahwa seorang Choi Siwon menyimpan begitu banyak misteri dan entah kenapa Shilla ingin sedikit demi sedikit memahami Siwon.

I was waiting. Waiting for him to reach me, to hold me, to look straight at my eyes with so much love in it. But it never happened.” Lanjut Siwon. ia tidak menghiraukan kalau kini ia hanya mengenakan pakaian tipis rumah sakit dan udara malam tengah menembus dengan gampang melalui pori-pori kulitnya.

“Aku pikir….dia tidak mencintaiku seperti yang selama ini aku bayangkan. I used to think that he loves me just like how my mom told me. Tapi kurasa tidak. Jadi kupikir….kalau aku ingin dia melihatku maka aku harus melakukan sesuatu yang bisa membuatnya bangga. Dan itulah yang selama ini aku lakukan” ucapnya yang kini menatap Shilla. Wanita itu bisa melihat Siwon tersenyum pahit.

Pria itu mengalihkan pandanganya lagi. “Menjadi diriku yang sekarang mungkin banyak orang yang memujiku. Bagaimana aku bisa menjadi CEO muda dan sukses, kurasa banyak orang yang ingin menjadi seperti diriku. But it was not my dream. It is his” ungkap Siwon. shilla melebarkan kelopak matanya.

“Maksudmu… kau tidak pernah bermimpi untuk menjadi businessman seperti sekarang ini?” tanya Shilla. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Siwon.

I was like a copycat of my mom. Bakat dan kesukaan Eoma mengalir begitu saja dalam darahku. Sama hal-nya dengan cita-cita Eoma. She was a great artist, she could draw well, sing well and did well with any other arts. Dan aku ingin seperti dirinya. Tapi aku bahkan harus mengubur impianku begitu saja” ujar Siwon. jika tadi ia tersenyum tulus ketika mengenang sang ibu maka kini senyuman itu berubah getir.

“Aku tahu bahwa dia tidak akan suka kalau aku mengikuti jejak Eoma dan mengabaikan begitu saja impiannya. Itulah kenapa aku menghentikan mimpi dan harapanku sebelum impian itu berkembang begitu jauh. I left behind my dreams and I pursue his dream. Jigeum chorom” ucap Siwon lagi.

“Apa dia memintamu untuk mengikuti jejaknya?” tanya Shilla. Siwon menolehkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Tapi aku tahu dia mengharapkan anaknya untuk meneruskan perusahaanya. Itulah kenapa aku merelakan diriku untuk mengikuti harapannya. Dengan harapan bahwa ia akan tersenyum padaku dan bilang bahwa ia bangga padaku. But it never happened” jawab Siwon. ia membuang mukanya lagi dari tatapan Shilla.

“Awalnya aku berpikir bahwa aku belum cukup untuk bisa membanggakannya. Maksudku, hanya dengan aku bergabung dengan perusahaanya apa yang bisa dibanggakan memangnya? Makanya aku berusaha lebih keras lagi hingga aku berada pada posisiku sekarang. Dan masih dengan genggaman harapan bahwa ia akan bangga padaku, sekali lagi aku meretakkan hatiku sendiri” tambah Siwon.

I tried my best but he never acknowledges it. Sementara Kyuhyun…tanpa dia melakukan apapun, abeoji akan dengan senang hati melihatnya. once he did well then he would get praise non-stop” ucap Siwon. ia tertawa getir setelahnya.

There are times when I really envy him. Yes, I admit it. Ketika dia memutuskan untuk menggeluti dunia musik, bukan larangan yang ia dapat melainkan 100% dukungan. Mendapat sepenuhnya wejangan dari abeoji bahwa ia akan bangga jika suatu saat menghadiri konser putranya. Membuatku berpikir…kalau saja aku bertindak seperti Kyuhyun, apakah abeoji akan sepenuhnya mendukungku? Kurasa tidak” helaan napas keluar dari bibir Siwon.

“Aku ingat saat dulu Kyuhyun sempat membuat kesalahan…dia tidak mendapat teguran yang berarti. Abeoji hanya berharap bahwa Kyuhyun akan bertindak lebih baik lagi kemudian hari. Dan kau tahu apa yang aku dapat ketika aku berbuat kesalahan?”

“Dia menegurmu keras?” tebak Shilla. Siwon menggelengkan kepalanya

“Dia hanya akan menatapku dengan begitu dingin kemudian mengacuhkanku. He simply ignored me, but that what hurt the most.” Ungkap Siwon. shilla di sebelahnya hanya menatapnya iba.

“Apa kesalahanku begitu banyak hingga rasanya aku pantas diperlakukan seperti ini? I don’t need him to treat me like he treat Kyuhyun. I just want him to at least once proud of me. I just want him to acknowledge me as his son. i’m his son after all, right?” ucap Siwon dengan nada lirih. Shilla meraih jemari Siwon, membuat pria itu sontak menolehkan kepalanya.

Bibir Shilla menyunggingkan senyumnya. Kedua tangannya meraih tangan kanan Siwon.

He will…soon” ucap Shilla dengan keyakinan di matanya. Siwon terlarut dalam mata Shilla. Hingga tanpa sadar bibirnya mengeluarkan kalimat diluar kendali.

Can I….hug you?” tanyanya dan disusul dengan matanya membelalak. Sama halnya dengan Shilla. Wanita itu tentu saja terhenyak dengan pertanyaan –permintaan- Siwon. debar jantungnya melebihi batas normal, sebelum akhirnya ia mengambil keputusan.

Shilla mendekatkan tubuhnya pada Siwon. detik berikutnya ia merentangkan tangannya dan menyambut Siwon dalam dekapannya. Dia tidak tahu kenapa ia melakukan ini. Dia tidak tahu kenapa dia mengijinkan Siwon untuk memeluknya. But the moment Siwon told her his stories, she had an urge to hug him. And now she is.

Siwon tidak menjelaskan apa yang ia rasakan sekarang. Benar, bahwa ia merutuk singkat dalam hatinya karena bibirnya sembarangan bicara. Tapi, rasanya ia juga harus berterimakasih pada mulutnya karena ia bisa merasakan kembali perasaan itu. Perasaan hangat dan tenang sama seperti saat ibunya memeluknya.

Thank you. Your hug somehow reminds me of my mom’s. I like it” ungkap Siwon. shilla bisa merasakan debar jantungnya tak menentu dengan ucapan Siwon tersebut. Haruskah ia bahagia dengan ucapan Siwon? haruskah ia merasa terbebani? Haruskah ia melepaskan pelukannya?

What happening?

“Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?” tanya Shilla penasaran. Masih dengan dirinya masih memeluk Siwon. pria itu hanya menggelengkan kepalanya.

“Molla. Keunyang.” Jawab Siwon datar. Dia berkata jujur. Sejujurnyaia juga tidak mengerti kenapa ia menceritakan semua ini pada Shilla. Menceritakan kisahnya yang tak pernah ia bagi dengan siapapun. He was in deep thought and the moment Shilla sat beside him, he just wanted to let it out.

I was used to think on my own. Terbiasa menerka, menganalisis dan menarik kesimpulan berdasar pengamatanku sendiri. Dan terkadang itu begitu menyakitkan. Sometime I wonder how it feels to have someone to share all your thoughts.”

Dan itu yang aku lakukan sekarang.

“Kau tahu apa yang selama ini aku dapat?”

“Mwo?”

That love is very subjective.”

You think so?”

“Hm. Kalau tidak, maka tidak mungkin dia tidak menyambutku. He loves Kyuhyun because he loves Kyuhyun’s mom. Dan ia tidak menyayangiku karena pada dasarnya dia tidak mencintai ibuku. That is subjective enough, right?” gumam Siwon.

“Ehm. Tapi mungkin tidak seperti itu. May be that’s not the case. May be he loves you just like he loves Kyuhyun?”

“yang aku lihat dan rasakan selama ini tidak begitu”

“Mungkin dia hanya tidak bisa mengungkapkannya padamu. Mungkin dia juga mencintaimu. Jadi jangan berpikiran buruk, hm?” ucap Shilla.

Jika biasanya Siwon akan tidak suka jika orang lain mengatakan hal yang sama seperti yang Shilla katakan kini, tapi sekarang entah kenapa Siwon membiarkannya. Mungkin dia sudah terlalu lelah untuk menjadi pembangkang. Entahlah.

“molla. Aku hanya tidak ingin berharap lagi. I lost faith in him. Jadi rasanya jika aku berharap lagi jika ia mencintaiku akan menyakitkanku di kemudian hari.”

You just simply take that thought? That he doesn’t love you?”

Ehm. Dengan begitu aku tidak perlu terlalu menelan pahit, bukan?” ungkap Siwon. shilla menghela napasnya. Tangannya terulur dan mengelus rambut Siwon. rasa iba itu menyeruak kuat dalam dadanya.

“Shilla-ya?”

“Hm?”

“Kenapa kau mau mendengarkanku? You even hugging me, now” tanya Siwon balik. Shilla terdiam singkat.

Shilla menyadari bahwa dirinya mengikuti kehendak Siwon. They being intimate, she knows it well. Dia membiarkannya. Dan pertanyaan yang tertinggal di benaknya hanyalah: Kenapa ia membiarkannya?. Satu lagi misteri yang ia tak tahu bagaimana memecahkannya.

“Molla. Keunyang” jawabnya menirukan ucapan Siwon.

That was my line”

“I know” jawab Shilla enteng. keduanya lantas tertawa bersama. Di bawah langit malam yang membisu menyaksikan momen keduanya.

Feeling better?” tanya Shilla. Siwon menganggukan kepalanya dalam dekapan Shilla.

“Kalau begitu kurasa kita harus ke dalam, eo? udara mulai dingin” saran Shilla.

But why am I feeling …warm?

Give me 5 more minutes, eo?” pinta Siwon. dan Shilla tidak punya alasan lain selain membiarkannya.

She is enjoying the moment by the way.

 

To be continued…

 

Okay, I’m being kind enough to update fast…lol. Harusnya eke update pas anniversary kemaren, Cuma ga jadi. Bwahaha.

And I broke a promise to some people because I said I will update yesterday. So I’m sorry, okay? Haha

For you who wish more SS moment, here I grant your wish.

Idk about this chapter, so you tell me, okay?

Sorry for typos as always. Till next time😀

 

 

 

 
225 Comments

Posted by on May 15, 2014 in chapter, fanfiction

 

Tags: ,

225 responses to “A Perfect Facade Part 14

  1. Shin Airri

    November 27, 2014 at 8:32 pm

    wooaa scene terakhirnyaaaa…. very long hug… hehe mau donk pelikan ama siwon.. hehehehehe😛

     
  2. @wiwijung_

    December 25, 2014 at 10:20 am

    hmmmm hug…. keren dech. kata2 nya daebakkkk .

     
  3. uni

    March 13, 2015 at 7:30 pm

    Berharap part 19 segera dilanjutkan, hehe, hwaiting eon, ne salah satu ff favoriteq dengan tata bahasa yang uwoooww..

     
  4. nae.ratna

    August 19, 2016 at 10:43 am

    siwon perlahan lahan mulai terbuka dengan shilla
    sudah mulai timbul rasa nyaman juga dewh so sweet
    aahhh siwon you so…..
    aggrrhhhtt molla~

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: