RSS

A Perfect Facade Part 16

15 Jul

Shilla APFix

Siwon berjalan cepat menelusuri lorong rumah sakit. Jantungnya berdebar gugup setelah beberapa waktu lalu menerima telepon dari dr.Yoo tentang kondisi ibu Shilla. Membuat pria itu tanpa pikir panjang langsung bergegas menuju rumah sakit.

“Yoo seongsaengnim!” panggilnya begitu ia menemukan sosok dr.Yoo. dokter itu membalikkan badannya dan menatap Siwon.

“Shilla-ssi di dalam” ujar dokter itu kemudian membawa Siwon masuk.

Siwon hanya bisa membulatkan matanya begitu melihat pemandangan di hadapannya. Sosok Shilla yang berdiri kaku di samping ranjang ibunya terbaring. Seketika memori Siwon ketika umurnya masih 8 tahun menyergap Siwon.

“Apa…yang terjadi?” tanya Siwon lirih sembari masih menatap punggung Shilla yang membisu.

Dr.Yoo hanya bisa menghela napasnya. “She was just stopped breathing” lirih dr.Yoo. dari suaranya Siwon tahu kalau dokter itu menyesal.

“Bagaimana mungkin bisa tiba-tiba berhenti bernapas? They are bundle of machines here to support her, right? Lalu kenapa bisa tiba-tiba? Seolma,…kalian tidak mencabut alat itu, bukan?”

Dr.Yoo menggelengkan kepalanya. “Animida. Kami tidak mencabut alat itu. Ini murni…kehendak yang kuasa.”

“Mwo?”

“Siwon-ssi…”

“Maldo andwe! Tisak seharusnya begini. You are a doctor, do something about it!” desak Siwon. dr.Yoo hanya menggelengkan kepalanya.

“Jwesonghamnida. Tapi kurasa…”

“Eoma…” bisikan lirih dari Shilla itu nyatanya sanggup mengalihkan perhatian kedua pria yang tengah berbincang itu. Siwon sontak menolehkan perhatiannya pada Shilla yang tengah meraih tangan sang ibu.

“Eoma ireona!” lirih Shilla lagi. Tangannya mengusap lembut pipi sang ibu.

“Shilla disini Eoma. Buka matamu. Aniya, keunyang…bernapaslah Eoma” ucap Shilla lagi. Kini tangannya kembali meraih jemari sang ibu dan menempelkannya pada pipinya. Seketika ia merasakan bahwa kehangatan tangan sang ibu perlahan tak bisa ia rasakan lagi.

“Eoma kau dingin, eo? eoma…”

Shilla tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Ia tidak mengerti dengan apa yang ia pikirkan. Hanya saja ia merasakan gumpalan sesak yang menghimpit kuat dadanya. membuatnya serasa mati rasa, membuatnya seolah lumpuh otak.

“Eoma…aku…kita…” Shilla mulai tergagap saat ia merasakan sesak itu semakin menghimpitnya. Membuatnya seperti kehabisan kata. Serasa mencekik lehernya.

Siwon mendekati Shilla. Merasakan perasaan iba secara tiba-tiba. Ia bisa melihat sosok lemah di hadapannya. Tidak lagi ia melihat sosok Shilla yang terlihat selalu tegar.

GREP

Siwon secara reflek meraih Shilla dalam dekapannya. Wanita itu berontak tentu saja.

“Lepas! Aku ingin membangunkan Eoma!” ucap Shilla nyaris kalap. Siwon sayangnya tidak melemahkan sedikitpun dekapannya.

“Shilla-ya geumanhae! Jebal!” ucap Siwon. memaksa Shilla untuk diam.

“Lepas! Choi Siwon lepas!”

“Aniya. Tenanglah!”

Are you insane? I have to wake her up. She can’t stop breathing. No! I won’t let it!”

“Shilla-ya please! Tenanglah!”

“Tidak! Lepaskan kubilang! Dia harus bangun. Dia harus bernapas lagi. Dia…”

She already stopped breathing!” pekik Siwon. seketika mendiamkan Shilla. Wanita itu terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia memukuli punggung Siwon. tapi Siwon tidak bergeming, ia justru mengeratkan pelukannya.

“Kau gila! Kau bohong!”

“Kumohon jangan begini! Aku tahu ini berat tapi inilah kenyataan yang harus kau hadapi. Imonim,…dia telah tiada Shilla-ya.”

“Aniya…”

“Jebal! You have to let her go.”

Andwe!”

Please…for her sake” gumam Siwon. shilla yang tadinya memukuli Siwon kini terdiam. Tangannya terjuntai lemah diantara pinggang Siwon. tak lama Siwon merasakan kemejanya basah.

It’s better if she cries her heart out.

“Gwenchana! Menangislah!”

“Katakan padaku bahwa ini bohong. Bahwa ini hanya lelucon. Dia pergi begitu saja? Ini hanya mimpi burukku, kan? Aku akan bangun setelah ini, kan?”

“Aniya.”

“DIa bahkan tidak mengucapkan apapun. Bagaimana mungkin dia pergi begitu saja. How dare she leave me without saying good bye?”

Siwon hanya terdiam. Ia tahu perasaan itu. Sama persis saat dirinya dulu menghadapi kenyataan pahit bahwa ibunya pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan kalimat terakhir terhadapnya. Pergi begitu saja tanpa mengijinkan Siwon merasakan dekapan hangatanya yang terakhir. Tanpa senyuman penuh cintanya.

It’s hurt as hell.

“Ini konyol! ” gumam Shilla lagi. Siwon tak melepaskan pelukannya sedikitpun.

Is someone playing prank with me? Ini konyol. Ini…”

No one’s playing prank with you, Shilla-ya. Tuhan menginginkan ibumu. God loves her so much to ease her pain all this while.”

“Aniya. Tapi kenapa Tuhan sekeji itu padaku, huh? She was comatose for months and now she just gone without a single word? Tidakkah kau pikir itu kejam, huh?”

“Areo. Keunyang….bukankah ini yang kau inginkan? God grant your wish” ucap Siwon dengan suara lirih. Ia tahu apa yang ia ucapkan hanya akan menambah perih di hati Shilla.

“M-mwo?”

You wanted to kill her, remember? You wanted me to kill her, remember? Wae? Karena kau tidak sanggup melihatnya semakin menderita ditusuk oleh alat-alat itu, bukan? Tuhan mengabulkan doamu, Shilla-ya. Tuhan membebaskan ibumu dari deritanya.”

Shilla melepas pelukan Siwon kasar. Menatap Siwon dengan tatapan tajamnya. Seberapapun ia benci dengan apa yang Siwon ucapkan tapi tetap saja, Siwon benar. Dan Shilla benci kenyataan.

Shilla perlahan menundukkan kepalanya. “But you know that I can’t let her go”

“Tapi kau harus. Kau harus melepaskannya. Kau tidak mungkin menghidupkannya kembali, bukan? Dia telah tiada Shilla-ya” ucap Siwon hati-hati. Ia hanya bisa menatap sosok Shilla yang masih menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat Siwon hanya bisa memandang Shilla yang kembali membisu.

I can do nothing, right?” lirih Shilla. Ia kembali mendongakkan kepalanya. Membuat Siwon bisa melihat jelas lelehan air mata Shilla.

And somehow, Siwon hates that tears.

“Aku harus…” Shilla tercekat. Lelehan air mata itu semakin deras mengalir dari pelupuk matanya.

It’s for her own sake, right? Dia tidak lagi kesakitan, bukan? Keunde wae? Kenapa aku tidak bisa merelakannya begitu saja, huh?” tanya Shilla dengan suara bergetar.

How selfish I am. I can’t let her go. I don’t wanna let her go” tambah Shilla.

Siwon memegang dadanya. merasakan perasaan aneh –dan menyakitkan- yang kini menyergap dadanya.

She’s gone. I don’t have anyone. I don’t…”

“Sstt” Siwon meraih Shilla dalam dekapannya lagi. Membenamkan kepala Shilla pada dadanya.

“Aku tidak punya siapa-siapa…aku…” Shilla kembali tercekat. Ia hanya bisa tergugu dalam dekapan Siwon. dan jujur Siwon bisa merasakan perih yang Shilla rasakan kini.

“Aniya. Kau tidak sendiri”

Geotjimal! Aku…”

“You have me” ucapan Siwon itu sanggup menghentikan ucapan Shilla. Pria itu mengelus rambut Shilla.

Dia tidak tahu kenapa ia mengucapkan hal itu. Seolah bibirnya berkata tanpa perintah dari otaknya. Tapi apakah Siwon menyesal mengucapkan hal itu?

No, I don’t regret it. But, why?

You have me” bisik Siwon lagi di telinga Shilla.

=A Perfect Façade Part 16=

Kyuhyun menghela napasnya kemudian menghampiri Shilla yang berbalut pakaian serba hitam itu. Kentara sekali duka yang tengah dialami sahabatnya itu. Sedari tadi SHilla hanya duduk termangu menatap figura sang ibu, pandangan matanya kosong.

Kyuhyun mengambil duduk di sebelah Shilla. Ia ikut menatap wajah mendiang yang mirip dengan Shilla. Ibu dan anak itu memang mirip.

Kyuhyun menepuk pundak Shilla pelan tapi tak dihiraukan oleh wanita yang tengah berkabung itu. Ia hanya mengerjap bisu sembari menatap foto sang ibu. Sedari tadi tak menghiraukan seberapa banyak orang yang datang sekedar ikut berbela sungkawa. Ia tidak peduli. Karena untuk Shilla hal terpenting sekarang adalah mendapatkan potret wajah ibunya sebanyak-banyaknya. Karena ia tahu setelah ini ia tak bisa melihat wajah sang ibu sesuka hatinya –tanpa menggoreskan luka di hatinya.

“Neo gwenchana?” tanya Kyuhyun lirih. Pertanyaan bodoh sejujurnya –dan Kyuhyun sadar akan hal itu. Siapa yang akan baik-baik saja memang saat orang tuanya meninggal?

“Ini pasti berat untukmu, hm?” tanya Kyuhyun dan Shilla hanya bisa diam.

Kyuhyun meraih jemari Shilla. Membuat wanita itu menolehkan kepalanya lemah ke arah Kyuhyun. Seketika Kyuhyun melihat pancaran kepedihan dari mata Shilla. Begitu menyakitkan.

“Aku turut berduka untuk kepergian imonim” ucap Kyuhyun tulus. Shilla menatapnya beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya. Ia lantas kembali memalingkan wajahnya dari Kyuhyun.

Pria itu kembali memperhatikan Shilla di sebelahnya. Saat ini Kyuhyun sama sekali tidak bisa melihat Shilla yang ia kenal. Yang ia lihat hanyalah Shilla yang terlarut dalam dukanya.

Kyuhyun menghela napasnya. Ia menjulurkan tangannya dan meraih pundak Shilla. Mendekatkan Shilla dan memeluknya.

“jangan menghadapinya sendiri. Kau bisa membagi kesedihanmu padaku, Shilla-ya” tutur Kyuhyun. Shilla masih tak bergeming.

Kyuhyun menghela napasnya. “Kalau dipikir lagi, kau bahkan tidak pernah membagi kesedihanmu padaku Shilla-ya. Aku bahkan tidak tahu kalau imonim sakit, kau selalu bilang bahwa imonim di Itaewon merawat halmeoni.” Ucap Kyuhyun.

Shilla memang tak pernah memberitahu Kyuhyun dan orang-orang kalau ibunya koma beberapa bulan ini. Hanya Siwon yang tahu bagaimana detail kondisi ibunya. Itu juga bukan Shilla yang memberitahu Siwon langsung, bukan?

“Kau tahu betapa kagetnya aku saat mendengar kabar duka ini? Kalau tadi aku tidak ke kantor kurasa aku tidak tahu kalau kau absen karena hal ini” lanjut Kyuhyun. Shilla hanya terdiam.

“Kau sudah melewati semuanya sendiri, Shilla-ya. Keureonika….kalau ada yang bisa kau bagi, maka bagilah padaku. Aku sahabatmu, bukan? Jadi sudah sepatutnya aku di sampingmu saat suka ataupun duka? Hm?”

Shilla menolehkan kepalanya dan melempar Kyuhyun senyuman tipis. “Mianhae”

“Aniya. Gwenchana. Dan kau juga harus tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kita doakan imonim agar istirahat dengan tenang, eo? jadi kau harus kuat, eo?” tutur Kyuhyun. Ia tersenyum lembut. Tangan pria itu meletakkan kepala Shilla di pundaknya.

It’s okay if you want to cry” ucap Kyuhyun. Shilla hanya diam.

Duka di hatinya masih ada tapi entah kenapa ia bahkan tidak sanggup mengeluarkan air mata lagi. Seolah ia sudah terlalu lelah menangis.

Hanya saja berada dalam pelukan Kyuhyun kini membuat Shilla sedikit menyadari sesuatu. Bahwa ia tidak bisa sepenuhnya terbuka pada Kyuhyun. Pria itu memang sahabatnya tapi kenapa rasanya Shilla tidak bisa begitu saja membagi sedihnya pada Kyuhyun.

Di sisi lain, saat ia berada dalam dekapan Siwon, wanita itu akan dengan mudah meluapkan emosinya yang sebenarnya. Dengan mudah membuka dirinya pada pria yang tidak pernah ia harapkan untuk dengan mudah terbuka. Tapi sepertinya apa yang ia inginkan tidak sejalan dengan yang sebenarnya terjadi.

Yes Siwon’s hug is comforting but Shilla won’t ever admit it. At least, not now.

“Aku lelah menangis” ucap Shilla lirih pada akhirnya.

=A Perfect Façade Part 16=

“Kau tampak tenang” ucapan itu membuat Siwon sontak menolehkan kepalanya.

“Nuna!” ucapnya pada sosok Go Hani. Wanita itu tersenyum tipis kemudian menepuk pundak Siwon.

Aren’t you jealous?” tanya Hani.

“Mwo?”

Hani menunjuk dengan dagunya kearah Shilla yang kini tengah berada pada dekapan Kyuhyun. Wanita itu tahu bahwa sedari tadi, Siwon memperhatikan kedekatan kedua sahabat itu dari jauh.

“Adikmu memeluk tunanganmu. Bukankah seharusnya kau cemburu, huh? Tapi kau disini bahkan hanya bisa terdiam sembari memperhatikan mereka. Wae?” tanya Hani. Siwon berdecak singkat.

“Pelankan suaramu, nuna! Di suasana berkabung seperti ini kurasa tidak sepatutnya aku dikendalikan emosiku”

“Jadi kau mengakui bahwa kau cemburu?” goda Hani.

“A-aniya…bukan itu maksudku…keunyang…” Siwon tergagap. Hani terkekeh kecil.

“Kupikir…di saat seperti ini Shilla lebih membutuhkan Kyuhyun”

“Eh?” Hani menatap Siwon penuh tanya. Adik sepupunya itu hanya tersenyum tipis.

“Well, Kyuhyun dan Shilla bersahabat sejak lama, bukan? Jadi kurasa Kyuhyun tahu bagaimana mengiburnya. Dalam kondisi seperti ini, Shilla butuh seseorang yang paling dekat dengannya untuk berada di sisinya. So she won’t feel left alone.” Ucap Siwon.

“Dan kau pikir orang itu adalah Kyuhyun?” tanya Hani. Siwon menganggukkan kepalanya.

“Memang begitu, kan? Kyuhyun sahabatnya jadi kurasa Shilla akan dengan mudah mendengarkan ucapan Kyuhyun. Dia butuh seseorang di sampingnya pada dasarnya” ucap Siwon.

You really love her, huh?”

“M-mwo? Aku tidak pernah bicara seperti itu, kan?”

“Tidak. Tapi sikapmu yang mengatakannya”

“Jangan sok tahu, nuna!”

Hani menepuk pundak Siwon. “Di saat seperti ini tidak terlalu penting siapa yang Shilla harapkan untuk berada di sisinya. Yang lebih penting adalah, siapa orang yang mau berada di sisinya. To stand by her side. Jadi, kalau kau memang ingin menghiburnya maka lakukanlah! Who knows she needs you more than Kyuhyun.” Tutur Hani.

Siwon terkesiap singkat atas ucapan Hani. Ia tahu bahwa sepupunya itu benar.

“Aku pulang dulu kalau begitu, eo? Aku sudah mengatur ijin Shilla selama 3 hari. Hubungi aku kalau kau juga ingin ijin, eo?”

“Naega wae?”

“Siapa tahu kan kau ingin menemani Shilla?” canda Hani. Siwon berdecak singkat.

“Jaga Shilla, eo? bilang padanya aku pamit duluan, hm?”

“Ne”

=A Perfect Façade Part 16=

Siwon menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Tumpukan pekerjaannya sepertinya tidak berhenti sedari tadi. Mengingat Shilla masih dalam suasana berkabung dan masih cuti, membuat pekerjaan Siwon jadi sedikit terbengkalai.

“Jangan manja, SIwon-ah!” ucapnya pada diri sendiri kemudian kembali berkonsentrasi pada pekerjaanya.

Lima menit berselang dan Siwon kembali terhenti. Ia menatap jam dinding di ruangan kerjanya dan alisnya mengeryit singkat. Pukul 13.15

“Dia sudah makan siang?” gumamnya. Ia lantas meraih ponselnya –mengecek inbox atau log kontaknya. Pria itu menghela napasnya kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Kau sudah makan siang?

Siwon kembali terdiam sembari matanya masih menatap layar ponselnya. Berharap pesan singkat yang baru saja ia kirimkan itu segera mendapat balasan. Sayangnya 5 menit ia memperhatikan ponselnya dan nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.

“Aish! Kemana gadis itu?” gumamnya. Ia berdecak kesal kemudian memilih untuk mengabaikan pesannya dan kembali bekerja.

Sayangnya pikiran Siwon sama sekali tidak focus dengan pekerjaanya. Satu-satunya yang terlintas di benaknya adalah pesan darinya yang terbalas. Membuatnya kembali mengecek ponselnya –siapa tahu ia menyeting mode silent pada ponselnya.

“Aish! Apa susahnya dengan sekedar menjawab pesan? Gadis itu benar-benar!” kesalnya.

Mungkin akan terdengar ia tengah menyumpah serapah. Tengah kesal pada seseorang. Tapi jauh dalam hati Siwon, ia sadar bahwa ia tak lebih karena tengah cemas.

And what she has to make me worry about her?

Siwon kembali berpikir. Kemarin ia memang seharian menemani Shilla, semenjak berita kepergian ibunya terdengar hingga pemakaman ibunya selesai, Siwon selalu menemani Shilla. Dan pria itu tahu bahwa Shilla sama sekali tidak berminat menyentuh makanannya. Ia tahu duka yang begitu besar membuat Shilla pastilah kehilangan nafsu makannya. Dan hal itu yang membuat Siwon kali ini cemas. Ia tidak ingin Shilla seperti hari kemarin. Tidak menyentuh makanan.

“Dia bisa sakit kalau dibiarkan. Aish!” gumamnya lagi. Pria itu kembali menyentuh ponselnya dan mencoba menghubungi Shilla.

Kali pertama dan tidak ada jawaban dari Shilla. Sayangnya, bukan Siwon kalau ia mudah menyerah begitu saja. Kali kedua masih tidak diangkat dan beruntung kali ketiga Shilla menjawab panggilan Siwon.

“Neo eodiya?” tanya Siwon langsung. Di seberang sana masih hening untuk beberapa saat.

“Rumah” jawab Shilla singkat.

Siwon tahu pasti kalau wanita itu tengah dalam mood yang sangat kelam. Shilla dalam kondisi normal akan menjawab ‘Rumah, dimana lagi memang?’ dengan nada ketus dan sarkastik miliknya. Tapi Shilla yang sekarang hanya menjawab pasrah dan singkat.

And somehow, Siwon hates this side of her.

“Kenapa tidak menjawab pesan dan teleponku kalau begitu?”

“Mian” jawab Shilla lirih. Siwon menghela napasnya keras. Ia benar-benar tidak suka sosok Shilla yang lemah seperti ini.

“Kau sudah makan?” tanya Siwon. shilla hanya diam tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Siwon.

“Kau sudah makan?” ulang Siwon. pria itu sepertinya tidak mudah untuk menyerah hingga pertanyaanya mendapat jawaban yang jelas.

“Hmm” gumaman singkat itu nyaris membuat Siwon berteriak frustrasi.

“Hmm…sebagai iya atau belum?” tanya Siwon lagi dan Shilla kembali terdiam. Wanita itu tahu bahwa Siwon butuh jawaban jelas dan terang. Tapi Shilla bahkan tidak bisa memberikannya.

Helaan napas kembali terdengar di bibir Siwon. “Kau harus makan, Shilla-ya!” ucap Siwon halus. Dalam kondisi seperti ini ia tahu bahwa ia tidak sepatutnya menggunakan sikap kerasnya.

Please eat even if just a spoon. You can’t let your stomach empty, hm? You’ll get sick” ujar Siwon. masih tidak mendapat jawaban dari Shilla.

“Shilla-ya, kau mengerti kan? Hm?” Siwon masih berusaha membujuk Shilla.

“Hmm. Araseo.” Jawaban singkat nan lirih itu terdengar. Siwon tahu bahwa ia tidak bisa sepenuhnya percaya dengan ucapan Shilla saat ini, tapi rasanya itu lebih baik daripada ia tidak mendengar jawaban sama sekali. Setidaknya itu bisa membuat hati Siwon sedikit lega.

“Geurae. Aku bawakan kau makan malam nanti, eo?”

“Aniya, gwenchana.”

I insist” ucap Siwon. shilla menghela napasnya pelan.

“Araseo. Kau istirahatlah, eo?” ucap Siwon lagi kemudian menutup sambungan teleponnya.

=A Perfect Façade Part 16=

Shilla menyeret kakinya malas menuju pintu apartemennya. Sinar wajahnya telah lama sirna semenjak kepergian sang ibu. Ia membuka pintu apartemennya dan mendapati Siwon berdiri di ambang pintu. Pria itu masuk begitu saja, dan Shilla tidak terlalu peduli apa mau boss-nya itu.

“Kau sudah makan?” tanya Siwon begitu ia duduk di sofa. Shilla hanya menggeleng diam. Siwon menghela napasnya.

“Kemarilah! Aku bawakan kau makanan” ucap Siwon sembari membuka kotak Styrofoam yang ia bawa. Sayangnya Shilla tak bergeming. Ia hanya menatap kosong pemandangan di depannya. Siwon kembali menghela napasnya.

“Kau harus makan!” perintah Siwon. shilla hanya menggeleng pelan.

“Kubilang kau harus makan!” ulang Siwon.

I don’t have appetite, okay?” Shilla mulai geram. Siwon menarik bahu Shilla dan membuat wajah keduanya kini bertatapan.

“Aku tahu ini berat untukmu. Tapi kau harus makan. I bet you didn’t touch any meals since this morning, right? Kau bisa sakit, SHilla-ya. Jadi makan, eo?”

It’s better that way”

“Mwo?”

“Aku tidak ingin makan jadi pulanglah dan bawa makananmu bersamamu. Gomawo” ucap Shilla pelan. Siwon menggelengkan kepalanya. Ia mengambil sesendok makanan yang ia bawa dan ia dekatkan ke mulut Shilla.

“Buka mulutmu! Let me feed you”ucap Siwon. shilla hanya menggelengkan kepalanya kemudian menggeser sendok itu menjauh dari mulutnya.

“Aku tidak ingin makan!” lagi, Shilla menolak. Sayangnya Siwon bukanlah tipe orang yang mudah menyerah, bukan?

“Aku repot-repot membawakanmu makanan dan ini tanggapan yang aku dapat? How rude!”

“Kalau begitu jangan repot-repot dan berhenti menggangguku!”

“Dan kurasa kau tahu kalau aku bukanlah orang yang semudah itu menuruti ucapan orang, bukan? Jadi, buka mulutmu dan makanlah!” ucap Siwon lagi. Shilla masih enggan untuk makan.

“Oke” Siwon lantas menjauhkan sendok berisi makanan itu. Membuat Shilla sedikit bernapas lega. Sayangnya, bukan itu rencana Siwon.

“Kau tidak ingin makan dengan tangan dan mulutmu sendiri kurasa. Then I’ll feed you with my mouth, how is that sound?” Siwon mencoba lagi. Shilla terhenyak singkat. Ia melempar tatapan tajamnya pada Siwon.

“Berhenti bermain-main dan pulanglah! Kalau aku bilang aku tidak ingin makan maka aku tidak akan makan!”

“Sayangnya aku disini bukan untuk menuruti ucapanmu, young lady. So open your mouth and eat, unless you want me to feed you with my own mouth. And believe me, I will deliver these food with my mouth landed on your mouth. Mark my words!” ancam Siwon. shilla terdiam singkat.

You wouldn’t dare!” ucap Shilla meski sejujurnya ia tak suka dengan ide yang Siwon ucapkan.

Siwon menyeringai singkat. “I’m a man with my words, Shilla-ya. I’ll do what I say. Jadi kau mau makan, tidak?”

Shilla menatapnya diam. Menimang apakah Siwon akan benar melalukan ancamannya kalau Shilla tetap tak ingin makan. Tapi sungguh wanita itu tak ada niatan untuk makan sedikitpun.

Fine then. You asked for it” ucap Siwon kemudian mengambil sesuap nasi dan memasukkanya ke dalam mulutnya. Perlahan Siwon mendekatkan tubuhnya ke arah Shilla. Semakin dekat hingga kini wajah mereka begitu dekat. Mata Shilla membulat ketika tangan Siwon meraih belakang leher Shilla, membuat wajah wanita itu terkunci dalam genggaman Siwon. debaran jantung Shilla begitu berpacu ketika wajah Siwon begitu dekat dengan dirinya. Tangan Siwon semakin bergerak mendekatkan wajah mereka.

“Geumanhae!” pinta Shilla sembari membuang mukanya. Tangannya menahan dada Siwon agar tidak semakin mendekat.

“Ara. Aku akan makan” ucapnya pasrah pada akhirnya. Seringaian di bibir Siwon kembali terkembang. Ia mengunyah makanan yang sudah masuk dalam mulutnya kemudian menepuk kepala Shilla layaknya menepuk anak anjing yang berbuat baik.

“Joha! Palli mogo!” ucap Siwon dan mendekatkan kotak makanan itu ke hadapan Shilla. Wanita itu hanya bisa mendesah pelan melihat senyuman tipis di bibir Siwon.

Well, pada dasarnya aku memang butuh makan.

=A Perfect Façade Part 16=

It’s late already, don’t you want to sleep?” tanya Siwon sembari melihat jam dinding di ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Shilla duduk di sebelahnya menghadap televisi yang entah tengah menyiarkan program apa. Sedari tadi Shilla hanya menatap kosong sementara pikirannya melayang entah kemana. Dan Siwon sadar akan hal itu.

Shilla menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Siwon.

“Kau tidak mengantuk atau kau tidak ingin tidur?” tanya Siwon dan Shilla hanya terdiam.

“Yang kedua kalau begitu” tambah Siwon setelah mengerti arti kebisuan Shilla.

Come here!” ucap Siwon lembut kemudian menaruh –memaksa- kepala Shilla jatuh di pangkuan Siwon. shilla menolak tentu saja, tapi ia lupa bahwa Siwon pria disini. Dan tentu saja pria memiliki kekuatan lebih dari wanita, bukan?

Aniya. Stay!” cegah Siwon ketika Shilla hendak berontak. Shilla tak memiliki tenaga lebih untuk menolak sejujurnya. Pada kenyataanya, wanita itu sudah tidak tidur dari hari sebelumnya. Tubuhnya tentu saja mengerang minta istirahat tapi sayangnya otaknya menolak.

“Kau takut ketika kau terlelap maka kegelapan itu akan menelanmu, bukan? Kau takut bahwa kau akan menemui ribuan kejadian memilukan dalam tidurmu, bukan?” gumam Siwon. ia membelai kepala Shilla perlahan.

“Diammu kuartikan sebagai iya kalau begitu” tambah Siwon ketika Shilla hanya terdiam bisu. Dan Shilla tak membantah sedikitpun.

“Let me tell you a story then” ucap Siwon lagi. Shilla hanya kembali diam.

“Ketika Eoma tiada…aku juga merasakan apa yang kau rasakan saat ini. Begitu memilukan hingga rasanya aku tak sanggup untuk mengingat kembali masa itu. Sayangnya, meski aku tak ingin memori itu masih terbekas kuat dalam benakku. Menyedihkan, bukan?” tanya Siwon. shilla hanya mengangguk singkat.

Days after her death, I couldn’t get a proper sleep. Aku akan dihantui dengan mimpi buruk tentang Eoma dan masa depan yang begitu menyakitkan. Membuatku rasanya begitu enggan dan takut untuk memejamkan mata. Takut mimpi itu akan kembali menyiksaku.” Lanjut Siwon.

Shilla hanya mendengarkan tapi ia menyetujui setiap detail ucapan Siwon. karena pada dasarnya itulah yang ia rasakan saat ini. Dia tidak ingin tidur kalau hanya untuk menemui mimpi buruk itu lagi. Ia lebih baik tubuhnya tersiksa karena lelah daripada ia istirahat dan lebih tersiksa dalam tidurnya.

“Aku ingin berteriak mengeluarkan semua derita yang aku rasakan tapi sayangnya aku bahkan terlalu lelah untuk sekedar mengeluarkan suara untuk berteriak. Batinku tersiksa dan aku tak tahu bagaimana harus membebaskan rasa perih itu dari batinku. I just could only cry in silence.” Tambah Siwon. ia tersenyum pilu, memori itu rasanya masih terasa menyakitkan.

She left me in a complete darkness. I felt so all alone. Semua yang terjadi di sekitarku setelah Eoma tiada terasa tidak nyata. Apa yang aku pikirkan dan aku rasakan setelah kepergiaanya hanyalah kesepian tanpa Eoma. Seperti…aku berada pada lautan lepas, terombang-ambing di tengah gelombang besar dan sayangnya tidak ada yang bisa kubuat pegangan. Mungkin terdengar berlebihan tapi itulah yang aku rasakan.” Ujar Siwon. entah bagaimana Shilla rasanya ingin menangis mendengar cerita Siwon.

“Kenapa kau menceritakan semua ini padaku? Kau ingin mengingatkanku bahwa hidupku setelah ini akan begitu menyakitkan tanpa Eoma? Begitu?”

Siwon menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Aku menceritakan ini karena aku tahu kau tengah dalam tahap merasakan apa yang aku rasakan. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan Eoma yang begitu kita cintai. And I don’t want you to feel the same way I felt back then.”

“Wae?”

“Because it was so damn painful, Shilla-ya. Living in a world with no one stand beside you, it was…unbearable” kata Siwon. shilla merubah posisinya menjadi telentang dan ia kini bisa melihat wajah Siwon menatap dirinya.

“Dan aku tidak ingin kau merasakan apa yang aku rasakan saat itu.” Ucap Siwon. shilla bisa melihat ketulusan di sana.

I was hoping someone to reach a hand to me, hold me with enough sincerity and told me that he/she was with me. Tapi aku tidak mendapatkannya sama sekali. Itulah kenapa aku disini sekarang.” Timpal Siwon. shilla menatapnya dengan kerutan di keningnya, menandakan ia bingung dengan ucapan Siwon.

“Aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendiri. Aku disini jadi kau tak perlu merasa kesepian. May be you hope someone else, but I just want you to know that I’m here. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kau sendirian. Jangan pernah berpikir seperti itu, jangan pernah sedikitpun kau mencoba apa yang aku rasakan saat itu” ucap Siwon lagi. Shilla hanya bisa mengerjap menatap Siwon.

No, I won’t let you.” Ucap SIwon dengan penuh keyakinan.

Sejujurnya melihat wajah sendu dan pilu yang SHilla tunjukkan beberapa hari in membuat Siwon seperti melihat dirinya sendiri saat itu. Membuatnya merasakan pilu sama seperti dulu. Dan entah kenapa kali ini perih itu semakin buruk ia rasakan. Ia juga tidak mengerti kenapa.

Merasakan perih karena memori masa lalunya rasanya sudah cukup menyakitkan. Dan sekarang batin Siwon rasanya semakin tercabik dengan wajah pilu yang Shilla tunjukkan. Pria itu tidak mengerti, tapi rasanya melihat air mata Shilla, pria itu rasanya ingin berhambur memeluk wanita itu dan menenangkannya. Batin Siwon rasanya berontak ingin menenangkan Shilla ketika wanita itu dalam derita.

For what reason? Siwon still don’t know. Or maybe he knows but he’s in denial.

“Wae? Ini hidupku jadi apa yang terjadi padaku kurasa bukan urusanmu?”

Siwon menghela napasnya. “Molla. I, myself, don’t understand why I’m doing this to you. Yang aku tahu hanya aku tidak ingin kau berakhir sepertiku. Mungkin aku melakukan ini karena empatiku belaka. Bahwa aku tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama sepertiku. Mungkin begitu. Ya kurasa begitu” ucap Siwon, lebih terdengar seperti gumaman meyakinkan dirinya sendiri sejujurnya.

“Entahlah. Just…don’t ask me why because I clearly not understand myself. I just feel like doing it.” Tambah Siwon.

Shilla mengerjapkan matanya berulang kali. Berusaha menelisik maksud Siwon, berusaha mengerti Siwon tapi ia sendiri juga tidak tahu. Rasanya ia tidak begitu peduli bahwa sikap Siwon padanya hanyalah empati belaka, atau mungkin hanya tipuan Siwon atau mungkin sikap tulus Siwon. ia entah bagaimana tidak peduli.

Yang ia rasakan adalah ia nyaman dengan perlakuan itu. Membuatnya tidak ingin mempertanyakan maksud Siwon lagi.

Shilla tersenyum tipis kemudian kembali merubah posisinya menjadi posisi miring. Ia tak lagi bisa melihat wajah Siwon. keduanya kemudian terhanyut dalam keheningan. Shilla hanya menikmati belaian tangan Siwon di rambutnya.

Somehow she’s feeling safe.

“Aren’t we looking like a real couple, now?” lirih Shilla memecah keheningan.

“Hm, I know” gumam Siwon menyetujui.

“Are we?”

“Molla. Would you mind?”

“Molla” jawab Shilla jujur. Siwon hanya tersenyum tipis.

Shilla hanya terlalu enggan untuk berpikir. Setelah beberapa hari ini pikirannya penuh dengan ibunya, rasanya Shilla tak sanggup memikirkan hal lain yang membutuhkan pemikiran lebih dan mendalam. Pikiran dan hatinya terasa begitu lelah sekarang.

Siwon kembali menyisir halus rambut Shilla dengan jemarinya. “Dwaeso. Just sleep, will you? Jangan pikirkan apapun dan istirahatlah! Kau tidak akan memimpikan apapun malam ini. Percayalah!”

What if I still have bad dreams?”

Masih dengan membelai rambut Shilla, Siwon berucap, “Then, I’ll be here for you. I’ll wake you up if the dreams haunt you. I’ll be here” ucap Siwon.

Entah bagaimana, tapi Shilla percaya akan ucapan Siwon. entah bagaimana tapi ucapan Siwon sanggup membuatnya lebih tenang. Entah bagaimana ucapan Siwon serasa memberinya keberanian dan kekuatan.

Wanita itu bahkan tidak berpikir sama sekali tentang kenapa Siwon ada di apartemennya. Siwon yang notabene adalah pria disini, tapi Shilla sama sekali tidak merasa terintimidasi atau terusik sedikitpun. Dia bahkan begitu saja membiarkan Siwon berada di apartemenny berjam-jam, membiarkan pria itu begitu dekat dengannya bahkan membiarkan pria itu memangkunya.

Mungkin duka yang begitu besar membuat Shilla kehilangan akal sehatnya. Membuatnya melupakan bahwa tidak sepatutnya pria dan wanita tanpa ikataan apapun berada dalam ruangan yang sama begitu lama. Shilla bahkan tidak memikirkannya sama sekali.

Yang ada dalam benak wanita itu hanyalah, ia butuh sandaran saat ini. Ia butuh seseorang untuk membuatnya mengerti bahwa dunia tidak berhenti berputar setelah kepergian ibunya. Bahwa masih ada hari esok yang menyambutnya.

Dan bahwa, masih ada orang yang peduli terhadapnya. Tidak peduli siapa orang itu –yang ia harapkan atau bukan. Yang jelas Shilla merasa kehadiran seseorang di sampingnya saat ini membuatnya sedikit demi sedikit menemukan keberaniannya.

“Kau janji?”

“Ehm. Aku janji” yakin Siwon. shilla tersenyum kemudian perlahan memejamkan matanya. Dan tidak butuh waktu lama hingga wanita itu benar-benar terlelap dalam pangkuan Siwon.

Siwon menghentikan belaian tangannya. Memandang wajah Shilla di pangkuannya. Perasaan lega merasuk hatinya ketika ia bisa melihat wajah tenang Shilla terlelap dalam pangkuannya.

Siwon tersenyum tipis kemudian dengan hati-hati ia melepaskan kepala Shilla dari pangkuannya, hingga tubuh Shilla sepenuhnya tertidur di sofa berwarna coklat tua itu. Pria itu menatap sekretarisnya iba kemudian perlahan ia menjulurkan tangannya. Menyelipkan tangan kirinya di bahu Shilla dan tangan kanannya diantara kaki Shilla. Perlahan pria itu membopong Shilla ke kamarnya.

Masih dengan hati-hati, Siwon meletakkan Shilla di tempat tidur miliknya. Menarik selimut dan pelahan menyelimutinya.

Untuk beberapa menit Siwon hanya terdiam sembari memperhatikan wajah tenang Shilla yang terlelap. Dua hari ini pastilah begitu berat untuk Shilla. Tak mudah untuknya. Tapi melihat kini Shilla bisa tertidur lelap membuat Siwon bisa menghela napas lega.

Kenapa? Lagi, Siwon tak bisa menjawabnya. He just knows that he hates her tears. He hates her sad face. Lebih baik ia menghadapi Shilla yang selalu memberontak padanya daripada melihat Shilla yang pasrah dan memilukan seperti ini.

Sleep tight! I’ll be here” bisik Siwon lembut.

 

To be continued.

 

Another long update for me, so sorry. I planned to update last week but I got sick unfortunately so I could only update now.

I hope this chapter worth the wait, if not then I’m sorry dear.

Sorry for typos as always. And till next time, guys!!!!

 

 

 
211 Comments

Posted by on July 15, 2014 in chapter, fanfiction

 

Tags: ,

211 responses to “A Perfect Facade Part 16

  1. rahmah03

    December 30, 2014 at 4:09 pm

    Mah…rahmah kangen mamah…u para readers yg masih memiliki ibu, sayangilah beliau tanpa syarat, dg segenap hati kalian biar tdk menyesal di kemudian hari.

     
  2. miss en'

    March 12, 2015 at 12:15 pm

    Nangis lagi nangis lagi😥 udah brpa x baca pun ttep ky gtu efeknya..

     
  3. nae.ratna

    August 19, 2016 at 1:05 pm

    siwon mengerti perasaan shilla yg bener2 kehilangan sosok ibu n bener secara ga langsung dia seperti bercermin ke diri.a di masa2 kehilangan ibu.a
    saling mengerti satu sama lain wis lah nikah bae nikah kkk
    shilla yg tanah yah^^

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: