RSS

A Perfect Facade Part 17

24 Aug

Shilla APFix

Shilla merentangkan badannya. Berusaha melemaskan otot-ototnya setelah semalaman ia tertidur. Dia harus mengakui bahwa pada akhirnya ia berhasil tidur dengan nyenyak.

Wanita itu melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 06.30. bibir wanita itu tersungging tipis. Ia menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi sekedar untuk membasuh mukanya.

“Seperti panda” gumamnya ketika melihat pantulan dirinya di cermin. Kantung hitam di bawah matanya terlihat jelas. Beberapa hari ini ia tidak berniat untuk berkaca ataupun bersolek membuatnya sama sekali tidak sadar akan bagaimana wajahnya beberapa hari ini terlihat.

“Eo?” matanya membulat kaget ketika ia sadar akan sesuatu. Buru-buru wanita itu mengelap wajahnya dengan handuk dan berlari kecil menuruni anak tangga di apartemennya.

Harum khas kopi menusuk indra penciumannya begitu ia berhasil turun di anak tangga terakhir. Mata wanita itu menangkap sosok tinggi yang tengah berdiri di sudut dapurnya dan tengah menyeduh kopi. Sosok itu membalikkan badannya.

“Kau sudah bangun?” tanyanya tenang. Ia mengulas senyum tipisnya.

“Kau mau kopi juga?” tanyanya lagi. Shilla hanya termangu menatap sosok itu. Baju yang pria itu kenakan masih sama seperti malam lalu. Menandakan bahwa pria itu tidak beranjak dari apartemennya sedari semalam.

“Kau….masih disini?” ucap Shilla pada akhirnya. Siwon terdiam singkat kemudian akhirnya ia tersenyum.

I told you I will stay” jawab Siwon. shilla menganggukkan kepalanya mengerti.

Masih termangu ia kembali berucap. “Dimana….kau tidur?” tanyanya hati-hati. Wanita itu tidak menampik bahwa jantungnya berdegup kencang menanti jawaban Siwon. entah untuk alasan apa.

Entah karena ia berharap bahwa Siwon berada di sampingnya semalaman. Entah karena kenyataan bahwa ia mengijinkan pria menginap di rumahnya. Entah karena kenyataan bahwa ia meruntuhkan prinsip kuatnya sebagai wanita dengan membiarkan pria bermalam. Dan ia takut bahwa Siwon akan perlahan mengikis prinsipnya.

Because deep down, she knows Siwon could do it.

Siwon terkekeh kecil. “Don’t worry! I didn’t invade your privacy. Aku tidur disana” ucapnya sembari menunjuk pada sofa panjang di ruang tamu. Shilla mengikuti arah pandang Siwon dan menghela napasnya singkat.

“Kupikir kau akan pulang setelah aku tidur semalam” gumam Shilla lirih tapi Siwon mendengarnya.

“Aku hanya takut kau akan mengalami mimpi buruk jadi aku bertahan disini. But you didn’t. syukurlah” ujar Siwon. shilla menatapnya haru.

Are your back hurt or something? Sleeping on the couch is not comfortable, right?” tanya Shilla khawatir.

Siwon menggeleng pelan. “Gwenchana.” Jawabnya singkat. Ia menyesap kopi buatannya kemudian kembali menatap Shilla.

I’ll finish this coffee then go back to my apartment.” Ucapnya. Shilla berjalan ke arah Siwon.

“Ani. Stay a little longer. Aku akan buatkan kau sarapan” ucap Shilla.

“Gwenchana.”

“Setidaknya ini yang bisa aku lakukan sebagai ucapan terimakasih. Aku pernah bilang kan kalau kopi tidak baik untuk sarapan. Jadi kubuatkan kau sarapan.” Ujar Shilla.

“Ehm, okay” Siwon hanya bisa pasrah.

=A Perfect Façade Part 17=

“Katchi ka!” pekikan itu sontak membuat Siwon menolehkan kepalanya. Menatap sosok Shilla yang berlari kecil ke arahnya. Alis Siwon terangkat singkat.

“Kau mau kemana?” tanyanya polos. Shilla berdecak singkat. Ia berkacak pinggang di hadapan Siwon.

“Aku mengenakan pakaian kerja. Kau pikir aku mau pergi kemana? Ke pasar?” tanya Shilla sarkastik. Siwon masih menatapnya.

“Ku pikir kau masih ingin istirahat?”

“Tck! Cutiku kurasa hanya 3 hari? Jadi bukankah sekarang sudah saatnya aku berangkat kerja….hwijangnim?” ujar Shilla dengan penekanan pada kata hwijangnim. Berusaha meledek Siwon sejujurnya.

Siwon kembali menatap Shilla. Menelisik apakah sekretarisnya itu serius. Apakah ia sudah baik-baik saja terkait semua drama memilukan beberapa hari ini?

“Kau….tidak apa-apa?” tanyanya hati-hati. Shilla melempar senyumannya pada Siwon.

“Yup! Thanks to a certain someone for making me feel better.” Ucap Shilla masih dengan senyuman di bibirnya. Mata Siwon tak kuasa dari sosok wanita di hadapannya dengan senyuman yang rasanya tak ingin berhenti ia lihat.

She surely gets better.

“Hya! Apa yang kau pikirkan? Kaja!” ucap Shilla kemudian melingkarkan tangannya pada lengan Siwon. membuat pria jangkung itu terkesiap tentu saja.

Shilla yang ia kenal tidak seberani ini rasanya. Pertanyaanya adalah, apakah wanita yang tengah menggandeng –dan menyeretnya- itu adalah Shilla yang tinggal di sebelah apartemennya? Apakah masih wanita yang sama yang bekerja sebagai sekretarisnya?

Apa kepergian eomeoni membuat otaknya bergeser?

“Hya! Aku bisa jalan sendiri” protes Siwon. shilla hanya meliriknya singkat kemudian tersenyum lagi.

“Aku tahu”

“Lalu kenapa tidak kau lepaskan?”

Shilla mengangkat bahunya singkat. “Just feel like doing it”ucapnya acuh. Tangannya masih melingkar di lengan Siwon. pria itu hanya bisa menatap tautan tangan mereka.

And that foreign feeling strike again inside his chest.

=A Perfect Façade Part 17=

“Kalau begitu saya duluan, hwijangnim” ucapan Shilla hanya dibalas tatapan aneh oleh Siwon. sekretarisnya keluar dari lift dan berjalan mendahului Siwon. pria itu hanya bisa tercengang sembari menatap punggung Shilla yang semakin menjauh.

“She was so clingy in the car and now she act all professional? Is she bipolar or something?” gumam Siwon lirih. Beruntung tidak ada orang di sekitarnya untuk mendengar gumaman bingungnya.

Pria itu mengacuhkan rasa bingungnya dan memilih untuk mengikuti Shilla yang sudah berjalan jauh.

=A Perfect Façade Part 17=

Shilla masih berkutat dengan laptopnya. Cuti beberapa hari nyatanya membuat tumpukan pekerjaanya semakin menggunung. Rasanya seharian ia hampir tanpa jedapun tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaanya yang tertunda.

CEKLEK

Ia mendengar pintu ruangan boss-nya terbuka. Tapi toh wanita itu tidak beralih dari kursinya dan tetap berkonsentrasi pada pekerjaanya. Ia bisa merasakan sosok Siwon berjalan mendekatinya tapi ia abaikan.

“Pegopa!” gumam Siwon tepat di depan meja Shilla. Wanita itu hanya mendongakkan kepalanya singkat.

“Makan kalau begitu” jawab Shilla enteng dan tangannya kembali menari di atas keyboards laptopnya.

“Dan aku tidak biasa makan sendiri”

Shilla menghentikan gerakan tangannya. Kepalanya kembali mendongak menatap Siwon. ia berdecak singkat.

“Kurasa kau terbiasa makan sendiri. Rasanya selama ini tidak ada yang mau menemani boss arogan sepertimu, bukan?” ejek Shilla. Siwon berdecak kesal.

“Itu dulu. Dan sekarang aku ingin kau menemaniku makan”

Shilla menggeleng singkat. “Pekerjaanku masih banyak” tolak Shilla singkat.

“Dan sekarang sudah lepas jam kantor. Jadi kau harus pulang. Screw those papers!” umpat Siwon. shilla hendak menolak tapi Siwon membungkamnya,

“Tck!” decak Siwon dengan tatapan tajam. Menyuruh Shilla untuk berhenti membantahnya. Shilla menghela napasnya.

“It’s an order, okay? Let’s eat!” perintah Siwon lagi. Shilla memandangnya singkat kemudian menghela napasnya. Men-save semua pekerjaan yang tengah ia kerjakan sebelum akhirnya ia mematikan laptopnya. Dengan sedikit mengumpat ia menyambar tas miliknya.

You better treat me a good meals for making me abandoning my jobs” ancam Shilla kemudian berlalu begitu saja dari Siwon. berjalan mendahului boss-nya itu. Sementara di belakangnya Siwon hanya tertawa kecil akan sikap Shilla.

=A Perfect Façade Part 17=

Shilla menopang dagunya, mengamatai sosok Siwon di hadapannya yang tengah meneguk air putih. Pria itu mengelap ujung bibirnya. Alis pria itu mengkerut singkat begitu menyadari bahwa Shilla sedari tadi mengamatinya.

“Wae?”

Shilla tersenyum tipis. “Marhae!”

“Huh?”

Are you perhaps ….asking me date?” tanya Shilla hati-hati. Siwon membulatkan matanya.

“Mwo?”

“Well, invite me dinner in this fancy restaurant…isn’t it a date?” tanya Shilla berani. Matanya tidak meninggalkan Siwon sama sekali. Sementara pria di sampingnya hanya memandang Shilla dengan ekspresinya yang sama sekali tidak bisa Shilla tafsirkan.

“Otakmu bermasalah, huh?”

“Ani. Keureom…kenapa mengajakku makan malam disini? Kalau hanya ingin makan malam kurasa aku bisa memasak atau kita bisa pesan delivery dari apartemen. Kenapa harus di restaurant fancy seperti ini? Apa namanya memang kalau bukan date?” Shilla berusaha mengutarakan alasannya. Siwon mengerti.

I don’t do dates” elak Siwon.

“Keureom wae?”

“Keunyang…ehm…”

“Apa?”

“Hanya bosan dengan masakanmu. Bosan dengan delivery. Lagipula aku mampu makan di tempat seperti ini setiap hari. Jadi kenapa kau mempermasalahkan? I have money, okay? Why making a big deal over a simple dinner? Tck!” ujar Siwon sembari membuang mukanya. Untuk alasan tertentu ia merasa ia tidak sanggup menatap kedua mata Shilla sekarang.

Shilla tersenyum menatap Siwon. Mungkin beberapa bulan bekerja di bawah Siwon membuatnya tahu kapan boss-nya itu berkata jujur dan kapan berkata bohong. Dan wanita itu berani berkata bahwa saat ini apa yang dikatakan Siwon tidak sepenuhnya benar.

“Arayo. Kau hanya mengajakku makan di luar karena kau lapar dan karena kau bosan dengan makanan rumahan. No big deal, right?” ucap Shilla akhirnya.

Siwon kembali memandang Shilla. And for some reason, he doesn’t like the sentence Shilla used. No big deal? Siwon tak suka kata itu, tapi kalaupun ia ingin membantah kata itu apa yang harus ia katakan? Untuk alasan apa?

Ehm, no biggie” ucap Siwon akhirnya. Matanya menatap makanan yang ada di hadapannya –yang tiba-tiba ia merasa tidak nafsu makan lagi. Pria itu memilih untuk meneguk minumannya.

Shilla tiba-tiba terdiam. Pertanyaan yang beberapa hari lalu mengusiknya kini kembali hadir. Tragedi kepergian sang ibu nyatanya sanggup membuat Shilla melupakan pertanyaan besar itu. Dan kini ketika dirinya perlahan bisa menerima kenyataan atas kepergian sang ibu pertanyaan itu mau tak mau mengusiknya kembali.

Pertanyaan yang sejujurnya ia sudah berusaha menjawabnya. Dengan asumsi dan apa yang ia rasakan selama ini rasanya ia bisa memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Hanya saja, ia butuh orang lain untuk menjawabnya untuknya. Sekedar memberinya kepastian bahwa apa yang ia harapkan tidaklah hanya imajinasi atau asumsinya belaka.

“Ehm…boleh aku bertanya?”

Siwon menaikkan sebelah alisnya sembari menganggukkan kepalanya. Ia meletakkan gelas minumnya dan menatap Shilla. Wanita itu memberinya tatapan serius membuat Siwon menerka bahwa pertanyaan yang hendak Shilla ajukan pastilah bukan pertanyaan basa-basi.

“Mwoya?” tanya Siwon pelan. Ia bisa melihat Shilla tampak ragu di kursinya.

“Hmm…entahlah apa aku harus menanyakan ini padamu. Keureonde… Kau satu-satunya orang yang bisa menjawabnya.”

“Mwo?” Siwon mengantisipasi akan pertanyaan yang akan Shilla ajukan.

Shilla menghela napasnya “Are you…in order to hurt Kyuhyun…are you using me?”

DEG

Siwon tersentak akan pertanyaan Shilla. Dia hanya memberikan beberapa detik keheningan atas pertanyaan Shilla. Membuat wanita itu menunggu dengan jantung berdebar.

He told you that?” Siwon balas dengan pertanyaan lagi. Shilla menganggukkan kepalanya.

Wanita itu tidak tahu apakah ia akan menyesali pertanyaan yang ia ajukan. Sejujurnya ia menikmati kebersamaanya bersama Siwon beberapa waktu terakhir ini. Dan ia tidak tahu apakah jawaban Siwon akan membuat hubungan mereka yang baik-baik saja akan berubah menjadi buruk? Entahlah.

“dan kau percaya padanya” gumam Siwon. Shilla berani bersumpah bahwa ia menangkap segelintir nada sedih dalam gumaman Siwon.

Doesn’t matter if I believe him or not. Aku mengenalnya lama jadi rasanya wajar kalau aku mendengarkan ucapannya. But I don’t know if I believe him because my heart and mind play some tricks on me”

“Apa maksudmu?”

Shilla tersenyum tipis. “Aku seharusnya percaya padanya, bukan? Tapi yang aku rasakan selama ini membuatku menolak untuk percaya begitu saja”

“Mwo?”

Shilla membuang mukanya. Menatap dari balik jendela besar restoran itu. Menatap gemerlap malam yang tersuguh disana.

I don’t know what I expect with telling you this…asking you this. But I don’t feel like you using me. Aku tak tahu apakah kau begitu pandai mengelabuhiku hingga aku tidak bisa menyadari niatmu yang sesungguhnya,…ataukah memang sejujurnya kau tidak serendah itu mempermainkanku. Keureonika…” ucapnya dan kembali menatap Siwon.

“…aku butuh jawaban darimu. Kau yang lebih tahu dirimu jadi kurasa aku ingin kau yang menjawabnya. May be I was wrong for assuming that you were sincere to me. But even if the truth hurt, I still want to know the truth” ucap Shilla. Ia menatap dalam kedua mata Siwon yang tidak menunjukkan ekspresi apapaun.

Keheningan kembali tercipta. Hingga akhirnya Siwon menghela napasnya.

“Kau ingin jawaban jujur?”

“Keureomyeon” lirih Shilla. Ia kembali mendengar Siwon menghela napasnya.

“Yes”

DEG

Shilla merasakan jantungnya serasa berhenti berdetak saat Siwon dengan mantap mengatakan hal itu untuknya. Sebuah jawaban dari pertanyaan besar yang mengusiknya. Beberapa detik lalu ia dengan yakin ingin jawaban jujur tapi kenapa rasanya sekarang ia berharap bahwa Siwon berbohong saja terhadapnya?

“Yes I was” lanjut Siwon.

“H-huh?”

“Yes I was using you. I was” ucap Siwon tenang. Matanya menatap kedalam mata ragu Shilla.

“Was? It’s mean you no longer…”

“Yes.” Kembali Siwon menjawab yakin. Dan tidak seperti jawaban iya pertamanya, kali ini Shilla lega dengan jawaban iya Siwon.

“H-how…wae…”

Siwon kembali memandang Shilla serius. “Yes I was using you in order to hurt him. But it’s all in the past” ucap Siwon. ia tersenyum meyakinkan ke arah Shilla. Wanita itu memandang Siwon tak mengerti.

“Kenapa aku? Kurasa aku bukanlah orang yang bisa membuat Kyuhyun terluka. Aku hanya temannya”

“Percaya padaku Shilla-ya, kau penting untuk Kyuhyun. Dia tipikal orang yang menghargai pertemanan. Dan kenyataan bahwa kau berteman begitu baik dengannya membuatku yakin bahwa kau penting untuknya. Bahwa menyakitimu akan menyakitinya. Yes he is that stupid person who will easily hurt if people he cares hurt” ujar Siwon.

Shilla tidak mengerti harus merespon apa akan ucapan Siwon. kenyataan bahwa pria itu begitu membenci adiknya hingga memiliki ide buruk seperti ini terkadang membuat Shilla bergidik. Hanya saja, terkadang Shilla merasa bahwa Siwon begitu mengerti Kyuhyun hingga tahu segala sisi yang bisa menyakiti adiknya itu.

That is why I was planning on using you. Tapi seiring berjalannya waktu aku bahkan lupa akan niatku.”

“Huh?”

I kinda like your presence. Bahwa bersamamu bukanlah ide yang buruk.”

“Kau…”

If you are asking whether I sincere for treating you all this while then I assure that I am not faking it. I’m not faking all my care and attentions.”

Shilla kembali tercekat. Dia merasakan desiran hangat di dadanya. ucapan Siwon nyatanya membuatnya kembali merasakan sebuah perasaan asing dan kuat yang akhir-akhir ini menyergap. Dan ia masih terlalu takut untuk menyimpulkan rasa apa itu.

Are you satisfied with my answer?” pertanyaan Siwon itu menyadarkan Shilla dari pikirannya. Ia menatap Siwon dan menganggukkan kepalanya. Senyuman simpul memaksa terukir di bibirnya tapi Shilla menahannya.

“Syukurlah! Keureom…kita pulang?” tanya Siwon. shilla kembali menganggukkan kepalanya.

Gosh,why am I feeling like smiling right now?

Kenyataanya adalah Shilla tidak menyesali kenapa ia mempertanyakan hal ini kepada Siwon.

=A Perfect Façade Part 17=

“Kenapa masih disini?” pertanyaan Go Hani itu sontak membuat Siwon mendongakkan kepalanya.

“Kenapa memang?” tanya Siwon polos.

“Kau tak tahu?”

“Apa?”

“Samchon…” ucapan Hani sontak membuat Siwon menghentikan pekerjaanya. Pria itu balik menatap sepupunya serius.

“…dia collapse lagi.”

“Mwo?”

“Sekarang di rumah sakit. Kau benar tak tahu?”

Siwon menggelengkan kepalanya. “Aniya. Tidak ada yang memberitahuku” Siwon berucap kecewa.

“Keureonika….berhenti bekerja dan jenguk ayahmu.” Nasehat Hani. Siwon kembali menghela napasnya. Meski begitu ucapan kakak sepupunya benar adanya.

“Ara. Kau ingin ikut?”

“Aniya. Aku akan kesana dengan kakak iparmu nanti. Dia ingin menjenguk bersama. Jadi kau duluan saja!” ujar Hani. Siwon mengerti dan menganggukkan kepalanya.

“Aku pergi dulu kalau begitu” ucap Siwon lantas memunguti barangnya dan menyambar kunci mobilnya.

=A Perfect Façade Part 17=

Shilla hanya pasrah ketika Siwon menyeretnya. Memintanya menemaninya. Ia hanya tidak habis pikir kenapa ia harus menemani Siwon untuk menjenguk ayahnya. Rasanya pria itu menjadi bergantung padnaya beberapa hari ini.

“Hya! Menurutmu apa tidak lebih baik aku menunggu di mobil saja, huh?” tanya Shilla ketika keduanya tepat di depan ruangan inap Choi Kiho. Siwon melempar tatapan tajamnya.

“Aniya. I don’t like being alone with them, so please come with me” ucap Siwon. shilla hanya bisa menghela napasnya. Rasanya dirinya tidak akan bisa menang dari Siwon kali ini.

“Araseo. Kalau kau memaksa” ucapnya pasrah pada akhirnya. Ia hanya diam sembari mengikuti Siwon memasuki kamar tempat sang ayah dirawat.

“Apa yang terjadi?” tanya Siwon tanpa basa-basi pada Yijung yang berada di ruangan itu mendampingi sang suami. Choi Kiho tampak tertidur di atas ranjangnya.

“Ayahmu hanya kelelahan. Setidaknya itu kata dokter. Mereka bilang ayahmu hanya butuh istirahat beberapa hari”

“Jantungnya…tidak apa-apa?”

“Ehm” jawab Yijung singkat. Siwon menghela napasnya singkat. Lega. Seberapapun ia membenci sang ayah atas segala yang ia lakukan tapi tetap saja ia adalah ayahnya.

“Baguslah! Ayo pulang!” ucap Siwon kemudian kembali menggandeng tangan Shilla.

“Hya! Stay a bit longer, don’t be rude!” bisik Shilla. Tapi rasanya Siwon tidak peduli. Pria itu terlanjur keluar dari ruangan itu.

“Aku sudah melihatnya dan dia baik-baik saja. Jadi untuk apa lebih lama disini?” ucap Siwon enteng. Shilla hanya menggelengkan kepalanya.

“Tapi kan…”

“Hyung! Shilla-ya!” ucapan Shilla terhenti ketika sebuah panggilan menyapa mereka. Dari ujung lorong sana Kyuhyun berjalan mendekati mereka.

“Hey! Kau dari mana?” tanya Shilla.

“Ah dari ruang dokter. Kalian datang?” tanya Kyuhyun ramah. Sementara Siwon berdecak singkat di sebelah Siwon.

“Memang ada larangan untuk aku datang?”

“Hya!” Shilla berdesis sembari menyenggol lengan Siwon. meminta Siwon berhenti bersikap dingin tanpa alasan.

Kyuhyun menghela napasnya kecil. “Kau sudah melihat Appa, Hyung?”

“Tck! Tak perlu basa-basi. Ah, dan apa yang kalian lakukan sampai abeoji bisa kelelahan seperti itu? Tck!”

“Hyung…”

Just…take a good care of him” ucap Siwon dingin. ia kemudian melangkahkan kakinya.

“Bisakah kau berhenti bersikap seperti ini, Hyung?” ucapan itu menghentikan langkah Siwon. ia membalikkan badannya menatap Kyuhyun.

“Berhenti seolah-olah semua ucapanmu adalah benar. Berhenti bersikap egois! Take good care of him? Tck! Kau pikir selama ini apa yang aku lakukan, Hyung? You are the one who worsened his condition” ucap Kyuhyun berani.

Kyuhyun hanya terlalu jengah dengan sikap Siwon. ia lelah terus-terusan dipojokkan. Ia lelah menjadi sosok lemah dan selalu salah di mata Siwon. membuatnya mengeluarkan emosinya sekarang.

“Kau bilang apa?”

You heard it, Hyung!

“Neo…”

“Cukup! I have enough of your bullshit, Hyung!” nada Kyuhyun meninggi. Ia memandang Siwon berani.

“Sekali saja, bisakah kau mendengarkanku? Sekali saja bisakah kau mengesampingkan egomu dan bicara dengan baik-baik dengan abeoji? Berhenti bersikap seperti anak kurang ajar yang tidak peduli orang tua. Kau pikir selain kelelahan apa yang membuat abeoji seperti itu? Kau. Kau dan sikap kekanakanmu, Hyung” ucap Kyuhyun. Siwon menggertakkan giginya.

“Ahh…kau sudah berani bicara, huh?”

“Ne. aku muak dengan kau selalu mengintimidasiku tanpa hal yang jelas. Wae? Hanya karena aku adik tirimu? Omong kosong!”

“Kyuhyun-ah…” Shilla berusaha menyentuh lengan Kyuhyun. Berharap Kyuhyun berhenti bicara yang akan menyulut emosi Siwon. shilla tahu Siwon akan berubah mengerikan saat emosi menguasainya. Sayangnya Kyuhyun tidak menangkap isyarat dari Shilla. Pria itu bahkan menepis tangan Shilla.

“Aku tahu kau menyalahkanku atas kerenggangan hubunganmu dan abeoji. Tapi pernahkah kau berpikir bahwa kau sendiri yang membuat hubungan kalian renggang?”

“Mwo?”

“Tck! Kau tidak sadar? Kau pikir kemana saja kau selama ini? Pernahkah kau menerima uluran tangan abeoji saat ingin meraihmu? Tidak, bukan? Jadi berhenti menyalahkanku atas semuanya. Berhenti membenciku atas perbuatan yang kau lakukan sendiri!”

“Memangnya apa yang sudah abeoji lakukan untuk meraihku? Tidak ada kurasa. Jadi jangan sok tahu, anak bodoh!” Siwon melawan Kyuhyun. Adiknya itu berdecak.

“Kau tahu apa yang salah dengan dirimu, Hyung? Kau begitu keras kepala hingga tidak menyadarinya. Begitu dingin hingga tidak peduli terhadap apa yang sudah orang lakukan padamu”

“Berhenti bicara kalau kau tidak tahu apa-apa. You are no me so stop saying as if you know me!”

Then stop treating me this way! Berhenti membenciku, berhenti bersikap seolah aku biang keladi dari semua kehancuran ini! Stop making me such a villain in this messed up family of ours! Do you think I want to be born this way, huh?” pekik Kyuhyun. Ia menatap Siwon kesal.

Siwon hanya terdiam. Baru kali ini ia menerima amarah Kyuhyun.

“Geurae….i wish you were never born” gumam Siwon.

“M-mwo?” Kyuhyun menatap Siwon horror. Takut akan apa yang akan Siwon ucapkan.

“Kalau mereka tidak melakukan kesalahan itu hingga kau lahir mungkin sekarang aku tidak perlu melihatmu. Mungkin hubungan mereka akan kandas. Mungkin Eoma bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya.”

“H-hyung…”

The only reason why dad never leave your mom’s side because he impregnant your mom’s. seandainya kau tidak ada mungkin abeoji akan melupakan cinta masa lalunya dan belajar mencintai eoma. Seandainya kau tidak ada mungkin sekarang aku akan dengan bangga menyebut diriku sebagai anak abeoji. Mungkin eoma masih hidup. Kalaupun tidak…mungkin di saat terakhir hidupnya eoma bisa merasakan dekapan hangat sang suami.” Lanjut Siwon. pandangan matanya kosong.

“Ya…seandainya kau tidak ada kurasa….hidupku tidak akan semenyakitkan ini. Sekarang kau tahu kenapa aku membencimu, huh?”

“Keunde….apa ini salahku untuk dilahirkan di keluarga ini, Hyung? I can’t even choose my parents then why you take all the blame on me? Can’t you see I’m hurting as well?”

“Aniya. Apa yang kau rasakan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang aku rasakan. Dosa kalian terlalu besar hingga rasanya rasa sakit yang sekarang kau rasakan tidaklah cukup untuk menebusnya”

“Keureom eottokae? What should I do to make you happy, huh?” Kyuhyun berucap frustrasi. Ia lelah mencoba terus baik pada Siwon namun tanpa hasil. Ia lelah mencoba.

Get lost! Get lost! Just freakin get lost!”

Kyuhyun tercekat akan amarah Siwon. Ucapan Siwon satu per satu seperti belati yang mencabik hatinya. Ia tidak mengerti kenapa rasanya begitu menyakitkan saat Siwon berucap seperti itu.

Kyuhyun menyayangi Siwon. ia menyayangi kakaknya. Seberapapun dinginnya Siwon terhadapnya selama ini, Kyuhyun selalu berharap bahwa Siwon suatu saat akan kembali menjadi sosok kakak yang ia dambakan. Tapi rasanya semuanya hanyalah akan sia-sia. Kakaknya begitu membencinya hingga rasanya ia tidak ada kesempatan untuk menerima kasih sayang Siwon lagi.

And it hurts him as hell.

“Ara. Kalau itu yang kau inginkan” ucap Kyuhyun lirih. Perlahan ia menggerakkan kakinya dan membalikkan badannya. Menyeka setetes air mata yang perlahan meleleh.

=A Perfect Façade Part 17=

Kyuhyun tidak mengerti apa yang harus ia rasakan. Ya, rasanya dunianya terbalik dan runtuh. Mendengar kalimat begitu menyakitkan keluar dari bibir Siwon –orang yang seharusnya dengan bangga ia sebut kakak. Orang yang ingin sekali ia bisa merasakan kembali kasih sayang darinya. Kyuhyun menyayangi Siwon dan rasanya ucapan Siwon itu begitu menghancurkan hatinya.

Dia pada akhirnya mengerti kenapa Siwon begitu membencinya. Kenapa kakaknya itu selalu menatapnya dengan tatapan jijik. Itu karena…kehadirannya yang tidak diharapkan.

Kalau saja ia bisa memilih, tentu saja Kyuhyun akan memilih untuk dilahirkan di tengah keluarga yang biasa. Keluarga tanpa drama kehidupan menyakitkan seperti ini. Ia lebih memilih dilahirkan sebagai anak dari orang tua biasa, bukan seperti ini. Membuatnya seperti anak hina yang tidak berguna.

Kakinya melangkah tanpa arah. Yang ia tahu ia hanya ingin menjauh dari Siwon. ia tidak menyadari bahwa kakinya membawanya keluar gedung rumah sakit itu. Terus berjalan tanpa arah.

Samar Kyuhyun bisa mendengar bunyi berisik khas jalanan di malam hari. Tapi otaknya terlalu tumpul untuk menyadari tepat di posisi mana kakinya mengajak melangkah. Karena pada dasarnya, Kyuhyun merasa saat ini suasana di sekitarnya hanyalah samar.

There is only him and his wounded heart.

Helaan napas berat keluar dari bibirnya. Ia berusaha mengeluarkan segala bentuk penat yang menghimpit dadanya. kakinya berhenti melangkah namun Kyuhyun hanya termangu. Entah dimana kakinya berdiri sekarang.

“Andwe!” kembali Kyuhyun mendengar suara samar. Disusul dengan sebuah cahaya menyilaukan yang datang dari sisi kirinya. Sontak kepalanya menoleh dan saat itu ia sadar bahwa cahaya itu berasal dari mobil yang melaju ke arahnya.

Reflex Kyuhyun menutup matanya. Kakinya terlalu lambat untuk merespon sekedar menyingkir dari jalan dan menghindari arah mobil. Membuatnya pada sepersekian detik itu sadar apa yang akan terjadi padanya. Tidak memiliki pilihan selain menutup matanya –menanti dengan pasrah apa yang akan mendatanginya.

I will definitely get away from you Hyung….far away.

BRAKK

Masih dengan menutup matanya Kyuhyun mendengar teriakan, mendengar bunyi hentakan dan gebrakan. Dia sudah menyiapkan dirinya akan rasa sakit yang menimpanya ketika mobil itu menyentuhnya. Otaknya terlanjur mengantisipasi sakit yang mendalam tapi apa yang tubuhnya rasakan tidaklah seperti itu. Aneh.

Atau…aku bahkan sudah tiada hingga tidak lagi merasakan sakit?

Samar teriakan yang tadi terdengar kini tak lagi bisa ia tangkap. Yang ia tahu hanyalah kini suasana menjadi hening. Membuatnya berpikir bahwa inikah rasanya mati.

Perlahan ia mendengar suara deru napas. Bukan, bukan dirinya. Deru napas itu keras dan tidak beraturan. Seperti deru napas setelah berlari marathon. Bingung, pria itu membuka matanya.

Hati Kyuhyun mencelos ketika mendapati siapa pemilik deru napas selain dirinya. Tepat di depan wajahnya adalah wajah Siwon. kakaknya itu menatapnya dengan tatapan yang selalu ia harapkan ia dapatkan.

Siwon and his caring eyes looking straight at him.

Otak Kyuhyun seakan kembali bekerja setelah rasanya beberapa detik lalu mati. Membuat Kyuhyun menyadari bahwa dirinya dan Siwon kini terbaring di pinggiran jalan. Dengan tubuh Siwon tepat di atasnya. Tangan kiri Siwon tertahan tubuh Kyuhyun.

His step brother save his life.

“H-hyung…”

“Jugulae?” tanya Siwon masih dengan napasnya yang belum beraturan. Matanya menatap kedalam mata Kyuhyun. Mengamati singkat –meyakinkan- bahwa ia benar-benar berhasil menyeret Kyuhyun keluar dari tengah jalan. Memastikan bahwa Kyuhyun masih bernapas.

Tapi tentu saja, pria yang lebih tua itu tidak mengakuinya secara gamblang.

Perlahan Siwon menarik tangannya yang tertindih tubuh Kyuhyun. Pria itu duduk tepat di sebelah Kyuhyun. Masih tidak menyangka bahwa tragedy itu nyaris terjadi.

“Kau ingin mati, huh?” ulang Siwon. perlahan ia bisa mengendalikan napasnya.

Kyuhyun masih terdiam. Masih terbaring di posisi yang sama. Otaknya memang sudah kembali bekerja tapi rasanya begitu banyak pemikiran menari-menari di otaknya. Berbagai kemungkinan yang ia tak tahu mana yang benar dan mana yang hanya permainan ilusinya belaka.

Dan Kyuhyun menolak untuk memikirkan lebih jauh mana dari sekian asumsi dan ketidakpastian itu yang benar. Ia memilih untuk focus pada satu kenyataan yang pasti benar. Bahwa Siwon menyeretnya tepat sebelum mobil melaju ke arahnya dan mungkin menghilangkan nyawanya.

That the one who save him was the one who told him to die –literally.

“You told me to” lirih Kyuhyun. Akhirnya mulutnya kembali bisa bekerja dan mengeluarkan suara.

“Mwo?” Siwon menatap Kyuhyun yang hanya menatap lurus pada langit malam di atasnya.

“You told me to get lost…you told me to die. You should let me die!” Kyuhyun menggumamkan kalimat itu seolah itu bukanlah hal yang tabu. Dan entah bagaimana tapi darah Siwon berdesir marah mendengarnya.

“Kau berharap aku tidak pernah ada, bukan? Kau menginginkan aku menjauh dari hidupmu, bukan? Basically, you told me to die, didn’t you? Lalu kenapa repot menyelamatkanku? Seharusnya kau biarkan saja mobil itu berlari ke arahku. Merenggut nyawaku” ucap Kyuhyun masih lirih. Matanya sama sekali tidak berpaling dari gelapnya malam.

Siwon hanya terdiam. Menatap Kyuhyun yang masih tak bergerak. Menatap adiknya yang menatap kosong langit malam.

Your life will be a lot better if I die, right? You should be happy” ucap Kyuhyun sarkartis. Meski nada yang ia gunakan masih datar.

“Bodoh!” desis Siwon. hal berikutnya yang ia lakukan membuat Kyuhyun terhenyak.

BUGH

Ya, Siwon melemparkan pukulan tepat di wajah Kyuhyun. Pria itu meraih kerah kemeja Kyuhyun. Menatap adiknya itu tajam. Sementara Kyuhyun hanya menatap kakaknya kosong.

And you choose to end up your life like that?” geram Siwon. tanpa melonggarkan sedikitpun cengkramannya. Kyuhyun menyeringai kecil.

“Apa masalahnya memang?”

BUGH

Lagi Siwon menghadiahi Kyuhyun dengan pukulan. Kyuhyun bahkan tidak mengerti dengan tindakan Siwon. kenapa kakaknya itu terlihat begitu marah dan sampai memukulnya.

You fuckin moron! If ever I want you to die, then I will end your life with my own hands not with that stupid car!” bentak Siwon.

“…”

“If you want to die then die in my hands. Stupid!”

Siwon perlahan melepaskan genggamannya. Menyingkirkan badannya dari badan Kyuhyun. Perlahan pria itu bangkit berdiri. Kedua matanya menatap mata Kyuhyun yang balik menatapnya.

“Until the day I want to kill you….don’t ever think to end your life stupidly!” ancam Siwon. kakinya perlahan melangkah, meninggalkan Kyuhyun yang mengamatinya menjauh.

“Wae Hyung?” gumam Kyuhyun lirih. Tatapannya sama sekali tidak meninggalkan Siwon yang meninggalkannya terkapar di pinggir jalan.

Tak lama pandangannya tertutup oleh orang-orang yang mengerumuninya. Menanyainya keadaanya, apakah ia baik-baik saja. Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya membiarkan orang-orang itu membantunya berdiri. Pikirannya berkelana. Memikirkan apa maksud dari tindakan dan ucapan kakaknya itu.

=A Perfect Façade Part 17=

Shilla ada disana. Menyaksikan bagaimana mobil yang melaju itu nyaris merenggut nyawa Kyuhyun. Bagaimana Siwon berteriak dan dengan cepat berlari ke arah Kyuhyun. Menyeret tubuh Kyuhyun tepat sebelum mobil sempat menabraknya.

Wanita menyaksikan tiap detail kejadian di depan matanya. Apa yang Siwon ucapkan, apa yang Siwon lakukan. Dia ada disana –beberapa meter dari kedua kakak beradik itu.

Ia kembali melihat bagaimana Siwon menyeret kakinya menjauh. Ia tidak melihat sosok Siwon yang angkuh dan kuat seperti biasanya. Tidak. Ia hanya bisa melihat sosok Siwon yang lemah dan memaksa dirinya untuk kuat. Memaksa dirinya untuk tidak meruntuhkan dinding tebal pertahanannya.

She saw how he limp and walk lifelessly.

Seharusnya wanita itu –seperti orang kebanyakan- berlari ke arah Kyuhyun. Tapi tidak. Ia justru berjalan menuju Siwon. mengikuti arah jalan Siwon.

Kenapa? Karena ia tahu Siwon lebih membutuhkan dirinya. Karena ia tahu Kyuhyun akan baik-baik saja di tengah orang-orang itu. Tapi untuk Siwon? siapa yang akan ada untuknya? Siapa yang akan bersedia di sampingnya? Tidak ada.

Itulah kenapa kini Shilla setengah berlari mencari kemana Siwon pergi. Dan saat itulah ia mendapati Siwon yang terhuyung dan duduk di sebuah bangku tepat di sebelah gedung rumah sakit itu. Shilla mendekatinya.

Pria itu hanya menundukkan kepalanya. Dan Shilla tahu bahwa pria itu tengah tidak baik-baik saja. Perlahan Shilla mengambil duduk tepat di sebelah Siwon. dan saat itu Siwon menolehkan kepalanya. Menatap Shilla yang menatapnya khawatir.

Tidak ada kata yang terucap diantara keduanya. Dan Siwon bersyukur untuk itu. Karena sejujurnya ia tidak tahu apa yang harus ia ucapkan kepada Shilla.

Shilla meraih bahu Siwon dan memeluknya. Siwon tidak melakukan apapun –tidak menolak hanya pasrah.

Tangan kanan Shilla menyentuh kepala Siwon dan mengelusnya. Sementara tangan kirinya menyentuh punggung Siwon dan menepuknya lembut.

“Gwenchana!” gumamnya sembari tangannya masih bekerja.

He’s okay. He’s gonna be okay” lanjut Shilla. Tepat setelah Shilla mengucapkan kalimat itu pertahanan Siwon benar-benar runtuh.

Pria itu tergugu dalam dekapan Shilla. Ucapan Shilla seolah menandakan ia mengerti apa yang Siwon rasakan. Seolah wanita itu tahu apa yang Siwon rasakan tanpa pria itu harus berucap secara gamplang.

Dan bukankah Shilla memang selalu begitu? Wanita itu selalu mengerti Siwon…terkadang melebihi dirinya sendiri. Dan Siwon bersyukur untuk itu.

“Gwenchana. Gwenchana!” Shilla kembali berucap. Tangannya tidak berhenti menepuk Siwon. berharap bahwa apa yang ia lakukan akan sedikit membantu Siwon.

Dan sekali lagi Shilla benar. Siwon tidak baik-baik saja. Bahwa saat ini Siwon lebih membutuhkan Shila daripada Kyuhyun. Bahwa Siwon jauh lebih tidak baik-baik saja daripada Kyuhyun.

And she’s willing to stand by his side.

 

To be continued.

 

Okay…I won’t say much. Just saying sorry for everything, late update and so on.

Thanks for you who willing to wait this crappy story of mine.

Till next time, guys!

 

 

 

 

 
225 Comments

Posted by on August 24, 2014 in chapter, fanfiction

 

Tags: ,

225 responses to “A Perfect Facade Part 17

  1. Amal elf

    November 18, 2014 at 9:38 pm

    Baru pertamakali baca,tapi tidak tau mau nulis apa. Sungguh… Wow

     
    • shilla_park

      November 19, 2014 at 6:53 pm

      lah itu udah nulis neng haha

       
  2. chohasoo_evti

    November 24, 2014 at 9:12 am

    Selalu suka tiap scene shilla ma won..
    Sekalipun dalam suasana sedih dan nyakitin gmna gitu, tapi cara mereka saling menenangkan satu sama lain itu romantis banget..
    Masih belum bisa menarik kesimpulan tentang perasaan kalian sama lain klo kalian itu udah saling jatuh cinta?? Bahkan tanpa sadar bisa dibilang ‘terikat’ satu dg yg lain.. saling membutuhkan..

     
    • shilla_park

      November 25, 2014 at 10:10 pm

      hehe romantis ya??? kita emang pasangan romantis sih haha

       
  3. Shin Airri

    November 28, 2014 at 5:39 am

    bipolar nya siwon nular ke shilla kah?? hahahaha😀 tp kyaknya lucu jg sich klo shilla lbih agresif k siwon.. hehehe
    tp ya siapa yg bakal sadar ama perasaan masing”? shilla ato siwon??

    siwon-kyuhyun beneran hub timbal balik menindas-ditindas… tp sebebernya siwon tuch care ama kyuhyun…

     
    • shilla_park

      November 30, 2014 at 8:01 pm

      haha shilla bukan tipe yg agresif kok sayangnya haha

       
  4. rahmah03

    December 30, 2014 at 4:32 pm

    Shilla is very very good girl…^^

     
  5. nae.ratna

    August 19, 2016 at 2:33 pm

    beneran suka tiap situasi siwon sama shilla feel.a dapet banget ada kesel, sedih.a
    v shilla bener2 pengertian n lebih memahami perasaan siwon

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: