RSS

A Perfect Facade Part 18

09 Nov

Shilla APFix

Shilla hanya diam sembari memperhatikan Siwon yang meneguk teh hangat buatannya. Wanita itu dengan seksama memperhatikan sang pria yang tetes demi tetes meneguk chamomile tea yang konon katanya bisa memberi efek menenangkan.

Wanita itu kembali diam meski kini Siwon telah meletakkan cangkir tehnya pada tatakannya. Meletakkan cangkir itu di atas meja di depan keduanya kini duduk. Pria itu sama sekali tidak menatap Shilla. Hanya menatap lurus ke depan. Tapi ia tahu bahwa di sampingnya, Shilla menunggunya. Menunggunya untuk siap membuka dirinya. Menyerukan ceritanya. Dan Siwon tahu, bahwa wanita itu akan tetap mendengarkan tanpa prejudgment.

Do you want to talk about it?” tidak bisa lagi menahan keheningan, Shilla akhirnya berucap. Dan Siwon kembali hanya bisa diam. Masih berusaha menenangkan dirinya.

I don’t know where to start” gumam Siwon lirih.Shilla tersenyum simpul.

Keureom…mulailah dengan apa yang kau rasakan saat ini?” saran Shilla. Siwon menolehkan kepalanya, menatap Shilla. Sejenak ia berpikir.

Horrible” bisiknya lirih. Shilla mengangguk mengerti.

“Lalu?”

Siwon kembali membuang mukanya. Ia menyandarkan kepalanya lemas ke sandaran sofa panjang miliknya. Memejamkan matanya sejenak, berusaha meredam segala bentuk emosi yang tengah bercampur aduk di dadanya.

Suffocated, anger, confuse, pain,…” lirihnya masih dengan memejamkan matanya. Satu persatu menyebutkan apa yang ia rasakan saat ini.

“Regret” tambahnya.

Regret?” ulang Shilla berusaha memastikan. Siwon menghela napasnya. Masih enggan untuk membuka matanya.

”Hm. Kalau aku sedikit saja terlambat menariknya” jawab Siwon. shilla tersenyum lagi. Wanita itu memperhatikan Siwon yang masih menutup rapat matanya.

“Kau membencinya?” tanya Shilla lirih. Siwon kembali diam. Ia tahu siapa yang Shilla maksud dalam pertanyaannya. Dan untuk detik itu Siwon hanya bisa membisu.

“Hmm” hanya gumaman ambigu yang Siwon keluarkan untuk menjawab pertanyaan SHilla. Perlahan mata Siwon terbuka, menatap langit-langit ruang tamu apartemennya.

“Kau yakin?”

Pria itu kembali menghela napasnya. “Molla. Setidaknya itulah yang aku percaya”

“Benci dan cinta adalah sesuatu yang kau rasakan. Bukan sesuatu yang kau percaya kau rasakan” respon Shilla. Membuat Siwon untuk sesaat tidak bisa membuka mulutnya untuk membantah. Toh pada dasarnya apa yang Shilla ucapkan memang masuk akal.

“Well, aku tak tahu. Yang aku tahu aku membencinya. At least I’m trying to hate him”

Shilla tersenyum tipis. “Trying? But you know deep down you’re not really feel the same as you think. Angeurae?” tanya Shilla. Siwon menolehkan kepalanya, menatap wajah yakin Shilla.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu dengan apa yang aku rasakan?”

“Terkadang…orang lain lebih mengerti dibanding diri kita sendiri. People can be a good observant, you know?” ujar Shilla. Siwon menatapnya lagi, dan kini bibirnya tersungging tipis.

How could she know much about me?

“Kurasa kau benar. It’s so hard to hate him. Aku yakin kalau aku membencinya tapi terkadang aku kerap mempertanyakan hal itu. Aku membencinya, ya. Tapi kurasa aku kerap merasa bahwa apa yang aku rasakan itu salah. Aku bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan. Menyedihkan, bukan?” ujar Siwon. ia tersenyum miris.

“Dan kenapa begitu?”

“Huh?”

“Kenapa kau meragukan perasaanmu?”

Siwon menggelengkan kepalanya. “molla. Aku tidak tahu” gumam Siwon. dirinya kembali diam. Mungkin memikirkan kemungkinan kenapa dirinya begitu susah untuk membenci Kyuhyun.

Siwon memiliki ribuan alasan untuk membenci adik tirinya itu. Akan begitu mudah bagi dirinya untuk membenci Kyuhyun -seharusnya. Hanya saja bertahun-tahun ia mendoktrin dirinya untuk membenci Kyuhyun namun pada kenyataanya hatinya tidak bisa melakukannya. Logikanya terus mencekoki dirinya untuk membenci tapi hatinya memilih untuk tidak.

Dan untuk alasan apa? Rasanya perlahan Siwon mulai mengerti.

I start everything with him with….fond. I welcomed him with warmth smile on my lips. Everything was so perfect once he came in a picture.” Ujar Siwon menerawang. Shilla hanya mendengarkan tanpa menginterupsi.

“Di usiaku saat itu, aku dengan tanpa malu meminta Eoma seorang adik. Well, teman-teman sekolahku saat itu paling tidak sudah memiliki seorang adik, sementara aku? Itulah kenapa aku sering merengek meminta adik pada Eoma. Tanpa sadar bahwa rengekan kekanakanku saat itu adalah awal dari derita Eoma.”

“Aku tidak pernah tahu kenyataan yang sebenarnya dari rumah tangga Eoma. Membuatku sekarang berpikir pastilah saat itu Eoma sangat menderita dengan segala bentuk permintaan polosku. Menanyakan tanpa henti dimana Appa ketika ia jarang pulang, meminta agar Appa sering bermain denganku, hingga meminta adik.” Siwon tersenyum pilu. Menyadari betapa polos –bodoh- dirinya saat itu.

“Hingga akhirnya Kyuhyun datang. Kau tahu apa yang Eoma katakan saat itu? ‘Siwon-ah, ini Kyuhyun, adikmu. Kau sejak lama ingin seorang adik, kan? Jadi bersikap baiklah pada Kyuhyun, eo? jadilah kakak yang baik untuknya’. Kurang lebih Eoma bicara seperti itu” Siwon kini terdiam. Ia menghela napasnya panjang, seolah ingin sebanyak mungkin menghirup udara untuk mengisi paru-parunya.

“Jadi kau tahu kan apa yang aku rasakan pada Kyuhyun saat itu. I was glad that my mom granted my wish, glad that finally I have a brother. Glad that finally there was someone calling me Hyung. I even promised to become a great brother to him. Aku tidak memiliki sedikitpun kecurigaan atau bahkan kebencian saat Kyuhyun datang. Mungkin aku terlalu naif untuk berpikir bahwa seorang adik tidak mungkin hadir secara tiba-tiba. Kalau saja aku bisa sedikit saja lebih pintar saat itu”

Kalimat terakhir Siwon terdengar seperti sebuah bisikan. Shilla menepuk pundak Siwon lembut.

I loved him as my younger brother, dearly. Dan ketika aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang Eoma –setelah kepergiaanya-, aku tidak lagi memiliki pemikiran yang sama tentang Kyuhyun.”

“Kau akhirnya memilih untuk membencinya” potong Shilla. Siwon menatap sekilas dan menganggukkan kepalanya.

What do you expect me to do then? Menganggap semuanya baik-baik saja? Mengatakan pada Kyuhyun:’Ah, gwenchana. Ini bukan salahmu Kyuhyun-ah. Aku baik-baik saja.’ Begitu? I’m no angel, Shilla-ya. Aku tidak memiliki hati seorang malaikat kurasa” aku Siwon.

“Mani apha. I hurt too much. Knowing that the brother I cherished was the one who caused my mom’s misery.”

“Tapi kurasa kau juga cukup tahu bahwa itu bukan salah Kyuhyun, bukan? Dia hanyalah buah dari kesalahan orang tua kalian.”

“ How do you think I should handle the situation then, huh? Being an angel and tell him everything is okay? That everything is not his fault? That I’m okay with it? I can’t.” ucap Siwon sembari menggelengkan kepalanya. Shilla menatap pria di sampingnya iba. Ia meraih jemari Siwon dan meremasnya singkat. Menunjukkan simpatinya.

“Pada saat itu…membencinya jauh lebih mudah daripada memaafkannya.” Timpal Siwon. shilla menatap Siwon iba tapi ia mengerti apa yang pria itu rasakan.

Ketika dihadapkan pada situasi seperti itu manusia memang akan cenderung memilih untuk membenci. Karena memaafkan membutuhkan sebuah kelapangan hati dan itu tidak mudah. Membenci adalah pilihan yang paling mudah saat itu. Dan itu-pun yang Siwon kecil lakukan saat itu.

Shilla mengulurkan tangannya dan menaruh kepala Siwon pada pundaknya. Membelai kepala pria itu pelan dan lembut. Dan Siwon mendapatkan ketenangan dari hal itu.

It must be hard on you, hm?” ucap Shilla. Siwon hanya membiarkan Shilla dengan belaian tangannya. He likes it by the way.

“Dan kurasa berusaha membencinya membuat semuanya menjadi lebih berat, bukan? Karena pada dasarnya setiap kebencian yang kau keluarkan, setiap ucapan menyakitkan yang terlontar dari bibirmu untuknya….pada akhirnya semua itu berbalik menyakitkan untuk dirimu sendiri, bukan?” tambah Shilla. Siwon hanya terdiam. Lebih tepatnya tidak bisa bersuara untuk membantah.

“Keureom….bisakah kau berhenti?”

“Hm?”

Stop trying hard to hate him. Please stop it if it’s only hurting you in the end” ujar Shilla. Siwon terhenyak singkat.

And what should I do to make this pain go away then? If I can’t hurt him what should I do?” bisik Siwon. shilla tersenyum tipis. Wanita itu melepas pelukannya. Menghadapkan wajah Siwon padanya.

Shilla meraih jemari Siwon. “Hidup dengan kebencian tidak akan pernah mudah. Jadi…lupakanlah!”

“Keunde…”

“Aku tahu tidak mudah. Tidak mudah untuk melupakan rasa sakit yang terlalu lama dan terlalu dalam terpatri dalam hatimu. Tapi, setidaknya kau bisa mengalihkan perhatianmu untuk hal lain”

“Maksudmu?”

Just focus on something else instead of your pain. Biarkan semuanya berjalan sesuai kehendak-Nya. Kau hanya perlu memfokuskan dirimu pada kehidupanmu saat ini. Pekerjaanmu misalnya. Fokuskan dirimu pada hal lain yang lebih positif daripada memikirkan deritamu.” Shilla mengakhiri ucapannya dengan senyuman tulusnya. Tangannya masih berada di atas jemari Siwon dan menyentuhnya lembut.

And I’m willing to help you” lirih Shilla. Senyumnya kembali terkembang hangat. Dan Siwon berani bersumpah hatinya mencelos saat itu. Sebuah desiran hangat kembali menghantamnya kuat.

Mata Siwon tidak bisa beralih dari wajah Shilla yang menunjukkan ketulusan. Desiran hangat di dadanya kini bercampur dengan debaran kencang yang ia khawatir akan terdengar oleh Shilla.

“If I could…I wish I could ease your pain” bisik Shilla lirih. Siwon tidak melihat gurat kebohongan dalam mata wanita itu. Dan hal itu membuat pria itu tanpa sadar menyunggingkan senyum bahagianya.

Dan kali ini, giliran Shilla yang terhenyak. Desiran dan debaran yang beberapa detik lalu Siwon rasakan nyatanya kini juga Shilla rasakan.

They have mutual feelings yet none want to confirm it. May be not now.

Thank you” gumam Siwon. shilla membalasnya dengan senyuman singkat. Wanita itu perlahan berdiri. Meninggalkan Siwon yang kini hanya bisa memperhatikan setiap gerak langkah Shilla. Menilik apa yang ingin Shilla lakukan.

Kerutan di kening Siwon bertambah ketika ia mendapati Shilla kembali dengan sebuah kotak di tangannya. P3K.

Wanita itu tersenyum simpul. “Boleh kulihat lenganmu?” tanyanya sembari menunjuk lengan kiri Siwon. pria itu memiringkan kepalanya singkat sebelum akhirnya mengikuti kemauan Shilla. Pria itu menjulurkan tangan kirinya.

Perlahan Shilla menyisingkan lengan kemeja Siwon. menampakkan luka memar dengan bercak darah yang mulai mongering di lengan kiri Siwon. mata Siwon membelalak singkat.

When did I get those scars?

Shilla tersenyum singkat kemudian membilas luka Siwon dengan alcohol. Mengoleskan krim dengan lembut setelahnya.

“Apha?” tanyanya sembari mendongak menatap Siwon. pria itu menggelengkan kepalanya.

“Aniyo. Aku bahkan tidak sadar kapan dan bagaimana aku terluka” jawab Siwon jujur. Dan jawaban itu nyatanya membuat Shilla tersenyum lagi.

“Kau terluka saat menarik Kyuhyun. Kurasa lenganmu membentur keras jalanan. Kau benar tidak merasa perih atau semacamnya?” tanya Shilla memastikan. Siwon hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Terasa perih saat kau mengoleskan obat. Sebelumnya aku tidak merasakan apapun” aku Siwon lagi.

“Sudah kuduga”

“Huh?”

Shilla tersenyum tipis kemudian menatap tepat di kedua mata Siwon. “Ini adalah salah satu contoh kenapa aku bilang kau jangan terlalu focus pada deritamu”

“mwo?”

When you only focus on your misery you won’t be feeling anything that happening around you at the moment. Dalam kasus mu sekarang, kau bahkan sama sekali tidak merasakan rasa perih luka di lenganmu karena kau terlalu focus pada perasaan kalut akibat kejadian yang menimpa dirimu dan Kyuhyun beberapa saat lalu. Itu juga berlaku untuk derita masa lalumu”

Siwon hanya menatap Shilla datar. Mencoba mengerti dan mencerna setiap detail ucapan Shilla.

“When you only focus on your scattering heart –your hurting past- then you won’t be able to look straight with what’s happening at the time. The care people give you, the love and even the pain….you won’t be able to feel it right. Itulah kenapa aku minta kau untuk berhenti hanya memikirkan derita masa lalumu. Buka hati dan pikiranmu karena dunia ini tidak berkutat pada masa lalu semata.”

Siwon menatap wanita di hadapannya itu takjub. Sekali lagi Shilla melampui ekspektasinya. Well, she is no ordinary in Siwon’s mind by the way.

“Don’t hold your past too tight. Let everything flows. I know it’s hurt but just let your heart feel any other emotions rather than hurt itself. So please, stop hurting yourself again and again. You deserve happiness as well, hm?”

Siwon hanya bisa tercengang mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir Shilla. Kehangatan menjalar dalam dadanya. perasaan lega yang lama ia tak rasakan entah bagaimana kini kembali ia rasa. Bagaikan beban berat yang terangkat begitu saja dari pundakmu.

“Thank you” bisikan lirih keluar dari bibir Siwon. ia tak bisa melakukan apapun selain memberikan senyuman tulus untuk Shilla. Tangan Siwon terjulur dan menyentuh pipi Shilla.

Thank you. I don’t know what happen to me if you were never here” gumaman lirih kembali terlontar dari bibir Siwon. jemarinya mengelus lembut dan pelan pipi Shilla. Matanya memancarkan kehangatan dan ketulusan.

Dan saat itu Shilla berani bersumpah bahwa debaran jantungnya meningkat berkali lipat. Degupan kencang rasanya terdengar begitu nyata, membuatnya takut Siwon bisa mendengarnya.

And at that moment, the two people can only stare at each other. Feeling warm inside their hearts.

Their hearts can feel it. But there is no verbally confirmation….yet.

=A Perfect Façade Part 18=

“Omo! Kyuhyun-ah gwenchana?” Yijung tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya ketika melihat sang putra dengan memar di wajahnya. Siwon memang berhasil menyelamatkannya tapi Kyuhyun tetap saja mendapat memar akibat pukulan yang Siwon hadiahkan untuknya.

Kyuhyun mengabaikan ucapan khawatir sang ibu. Ia hanya bungkam sembari menghempaskan dirinya duduk. Yijung mendekati anaknya dan menyentuh pelan wajah anaknya yang memar.

“Gwenchana? Apa yang terjadi, hm?” tanya Yijung lagi. Wanita paruh baya itu tidak mengerti bagaimana anaknya bisa mendapat luka memar seperti ini. Seperti habis berkelahi –yang memang pada dasarnya tidak sepenuhnya salah.

“Dia… peduli” ucap Kyuhyun berbisik. Yijung mengernyitkan dahinya bingung.

“Dia? Siapa?” tanyaYijung. Alih-alih menjawab, Kyuhyun terdiam. Dan Yijung tidak punya pilihan lain selain menunggu putranya untuk berucap –menjawab pertanyaanya.

“Hyung-ie…” bisik Kyuhyun pada akhirnya. Yijung terhenyak singkat hingga akhirnya ia mengulas senyumnya.

“Keuraekuna?”

“Ne”

Helaan napas keluar dari bibir yijung. Bukan helaan napas berat melainkan helaan kelegaan. Senyumnya kembali terkembang. Kedua matanya menatap Kyuhyun dan saat itu Kyuhyun bisa melihat besarnya kelegaan yang terpancar dari wajah sang ibu.

“Pada akhirnya….dia kembali” lirih Yijung. Ia kembali melemparkan senyumnya untuk Kyuhyun.

“Kau akan mendapatkan kakakmu kembali, Kyuhyun-ah” lanjut Yijung. Senyuman tipis itu masih terkembang di bibirnya. Dan saat itu Kyuhyun merasa bahwa ia bisa mempercayai ucapan sang ibu.

Biarkan harapannya menjadi kenyataan suatu saat nanti.

=A Perfect Façade Part 18=

Siwon berjalan pelan menelusuri lorong rumah sakit. Tangan kanannya memegang ponsel yang tertempel di telinganya.

“Kau bisa handle untuk hari ini, bukan?” tanyanya.

“Ehm. Kau tenang saja untuk itu. Aku sudah reschedule meeting dengan Mr.Goen, jadi kau tidak perlu khawatir. Jalani saja tugasmu sebagai anak yang baik, eo?” ucap orang di seberang sana. Siwon tersenyum tipis.

“Araseo. Beritahu aku kalau ada sesuatu, hm?”

“Ne. aku akan menjenguk setelah meeting internal beres, hm?”

“Gwenchana. Lakukan saja tugasmu dengan baik.”

“Ani. Aku akan kesana. Ada kabar baik, hm?” Ucap Shilla. Siwon tersenyum lagi.

“Araseo, terserah padamu. Entahlah. Tadi mereka hanya bilang abeoji sudah lebih baik. Aku hanya ingin tahu detail dari dokter. Kondisinya beberapa hari ini begitu mengkhawatirkan, bukan? Jadi rasanya aku ingin tahu apakah ia bisa lebih baik”

“Hm. Aku mengerti. Aku hubungi lagi nanti, hm? Meeting akan dimulai”

“Eo. be good, Miss Park.”

Tck. Araseo, hwijangnim!” ucapnya terkekeh kemudian menutup sambungan telepon. Siwon kembali tersenyum. Memasukkan ponselnya kedalam saku jas kerjanya.

=A Perfect Façade Part 18=

“Syukurlah kau sedikit membaik, yeobo”ucap Yijung lega. Sehari lalu melihat kondisi suaminya yang begitu lemah membuat Yijung hampir tak bisa bernapas. Ketakutan melandanya.

“Aku membuatmu khawatir, hm?” ucap Kiho lirih. Meski ia sudah bisa sadar dengan normal, tapi tetap saja tubuhnya masih lemah.

“Tentu saja. Istri dan anak-anak Anda begitu mengharapkan Anda segera pulih, Choi-ssi” ucap dokter –yang sedari tadi berada di ruangan itu-, menginterupsi. Tepat disaat dokter berhenti bicara, seseorang memasuki ruangan. Siwon.

Kiho melempar senyumnya tipis ke putra sulungnya. Mendapati Siwon masih peduli dan menjenguknya membuat Kiho merasa lebih baik.

“Ah, Siwon-ssi. Kebetulan sekali. Karena seluruh anggota keluarga ada disini, saya rasa ini saatnya untuk membicarakan tentang kondisi Choi-ssi” ucap sang dokter yang sepertinya sudah menginjak umur 60-an.

Seluruh anggota keluarga menunggu sang dokter dengan antisipasi dan kecemasan. Mereka cukup paham bahwa kondisi Kiho yang sempat memburuk adalah suatu pertanda yang tidak baik.

“Jwesonghamnida. Tapi saya rasa Choi-ssi membutuhkan operasi segera.”

“Apa parah, seongsaengnim?” Yijung bertanya. Tangannya meraih jemari Kiho.

“Saya mohon maaf tapi saya harus mengatakan bahwa Choi-ssi mengalami kerusakan parah pada jantungnya.”

“Saya rasa saya cukup memiliki pola hidup sehat. Saya tidak merokok atau melakukan hal-hal yang membahayakan jantung.”

“Saya mengerti Choi-ssi. Tapi kerusakan jantung juga bisa disebabkan oleh infeksi. Dan itu jugalah yang tengah dialami Anda saat ini. Dan saya mohon maaf karena infeksi yang Anda alami cukup parah hingga membuat kerusakan jantung yang parah. Oleh karena itu saya menyarankan untuk melakukan operasi untuk implantasi VAD (Ventricular Assist Device)” jelas sang dokter.

“Apakah suami saya bisa sehat setelah itu?”

Sang dokter tersenyum tipis. “Ne. VAD hanya diimplantasi untuk membantu penyembuhan akibat infeksi. Dan ini sifatnya hanya sementara. Hanya sampai kondisi jantung Choi-ssi membaik maka alat itu bisa dicabut lagi. Jadi jangan khawatir.” Terang sang dokter.

“Apa ada efek samping dari implantasi alat itu?” Siwon membuka suaranya. Sang dokter mengalihkan pandangannya kearah Siwon. ia tersenyum tipis.

“Setiap benda asing yang dimasukkan ke dalam tubuh pastinya akan memberi efek samping. Dalam beberapa kasus VAD juga bisa memperparah infeksi atau bahkan penggupalan darah jika tidak dilakukan dengan tepat. Tapi jangan khawatir, kami memiliki tim dokter yang professional untuk hal itu”

“Seberapa yakin songsaengnim akan hal itu?” cerca Siwon.

“Saya akan bertanggung jawab penuh untuk hal itu. Jadi jangan khawatir. Saya pastikan Choi-ssi akan membaik setelah operasi itu.” Ucap sang dokter yakin. Siwon memandangnya singkat.

“Keureom….saya harap seongsaengnim menepati janji” tegas Siwon. mungkin terdengar mengancam tapi Yijung tahu bahwa Siwon hanya khawatir akan ayahnya.

“Siwon-ssi bisa memegang ucapanku kalau begitu” jawab sang dokter. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada Kiho.

“Saya akan mengatur jadwal untuk operasi kalau begitu. Saya harap Choi-ssi rileks dan tidak stress. Anda akan membaik saya pastikan” ujar sang dokter. Kiho tersenyum pelan.

“Terimakasih.”

“Ne. saya permisi kalau begitu” pamit sang dokter. Ia lantas keluar dari ruangan itu. Meninggalkan anggota keluarga itu.

“Kau dengar, yeobo? Kau akan segera pulih” ucap yijung pelan. Ia melempar senyumnya.

“Ne. kalian keberatan kalau aku ingin bicara berdua dengan Siwon?” lirih Kiho. Kyuhyun membelalakkan matanya. Pembicaraan Kiho dan Siwon selama ini selalu berujung dengan pertengkaran. Dan melihat kondisi Kiho saat ini, Kyuhyun tidak ingin pembicaraan empat mata keduanya hanya akan memperparah kondisi sang ayah. dokter bilang untuk menghindarai stress, bukan?

“Abeoji…”

“Gwenchana Kyuhyun-ah. Aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu bicara dengan kakakmu” bujuk Kiho. Yijung menatap sang suami, melihat keyakinan disana. Perlahan ia melepaskan tangannya dari sang suami dan berdiri di samping Kyuhyun.

“Kaja! Kita keluar sebentar” ucap sang ibu pada Kyuhyun dan dijawab dengan gelengan pelan.

“Gwenchana”

“Keunde…”

“Gwenchana. Hm? Kita keluar?” pinta Yijung. Kyuhyun menghela napasnya dan pada akhirnya mengikuti sang ibu berjalan keluar.

=A Perfect Façade Part 18=

Siwon hanya memandang ayahnya diam. Berusaha memikirkan kemungkinan apa yang membuat ayahnya ingin bicara berdua. Ia cukup tahu ayahnya, dan rasanya apa yang ingin ayahnya bicarakan bukanlah hal sepele.

“Mendekatlah!” pelan Kiho berucap. Menyaksikan Siwon berdiri canggung agak jauh darinya membuat Kiho sedikit tidak nyaman.

Siwon mengikuti perintah ayahnya. “What is it that you want talk to me?” tanya Siwon langsung. Kiho menatap Siwon dalam.

“Hanya ingin mengucapkan sesuatu yang sejak lama ingin aku ucapkan tapi tak bisa. Kondisiku beberapa hari ini membuatku sadar bahwa hidup adalah misteri. Seberapa lama kita hidup. Jadi rasanya aku tidak ingin mati dengan penyesalan.”

“Kau akan baik-baik saja. Dokter menjanjikan itu. Jadi berhenti bicara ngawur!” nada ucapan Siwon memang dingin tapi ia tidak menampik bahwa ia tidak suka dengan pernyataan yang Kiho ucapkan.

“Aku tahu. Tapi segala kemungkinan itu ada bukan? Jadi…ketika aku masih bisa bernapas…”

“Abeoji…”

“… aku meminta maafmu, Siwon-ah” kalimat itu membuat Siwon terhenti. Ia kembali diam.

“Mianhada…uri adeul” lirih Kiho. Siwon terhenyak tentu saja.

Selama ini, separah apapun argumen mereka, tidak sekalipun Kiho mengucap maaf. Seberapa salah Kiho selama ini, tapi sekali pun ia tak pernah meminta maaf. Dan kali ini, ketika sang ayah mengucapkannya, hati Siwon mencelos.

I will die in regret if I never once ask for your forgiveness, my son. dan aku tidak ingin itu terjadi” lanjut Kiho. Ia berhenti singkat. Ia menatap Siwon memelas.

“Aku tahu aku bukanlah ayah yang baik untukmu. Aku tahu begitu besar salahku padamu. Keureonika….maafkan aku, hm? Terlepas dari apakah aku akan pulih atau tidak…tapi aku butuh maafmu Siwon-ah. Maafkan aku, hm?” pinta Kiho tulus. Siwon hanya memandang ayahnya bisu. Tidak mengerti dengan apa yang harus ia katakan.

“Mungkin penyakitku sekarang juga adalah karma dari perbuatanku. Aku begitu jahat padamu, aku akui itu. Karena ayah yang baik tidak akan pernah melakukan apa yang aku lakukan padamu. Even so, I still need your forgiveness, son. kau mau, kan?” Kiho berucap lagi. Siwon masih menutup mulutnya.

“Bagian mana yang kau inginkan untuk aku maafkan? Menelantarkanku? Mengabaikanku? Pilih kasih, meremehkan, atau yang lain?”

Kini Kiho yang terdiam singkat. Hatinya bergetar perih dengan tiap kata yang Siwon sebutkan. Ia tidak ingin mengakui tapi apa yang Siwon ucapkan benar adanya.

“Apa aku terlalu serakah kalau aku ingin kau memafkan semua kesalahanku, hm?”

“Yes you are. Aku mendapat semua itu tahap demi tahap. Satu per satu datang padaku. Dan kau ingin semuanya aku maafkan? The intense pain you caused is not easy to be healed at once.” Ucap Siwon.

“Arayo. Keureonde…aku mungkin tidak cukup bertahan untuk meminta maafmu secara perlahan, nak. Jadi kumohon –meski berat- maafkan aku.” Tutur Kiho.

“Kalau begitu bertahanlah dan meminta maaf padaku dengan benar!” Siwon mulai kehilangan kendali emosinya. Mendengar apa yang Kiho ucapkan seolah ayahnya itu pesimis dengan kesembuhannya.

Kiho tersenyum singkat. “Dangyunhaji” lirihnya. Keduanya lantas diam.

May I ask you why?” tanya Siwon memecah keheningan. Kiho mengerutkan keningnya singkat.

Why you hate me that much? To the point you never want to care about me” tambah Siwon. kiho menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku tidak pernah membencimu, nak”

“Geurae? Lalu kenapa kau selama ini mengabaikanmu?” Siwon berdecak tidak percaya. Apa yang ia alami dan rasakan selama ini berkata lain.

Kiho menghela napasnya dalam. “Karena aku tidak bisa menatapmu langsung tanpa rasa bersalah” ucapnya. Siwon menatapnya tidak mengerti.

“Karena….aku selalu melihat mendiang ibumu tiap kali aku melihatmu. I always see how much pain I caused for your mom every time I look into your eyes. Itulah kenapa aku selama ini berusaha menghindarimu”

“Dan kau sebut itu sebagai alasan untuk menelantarkan anakmu?”

“Aku tahu. Terdengar naif –bodoh. Tapi…kau memiliki mata ibumu, Siwon-ah. Setiap melihat matamu aku seperti melihat ibumu. Melihat mata penuh kepedihan –yang aku ciptakan. And it breaks my heart, every time.it hurts too much to the extent I can’t bare to look at you in the eyes”

“Dan kau memilih menelantarkanku dan menciptakan derita yang sama? Don’t you know….that what hurt mom the most was your ignorance? And you did the same to me” kata Siwon geram. Kiho hanya memejamkan matanya. Berusaha meredam perih di dadanya.

“Mianhae. Aku terlalu larut dalam rasa bersalahku hingga aku membuat kesalahan yang sama terhadapmu. Tapi percayalah, aku tidak pernah bangga dengan apa yang aku lakukan padamu. People make mistake but I do have so much –terrible- mistake” aku Kiho.

Sure you do” timpal Siwon. kiho tersenyum tipis.

“Hari dimana ibumu tiada…aku sadar bahwa aku secara tidak langsung penyebab kepergiannya. Dia mungkin meninggal karena penyakit yang ia derita. Tapi aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa ia menderita. Aku tidak pernah sadar bahwa wajah pucatnya saat itu karena ia menahan sakitnya sendiri. Kalau saja aku sedikit saja peduli padanya….memberinya pengobatan yang seharusnya ia dapatkan. mungkin saat ini ia masih hidup. Tapi nyatanya…dia menderita dalam sakitnya seorang diri. Dan ia pergi meninggalkan penyesalan untukku” Kiho menghela napasnya berat.

I hurt her deeply and it bring regret for the rest of my life. Penyesalan yang aku rasakan begitu besar hingga rasanya aku tak sanggup melihat dirimu Siwon-ah. Melihatmu bagaikan sebuah pengingat akan penyesalanku. Akan semua derita yang aku sebabkan terhadap mendiang ibumu. Aku hanya bisa menyakitinya dan aku menyesalinya.” Kiho tercekat singkat. Dadanya mulai terasa sesak. Entah itu sesak karena penyakit jantungnya ataukah yang lain.

“Maafkan ayahmu yang bodoh ini. Andai saja aku bisa lebih kuat maka kurasa aku tidak perlu menyakitimu juga. Maafkan aku”

“Kau tahu abeoji? Aku bahkan tidak tahu apa aku bisa memaafkanmu dengan mudah. “

“Aku tahu. Maaf.”

I wished…you hold me in your arms when mom’s dead. I wished for your consol, yet I never received one. I lost her but it was like I lost you as well. Kau tahu betapa menyedihkannya aku saat itu? Dan sekarang kau mengatakan bahwa…kau melakukan itu karena rasa bersalahmu pada Eoma?” Siwon memandang ayahnya pilu.

“Tidak bisakah kau saat itu memelukku? I was only 12 when she’s dead. I needed a father to keep me strong. Tapi kau membiarkan aku berdiri sendiri. Kau membiarkanku terlarut dalam deritaku sendiri. Kau membiarkan kesepian menelanku tanpa ampun. You let me….broken”

“Dan semua ini karena….aku mengingatkanmu terhadap mendiang Eoma? Is that even a reason to let your son suffer? Huh? You are unbelievable, dad!” gurat kekecewaan terpancar dari kedua mata Siwon.

Now tell me how should I forgive you? Tell me, dad!” Siwon rasanya ingin berteriak keras. Meluapkan segala frustrasinya. Tapi ia masih cukup sadar dimana dan dalam situasi apa dia saat ini. Ayahnya tengah terbaring lemah dengan jantung yang lemah dan rasanya ia tidak punya cukup hati untuk membentak atau bicara kasar padanya.

“Maafkan aku, Nak. Maafkan aku!” Hanya kalimat itu yang bisa Kiho ucapkan. Ia tidak memiliki pembelaan terhadap dirinya karena ia tahu ia sepenuhnya salah. Hanya sebuah permintaan maaf yang rasanya bisa ia ucapkan. Saat ini.

Derita yang ia sebabkan pada Siwon begitu besar hingga ia tidak memiliki alasan untuk membela diri. Ia benci untuk mengakuinya, tapi ialah penyebab sifat dingin Siwon selama ini. Kalau saja ia bisa lebih kuat dan merangkul Siwon disaat terpuruknya saat itu, mungkin saat ini hubungan keduanya akan sama seperti hubungannya dengan Kyuhyun.

“kau punya pilihan untuk merangkulku saat itu tapi kau mengabaikannya. Aku tidak peduli apapun itu alasannnya tapi….aku besar dengan asumsi bahwa kau membenciku. Bahwa kau tidak menyayangiku. Dan itu tidak pernah mudah untukku, abeoji.” Lanjut Siwon. ia menghela napasnya berat.

“Aku memiliki seorang ayah tapi rasanya aku bahkan kehilangan dirinya bersama dengan kepergian Eoma. It was never easy being me. Having a dad right beside me but it seem…he was gone. Hidup dengan kenyataan bahwa kau membenciku tidak pernah mudah. Dan sekarang katakan padaku, bagaimana aku harus memaafkanmu? Eoteokae?”

Siwon menggigit bibir bawahnya kuat. Luapan emosinya saat ini rasanya membuat dirinya nyaris sesak. Ia menatap sang ayah yang kini menangis pilu. Menampakkan gurat penyesalannya yang besar.

Have you….” Siwon tercekat singkat. Merasa tak cukup kuat melontarkan pertanyaan yang selama ini terasa membebaninya. Ia menarik napasnya panjang sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.

“…ever…love me? Even just once? Just a little bit?” tanya Siwon. ia berusaha terdengar kuat tapi apa yang ia lontarkan rasanya tak lebih dari sebuah pertanyaan desperate. Dan Siwon paling benci untuk merasakan hal itu –atau terlihat seperti itu.

Di satu sisi, pertanyaan dari sang anak itu membuat Kiho ikut tercekat. Ia bahkan tidak pernah menyangka Siwon akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Seolah mempertanyakan kasih sayangnya. Tapi sekali lagi Kiho berpikir, memangnya sejak kapan ia pernah menunjukkan kasih sayangnya pada putra sulungnya? Sejak kapan ia membuka tangannya lebar untuk Siwon? jadi tidaklah salah kalau Siwon bertanya seperti itu.

Do you….ever regret having me in your marriage? That way….you would have the chance to be with your love” Siwon kembali melontarkan pertanyaan yang sekali lagi membuat Kiho terhenyak pilu. Sama halnya dengan Siwon yang kini berusaha sekuat tenaga menutupi perasaanya yang sebenarnya. Berusaha sekuat tenaga bersikap kuat meski sejujurnya tiap pertanyaan yang ia lontarkan terasa mencabik hatinya. Kiho juga sama. Meski kini ia tak bisa menutupi adanya lapisan Kristal cair yang memenuhi kelopak matanya –bersiap untuk meluluhkan air mata.

“Yes” gumaman lirih itu keluar dari bibir Kiho. Siwon hanya menatapnya perih. Ia menggigit bibir bawahnya keras, merasa ia menemui titik batasnya dalam menahan emosinya.

He never wants me.

Siwon menundukkan kepalanya. Desakan kuat di dadanya rasanya begitu menghimpit. Membuatnya memilih untuk membalikkan badannya dan bersiap pergi. Merasa ia tidak akan bertahan berdiri dan mendengarkan ucapan ayahnya yang menyakitkan berikutnya.

Yes I loved you…..and I still do” gumaman Kiho berikutnya membuat Siwon terpaku di posisinya.

“Mungkin aku memang tidak bahagia dengan pernikahanku dan ibumu. But…the moment you were born I can’t help but love you Siwon-ah. Aku mungkin tidak bisa mencintai ibumu tapi aku tidak bisa untuk tidak mencintaimu. Darah dagingku.” Ungkap Kiho. Siwon hanya bisa mendengarkan ungkapan memilukan itu.

“Dan tidak….aku tidak pernah menyesal memilikimu. You are my son so why would I regret for having you? Aku mungkin salah memperlakukanmu dan ibumu selama ini tapi aku tidak pernah berpikir bahwa memilikimu adalah sebuah kesalahan yang harus aku sesali” lanjut Kiho. Air matanya sudah meleleh sedari tadi, membuat suaranya sedikit bergetar.

“Kalaupun ada yang harus sesali….itu adalah bahwa aku salah memperlakukanmu. I should treat you better…my son. aku seharusnya menunjukkan rasa sayangku padamu, bukan memilih untuk menelantarkanmu karena rasa bersalahku. Ya, itulah yang aku sesali.

Siwon memejamkan matanya erat. Berusaha menghalau air matanya untuk menetes. Tapi nihil. Air matanya berontak keluar.

“Mianhada….saranghanda, uri adeul”

Kalimat itu membuat Siwon mengepalkan tangannya kuat. Berusaha menyalurkan perih dan sesak di dadanya melalui genggaman tangannya. Dan ketika ia tidak kuasa lagi menahannya, ia menyentuh knop pintu dan menariknya terbuka.

Helaan napas keluar dari bibirnya begitu ia berhasil keluar. Ia menyandarkan badannya singkat pada daun pintu. Menyeka air matanya cepat. Mengatur napasnya dan berusaha meredam segala bentuk emosi yang tengah memenuhi dadanya.

Ia mengalihkan perhatiannya, menyadari bahwa tiga pasang mata kini tengah memperhatikannya. Tapi pada akhirnya ia memilih untuk mengunci pandangannya pada satu orang.

I don’t think I could drive back home” gumamnya. Orang yang di tatap hanya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mendekatinya.

“Araseo. Kita pulang?” ucapnya pada Siwon. pria itu hanya mengangguk pelan. Entah kenapa ia merasa seluruh energinya habis di dalam ruangan inap sang ayah. ia bahkan tidak memiliki cukup energy untuk memikirkan sejak kapan Shilla berdiri disana.

“Imonim, Kyuhyun-ah, kami pulang dulu” ucap Shilla pada Kyuhyun dan ibunya. Kedua orang itu hanya mengangguk mengerti. Shilla membungkukkan kepalanya memberi hormat pada ibu Kyuhyun.

“Kaja!” ucapnya pada Siwon. wanita itu melingkarkan tangannya pada lengan Siwon.

Yijung dan Kyuhyun sama-sama tidak mengalihkan pandangan dari pasangan yang telah berlalu memunggungi mereka. Senyum Yijung merekah di bibirnya.

“Tidakkah kau pikir mereka terlihat serasi?” gumam Yijung masih tetap menatap punggung Shilla dan Siwon yang semakin menjauh.

Kyuhyun hanya bisa terdiam singkat. Mencerna dengan baik ucapan sang ibu. Dan meski ia bisa hadir dengan ribuan alasan untuk menepis anggapan sang ibu tapi ia cukup tahu bahwa ibunya benar. It’s hard to admit but yeah, they make a good couple.

“Ne. majayo!”

 

To be continued…..

 

I know it’s been so long, right? And I’m sorry for that. I never intend to neglect you all, but I just can’t help it. I’m sorry.

I don’t know how this chapter goes, kinda had writer’s block few weeks ago so I’m sorry if it turn bad haha.

Sorry for the typos as usual.

Till next time.

 

ps. I’m sorry for not be able to reply all the comments these past few weeks. It’s not that i dont give a damn, but I just don’t have enough time to sit in front my lap top and reply all of it. So I’m really sorry.

 

 
232 Comments

Posted by on November 9, 2014 in chapter, fanfiction

 

Tags: ,

232 responses to “A Perfect Facade Part 18

  1. nauli hasibuan

    December 15, 2014 at 3:26 pm

    halo thor gmana kbrnya? Mdh2an sht2 aja. Thor part 19 kpn di publish, dah jamuran ni thor nunggunya. Hehehe,,

     
  2. k-olief al bar

    December 19, 2014 at 6:11 pm

    oenni kpan part 19 nya d publish pengin baca lanjutanya nehhh.,plis plis

     
  3. miss en'

    December 21, 2014 at 5:38 pm

    Udah lebih dr 4x ak re-read part ini *cuma sekedar info aja* hahahah sapa tau shilla-ssi tiba2 ngepost part 19 *piiss*

     
  4. M a r u g u r l 1 9

    December 22, 2014 at 10:21 am

    Tadinya mau langsung coment di dua part di part 19. Soalnya aku ga sanggup baca part ini wakakakaka. Sedih bacanyaaaa. ;(
    Next next mext jhehe

     
  5. dohweji

    December 23, 2014 at 11:20 am

    3X baca part ini dan semuanya sukses buat aku nangis
    Author jjangg!!
    Ditunggu part selanjutnya yak^^

     
  6. @wiwijung_

    December 25, 2014 at 1:07 pm

    thor kapan comeback nih??? jebal please……. gak nahan pingin tahu kelanjutan nya.

     
  7. @wiwijung_

    December 27, 2014 at 8:14 am

    next part selalu di tunggu.

     
  8. Elisa Risca

    December 30, 2014 at 8:46 am

    Always waiting you sis🙂

     
  9. blue

    January 2, 2015 at 11:25 am

    halmoeni.. waiting ur update..

     
  10. Diyah

    January 6, 2015 at 10:46 pm

    kangen dengan kelanjutan ff ini, eon…. kapan publish lagi? sudah hampir mati sangking penasarannya nihhh, T___T….

     
  11. Arni Andira

    January 18, 2015 at 10:55 am

    kapan nih eonni publish lagi,,
    penasaran sama episode selanjunya T__________T

     
  12. Dattie

    January 22, 2015 at 1:42 pm

    kapan keluar part 19-nya, eon… hikksss T_T nangis guling2… sangking penasarannya….

     
  13. miss en'

    January 22, 2015 at 11:17 pm

    Shilla-ssi comeback please…huaaaa~

     
  14. irsya.wonkyu407

    January 25, 2015 at 4:24 pm

    kapan publish author-nim huaaaaaa T_T

     
  15. Umi_ali

    February 2, 2015 at 11:54 pm

    Huaa…. Dah lama ngak buka2 ff ini lagii….
    Dan sekali bernostalgia, lgs buat air mata neteees….
    Suka banget ma ceritanya… ^^

     
  16. uni

    February 7, 2015 at 2:58 pm

    Waw… ini ff paling dramatik, dgn tata bahasa paling bagus yg pernah aq baca.. hehe. 2 orang dgn nasib yg sama. Moga mereka cpt nyadarin prasaan masing2. btw author lg sibuk bgt ya, lama bgt publish nya.. fighting authornim,

     
  17. Dattie

    February 24, 2015 at 11:20 pm

    Shilla eonnie… please please please… comeback with A perfect facade part 19…. T__T kangen berat sama siwon oppa🙂

     
  18. 진무

    March 2, 2015 at 2:31 pm

    Wow the story is so sad, make me cry late night, next

     
  19. eginachoi11

    March 7, 2015 at 7:43 am

    eonni sibuk bgt kah??hampir 5 bulan gag publish dan gag pernah sampe selama ini,,,semoga eonni sehat biar bisa comeback secepatnya🙂 kangen couple ini😦

     
  20. mia

    March 17, 2015 at 9:34 am

    Part 18 nya kok engga nongol2…….please……selalu ditunggu karyanya yg top banget ini……..

     
  21. septinahandayani

    March 21, 2015 at 6:08 am

    Annyeong eoni , cepet comeback buat ngelanjutin karyanya .

    Keep hwaithing and keep writting eon🙂

     
  22. Queen Salwa

    March 30, 2015 at 6:03 pm

    Kakak lama banget hiatus nya??!

     
  23. nae.ratna

    August 19, 2016 at 3:33 pm

    always and always nyesek baca.a ikut ngerasaain perasaan siwon
    it’s so hurt

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: